Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Match Analysis

    Liga Inggris: Everton 0-2 Man City

    Serangan Sisi Kiri City yang Cepat, Kreatif, dan Berbahaya

    Pandit Football Indonesia - detikSport
    Getty Images/Clive Brunskill Getty Images/Clive Brunskill
    Jakarta -

    Manchester City berhasil memimpin klasemen sementara Liga Primer Inggris setelah mengalahkan Everton 2-0 semalam (23/08/2015) di Goodison Park, Liverpool, stadion kandang dari Everton. Gol dari Aleksandar Kolarov dan Samir Nasri yang keduanya dicetak pada babak ke dua, sudah cukup untuk membuat kesebelasan asuhan Manuel Pellegrini ini untuk mencatatkan poin sempurna dari tiga pertandingan Liga Primer.



    Susunan sebelas pemain pertama Everton dan Manchester City – sumber: WhoScored

    Everton dan Man City sama-sama sedang dalam performa yang gemilang. Everton baru saja mengalahkan Southampton 3-0 di St. Mary pekan lalu, sementara di pekan yang sama, City juga berhasil menghajar Chelsea 3-0 di Etihad, kandang City.

    Kedua manajer juga masih menurunkan sebelasa susunan pemain pertama mereka yang kuat sejak pekan pertama Liga Primer. Dari Everton, Leighton Baines masih belum bisa bermain, Brendan Galloway juga masih dipercaya untuk menggantikannya. Sayangnya pada akhir babak pertama, Galloway mengalami cedera sehingga ia harus digantikan oleh Tyias Browning.

    Dari lini belakang juga bek tengah John Stones yang sudah santer digosipkan untuk pindah, terutama ke Chelsea, masih tetap dipercaya oleh manajer Roberto Martínez untuk berduet dengan bek tegah senior, Phil Jagielka.

    Dari kubu The Citizens, Pellegrini belum memainkan rekrutan terbaru mereka, Nicolas Otamendi, dan masih mempercayai duet bek tengah kepada kapten Vincent Kompany dan Eliaquim Mangala yang juga sedang dalam performa yang bagus.

    Di depan, Raheem Sterling masih diandalkan untuk memimpin serangan City dari sayap kiri bersama dengan Kolarov di belakangnya.

    John Stones Semakin Bersinar

    Sebelum pertandingan dimulai, banyak yang terkejut dengan keputusan Martínez untuk tetap memainkan Stones, mengingat bek tengah ini masih muda dan banyak yang khawatir bahwa performanya akan terganggu akibat dari rumor kepindahannya ke Chelsea. Namun pada kenyataannya, penampilannya sangat fokus, seolah rumor tersebut tak pernah ada untuk mengganggunya di atas lapangan.

    Dengan alasan yang sama, yaitu takut pemainnya terganggu rumor kepindahan, Stones tidak seperti David de Gea yang diparkir oleh Louis van Gaal ataupun Saido Berahino yang juga diistirahatkan oleh Tony Pulis saat West Bromwich Albion menghadapi Chelsea (2-3 untuk The Blues), ia dipersilakan bermain.



    Grafik operan John Stones – sumber: Squawka

    Sepanjang 90 menit, ia mampu bermain secemerlang biasanya, dengan 3 tekel, 1 intersep, dan 5 sapuan bola. Reputasinya sebagai ball-playing defender juga dipertegas dengan 89% operannya yang sukses (musim lalu ia mencetak rata-rata 90% operan sukses). Dengan fisiknya yang unggul, tinggi 1,88 meter, ia juga merajai duel udara dengan rekor 100% pada pertandingan semalam.

    Meskipun kalah dari City, tak akan mengherankan dalam sepekan ke depan menuju ditutupnya jendela transfer, ia pastinya akan semakin diincar oleh Chelsea dan mungkin juga Manchester United, mengingat Van Gaal menggemari bek tengah yang bertipikal ball-playing defender seperti Stones.

    Menyerang dari Satu Sisi Lapangan yang Sama

    Jika melihat susunan sebelas pemain pertama, City terlihat akan melakukan lebih banyak serangan melalui kiri. Ini bisa dipahami, mengingat di sana ada Sterling dan juga Kolarov, seorang full-back yang hobi melakukan overlap ke depan. Di sisi lain, Everton juga terlihat lebih siap menyerang dari sisi kanan, atau sisi kiri pertahanan City, di mana Seamus Coleman akan bahu-membahu bersama Arouna Kone.

    Pada kenyataannya di atas lapangan, sisi serangan memang terlihat berat sebelah di salah satu sisi, seperti yang bisa kita lihat pada grafik di bawah ini.



    Grafik arah dimulainya serangan – sumber: WhoScored

    Everton menyerang dari kanan, sedangkan City dari kiri. Ini membuat salah satu sisi lapangan menjadi terlalu sibuk. Tapi, yang sesungguhnya terjadi adalah sisi kanan di lini tengah Everton ternyata diisi oleh Tom Cleverley, bukan Kone (Kone malah pindah ke kiri), sehingga aspek kreativitas The Toffees sedikit berkurang jika dibandingkan dengan kreativitas City yang dimotori oleh Sterling ditambah dengan David Silva.

    Kedua kesebelasan memang sama-sama menghabiskan 40% serangan mereka di satu sisi tersebut, tapi yang terlihat sepanjang 90 menit justru kebanyakan adalah City yang lebih dominan.

    Hal ini bisa terlihat dari 53,5% penguasaan bola yang lebih cenderung kepada kesebelasan tandang, yaitu City. Selain itu juga, dominasi sisi kiri City lebih terlihat lagi dari heat map di bawah ini.



    Perbandingan heat map sisi kanan Everton (Seamus Coleman, Thomas Cleverley, dan Gerard Deulofeu) dengan sisi kiri Manchester City (Aleksandar Kolarov, Raheem Sterling, dan Samir Nasri) – sumber: Squawka

    Dari gambar di atas, sangat jelas terlihat bahwa City lebih banyak berperan yang di sisi kiri daripada Everton di sisi kanan. Jadi, pertanyaannya adalah, kenapa Everton juga mencoba menyerang dari sisi kanan (kiri City)?

    Hal ini mungkin bisa dipahami, Martínez pastinya menyadari bahwa lawannya akan banyak menyerang dari kiri, terutama dengan Kolarov yang sering naik, sehinga akan ada banyak ruang yang tercipta untuk Everton melakukan serangan balik.

    Selain itu, Everton juga akan terlebih dahulu menghadapi Mangala jika menyerang dari kanan. Kemungkinan Mangala mereka anggap sebagai bek tengah lawan yang lebih mungkin untuk mereka kalahkan daripada Kompany di bek tengah sebelah kanan.

    Sayangnya, pada realita di atas lapangan, Kolarov hampir selalu bisa turun dengan disiplin, kalaupun ia terlambat, posisinya selalu di-cover oleh Fernandinho, kemudian juga Mangala bermain baik dengan 6 intersep dan 5 sapuan bola.

    Hubungan apik di sayap kiri City yang dihuni oleh Kolarov dan Sterling ini berpotensi untuk menjadi pasangan sayap yang sangat menjanjikan, sama seperti pasangan Eden Hazard dan Cesar Azpilicueta di sayap kiri Chelsea di musim lalu. Kita tunggu saja konsistensi mereka pada 35 pertandingan ke depan.

    Sayap Everton Kurang Efektif

    Dari banyak angka statistik yang tersaji pada pertandingan semalam, Everton sebenarnya tidak bermain terlalu buruk sampai bisa kalah 2-0. Kedua kesebelasan sama-sama berhasil menciptakan 22 dribel (Everton gagal 6 kali, sedangkan City 11 kali).

    Sayangnya ada angka yang berbeda sangat jauh, yaitu tendangan tepat sasaran ke gawang. Dari 10 tendangan, Everton hanya berhasil mencetak satu shot on target. Sementara City berhasil mencetak 9 shot on target dari 16 kali percobaan.

    Kredit khusus patut kita berikan kepada penjaga gawang Everton, Timothy Howard, yang bermain gemilang dengan 7 buah penyelamatannya.



    Grafik tembakan ke gawang dari Manchester City dan Everton – sumber: Squawka

    Dari grafik tembakan, terlihat kebanyakan tendangan Everton (gambar sebelah kanan) berasal dari luar kotak penalti. Mereka kesulitan menembus lini belakang City. Dari 22 dribel Everton juga kebanyakan terjadi di lini belakang dan lini tengah, tidak seperti dribel City yang lebih dari 75%-nya terjadi di lini depan; City memang lebih banyak gagalnya, tapi setidaknya mereka lebih banyak mencobanya di depan daripada Everton.





    Grafik dribel Everton dan Manchester City – sumber: Squawka

    Pertanyaan utama ketika kita melihat susunan pemain Everton adalah: Pemain mana yang akan mendominasi serangan Everton?

    Sayap mereka diisi oleh Cleverley dan Kone, sementara City oleh Sterling dan Jesus Navas. Ini dalah ketimpangan. Padahal Everton memiliki Kevin Mirallas, Deulofeu, dan Aiden McGeady yang lebih lincah dan kreatif (dua aspek utama seorang pemain sayap).

    Dua nama pertama bahkan duduk di bangku cadangan (McGeady masih cedera) dengan Deulofeu baru dimainkan di menit ke-85, sudah terlalu terlambat. Tidak kreatif dan tidak efektifnya sayap Everton bisa kita lihat dari gambar heat map sayap kanan Everton di halaman 3 ditambah juga gambar tambahan sayap kiri mereka di bawah ini.



    Perbandingan heat map sisi kiri Everton (Brendan Galloway, Arouna Kone, dan Tyias Browning) dengan sisi kanan Manchester City (Bacary Sagna dan Jesus Navas) – sumber: Squawka

    Kedua sayap mereka seperti “makan gaji buta” dengan sedikitnya menyentuh bola jika dibandingkan dengan pemain-pemain sayap City. Tidak mengejutkan kalau angka tendangan tepat sasaran mereka juga hanya satu.

    David Silva sebagai Nyawa Permainan Manchester City

    Kebuntuan Everton di atas sebenarnya mampu ditutupi oleh salah satu pemain mereka yang paling menjanjikan, yaitu Ross Barkley. Barkley berhasil menyumbangkan 8 dribel (5 berhasil), 3 tembakan, 4 umpan silang, dan 83% operan sukses.



    Grafik permainan Ross Barkley – sumber: FourFourTwo Stats Zone

    Sekitar 36% serangan Everton dimulai dari tengah, dan seringnya Barkley-lah yang berperan besar. Jika tidak ada pemain Inggris bernomor punggung 20 ini, mungkin Everton tidak mampu menciptakan satupun peluang melalui open play semalam.

    Senada dengan Barkley, City juga memiliki pemain yang menyambungkan permainan antar kedua sayap mereka, yaitu David Silva. Bedanya dengan Everton, kedua sayap City sangat mendominasi, sehingga peran Silva ini sangat-sangat vital jika dibandingkan dengan Barkley. Silva memang tidak berhasil menciptakan gol maupun asist dalam pertandingan semalam, tapi kemampuannya untuk menemukan ruang di daerah lubang (alias penyerang lubang) sudah menyebabkan Everton kedapatan banyak masalah.

    Pemain asal Spanyol ini memainkan peran No. 10 dengan baik dan berhasil bekerja sama dengan apik bersama Sterling di kiri, Navas di kanan, Yaya Toure di belakangnya, dan juga Sergio Aguero di depan.



    Grafik permainan David Silva – sumber: FourFourTwo Stats Zone

    Semalam Silva berhasil mencetak 3 tembakan, 6 umpan silang, dua peluang emas, dan 85% operan yang tepat sasaran.

    Kesimpulan

    Everton sebenarnya tidak bermain buruk-buruk amat, mereka berhasil menciptakan dua peluang utama mereka melalui tendangan bebas Romelu Lukaku yang membentur mistar gawang dan sundulan Gareth Barry yang disapu oleh Kompany di depan gawang.

    Sayangnya, hanya dua peluang itulah yang merefleksikan The Toffees. Sisanya, mereka tidak mampu menciptakan tembakan yang tepat sasaran sehingga efektivitas permainan mereka pun dipertanyakan, padahal mereka bermain di kandang sendiri (pertanyaan yang sama juga berlaku untuk Manchester United saat melawan Newcastle).

    Di lain pihak, City bisa menguasai pertandingan untuk waktu yang lama dan selalu tampak sebagai kesebelasan yang paling mungkin untuk mencetak gol.

    Hubungan sisi kiri City yang diperankan oleh Sterling (sayap kiri) dan Kolarov (full-back kiri) terlihat sangat fantastis dengan kecepatan, kreativitas, kekuatan, dan daya juang yang tinggi. Permainan apik mereka yang dikombinasikan oleh David Silva semakin menambah potensi serangan City melalui kiri yang sangat menjanjikan. Akan sangat menarik melihat serangan sisi kiri City sepanjang Liga Primer Inggris ini.

    Pertandingan semalam adalah pertandingan yang menghibur secara umum. Tapi Pellegrini setidaknya bisa tersenyum lebar, ia sudah memenangkan tiga dari tiga pertandingan Liga Primer, dua di antaranya melawan kesebelasan yang sulit, yaitu Chelsea dan Everton.

    Selanjutnya mereka "hanya" akan menghadapi Watford (kandang), Crystal Palace (tandang), dan West Ham United (kandang), sebelum menghadapi Tottenham Hotspur (tandang) di pekan ketujuh pada 26 September nanti. Sepertinya senyum lebar Pellegrini kemungkinan besar akan berlanjut, ini adalah kesempatan emas bagi The Citizens untuk meraup poin sesempurna mungkin.

    ====

    *dianalisis oleh @panditfootball. Profil lihat di sini.



    (roz/krs)
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game