Piala Presiden: Mitra Kukar 1-0 Persib
Kesibukan Persib Meredam Serangan Sayap Mitra Kukar Berbuah Kekalahan
Mitra Kukar berhasil meraih kemenangan pada leg pertama semifinal Piala Presiden 2015. Menjamu Persib Bandung di Stadion Aji Imbut, Tenggarong, skuat besutan Jafri Sastra ini unggul berkat gol semata wayang Carlos Raul Scuciatti pada menit ke-83.
Meskipun menang, hasil ini tidak maksimal bagi Mitra Kukar. Karena sebenarnya, kesebelasan berjuluk "Naga Mekes ini gagal mengeksploitasi kelemahan Persib yang pada saat itu tampil tanpa enam pemain pilarnya.
Absennya Sejumlah Pemain Pilar Berdampak Pada Permainan Konate Makan
Sebagaimana disinggung sebelumnya, Persib pada laga ini bermain tanpa enam pemain utamanya. Mereka yang absen adalah Zulham Zamrun, Ilija Spasojevic, Muhammad Ridwan, Hariono, Vladimir Vujovic, dan Achmad Jufriyanto. Keenam pemain ini merupakan pemain-pemain yang selalu menghuni starting line up Persib.
Sebagai gantinya, Tony Sucipto yang biasanya beroperasi pada bek kiri ditempatkan sebagai bek tengah menemani Abdurrahman. Bek kiri diisi oleh Jajang Sukmara. Absennya Spaso diisi oleh Yandi Sofyan. Sementara pos Hariono, ditempati Firman Utina yang berduet dengan Dedi Kusnandar.
Namun yang paling terasa dari kehilangan para pemain di atas adalah kehilangan Hariono. Pada pos gelandang double pivot Persib, praktis diisi oleh gelandang yang cenderung kurang baik dalam bertahan: Dedi dan Firman. Keduanya memiliki keunggulan dalam mendistribusikan bola.
Alhasil Persib sering kalah duel di lini tengah. Lini tengah Mitra Kukar yang dihuni oleh gelandang petarung macam Rizky Pellu dan Fajar Handika membuat Carlos Raul yang bermain sebagai gelandang serang cukup leluasa bermain di depan.
Kalah duelnya Dedi-Firman melawan Pellu-Fajar membuat Konate Makan yang bermain sebagai gelandang serang harus rajin membantu area pertahanan untuk merebut bola. Maka tak jarang gelandang asal Mali tersebut lebih sering berada di lingkar lapangan tengah ketimbang berada di depan kotak penalti.
Tanpa Hariono, Konate harus bekerja ekstra keras pada laga ini. Ia yang awalnya diinstruksikan sebagai attacking midfielder, lebih bermain sebagai box-to-box midfielder pada laga ini. Dan ini berpengaruh pada distribusi bola yang dilancarkan Persib saat hendak menyerang.
Seringnya Konate bermain di area lingkar lapangan tengah, membuat Firman atau Dedi harus mendistribusikan bola dengan umpan-umpan panjang ke kedua sisi. Di sinilah alur serangan Persib sering buntu.
Jika Spaso dimainkan sebagai ujung tombak, dapat dipastikan ia bakal turun hingga mendekati tengah lapangan untuk menjemput dan memberikan alternatif operan. Namun permainan Yandi Sofyan berbeda. Ia lebih sering bermain melebar.
Melebarnya Yandi pun harus membuat Atep atau Tantan mencari ruang ke tengah. Di pertandingan kemarin, Yandi lebih sering bergerak ke sisi Atep. Akibatnya, Atep lebih sering berada di tengah. Mengoper bola kepada Atep pun tidak menjadi keputusan yang bagus-bagus amat, karena penetrasi yang dilakukannya selalu berhasil dibaca lawan.
Umpan-umpan jauh yang dilepaskan Firman dan Dedi pun semakin mudah dipatahkan jika arah operan mengarah direct ke kotak penalti. Ketangguhan bek asing Mitra Kukar, Onorionde John, membuat duel-duel bola atas selalu menjadi milik Mitra Kukar.
Cara Persib Meminimalisir Serangan Mitra Kukar
Bermain di kandang saat lawan tidak berada dalam kondisi ideal membuat Mitra Kukar cukup menguasai jalannya pertandingan. Serangan demi serangan pun tetap bisa dilancarkan Mitra Kukar, meski bermain tanpa Eka Ramdani di tengah.
Tanpa Eka, Mitra Kukar turun dengan formasi 4-2-3-1, bukan 4-3-3 seperti biasanya. Carlos Raul yang pada laga melawan PSM Makassar diplot sebagai penyerang, kali ini ditempatkan sebagai gelandang serang di belakang Airlangga Sucipto yang biasanya baru masuk pada babak kedua.
Penempatan Carlos Raul di tengah bertujuan untuk menggantikan Eka sebagai pengatur serangan dan ritme permainan Mitra Kukar. Fajar dan Pellu yang bermain sebagai dua gelandang bertahan, tak memiliki kemampuan untuk menciptakan alur serangan yang baik.
Ada dua alternatif skema serangan yang sebenarnya hendak dilakukan Mitra Kukar. Yang pertama adalah mengalirkan bola umpan-umpan panjang ke kedua flank dengan mengandalkan kecepatan Defri Risky dan Hendra Bayauw. Yang kedua, memberikan umpan pada Carlos Raul untuk kemudian memberikan umpan-umpan daerah pada kedua sayap atau pada Airlangga yang handal memerankan poacher.
Alternatif pertama sempat dicoba oleh Mitra Kukar. Defri dan Bayauw pun sempat terlihat begitu membahayakan dari kedua sisi pada babak pertama.
Namun strategi ini berhasil diredam oleh pelatih Persib, Djajang Nurjaman. Pelatih yang akrab disapa Janur ini menginstruksikan kedua bek sayap, Jajang Sukmara dan Supardi, untuk tak terlalu sering melakukan overlap.
Bisa dibilang, kedua bek sayap Persib pada laga ini lebih difokuskan menjaga pertahanan. Ini tentunya dilakukan agar Defri Risky dan Hendra Bayauw tak terlalu dibebaskan memanfaatkan area kosong jika kedua sayap Persib melakukan overlap.
Setelah strategi alternatif pertama tak terlalu berhasil, alternatif kedua pun kemudian dilakukan oleh Mitra Kukar. Carlos Raul seringkali menjadi target operan dari para pemain Mitra Kukar sejak dari lini pertahanan.
Cederanya Tantan pada pertengahan babak pertama, dimanfaatkan Janur untuk memperkuat lini tengahnya, meminimalisir operan pada Carlos Raul. Tantan yang bermain sebagai sayap kanan pada laga ini, digantikan Taufiq yang bermain sebagai gelandang bertahan.
Di bangku cadangan Persib sendiri sebenarnya masih ada Dias Angga dan Rudiyana yang bisa bermain pada posisi Tantan. Namun Janur punya perhitungan lain soal ini: Ia lebih memilih memperkuat lini tengah.
Taufiq sendiri meski tak memiliki kemampuan tekel layaknya Hariono memiliki kemampuan yang baik dalam covering area. Kemampuan intersep dan membaca pergerakan lawannya membuat Carlos Raul tak bisa berbuat banyak di tengah. Mitra Kukar pun akhirnya kesulitan memasuki area pertahanan Persib.
Yogi Rahadian yang Mengubah Alur Serangan Mitra Kukar
Jafri Sastra tentunya tak tinggal diam ketika skuat asuhannya kesulitan mencetak gol. Setelah mengubah-ubah pola serangan, akhirnya ia memasukkan pemain dari bangku cadangan.
Yang paling efektif adalah Yogi Rahadian yang menggantikan Defri Risky. Meski menempati pos yang sama, winger, keduanya memiliki gaya bermain yang berbeda. Perbedaan gaya bermain inilah yang membuat alur serangan Mitra Kukar berubah.
Saat bola berada di kaki Defri atau Hendra, kedua pemain ini lebih sering menggiring bola ke ujung lapangan mendekati batas lapangan, untuk kemudian memberikan umpan silang. Sementara Yogi, lebih memilih melakukan cutting inside sejak hendak memasuki sepertiga akhir lapangan.
Yogi memiliki kemampuan melewati lawan yang cukup baik. Dari sisi kanan, ia cukup merepotkan Jajang Sukmara yang mulai kehabisan stamina menjelang akhir babak kedua. Aksinya pun nyaris membuahkan gol ketika ia masuk dari kanan ke tengah depan kotak penalti, lalu memberikan umpan chip pada Hendra Bayauw. Namun tendangan Hendra berhasil ditepis kiper Persib, I Made Wirawan.
Gol Mitra Kukar yang diciptakan Carlos Raul sendiri merupakan kontribusi yang dihasilkan oleh Yogi Rahadian. Penetrasinya di sisi kiri pertahanan Persib harus dihentikan oleh Rudiyana (masuk menggantikan Yandi) di depan kotak penalti. Servis bola mati inilah yang kemudian disambut tandukan Carlos Raul untuk memenangkan Mitra Kukar.
Kesimpulan
Hasil 1-0 untuk tuan rumah memang merupakan kejelian Jafri Sastra dalam memasukkan Yogi Rahadian pada pertengahan kedua. Penetrasinya dari sisi kanan membuat alur serangan Mitra Kukar yang buntu sejak menit awal berhasil menemukan titik terang.
Namun rasanya hasil tersebut belum sepenuhnya aman bagi Mitra Kukar. Pada leg kedua nanti, Persib akan bermain sebagai tuan rumah dan diperkuat oleh pemain-pemain yang absen pada laga ini. Sehingga kemungkinan besar, mereka akan tampil lebih menjanjikan dengan menciptakan banyak gol yang bisa menggagalkan langkah Mitra Kukar ke babak final.
===
* Dianalisis oleh @panditfootball. Profil lihat di sini.







