Pratinjau Final Piala Presiden
Duel di Lini Tengah yang Bisa Menangkan Sriwijaya FC
Persib dan Sriwijaya FC akan berjibaku pada partai final Piala Presiden 2015. Berlangsung di Stadion Gelora Utama Bung Karno, Jakarta, laga ini akan menjadi laga yang paling dinanti mengingat puncak dari turnamen yang digelar untuk mengisi kekosongan kompetisi sepakbola Indonesia ini.
Persib yang tampil dengan skuat bertabur bintangnya cukup diunggulkan pada laga ini. Pada babak grup, Persib tampil meyakinkan dengan menyapu bersih tiga laga tanpa sekalipun kebobolan. Menyisihkan Pusamania Borneo FC dan Mitra Kukar pun menjadi penyempurna langkah mereka.
Sementara itu, Sriwijaya FC --meski mengalahkan Arema Cronus pada babak semifinal-- sebenarnya tampil di luar ekspektasi sepanjang turnamen Piala Presiden ini. Apalagi kemenangan atas Bonek FC diraih lewat kemenagnan WO dengan skor 3-0 setelah pada leg pertama kalah 0-1.
Meskipun begitu, laga ini akan tetap berlangsung seru. Skuat bertabur bintang Persib di segala lini akan dihadapi dengan berbagai macam taktik dari pelatih Sriwijaya FC, Benny Dollo. Pengalaman dan pemahaman taktik Benny Dollo ini pula yang bisa membuat Persib gigit jari di laga final nanti.
Perkiraan susunan pemain
Absennya Hariono dan Ketangguhan Gelandang Sriwijaya FC
Simpang siur isu pemutihan kartu gelandang Persib, Hariono, yang mendapatkan kartu merah pada leg kedua saat menghadapi Mitra Kukar telah menemukan titik terang. Pemain bernomor punggung 24 tersebut dipastikan absen pada laga final ini.
Hal ini tentunya sedikit banyak mereduksi kekuatan lini tengah Persib. Hariono merupakan gelandang yang begitu diandalkan oleh pelatih Persib, Djajang Nurjaman, hampir di setiap pertandingan. Jika bisa dimainkan, maka Djanur, sapaan akrab Djajang, selalu memasang Hariono sejak menit pertama, kecuali saat menghadapi Martapura FC.
Praktis Djanur harus melupakan skema bermain Persib dengan adanya Hariono di tengah. Absennya Hariono ini tampaknya akan digantikan oleh Dedi Kusnandar, yang nantinya kemungkinan besar akan menemani Firman Utina dan Makan Konate di lini tengah dalam formasi 4-2-3-1.
Namun komposisi ini tampaknya akan cukup kewalahan menghadapi trio gelandang Sriwijaya FC: Asri Akbar, Syakir Sulaiman, dan Yuu Hyun-Koo. Khususnya Asri dan Hyun-Koo, keduanya begitu disiplin dalam menjaga pintu masuk area pertahanan Sriwijaya FC.
Dalam formasi 4-2-3-1, Hyun-Koo dan Asri menjadi gelandang pelindung lini pertahanan. Keduanya bergantian menjadi penjegal serangan lawan. Keduanya pun tak ragu untuk melakukan pelanggaran untuk menghentikan alur serangan lawan. Asri meski sering naik untuk menjadi pendistribusi bola serangan, cukup jarang terlambat untuk kembali pada posisinya.
Pada leg kedua melawan Arema Cronus, Sriwajaya terlihat jelas memenangi duel di lini tengah. Kesebelasan berjuluk Laskar Wong Kito tersebut berhasil membuat pelatih Arema, Joko Susilo, bongkar pasang lini tengah agar serangan mereka lebih efektif: dimulai dari duet Juan Revi-Ferry Saragih pada babak pertama hingga I Gede Sukadana-Hendro Siswanto.
Jika duet Asri dan Hyun-Koo berfungsi sebagai breaker, Syakir di depannya memerankan sebagai free role. Ia tak begitu diperankan sebagai penyambung alur serangan karena adanya Asri Akbar yang kerap melepaskan operan-operan daerah pada flank yang diisi Titus Bonai dan Talaohu Musafri.
Peran Syakir pada skema Bendol ini memang sebagai pembuka ruang. Pada scene gol Asri Akbar, terlihat bagaimana Syakir bertukar posisi dengan penyerang tunggal, Patrich Wanggai. Asri sendiri awalnya hendak memberikan operan daerah pada Syakir, namun operannya memantul pada bek Arema, Purwaka Yudi. Bola pantulan yang tidak beraturan kesulitan dikontrol Sukadana, di situlah Asri berhasil mencuri bola dan melepaskan tendangan keras ke gawang Kurnia Meiga.
Proses sebelum terjadinya gol Asri Akbar, jika operan Asri berhasil lolos, Syakir bisa masuk dari blind area Fabiano Beltrame jika umpan Asri tak terblok Purwaka
Kombinasi-kombinasi inilah yang patut diwaspadai oleh Persib. Jika dilihat lebih seksama pada gambar di atas, Asri bisa mendapatkan momentum di depan bek tengah Arema, Purwaka. Ini tentunya menjadi persoalan bagi gelandandang Arema, yang gagal menutup jalur Asri merangsek ke depan kotak penalti.
Maka kealpaan Hariono yang biasanya menjadi gelandang perebut bola di lini tengah Persib, tampaknya akan terasa pada laga ini. Apalagi Firman yang biasanya mengisi double pivot, tak begitu baik dalam bertahan (salah satu faktor penyebab Hariono harus melanggar keras Carlos Raul yang berujung kartu kuning kedua pada leg kedua melawan Mitra Kukar).
Sebenarnya, akan lebih ideal jika Konate Makan menjadi tandem Dedi Kusnandar sebagai double pivot Persib. Gelandang asal Mali tersebut memiliki kemampuan untuk melakukan tekel dan intersep yang lebih baik dari Dedi maupun Firman.
Firman dan Dedi sebenarnya memiliki tipikal permainan yang tak jauh berbeda. Keduanya cukup andal dalam distribusi bola, namun tak sehebat Hariono dalam melakukan tekel, intersep ataupun penjagaan area. Meskipun begitu, Djanur tampaknya tetap akan memainkan duet ini di mana tak banyak pula opsi yang ia miliki.
Siapa yang Lebih Pandai Membaca Permainan?
Pada dua hasil positif yang diraih Sriwijaya di babak semi-final, 1-1 dan 2-1, tampak terlihat pengaruh besar perubahan strategi yang dilakukan Benny Dollo. Bisa dibilang, Arema berhasil disingkirkan Sriwijaya berkat kejelian Bendol membaca permainan.
Leg pertama, Sriwijaya yang bertandang ke kandang Arema terlihat begitu kewalahan di tengah pada menit-menit awal. Namun pada menit ke-40, Bendol melakukan pergantian mengejutkan dengan mengganti Syakir (gelandang serang) oleh Fathul Rahman (bek kiri).
Pergantian itu ternyata menghasilkan pergeseran posisi pada Syaiful Indra Cahya. Syaiful yang awalnya bermain sebagai bek kiri, menempati pos gelandang bertahan. Sementara bek kiri diisi oleh Fathul.
Pergantian ini ternyata cukup berdampak signifikan pada peredeman serangan Arema. Bola-bola pendek langsung pada Cristian Gonzales, berhasil dinetralisir atas kehadiran Syaiful Indra yang bermain di belakang Hyun-Koo dan Asri. Adapun gol yang dicetak Gonzales pada laga itu, dihasilkan dari tendangan bebas, memanfaatkan umpan Hendro Siswanto.
Sementara pada leg kedua, perubahan strategi Bendol pun kembali berbuah hasil positif. Titus Bonai digantikan Anis Nabar dan Asri Akbar digantikan Rizky Ramadhana saat situasi skor 1-1. Bendol mengubah formasi 4-2-3-1 menjadi 4-4-2. Di tengah, Hyun-Koo diduetkan dengan Nur Ichsan yang masuk menggantikan Syakir. Sementara Anis bermain di sayap kiri, Rizky bermain di sayap kanan. Sedangkan dua penyerang di depan diisi Patrich-Musafri.
Hasilnya, tiga menit setelah perubahan strategi ini, Rizky mengirimkan umpan silang yang ditanduk dengan akurat oleh Musafri. Gol ini menjadi gol kemenangan yang mengantarkan Sriwijaya ke babak final Piala Presiden ini.
Full team-nya Sriwijaya FC pun bisa menjadi nilai lebih. Jika pun Musafri dan Tibo tak maksimal di sisi sayap, masih ada Anis Nabar dan Rizky Ramadhana di bangku cadangan. Skema serangan lewat sayap memang masih akan menjadi strategi utama Sriwijaya apalagi lawannya Persib sama-sama menggunakan serangan sayap, yang berpotensi lebih sering naiknya dua bek sayap mereka.
Hal ini berbanding terbalik dengan situasi di Persib. Djanur lebih bermain dengan pakem yang berlanjut dari pertandingan satu ke pertandingan lainnya. Perubahan strategi hanya sekadar pertukaran posisi antara dua winger, Zulham Zamrun dan Atep, atau masuknya Tantan pada pertengahan babak kedua.
Namun, kondisi tak ideal dialami Persib karena Tantan dipastikan absen menyusul cedera yang dialaminya saat menghadapi Mitra Kukar pada leg pertama. Dengan masih cederanya Muhammad Ridwan, opsi di sisi sayap pun hanya menyisakan Atep dan Zulham, di mana tampaknya tak akan ada strategi cadangan dari Djanur untuk area sayap ini, seperti yang biasa yang ia lakukan di beberapa pertandingan terakhir.
Kesimpulan
Pusat serangan kedua kesebelasan yang mengandalkan sisi sayap akan menjadi duel yang sengit pada laga ini. Maka duel di lini tengah akan cukup menentukan mengingat dari sinilah awal mula serangan kedua kesebelasan lahir.
Sriwijaya memiliki modal yang cukup bagus meski tak begitu diunggulkan. Dimulai dari kekuatan di lini tengah, hingga perubahan strategi jitu dari coach Benny Dollo. Belum lagi dengan sang kapten, Titus Bonai, yang sempat diragukan tampil karena cedera, sudah pulih dan siap diturunkan pada laga ini.
Sementara bagi Persib, Djanur tak bisa memainkan skuat terbaiknya pada laga ini. Absennya Hariono dan Tantan bisa menjadi kerugian yang teramat besar. Meskipun begitu, dengan kualitas para pemain yang ada saat ini, bukan tak mungkin Persib tetap bisa keluar sebagai pemenang dan membawa trofi juara Piala Presiden 2015.
====
*dianalisis oleh @panditfootball. Profil lihat di sini.







