Match Analysis
Liga Italia: Inter 1-0 Milan
Pilihan Taktik Mancini yang Mampu Meredam Agresivitas AC Milan
Jakarta - Kemenangan Internazionale Milan atas rival sekotanya, AC Milan, pada Derby della Madonnina dinihari tadi, Senin (14/9) berhasil membawa kesebelasan besutan Roberto Mancini itu memucaki klasemen sementara. Pertandingan sendiri berakhir dengan skor tipis 1-0 berkat gol Fredy Guarin pada menit ke-58.
Kedua kesebelasan sama-sama mengandalkan formasi 4-3-2. Hanya saja Inter sempat mengubah pakem mereka menjadi 5-3-2 untuk menjaga keunggulan setelah gol yang diceploskan Guarin.

Formasi Inter (4-3-1-2) : Handanovic; Juan Jesus, Murillo, Medel, Santon; Kondogbia, Melo, Guarin; Perisic; Jovetic, Icardi.
Milan (4-3-2-1) : Diego Lopez; De Sciglio, Romagnoli, Zapata, Abate; Bonaventura, Montolivo, Kucka; Honda; Bacca, Luiz Adriano.
Buntunya Alur Serangan Andalan AC Milan
Awalnya cukup mengherankan Mancini tetap menempatkan Juan Jesus sebagai full-back kiri walau posisi aslinya adalah bek tengah. Rupanya Mancini berniat meredam agresivitas sektor kanan Milan yang sering mengandalkan agresivitas Ignazio Abate, full-back kanan.
Juan Jesus diinstruksikan agar lebih menjaga area pertahanan dan tidak terlalu wajib untuk membantu serangan Inter sampai sepertiga akhir. Jarak paling jauh Juan Jesus ketika membantu serangan cuma sampai setengah lapangan. Pergerakannya itu berbeda dengan Davide Santon di sisi kanan yang lebih sering maju ke depan membantu serangan.

Grafis operan Milan kali ini lebih mengandalkan serangan melalui sisi kiri. Sumber: Squawka
Gerakan Juan Jesus pun tidak melulu naik turun secara vertikal di area kiri saja, namun ia kerap bergerak ke dalam kotak penalti pertahanan Inter. Inisiatif Jesus itu sering berhasil menambal lubang di pertahanan Inter yang kadang menyisakan celah karena terpancing lawan.
Tugas Juan Jesus juga diperingan seiring dengan cara bergerak Luiz Adriano. Penyerang Milan itu di sepertiga akhir tidak terlalu sering bergerak melebar untuk membantu Abate. Sedangkan Keisuke Honda sebagai gelandang serang lebih dominan bergerak ke sektor kiri ketimbang ke kanan.
Maka Abate harus mati-matian bersama Juraj Kucka untuk membongkar sektor yang biasa menjadi andalannya tersebut. Apalagi Kucka juga harus meredam pergerakan Geoffrey Kondogbia sehingga tidak bisa terlalu maksimal membantu serangan.
Area Luar Kotak Penalti yang Mampu Dimanfaatkan Inter
Kecuali sisi kiri pertahanan Inter, sebetulnya organisasi pertahanan kedua kesebelasan cenderung berantakan. Masing-masing bek tengah kedua kesebelasan sering membuat celah besar yang membuat umpan-umpan terobosan dari lini tengah sering melahirkan peluang baik bagi Milan maupun Inter.
Salah satu penyebabnya adalah peran gelandang bertahan kedua kesebelasan yang aktif membantu serangan. Ini lebih mencolok di kubu Milan. Ricardo Montolivo sering terlambat mundur membantu pertahanan karena pergerakannya sering sampai berada di sepertiga akhir lawan. Begitu juga Kucka yang terus mencoba membantu Abate melancarkan serangan di sisi kanan dan Giacomo Bonaventura yang tidak kalah agresif di sektor kiri.
Maka kekosongan di depan kotak penalti Milan sering dimanfaatkan Inter untuk memancing Cristian Zapata dan Alessio Romagnoli agar meninggalkan posnya. Dari pergerakan tersebut Inter bisa melancarkan umpan terobosan ke dalam kotak penalti atau memiliki ruang tembak ke gawang yang dikawal Diego Lopez.
Dari situasi tersebutlah Guarin mampu mencetak gol ke gawang Rossoneri pada menit ke-58. Gol itu dipicu pergerakan Guarin yang melakukan penetrasi lebih ke area tengah. Dari situ ia memiliki celah untuk menendang bola ke sudut kanan jala Diego Lopez.

Kekosongan area luar kotak penalti AC Milan yang sering dimanfaatkan Inter Milan membuat peluang.
Di pihak Inter hal yang sama juga terjadi. Bedanya, Felipe Melo cenderung lebih sigap untuk berbalik kembali ke posisinya untuk ikut menangkal serangan Milan. Kesigapan Melo ini menyeimbangkan cara bergerak Montolivo, gelandang Milan, yang sangat sering naik hingga di pertahanan Milan. Melo lebih sering aktif hanya sampai setengah lapangan. Melo hanya sesekali berada di dalam kotak penalti Milan ketika Montolivo sedang membantu pertahanan.
Sayangnya, situasi ketika Melo sedang meninggalkan posnya itu tidak mampu dimanfaatkan Milan dengan melakukan serangan balik cepat. Milan Justru cenderung melakukan operan-operan di area tengah karena sektor sayap yang biasa menjadi andalan serangan mereka cukup disulitkan oleh kedisiplinan dua full-back Inter. Inilah yang memungkinkan Melo cukup punya waktu untuk segera kembali ke posnya di depan pertahanan Inter.
Perubahan Taktik Mancini untuk Menjaga Keunggulan Inter
Sejatinya Inter tampil menyerang sejak pertandingan dimulai dan mereka begitu aktif mengandalkan sektor kanan untuk mencetak gol. Hasilnya memang baik. Melalui sektor tersebutlah Guarin mampu mencetak gol setelah mendapatkan sodoran dari Santon yang sebelumnya berhasil menggiring bola sampai setengah lapangan.
Tapi, agresivitas serangan I Nerazzurri seolah hanya sampai pada menit ke-58 saja. Pasalnya setelah unggul mereka cenderung lebih bertahan. Kondogbia dan Guarin yang begitu aktif membangun serangan pun jarang menusuk ke area sepertiga akhir Milan, kecuali jika melakukan serangan balik.
Rodrigo Palacio pun dimasukan mengganti Stevan Jovetic. Agresivitasnya dalam mengejar bola bisa lebih diandalkan dalam situasi serangan balik yang mengandalkan umpan-umpan panjang. Selain itu, Mancini juga mengubah taktiknya. Untuk menjaga keunggulan, ia mengubah formasi dari 4-3-1-2 menjadi 5-3-2.
Agar perubahan taktiknya berjalan lancar itulah ia memasukan Andrea Ranocchia untuk mengganti Ivan Perisic. Lini pertahanan Inter sejak itu menjadi lebih rapat, jarang ada celah dan kekosongan di area kotak penalti. Melo pun lebih sering berada di depan area kotak penalti sendiri.
Pilihan taktik itulah yang memberi keleluasan kepada Mario Balotelli yang merasakan debutnya di musim 2015/2016 bersama Milan. Ia dimasukkan pada menit ke-61 menggantikan Carlos Bacca. Permainan Nerazzurri yang lebih cenderung bertahan dengan sabar dan tidak terburu-buru mengambil bola, membuat Balotelli memiliki ruang yang cukup untuk membuat peluang.
Selama 28 menit bermain Balotelli berhasil melakukan tiga dribel sukes, dua umpan kunci dan dua tendangan tepat ke arah gawang. Bukan kinerja yang buruk bagi Balotelli yang sempat terkatung-katung karirnya karena tak mendapatkan tempat di Liverpool.
Aksi Penting Guarin Selain Urusan Mencetak Gol Semata Wayang
Di luar gol yang dicetaknya, Guarin secara keseluruhan memberikan kontribusi besar bagi Inter. Peran pemain asal Kolombia tersebut sangat penting selama Derby della Madonnina jilid I di musim 2015/2016 ini.
Guarin merupakan pemain yang pintar memanfaatkan kelengahan Rosonerri yang sering membiarkan area depan kotak penalti kosong. Ia menjadi alat Inter untuk memancing bek lawan untuk mempermudah tugas duet penyerang Jovetic dan Mauro Icardi. Apalagi taktik pressing tinggi yang diperagakan Mihajlovic ketika menggalang pertahanan membuat para bek Milan kadang tidak terlalu sabar dan ingin selekasnya merebut bola dari kaki lawan.
Ketika Romagnoli atau Zapata terpancing, Guarin sering mengambil keputusan yang tepat dengan melepaskan umpan terobosan atau menendang langsung ke arah gawang yang dikawal Diego Lopez.
Satu umpan terobosan dari Guarin berhasil menjadi kunci bagi rekannya untuk menciptakan peluang. Ia sendiri berhasil melepaskan percobaan tendangan ke arah gawang sebanyak enam kali.
Pemain berusia 29 tahun tersebut juga memiliki kontribusi yang baik ketika bertahan. Ia membuat tiga tekel bersih, dua untuk menangkal pergerakan Bonaventura dan satu kali menghadang Bacca.
Kesimpulan
Taktik pressing tinggi yang diterapkan Mihajlovic berdampak seringnya pertahanan Rossoneri menjadi terbuka. Itu disebabkan para pemain Milan sering terburu-buru ingin merebut bola. Taktik ini menjadi problematis karena pelatih asal Serbia tersebut tidak mengimbanginya dengan seorang gelandang bertahan murni yang disiplin menjaga area di depan pertahanan.
Kemenangan ini menjadi bukti bahwa, hingga derajat tertentu, Mancini lebih punya pengalaman mengelola sebuah laga derby Milan. Mancini paham betul ia harus sabar meredam sektor andalan serangan Milan di sisi sebelah kanan. Ketika strategi itu berjalan, Inter hanya tinggal menunggu sedikit keberuntungan untuk mencetak gol lebih dulu. Sisanya, jika gol sudah lahir, pragmatisme permainan untuk bertahan berhasil menjaga keunggulan Inter.
Kini Nerazzurri menjadi pemucak klasemen sementara Serie A dengan raihan sembilan poin dari tiga pertandingan yang dilakoninya. Tentu konsistensi dan kejelian taktik Mancini harus mampu dipertahankan agar mampu merebut gelar juara kembali bersama Inter.
====
*dianalisis oleh @panditfootball, profil lihat di sini.
(roz/krs)
Kedua kesebelasan sama-sama mengandalkan formasi 4-3-2. Hanya saja Inter sempat mengubah pakem mereka menjadi 5-3-2 untuk menjaga keunggulan setelah gol yang diceploskan Guarin.

Formasi Inter (4-3-1-2) : Handanovic; Juan Jesus, Murillo, Medel, Santon; Kondogbia, Melo, Guarin; Perisic; Jovetic, Icardi.
Milan (4-3-2-1) : Diego Lopez; De Sciglio, Romagnoli, Zapata, Abate; Bonaventura, Montolivo, Kucka; Honda; Bacca, Luiz Adriano.
Buntunya Alur Serangan Andalan AC Milan
Awalnya cukup mengherankan Mancini tetap menempatkan Juan Jesus sebagai full-back kiri walau posisi aslinya adalah bek tengah. Rupanya Mancini berniat meredam agresivitas sektor kanan Milan yang sering mengandalkan agresivitas Ignazio Abate, full-back kanan.
Juan Jesus diinstruksikan agar lebih menjaga area pertahanan dan tidak terlalu wajib untuk membantu serangan Inter sampai sepertiga akhir. Jarak paling jauh Juan Jesus ketika membantu serangan cuma sampai setengah lapangan. Pergerakannya itu berbeda dengan Davide Santon di sisi kanan yang lebih sering maju ke depan membantu serangan.

Grafis operan Milan kali ini lebih mengandalkan serangan melalui sisi kiri. Sumber: Squawka
Gerakan Juan Jesus pun tidak melulu naik turun secara vertikal di area kiri saja, namun ia kerap bergerak ke dalam kotak penalti pertahanan Inter. Inisiatif Jesus itu sering berhasil menambal lubang di pertahanan Inter yang kadang menyisakan celah karena terpancing lawan.
Tugas Juan Jesus juga diperingan seiring dengan cara bergerak Luiz Adriano. Penyerang Milan itu di sepertiga akhir tidak terlalu sering bergerak melebar untuk membantu Abate. Sedangkan Keisuke Honda sebagai gelandang serang lebih dominan bergerak ke sektor kiri ketimbang ke kanan.
Maka Abate harus mati-matian bersama Juraj Kucka untuk membongkar sektor yang biasa menjadi andalannya tersebut. Apalagi Kucka juga harus meredam pergerakan Geoffrey Kondogbia sehingga tidak bisa terlalu maksimal membantu serangan.
Area Luar Kotak Penalti yang Mampu Dimanfaatkan Inter
Kecuali sisi kiri pertahanan Inter, sebetulnya organisasi pertahanan kedua kesebelasan cenderung berantakan. Masing-masing bek tengah kedua kesebelasan sering membuat celah besar yang membuat umpan-umpan terobosan dari lini tengah sering melahirkan peluang baik bagi Milan maupun Inter.
Salah satu penyebabnya adalah peran gelandang bertahan kedua kesebelasan yang aktif membantu serangan. Ini lebih mencolok di kubu Milan. Ricardo Montolivo sering terlambat mundur membantu pertahanan karena pergerakannya sering sampai berada di sepertiga akhir lawan. Begitu juga Kucka yang terus mencoba membantu Abate melancarkan serangan di sisi kanan dan Giacomo Bonaventura yang tidak kalah agresif di sektor kiri.
Maka kekosongan di depan kotak penalti Milan sering dimanfaatkan Inter untuk memancing Cristian Zapata dan Alessio Romagnoli agar meninggalkan posnya. Dari pergerakan tersebut Inter bisa melancarkan umpan terobosan ke dalam kotak penalti atau memiliki ruang tembak ke gawang yang dikawal Diego Lopez.
Dari situasi tersebutlah Guarin mampu mencetak gol ke gawang Rossoneri pada menit ke-58. Gol itu dipicu pergerakan Guarin yang melakukan penetrasi lebih ke area tengah. Dari situ ia memiliki celah untuk menendang bola ke sudut kanan jala Diego Lopez.

Kekosongan area luar kotak penalti AC Milan yang sering dimanfaatkan Inter Milan membuat peluang.
Di pihak Inter hal yang sama juga terjadi. Bedanya, Felipe Melo cenderung lebih sigap untuk berbalik kembali ke posisinya untuk ikut menangkal serangan Milan. Kesigapan Melo ini menyeimbangkan cara bergerak Montolivo, gelandang Milan, yang sangat sering naik hingga di pertahanan Milan. Melo lebih sering aktif hanya sampai setengah lapangan. Melo hanya sesekali berada di dalam kotak penalti Milan ketika Montolivo sedang membantu pertahanan.
Sayangnya, situasi ketika Melo sedang meninggalkan posnya itu tidak mampu dimanfaatkan Milan dengan melakukan serangan balik cepat. Milan Justru cenderung melakukan operan-operan di area tengah karena sektor sayap yang biasa menjadi andalan serangan mereka cukup disulitkan oleh kedisiplinan dua full-back Inter. Inilah yang memungkinkan Melo cukup punya waktu untuk segera kembali ke posnya di depan pertahanan Inter.
Perubahan Taktik Mancini untuk Menjaga Keunggulan Inter
Sejatinya Inter tampil menyerang sejak pertandingan dimulai dan mereka begitu aktif mengandalkan sektor kanan untuk mencetak gol. Hasilnya memang baik. Melalui sektor tersebutlah Guarin mampu mencetak gol setelah mendapatkan sodoran dari Santon yang sebelumnya berhasil menggiring bola sampai setengah lapangan.
Tapi, agresivitas serangan I Nerazzurri seolah hanya sampai pada menit ke-58 saja. Pasalnya setelah unggul mereka cenderung lebih bertahan. Kondogbia dan Guarin yang begitu aktif membangun serangan pun jarang menusuk ke area sepertiga akhir Milan, kecuali jika melakukan serangan balik.
Rodrigo Palacio pun dimasukan mengganti Stevan Jovetic. Agresivitasnya dalam mengejar bola bisa lebih diandalkan dalam situasi serangan balik yang mengandalkan umpan-umpan panjang. Selain itu, Mancini juga mengubah taktiknya. Untuk menjaga keunggulan, ia mengubah formasi dari 4-3-1-2 menjadi 5-3-2.
Agar perubahan taktiknya berjalan lancar itulah ia memasukan Andrea Ranocchia untuk mengganti Ivan Perisic. Lini pertahanan Inter sejak itu menjadi lebih rapat, jarang ada celah dan kekosongan di area kotak penalti. Melo pun lebih sering berada di depan area kotak penalti sendiri.
Pilihan taktik itulah yang memberi keleluasan kepada Mario Balotelli yang merasakan debutnya di musim 2015/2016 bersama Milan. Ia dimasukkan pada menit ke-61 menggantikan Carlos Bacca. Permainan Nerazzurri yang lebih cenderung bertahan dengan sabar dan tidak terburu-buru mengambil bola, membuat Balotelli memiliki ruang yang cukup untuk membuat peluang.
Selama 28 menit bermain Balotelli berhasil melakukan tiga dribel sukes, dua umpan kunci dan dua tendangan tepat ke arah gawang. Bukan kinerja yang buruk bagi Balotelli yang sempat terkatung-katung karirnya karena tak mendapatkan tempat di Liverpool.
Aksi Penting Guarin Selain Urusan Mencetak Gol Semata Wayang
Di luar gol yang dicetaknya, Guarin secara keseluruhan memberikan kontribusi besar bagi Inter. Peran pemain asal Kolombia tersebut sangat penting selama Derby della Madonnina jilid I di musim 2015/2016 ini.
Guarin merupakan pemain yang pintar memanfaatkan kelengahan Rosonerri yang sering membiarkan area depan kotak penalti kosong. Ia menjadi alat Inter untuk memancing bek lawan untuk mempermudah tugas duet penyerang Jovetic dan Mauro Icardi. Apalagi taktik pressing tinggi yang diperagakan Mihajlovic ketika menggalang pertahanan membuat para bek Milan kadang tidak terlalu sabar dan ingin selekasnya merebut bola dari kaki lawan.
Ketika Romagnoli atau Zapata terpancing, Guarin sering mengambil keputusan yang tepat dengan melepaskan umpan terobosan atau menendang langsung ke arah gawang yang dikawal Diego Lopez.
Satu umpan terobosan dari Guarin berhasil menjadi kunci bagi rekannya untuk menciptakan peluang. Ia sendiri berhasil melepaskan percobaan tendangan ke arah gawang sebanyak enam kali.
Pemain berusia 29 tahun tersebut juga memiliki kontribusi yang baik ketika bertahan. Ia membuat tiga tekel bersih, dua untuk menangkal pergerakan Bonaventura dan satu kali menghadang Bacca.
Kesimpulan
Taktik pressing tinggi yang diterapkan Mihajlovic berdampak seringnya pertahanan Rossoneri menjadi terbuka. Itu disebabkan para pemain Milan sering terburu-buru ingin merebut bola. Taktik ini menjadi problematis karena pelatih asal Serbia tersebut tidak mengimbanginya dengan seorang gelandang bertahan murni yang disiplin menjaga area di depan pertahanan.
Kemenangan ini menjadi bukti bahwa, hingga derajat tertentu, Mancini lebih punya pengalaman mengelola sebuah laga derby Milan. Mancini paham betul ia harus sabar meredam sektor andalan serangan Milan di sisi sebelah kanan. Ketika strategi itu berjalan, Inter hanya tinggal menunggu sedikit keberuntungan untuk mencetak gol lebih dulu. Sisanya, jika gol sudah lahir, pragmatisme permainan untuk bertahan berhasil menjaga keunggulan Inter.
Kini Nerazzurri menjadi pemucak klasemen sementara Serie A dengan raihan sembilan poin dari tiga pertandingan yang dilakoninya. Tentu konsistensi dan kejelian taktik Mancini harus mampu dipertahankan agar mampu merebut gelar juara kembali bersama Inter.
====
*dianalisis oleh @panditfootball, profil lihat di sini.
(roz/krs)







