Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Match Analysis

    Piala Presiden: Arema 1-1 Sriwijaya FC

    Perubahan Taktik Sriwijaya Menggagalkan Kemenangan Arema

    Pandit Football Indonesia - detikSport
    Malang -

    Laga leg pertama babak semifinal Piala Presiden 2015 di Stadion Kanjuruhan, Malang, berakhir mengejutkan. Bertemu dengan Sriwijaya FC, tuan rumah Arema Cronus harus puas menerima hasil imbang dengan skor 1-1.

    Terlepas dari gol Arema yang kontroversial, di mana kiper Sriwijaya FC, Dian Agus Prasetyo, mendapatkan kontak fisik di area kotak penalti dari Cristian Gonzales, Sriwijaya memang tampil disiplin saat menjaga pertahanan. Hal ini yang membuat Arema kesulitan untuk menciptakan peluang.

    Pelatih Sriwijaya FC, Benny Dollo, tampaknya sudah belajar banyak dari kekalahan Sriwijaya dari Arema di fase grup. Pada laga kali ini, ia tak terlalu meladeni permainan terbuka Arema, di mana lebih memilih untuk mengacaukan tempo permainan.

    Sriwijaya Menahan Sisi Kanan Arema

    Menghadapi leg pertama, Arema tampil tanpa kekuatan penuh. Kemenangan atas Bali United Pusam di leg kedua perempatfinal memang diwarnai hujan kartu kuning. Sebagai tumbalnya, Samsul Arif, Ferry Aman Saragih, dan Juan Revi harus absen di leg pertama semifinal.

    Pada awalnya, Arema tetap menggunakan formasi 4-3-3 meski tanpa ketiga pemain di atas. Di tengah, I Gede Sukadana ditemani Morimakan Koita dan Arif Suyono. Sementara pengganti Samsul di lini depan dipercayakan kepada Dendi Santoso.

    Namun, pada babak kedua, Joko Susilo mengubah formasinya dari 4-3-3 ke 4-2-3-1. Pada formasi 4-3-3, di lini tengah I Gede Sukadana bertindak sebagai deep-lying midfielder, sementara Koita dan Arif berperan sebagai box-to-box midfielder.

    Pada formasi 4-2-3-1, Koita lebih sering mengisi area tengah lapangan menemani Sukadana. Arif digeser menempati sayap kanan. Dan Lancine Kone yang bermain sebagai winger kanan pada formasi 4-3-3, ditempatkan sebagai gelandang serang di belakang Gonzales.



    Perubahan formasi Arema di tengah laga

    Perubahan ini dilakukan karena pada formasi 4-3-3, aliran bola cenderung statis bergerak ke sisi sebelah kanan, di mana terdapat Kone dan Arif. Skema ini pun pada akhirnya tak berjalan baik karena di sisi kiri Sriwijaya, atau sisi kanan Arema, terdapat Syaiful Indra Cahya (atau Fathul Rahman) yang jarang melakukan overlap.

    Bendol tampaknya telah memprediksi bahwa tanpa Samsul Arif, Arema akan memfokuskan serangan ke sisi kanan. Hal ini terlihat dari bagaimana Titus Bonai yang berjuang sendirian di sisi kiri Sriwijaya.

    Bendol pun bahkan menambah kekuatan pertahanan di sisi kiri (kedua sayap sebenarnya) dengan lebih memundurkan dua sayap ofenfif Sriwijaya, yakni Talaohu Musafri dan Titus Bonai. Meski formasi dasar Sriwijaya menggunakan 4-3-3, saat bertahan Musafri dan Tibo melakukan trackback hingga mendekati area kotak penalti pertahanan sendiri sehingga formasi Sriwijaya terlihat seperti 4-5-1, menyisakan Patrich Wanggai di depan sendirian.

    Saat merebut bola, tekel agresif baru dilakukan ketika bola masuk ke sepertiga akhir pertahanan Sriwijaya. Saat bola dikuasai Arema dan masih berada di lini pertahanan mereka atau di tengah, para pemain Sriwijaya lebih sabar menunggu para pemain Arema mengoper ke sepertiga akhir untuk kemudian melakukan tekel agresif atau berupaya mengintersep bola.

    Skema bertahan seperti ini membuat bola-bola pendek pada Gonzeles yang bisa menjadi tembok atau pemantul berhasil dihindari. Meskipun begitu, tak jarang pula skema ini harus membuat para pemain Sriwijaya melanggar para pemain Arema di area yang cukup berbahaya, yang kemudian berujung satu gol.

    Tapi, yang paling utama, strategi ini berhasil meredam Arif Suyono yang begitu aktif melebar ke sayap bahkan sejak Arema menggunakan formasi 4-3-3 dengan Arif yang sebenarnya diposisikan sebagai gelandang tengah. Jarangnya Syaiful Indra Cahya (atau Fathul Rahman) melakukan overlap membuat nyaris tak ada area flank yang bisa dimanfaatkan para pemain Arema.

    Menghadapi strategi pertahanan Sriwijaya yang seperti ini, pada akhirnya Arif kesulitan memberikan umpan silang terukur bagi Gonzales. Bahkan Arif harus membawa bola mendekati area sepak pojok untuk melepaskan penjagaan yang mengakibatkan umpan silang yang dilepaskannya lebih sering menjauhi gawang ketimbang mendekati gawang.

    Pergantian Strategi Bendol yang Membuat Sriwijaya Kuat di Lini Tengah

    Tak meladeni permainan menyerang Arema berarti membuat Sriwijaya cenderung mengandalkan serangan balik. Namun skema serangan balik Sriwijaya pun sebenarnya bisa dibilang gagal mengeksploitasi lini pertahanan Arema.

    Penempatan Patrich Wanggai sendirian di depan difungsikan sebagai penghubung serangan Sriwijaya dalam menyerang. Saat bola digulirkan pada Patrich, Patrich diharapkan bisa menjaga bola lalu menggulirkannya ke kedua sayap yang memang memiliki keunggulan perihal kecepatan.

    Namun skema ini tak berjalan baik ketika bola serangan Arema lebih sering menghampiri Abdoulaye Maiga. Bek asing asal Mali tersebut tak bisa mem-build up serangan. Ketika bola datang padanya, ia lebih memilih langsung membuang bola, meski dalam beberapa kesempatan, ia berada pada posisi bebas tanpa tekanan dari para pemain Arema.

    Dengan hanya menempatkan Patrich di depan, sepakan-sepakan jauh dari Maiga ini pun membuat Sriwijaya sering dengan mudah kehilangan bola. Apalagi dengan ketangguhan Fabiano Beltrame di lini pertahanan Arema, Patrich kerap kalah dalam duel-duel bola atas.

    Dengan menggunakan formasi 4-5-1 saat bertahan, memang praktis pemain Sriwijaya yang lebih sering berada di area bermain lawan hanyalah Patrich. Butuh waktu beberapa detik untuk membuat para pemain dari lini kedua naik membantu penyerangan.

    Inilah yang membuat Bendol menarik keluar Syakir Sulaiman ketika pertandingan baru memasuki menit ke-40. Syakir digantikan Fathlul Rahman yang kemudian bermain sebagai bek kiri. Masuknya Rahman, Bendol menggeser Syaiful Indra ke tengah, menemani Yu Hyun Koo dan Asri Akbar.

    Jika saat terdapat Syakir Sriwijaya menggunakan formasi 4-2-3-1 dengan Syakir sebagai pemain no. 10, pindahnya Syaiful ke tengah membuat Sriwijaya bermain dengan formasi 4-3-3 flat di tengah: Hyun Koo, Asri, dan Syaiful lebih sering mendekati area pertahanan.


    Perubahan formasi saat Syaiful menjadi gelandang bertahan

    Dengan strategi seperti ini, build up serangan Sriwijaya secara perlahan dari belakang terlihat berjalan lebih baik dibanding babak pertama. Para pemain belakang memiliki banyak opsi saat hendak mengoper bola ke tengah.

    Strategi ini pun membuat Arema lebih sering menghindari area tengah lapangan. Ini juga yang menjadi alasan Arif Suyono di sisi kanan begitu diandalkan, sementara di sisi kiri, Dendi Santoso, harus sering masuk ke tengah agar di tengah tak kalah jumlah.

    Penumpukan di tengah yang dilakukan Sriwijaya pun dengan tujuan agar Gonzales tak menerima bola operan pendek di depan kotak penalti. Karena jika Gonzales bisa memainkan perannya sebagai target man, dari lini kedua bisa muncul Kone, Dendi, atau Arif yang akan memanfaatkan ruang kosong akibat celah yang lahir karena peran dari Gonzales tersebut.

    Selain untuk bertahan, tiga gelandang Sriwijaya yang menumpuk di tengah ini pun untuk meringankan tugas Musafri dan Tibo yang melakukan trackback. Bahkan semenjak Syaiful mulai bermain sebagai gelandang bertahan, Musafri dan Tibo mulai sering membahayakan dari sisi lapangan, walau pada utamanya tetap harus melakukan trackback.

    Kesimpulan

    Hasil imbang menjadi hasil yang ideal bagi Sriwijaya. Memiliki pertahanan yang baik sepanjang laga, dengan segala perubahannya, namun harus dihukum dengan gol yang seharusnya tak perlu terjadi.

    Meskipun begitu persoalan di lini depan masih ada di mana trio Musafri-Tibo-Patrich belum bisa berkordinasi dengan baik meski kerap membahayakan. Jika kombinasi ketiganya tercipta, lini serang Sriwijaya tentunya akan lebih berpotensi mencetak banyak gol.

    Gol Wildansyah yang dihasilkan dari sepak pojok pun mencerminkan bahwa secara strategi menyerang, Sriwijaya belum efektif. Namun tetap saja, satu gol yang diciptakan Wildansyah tersebut menjadi modal yang bagus saat bermain sebagai tuan rumah pada leg kedua nanti.

    (mfi/mfi)
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game