Liga Spanyol: Sevilla 0-3 Atletico
Transisi Cepat Atletico yang Menghambat Tuan Rumah
Menjadi tuan rumah, Sevilla yakin mampu meraup poin penuh atau setidaknya dapat menahan gempuran sang tamu dari ibukota yang datang dengan kekuatan hampir sempurna. Karena hanya tercatat Felipe Luis saja yang diragukan tampil. Sedangkan di kubu Sevilla, mereka tidak bisa menurunkan Steven Nzonzi karena menapat hukuman kartu dan Nico Pareja karena cedera. Sisanya dalam kondisi fit dan siap tempur.
Sevilla, bagaimanapun, ingin mengamankan poin pertamanya di La Liga musim ini. Setelah tertahan oleh Malaga di pekan pertama, mereka langsung tancap gas dengan menurunkan sang bomber baru, Fernando Llorente, sebagai juru gedor untuk melawan Atletico.
Llorente ditopang oleh tiga gelandang serang yaitu Jose Antonio Reyes, Ever Banega dan Vitolo Machin. Hal ini justru menimbulkan pertanyaan mengingat Yevhen Konoplyanka tidak dimainkan sebagai startng XI. Padahal winger Ukraina itu memiliki kecepatan yang mumpuni untuk mengobrak abrik sisi kanan Sevilla yang digalang oleh Juanfran.
Di sisi lain, Diego Simeone menurunkan mantan rekan setimnya dulu, Fernando Torres, sebagai ujung tombak utama Atletico. Padahal, di bangku cadangan masih ada penyerang sekelas Jackson Martinez dan Luciano Vietto. Belakangan, menurut catatan statistik yang dikeluarkan oleh Four Four Two, sepanjang Torres di lapangan ia hanya melakukan tembakan satu kali dan hanya memberi operan sukses sebanyak delapan kali.
[Sumber: Whoscored.com]
Atletico Bermain Cerdas, Sevilla yang Frustasi
Sejak ditangani Simeone, Atletico memang terkenal dengan permainan rapat dan serangan balik yang mematikan, selain pula pressing ketat. Penguasaan bola yang hanya mencapai 34% mengindikasikan mereka bermain menunggu, bahkan cenderung membiarkan Sevilla untuk berlama-lama dengan bola. Namun, dengan gangguan-gangguan konstan sepanjang babak pertama dari para pemain Atletico untuk pemain bertahan Sevilla, praktis kubu tuan rumah hanya bisa mengalirkan bola ke sebelah kanan atau kiri mereka sana.
Dari catatan grafis di atas, Sevilla terlihat kesulitan untuk menembus rapatnya barikade pressing tinggi dari tim tamu. Sepanjang babak pertama, hanya tiga operan yang mampu menjadi kesempatan bagi Sevilla. Sisanya, hampir semua operan langsung menuju sepertiga akhir penyerangan mereka selalu kandas oleh duet bek Atletico (Gimenez – Godin) ataupun oleh duet lini tengah mereka (Gabi –Tiago).
Kebuntuan ini memaksa pelatih Unai Emery mengubah alur bermain Sevilla, yang awalnya bermain sabar dan membangun serangan dari belakang, menjadi lebih berani dan mengandalkan pemain sayap mereka, yaitu Vitolo dan Reyes untuk membuat peluang. Ini juga mengatasi terisolasinya Llorente yang sulit menerima bola karena pergerakannya sangat terbatasi oleh penjagaan ketat pertahan Atetico.
Grafis sebelah kanan sangat terlihat dari perubahan tersebut. Tak ada lagi operan-operan yang hanya berkutat di sepertiga awal pertahanan sendiri. Namun, bola lebih banyak diarahkan ke isi kanan yang dihuni oleh Vitolo dan Coke sebagai penghuni posisi tersebut. Ini juga sangat masuk akal karena bek kiri andalan Atletico, yaitu Felipe Luis, absen dalam pertandingan ini dan permainan Jesus Gamez terbilang biasa saja. 
[Grafis aksi defensif Atletico Madrid Bulat: Sapuan, Silang: Tekel, Wajik: Potongan (intercept). Sumber: Statszone]
Kebuntuan Sevilla juga sebetulnya sangat bisa dimengerti. Selain pressing dan penjagaan ketat, Atletico memang sangat sering menghalau bola-bola yang hanya menuju ke kotak penalti mereka dengan melakukan clearance (simbol bulat) dan intersep (simbol wajik) sedari garis lapangan tengah.
Tak lupa juga, tekel-tekel (simbol silang) tanpa kompromi juga sering kali dilancarkan pemain Atletico yang kebanyakan mereka lakukan di bagian kedua sisi lapangan, karena memang pemain Sevilla kebanyakan memegang bola di posisi kedua flank saat membangun serangan. Ini juga dilakukan Atletico sebagai antisipasi dini dalam menghambat jalur umpan dan serangan Sevilla.
Setelah memenangi duel tersebut, pemain Atletico tidak berlama-lama memegang bola dan langsung mengalirkannya menuju Koke di kiri dan Oliver di kanan, atau bahkan menuju Griezmann yang bermain mobile untuk mengeksekusikannya menjadi peluang. Perlu diingat juga, gelandang kiri dan kanan Atletico Madrid ini lebih bertipikal gelandang kreatif (Koke & Oliver).
Kemudian, jika melihat beberapa grafis di atas, muncul pertanyaan lain: ke manakah Llorente sampai bisa-bisanya sulit untuk masuk ke kotak penalti Atletico? Apa peran dia?
Simeone tampaknya mengetahui betul dari kemampuan Llorente baik dalam membuat ruang untuk kawannya ataupun untuk berduel di udara. Maka ia menginstruksikan jarak antara dua pemain tengah dan dua pemain bertahan untuk bermain sangat rapat. Coba lihat grafis di bawah ini. 
[Sumber: Whoscored]
Gelandang serang kiri Sevilla (biru) yang dihuni oleh Reyes (nomor 10) malah sering kali terjebak sejajar denagn posisi Llorente (24). Ini akibat dari instruksi Simeone dalam merapatkan lini tengah dan lini belakang mereka. Llorente yang baru bergabung beberapa hari yang lalu pun nyata-nyatanya belum klop untuk bahu-membahu menciptakan gol ataupun peluang dengan rekan-rekannya.
Terisolasinya Llorente ini juga membuat operan panjang (lihat grafis operan Sevilla) yang diterapkan oleh para pemain bertahan dan pemain tengah Sevilla membuat hal tersebut sia sia. Serangan mereka sangat sulit menembus kotak penalti Atletico karena “tembok pantul” mereka yaitu Llorente tak bisa berbuat banyak malam itu. Walhasil aksi clearance terhadap bola yang tak terjangkau baik oleh Llorente, maupun oleh Reyes sangat banyak dilakukan (lihat grafis aksi defensive pemain Atletico).
Llorente sendiri tercatat hanya melakukan dua kali tendangan ke arah gawang, dengan rincian satu mengarah ke gawang dan satu lagi melenceng dari sisi gawang, yang merupakan salah satu peluang terbaik Llorente malamm itu. Indikasi tergesa-gesa dan frustasi ditunjukkan dirinya dan beberapa pemain lain karena kiper Atletico, Jan Oblak, bermain cukup bagus juga. 
Pengaruh Griezmann bagi kemenangan Atletico
Kami memilih Antoine Griezmann sebagai man of the match. Penyerang serba bisa asal Prancis tersebut berperan di belakang torres dan membuat dirinya sangat leluasa bergerak baik dari sisi kanan maupun sisi kiri penyerangan Atletico.
Kemahirannya bermain sebagai pemain sayap juga membantu Griezmann dalam menguasai kedua sisi tersebut meski ia terlihat lebih sering membantu Oliver di sisi kanan serangan Atletico, yang berhadapan langsung dengan Tremoulinas, bek sayap kanan Sevilla malam itu.
Tak jarang pula Griezmann harus turun melakukan track-back untuk membantu pertahanan. Maka tak heran jika dengan melakukan pertahanan di daerah sendiri, lini tengah Atletico seakan-akan bermain dengan lima gelandang tengah dan membiarkan Fernando Torres bergerak sendirian di depan.

Grafis di atas cukup menjelaskan juga bagaimana Griezmann dalam fase bertahan dan menyerang Atletico. Pergerakannya yang pantang menyerah juga membuahkan assist yang membuka keran gol Atletico malam itu. Dalam posisi terjatuh pasca kalah duel melawan Tremoulinas di kotak penalti Sevilla, ternyata ia masih sempat-sempatnya menyontek bola ke ruang kosong, yang membuat Koke mencetak gol pertamanya musim ini.
Selain itu, permainan cerdas dengan melakukan umpan pendek 1-2 untuk mengelabui pertahanan Sevilla, yang mulai kocar kacir pasca gol kedua dari tendangan jarak jauh Gabi Fernandez, memudahkan instruksi-instruksi tendangan jarak jauh yang dilancarkan oleh Simeone di babak kedua. Dan itu berbuah gol ketiga yang cantik dari pemain pengganti, Jackson Martinez. Perlu dicatat juga, jumlah tendangan jarak jauh Atletico di babak kedua adalah sebanyak 7 kali, berbanding satu kali di babak pertama.
Kesimpulan
Penguasaan bola Sevilla yang mencapai 66% nyata-nyatanya adalah hal semu belaka karena mereka tak bisa dan tak terlalu cerdas untuk mencoba mengalirkannya ke zona sepertiga akhir penyerangan dari Sevilla. Walhasil, operan mereka ke lini depan hanya ditafsirkan sebagai rasa frustasi dari pressing ketat Atletico. Hal ini juga diperparah ketergesa-gesaan para lini serang Sevilla yang tak mampu mengeksekusi peluang yang jumlahnya lebih banyak dari tim tamu itu sendiri.
Di sisi lain Atletico bermain cerdas dan memiliki perencanaan yang matang. Hal ini juga membuat mereka meraup poin penuh dari dua pertandingan di musim ini dan memastikan mereka ada di jalur yang benar untuk meruntuhkan kembali dominasi Barcelona dan Real Madrid.
====
* Dianalisis oleh @panditfootball. Profil lihat di sini.







