Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Match Analysis

    Liga Inggris: Arsenal 3-0 Man Utd

    Taktik Van Gaal yang Membuat MU Hancur dalam 7 Menit

    Pandit Football Indonesia - detikSport
    Reuters / Dylan Martinez Reuters / Dylan Martinez
    Jakarta -

    Arsenal berhasil mempermalukan tamunya, Manchester United, dengan skor telak 3-0. Kekalahan tersebut berasal dari dua gol Alexis Sanchez dan satu gol Mesut Oezil. Menariknya, ketiga gol tersebut dibuat hanya dalam waktu 20 menit awal pertandingan.

    MU terlihat tak bisa berbuat banyak ketika Arsenal menekan pertahanan mereka sejak awal pertandingan. Kecepatan lini depan The Gunners membuat pertahanan "Setan Merah" seolah kehilangan bentuknya. Tidak ada penjagaan berarti, terutama di area tengah yang membuat bola dengan mudah dan cepat berulang kali masuk ke kotak penalti MU.

    Begitu juga saat Michael Carrick dkk. berusaha membangun serangan, kekuatan lini tengah Arsenal membuat mereka tak bisa mengembangkan permainan. Gaya main MU yang mengandalkan umpan-umpan dari belakang jelas tidak bisa berkembang jika kalah kekuatan di sektor vital tersebut.


    [Susunan pemain kedua kesebelasan. Sumber: whoscored]

    Kesalahan Van Gaal Menentukan Susunan Pemain

    Ada yang menarik dari susunan pemain yang diturunkan oleh Van Gaal pada laga semalam. Pertama: Dimainkannya Ashley Young sebagai bek kiri, menggantikan Luke Shaw yang harus absen panjang akibat patah kaki. Padahal di pertandingan sebelumnya melawan Wolfsburg ia ditempatkan di kanan dengan menggeser Matteo Darmian ke posisi di kiri saat babak kedua.

    Meski belum sepenuhnya ideal, komposisi di laga sebelumnya tersebut setidaknya merupakan yang terbaik jika mengacu skuat yang tersedia. Darmian sendiri merupakan pemain serba bisa sehingga kemungkinan ia tak akan canggung jika ditempatkan selain di posisinya sebagai bek kanan. Bahkan saat membela timnas Italia, ia pernah dimainkan sebagai wingback kiri oleh pelatih Antonio Conte.

    Young berulang kali kesulitan menghentikan laju Bellerin maupun Oezil atau Ramsey di areanya. Kaki dominannya adalah kanan, sehingga saat berusaha menghalau pemain yang hendak melakukan umpan silang, Young selalu kesulitan. Ia bahkan beberapa kali harus membalikkan badan terlebih dahulu agar bisa menghalau dengan menggunakan kaki kanannya.


    [Contoh aksi Young saat menghentikan Bellerin, harus dengan kaki kanan]

    Darmian sendiri juga tak bisa dibilang tampil baik pada pertandingan kali ini. Bahkan, dua dari tiga gol yang diciptakan Arsenal berasal dari daerah yang dijaganya. Di daftar pemain MU sebenarnya juga masih ada Daley Blind yang dapat berposisi sebagai bek kiri. Untuk diketahui, Blind merupakan pemain berkaki kidal. Sementara posisi bek tengah dapat ditempati oleh duet Smalling dan Phil Jones.

    Tetapi Van Gaal sepertinya tak ingin memisahkan duet Smalling-Blind yang sudah dipakai sejak awal musim. Blind juga dapat diandalkan untuk membangun serangan dari belakang dari mempunyai visi yang baik. Selain itu, Young mungkin dipakai untuk mengantisipasi kecepatan gelandang-gelandang Arsenal.

    Tidak hanya di sektor bek sayap yang menjadi pertanyaan, tetapi juga keputusan Van Gaal memilih Carrick dan Bastian Schweinsteiger untuk bermain bersamaan. Keduanya terlalu lambat dalam mengatasi kecepatan Sanchez-Oezil-Ramsey yang kerap bergerak secara diagonal. Situasi tersebut membuat bek MU menjadi rentan karena tidak memiliki perlindungan yang memadai.

    Cara Arsenal Membongkar Pertahanan Lawan

    Arsenal unggul telak soal lini tengah dibandingkan dengan tamunya. Tidak hanya cepat dan sulit dihentikan saat menyerang, namun mereka juga kuat dalam bertahan. Gelandang MU berhasil diisolasi dengan baik sehingga aliran bola dapat terputus terutama di babak pertama.

    Gelandang Arsenal sebenarnya tidak terlalu menekan ke daerah pertahanan MU. Hanya saja, para pemain tersebut menunggu di tengah dengan menjaga zona kedua MU, sehingga aliran bola antara lini belakang dan tengah MU menjadi terputus. Akibatnya, jarak antara bek dan gelandang MU menjadi terlalu jauh sehingga sulit membangun serangan dari belakang.

    Schweinsteiger juga bermain terlalu agresif dalam pertandingan kali ini. Ia kerap ikut menekan saat pertahanan Arsenal menguasai bola. Padahal di depannya sudah ada Rooney atau Martial yang dibantu kedua sayap. Keputusannya ini justru menimbulkan kerugian. Karena jika berhasil lolos, lini depan Arsenal dapat menyerang tanpa hambatan.

    Tidak ada filter terhadap bola sebelum menuju pertahanan MU. Meski masih ada Carrick, hal ini tidak cukup, mengingat Sanchez-Oezil-Ramsey terus bergerak mencari ruang kosong secara bergantian.


    [Contoh situasi saat Bastian meninggalkan posnya karena harus ikut menekan]

    Tindakan Schweinsteiger menjadi terkesan sia-sia karena bola Arsenal sebenarnya lebih sering berkutat di lini tengah dan depan, bukan di belakang. Dampak lain dari tindakan tersebut: Lowongnya sisi sayap pertahanan MU. Karena dua bek sayap, Young dan Darmian, harus membagi konsentrasi antara mengawal daerahnya dan membaca arah bola di tengah.

    Pujian juga wajib dialamatkan ke penampilan Theo Walcott karena ikut berperan membuat pertahanan MU kelabakan. Pergerakannya mampu membuka jantung pertahanan lawan, dua assist-nya pada laga kali ini menjadi bukti.

    Kesimpulan

    Van Gaal menyebut penampilan anak asuhnya kali ini sebagai yang terburuk selama ia menukangi Red Devils. Namun keputusan taktiknya juga patut dipertanyakan, terutama soal pemilihan susunan pemain. Dua pergantian yang ia lakukan saat turun minum membuktikan argumen ini.

    Selepas jeda tersebut ia memasukkan Marouane Fellaini serta Antonio Valencia dengan menarik keluar Darmian dan Depay. MU kemudian memang mampu tampil menyerang dan menguasai penuh jalannya pertandingan. Tetapi jangan dilupakan juga faktor Arsenal yang memang mulai berusaha mengamankan keunggulan dengan sedikit bertahan.

    Gelandang Arsenal tidak lagi aktif menutup ruang lini tengah MU, sehingga tidak ada gangguan berarti untuk Schweinsteiger dan Carrick seperti pada babak pertama. Fellaini juga mampu berperan baik sebagai gelandang box to box, memberi tambahan tenaga baru untuk lini tengah MU.

    Meski begitu, tetap saja tim tamu gagal mengejar ketertinggalan, bahkan untuk sekadar menipiskan ketinggalan mereka. Penguasaan bola memang mutlak milik MU, tetapi turunnya gelandang Arsenal membuat mereka terpaksa bermain melebar. Bahkan Martial harus rela ikut melebar karena tidak mendapat banyak suplai bola, sehingga tidak ada pemain MU di kotak penalti.

    Sementara Arsene Wenger sebenarnya tidak menerapkan taktik khusus dalam pertandingan kali ini. Arsenal menunjukkan gaya main seperti biasanya: mengandalkan kecepatan dan umpan-umpan 1-2 di sepertiga akhir. Pujian juga patut diberikan pada para pemain Arsenal yang memiliki kedisiplinan secara taktik yang baik.

    Kemenangan ini membuat Arsenal naik ke peringkat kedua klasemen sementara dengan selisih dua poin dari pemuncak klasemen, Manchester City. Raihan tiga poin atas MU tersebut juga menjadi modal tersendiri bagi The Gunners untuk bangkit pasca kekalahan melawan Olympiakos di laga sebelumnya.

    Sementara bagi Van Gaal, kekalahan telak ini bisa menjadi pelajaran tersendiri terutama dalam mengatasi krisis di lini belakang. Ia bersama anak asuhnya harus memperbaiki sektor pertahanan tersebut pasca absennya Luke Shaw, karena kompetisi masih sangat panjang.


    ====

    * Dianalisis oleh @panditfootball. Profil lihat di sini.

    (a2s/krs)
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game