Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Match Analysis

    Liga Spanyol: Atletico Madrid 1-2 Barcelona

    Gol Balasan Cepat yang Meruntuhkan Asa Tuan Rumah

    Pandit Football Indonesia - detikSport
    AFP/Gerard Julien AFP/Gerard Julien
    Jakarta -

    Pasca jeda internasional pekan lalu gelaran liga-liga sepakbola, terutama di benua biru, sudah digelar kembali termasuk di La Liga Spanyol. Pada jornada tiga pun juara bertahan Barcelona berjumpa dengan Atletico Madrid yang kampiun dua musim lalu.

    Atletico yang bertindak sebagai tuan rumah menurunkan susunan pemain yang hampir sama ketika mereka menaklukkan Sevilla pada pekan kedua lalu. Felipe Luis yang absen kini kembali berdiri sebagai pemain bertahan di sisi kiri bersama Diego Godin, Jose Gimenez dan Juanfran.

    Selain itu, tak ada yang berubah dari mayoritas dari susunan pemain mereka. Duet Antonie Griezmann dan Fernando Torres di depan menjadi andalan pelatih Diego Simeone untuk mengoyak pertahanan Barcelona. Sedangkan dua poros halang, yaitu Gabi Fernandez dan Tiago Mendes, masih menjadi andalan dengan ditopang oleh gelandang kreatif di dua sisi, Oliver Torres dan Koke Ressureccion.

    Sedangkan di pihak tuan rumah, Lionel Messi dibangkucadangkan oleh Luis Enrique karena hari sebelumnya tidak mengikuti sesi latihan rutin. Messi yang mendapatkan izin absen karena menemani kekasihnya menjalani proses persalinan anak kedua ini baru masuk di menit ke-60 babak kedua.

    Posisi Messi di sayap kanan depan diisi oleh Rafinha yang piawai bermain di berbagai sisi. Sisanya, susunan pemain yang dipasang oleh Luis Enrique mayoritas sama dengan saat melawan Malaga di pekan kedua La Liga Spanyol, dengan tambahan Marc Andre Ter Stegen yang menjalanai debut di La Liga karena kiper andalan Blaugrana di liga, Claudio Bravo, cedera otot saat latihan beberapa hari lalu.



    Atletico Bermain Rapat, Barcelona Terus Menekan

    Sebetulnya bukanlah barang baru sebuah tim akan bermain rapat dan mengandalkan serangan balik ketika menghadapi Barcelona, sekalipun saat itu bertindak sebagai tuan rumah. Atletico yang kerapkali bermain menggunakan sistem bertahan low block tetap tak mengubah cara bermain mereka dan tetap gigih dengan caranya tersebut.

    Hal ini sangat terlihat dari cara mereka bertahan dengan kekompakan yang sangat terjaga di depan kotak penalti mereka. Lihat grafis di bawah ini



    Bukan hanya cara bertahan mereka saja yang menyulitkan Barcelona sepanjang babak pertama. Aksi defensif dari kuartet bek mereka juga kerap membuat tackle dan cleareance untuk menghentikan laju operan dan gerak pemain Barcelona. Sejauh mereka melakukan itu dengan sukses, maka gawang Atletico akan terhindar dari ancaman-anacaman Barcelona. Tidak berlebihan juga kalau mereka tetap memelihara asa untuk memukul balik Barcelona lewat serangan cepat lewat duet Griezmann dan Torres di lini depan.

    Lini tengah Atletico sebetulnya juga tak tinggal diam untuk melapisi pertahanan yang digalang kuartet pemain bertahan mereka. Formasi awal 4-4-2 yang menjadi skema baku mereka, secara perlahan bertransformasi menjadi 4-2-3-1 atau 4-5-1 ketika tertekan oleh tim tamu.
     
    Skemanya, Antonie Griezmann akan banyak menyingkir ke sisi kanan dan Oliver Torres akan bergerak ke tengah bertukar tempat atau Griezmann. Vice versa.



    Grafis di atas jelas menunjukkan posisi Griezzman yang lebih melebar. Sebetulnya permutasi posisi ini lebih karena terhambatnya aliran bola menuju sepertiga akhir serangan mereka lewat sisi tengah yang dijaga ketat oleh Vermaelen/Mathieu dan Mascherano.

    Griezmann yang Terisolasi, Oliver yang Sulit Berkembang

    Seperti yang disinggung pada bagian sebelumnya, pergerakan Griezmann yang biasanya membahayakan dan mampu menjelajahi hampir seluruh area bermain, kini mulai diantisipasi oleh taktik Luis Enrique.

    Griezmann yang bergerak menyusuri sisi kanan dan kerapkali bertukar posisi dengan Oliver sebetulnya bisa menjadi keuntungan karena Jordi Alba sering naik untuk membantu Neymar dalam fase menyerang Barcelona yang dominan di sisi tersebut.

    Hal ini dapat dimengerti karena pusat permainan beralih dari Messi menuju Neymar. Alternatif itu harus diambil mengingat Messi masih duduk di bangku cadangan.

    Posisi Jordi Alba tersebut juga bisa diekspolitasi oleh Griezmann saat membangun serangan untuk Atletico. Namun kesempatan ini jarang kali terjadi karena Griezmann kerapkali memindahkan alur serangan ke sisi yang lainnya, baik di tengah maupun ke kiri yang dihuni oleh Koke ataupun Felipe Luis.

    Ini juga yang terjadi dengan permainan Oliver. Ia yang didapuk sebagai wide playmaker di sisi kanan, untuk menggantikan peran dari Arda Turan yang hengkang ke Barcelona pada awal musim lalu, ternyata belum cukup terbiasa bermain di posisi yang agak melebar.



    Ini cukup dimengerti karena Oliver biasa bermain di posisi tengah lalu atau bahkan bergerak sebagai pemain no.10 di belakang Jackson Martinez saat membela Porto. Hal tersebut juga yang melandasi mengapa Oliver sering bertukar peran dengan Griezmann dan bergerak ke sisi tengah. (Lihat grafis rataan posisi pemain Atltico di atas).

    Sialnya, maksud pertukaran posisi Oliver dengan Griezmann tersebut berjalan kurang sempurna. Oliver yang tak mampu berbuat banyak hanya melepaskan 18 umpan sukses dan sekali melakukan take-ons. Bahkan dari 18 umpannya tersebut nyaris tak ada yang menjadi peluang bagi rekan setimnya. Padahal ia didapuk sebagai pengalir bola menuju Torres dan Griezmann.

    Mandegnya Oliver dan Griezmann mampu memaksa duet Gabi dan Tiago bermain lebih baik lagi. Selain bertugas sebagai jangkar di lini tengah, mereka berdua bahkan lebih banyak melepaskan umpan yang berujung pada assist dan gol semata wayang Torres di babak kedua.

    Dengan mamanfaatkan garis pertahanan tinggi yang kerap dipasang oleh para pemain Barcelona, Tiago sempat melepaskan umpan ke area half space yang tak mampu dijangkau oleh Jeremy Mathieu dan Jordi Alba yang terlalu jauh naik sampai garis tengah lapangan.

    Akibatnya, Torres yang berdiri tanpa terkawal mampu melepaskan diri untuk menyambut sodoran umpan terobosan dari Tiago dan mengonversikannya menjadi gol. Meski Jordi Alba berlari untuk menghalau pergerakan Torres, ia sudah kalah langkah dan tak mampu mengacaukan konsentrasi Torres yang tinggal berhadapan dengan Ter Stegen. Skor 1-0 tercipta asa tuan rumah terus terpelihara.



    Gol Balasan Cepat dan Masuknya Sang Messiah Sebagai Pembeda

    Para pendukung Barcelona boleh jadi risau ketika Torres merayakan gol pertamanya musim ini ke gawang Ter Stegen. Namun, ketike Neymar membalasnya tiga menit kemudian, gantian para pendukung Atletico yang hadir di Vicente Calderon yang terdiam. Tendangan bebas kerasnya tak mampu dihalau Jan Oblak yang sudah melakukan aksi lompatan untuk penyelamatan.

    Neymar, dalam hal ini, mesti diberi apresiasi yang tinggi berkat gol balasan itu dan keberhasilannya menjadi pusat permainan sepanjang pertandingan. Pun jika akhirnya Messi akan menjadi headline sejumlah media massa karena kegeniusannya menjadi pemain pengganti, Neymar tetap terbukti mampu menunjukkan kapasitasnya sebagai pemimpin baru dalam serangan Blaugrana.

    Saat kedudukan berimbang, Barcelona akhirnya menurunkan Messi untuk bertanding di sisa 30 menit pertandingan. Masuknya sang Messiah juga menjadi penanda perbedaan dalam variasi serangan Barcelona sepanjang 60 menit pertama.


    (Grafis aksi Messi yang masuk di 30 menit terakhir) [Statszone]

    Jika menilik grafis di atas, Messi yang biasa bermain melebar kini bergeser lebih ke tengah untuk mengacaukan kompaksi pertahanan Atletico yang sangat rapat. Pasalnya, jika ia tetap beroperasi di sisi kanan maka kompaksi pertahanan 4-4-2 atau 4-5-1 ala Atletico tak mampu digoyahkan karena hanya akan menggeser garis pertahanan tersebut tanpa mampu merusaknya.

    Suarez yang bergerak di kotak penalti plus Neymar dan Rafinha yang terus mencari ruang kosong untuk mengakomodasi pergerakan Messi ternyata mempermudah La Pulga untuk melakukan aksi-aksi take-ons untuk merusak pertahanan garis rendah milik Atletico dengan total 8 kali dribel sukses. Bahkan, total 8 kali dribel sukses milik Messi ini lebih banyak daripada seluruh pemain Atletico sepanjang 90 menit pertandingan. Untuk diketahui, mereka hanya mampu menciptakan 4 kali dribel sukses.

    Imbasnya, gol kedua Barcelona yang memanfaatkan celah yang dibuka oleh Luis Suarez nyata-nyatanya mampu mengakomodasi kegeniusan Lionel Messi dalam mencetak gol. Meski dari posisi kanan gawang, Messi tetap mampu mengecoh Jan Oblak dengan kaki kiri bagian luar untuk menempatkan bola ke tiang jauh. Atletico satu dan Barcelona dua.

    Meski tim tuan rumah melakukan beberapa pergantian di sektor penyerangan seperti memasukkan Jackson Martinez, Luciano Vietto, dan Yannick Carrasco, tim tamu pada akhirnya tetap di atas angin karena kemampuannya mempertahankan keunggulan.

    ====

    *dianalisis oleh @panditfootball. Profil lihat di sini.

    (krs/krs)
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game