Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Match Analysis

    Liga Jerman: Bayern 5-1 Dortmund

    Perjudian Tuchel Antar Dortmund Kalah Telak di Allianz Arena

    Pandit Football Indonesia - detikSport
    REUTERS/Michael Dalder REUTERS/Michael Dalder
    Jakarta -

    Borussia Dortmund cukup beruntung. Kekalahan pertama musim ini tidak membawa mereka turun dari peringkat kedua di klasemen, karena FC Schalke 04 yang berada di peringkat ketiga juga menderita kekalahan di pekan yang sama.

    Walau demikian, kekalahan ini tetap meninggalkan luka, karena terjadi dalam pertandingan sakral, Der Klassiker, dan dengan skor akhir yang mencolok pula: 5-1.

    Bagi Bayern Munich Kemenangan ini bukan hanya kemenangan atas rival utama. Dengan tambahan tiga angka, mereka kini berjarak tujuh angka dari kesebelasan terdekat.

    Lebih besar daripada itu, kemenangan atas Dortmund membawa Bayern mencetak sejarah. Bayern menjadi tim pertama yang memenangi semua pertandingan dalam delapan pertandingan pertama sebuah musim Bundesliga. Dengan start seperti ini, Bayern akan sulit terkejar hingga akhir musim nanti. Nyaris mustahil, malahan.

    Bayern Fleksibel, Dortmund Kacau di Belakang

    Josep Guardiola menurunkan para pemain Bayern Munchen dalam formasi 3-4-3 berlian. Javi Martinez diapit oleh David Alaba dan Jerome Boateng di lini belakang.

    Xabi Alonso menjadi penghubung antara lini belakang dan para pemain lain yang lebih dekat ke gawang lawan ketimbang dirinya. Thomas Mueller bermain di belakang Robert Lewandowski, sementara posisi favoritnya diisi oleh Mario Goetze.

    Ketika bertahan, Bayern tampil dalam formasi 4-3-3. Philipp Lahm turun dan menjadi bek kanan. Goetze dan Thiago Alcantara mengapit Xabi Alonso. Mueller bergeser mengisi pos penyerang sayap kanan.

    Permainan Bayern sangat fleksibel. Perubahan dan penyesuaian tidak hanya terjadi di tingkat formasi. Para pemain terus bergerak dan bertukar posisi. Boateng tidak selalu di kanan, Alaba tidak selalu di kiri.



    Kesebelasan tamu, Borussia Dortmund, tampil dalam formasi 4-3-2-1. Namun pada praktiknya, Dortmund bermain dengan formasi 4-2-3-1. Dari kiri ke kanan, susunan tiga pemain di belakang Pierre-Emerick Aubameyang adalah Henrikh Mkhitaryan, Shinji Kagawa, dan Gonzalo Castro. Ilkay Guendogan dan Julian Weigl memainkan peran poros ganda.

    Thomas Tuchel, pelatih kepala Dortmund, melakukan langkah berani dengan mengubah susunan pemain belakangnya. Hanya Mats Hummels yang bermain di posisi alaminya. Sokratis Papastathopoulos, bek tengah yang biasa dimainkan bersama Hummels, dipasang sebagai bek sayap kanan. Posisi ini belakangan menjadi pos Matthias Ginter. Sebagai pasangan Hummels, Tuchel memainkan Sven Bender, seorang gelandang bertahan. Di posisi bek sayap kiri, Marcel Schmelzer tidak mendapat kesempatan bermain di pertandingan ini. Posisinya diisi Lukasz Piszczek, bek sayap kanan.

    Bayern Maksimalkan Buruknya Organisasi Pertahanan Dortmund

    Bayern dan Dortmund memainkan taktik yang nyaris sama. Tanpa bola, kedua tim sama-sama tidak menunggu di daerah permainan sendiri. Namun tidak tepat juga jika mereka disebut bermain menekan. Bayern dan Dortmund sama-sama berusaha merebut bola sedekat mungkin dari gawang lawan, namun kedua kesebelasan tidak melakukannya dengan memberi tekanan satu lawan satu.

    Bayern dan Dortmund sama-sama meningkatkan kemungkinan terciptanya kesalahan lawan dengan memainkan zona marking untuk meminimalisir pilihan pemilik bola dan menutup ruang umpan. Ketika menguasai bola, Bayern dan Dortmund sama-sama mengombinasikan umpan-umpan menyusur tanah dengan umpan-umpan langsung mengarah ke depan. Bayern dan Dortmund sama-sama melancarkan serangan cepat begitu melihat peluang.

    Hanya satu dari enam gol di pertandingan ini yang tidak tercipta lewat serangan cepat. Gol yang dimaksud adalah gol keenam (gol kelima Bayern) yang dicetak Goetze. Diamemaksimalkan bola liar dalam kotak penalti Dortmund setelah usaha Thiago Alcantara untuk menggiring bola melewati lawan menemui kegagalan.

    Kecuali gol Goetze, semua gol dalam pertandingan ini tercipta dari serangan cepat. Bahkan gol penalti Mueller adalah hasil dari serangan cepat Bayern yang dihentikan dengan pelanggaran.

    Dari enam gol yang tercipta, dua pantas mendapat perhatian: gol pertama dan keempat Bayern yang dicetak Mueller dan Lewandowski. Pencetak assist untuk kedua gol tersebut adalah Jerome Boateng. Bek tengah Bayern ini mencetak kedua assist-nya dari dua titik berbeda di area pertahanannya sendiri: untuk Mueller dari area tengah, untuk Lewandowski dari dekat garis tepi sebelah kiri.

    Boateng berhasil mencetak dua assist dari area pertahanan sendiri bukan semata karena ia memiliki kekuatan yang memadai untuk menendang bola ke titik jauh. Boateng dapat melakukan itu karena: 1) zona marking Dortmund tidak membatasi pilihan Boateng, dan 2) Mueller dan Lewandowski mendapat peluang dan cukup ruang di area pertahanan Dortmund.

    Boateng dan dua assist­-nya, dengan kata lain, adalah ringkasan analisis pertandingan: pertahanan Dortmund yang tidak cukup baik + kemampuan para pemain Bayern melihat dan memanfaatkan peluang = kemenangan telak 5-1.

    Alasan dari kegagalan Dortmund mencetak lebih dari satu gol bukan hanya Manuel Neuer. Alasan dari keberhasilan Bayern mencetak lima gol bukan hanya karena Muller dan Lewandowski sedang tajam-tajamnya.

    Bayern mencetak lebih banyak gol dari Dortmund karena Bayern memiliki lebih banyak tembakan tepat sasaran (Bayern 9, Dortmund 4). Anggaplah sembilan tembakan tepat sasaran itu modal. Untung besar atau tidak, tergantung kepada bagaimana Bayern memanfaatkannya. Dan Bayern memanfaatkan apa yang mereka miliki dengan sangat baik. Lima gol lahir dari sembilan tembakan tepat sasaran.



    Bayern tidak mendapat sembilan tembakan tepat sasaran secara gratis. Mereka memilikinya karena lebih efektif dalam memainkan umpan-umpan mengarah ke depan. Sepanjang pertandingan Bayern melepas 289 umpan mengarah ke depan (Dortmund hanya 232, dengan akurasi 70,26%) dengan akurasi 81,31%. Dari 235 umpan mengarah ke depan yang tepat sasaran, enam menjadi umpan kunci (dua di antaranya adalah assist).

    Selain itu, Bayern lebih efektif memanfaatkan umpan silang. Bayern dan Dortmund sama-sama hanya memiliki dua umpan silang tepat sasaran. Bedanya, Bayern mampu memanfaatkan salah satunya menjadi gol sementara Dortmund tidak.



    Buruknya organisasi pertahanan Dortmund menjadi keuntungan untuk Bayern. Dortmund hanya memenangi 17 dari 30 tackle mereka.

    Walau melakukan 25 potongan (interception), terlihat ketimpangan kualitas di kedua sisi pertahanan Dortmund. Sisi kiri lebih banyak melakukan potongan ketimbang sisi kanan. Dari semua potongan tersebut, hanya satu yang terjadi di dalam kotak penalti. Dortmund memang banyak melakukan potongan, namun tidak banyak yang di area kunci. Bandingkan dengan Bayern yang hanya mencatatkan 19 potongan, tapi empat di antaranya di dalam kotak penalti.

    Kesimpulan

    Melawan Bayern, bermain di tingkat permainan terbaik saja tidak cukup. Itu Hal tersebut mungkin bisa membantu kesebelasan apapun untuk mencetak gol atau memberi perlawanan yang merepotkan, namun itu saja tidak cukup untuk mencegah Bayern mengantungi kemenangan.

    Bayern terlalu kuat untuk kesebelasan mana pun di Bundesliga. Sial bagi Dortmund, mereka bermain menghadapi musuhnya itu dengan komposisi lini belakang yang baru. Lebih sial lagi, Bayern melihat kelemahan itu dan berhasil memanfaatkannya.


    ===

    * Dianalisis oleh @panditfootball. Profil lihat di sini.

    (a2s/krs)
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game