Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Match Analysis

    Liga Inggris: Everton 0-3 Man Utd

    Efektivitas Serangan Cepat 'Setan Merah' Jungkalkan Everton

    Pandit Football Indonesia - detikSport
    Man United via Getty Images/John Peters Man United via Getty Images/John Peters
    Jakarta -

    Manchester United sukses meraup poin penuh di kandang Everton pada pekan kesembilan Premier League. Catatan bagus itu tak lepas dari skema serangan yang diberlakukan tim besutan Louis van Gaal itu.

    MU menang 3-0 atas Everton di Goodison Park, Sabtu (17/10) malam WIB. Lewat tiga gol yang dicetak Morgan Schneiderlin, Ander Herrera, dan Wayne Rooney, 'Setan Merah' kukuh di papan atas Liga Primer Inggris dengan 19 poin.

    Kehadiran Rooney benar-benar menjadi petaka buat Manajer Everton, Roberto Martinez. Dalam keterangan persnya jelang pertandingan, Martinez menyebut kalau kualitas Rooney tidak bisa diukur hanya dengan jumlah gol yang ia cetak. "Saya lebih memilih Rooney tidak bermain," katanya.

    Martinez dipusingkan dengan absennya para pemain reguler di sisi kiri. Leighton Baines dan Muhamed Besic tak bisa diturunkan karena cedera. Sebagai penggantinya, Martinez menurunkan Brendan Galloway dan Stevan Naismith. Keduanya memang bermain apik saat Everton mengandaskan Chelsea 3-1.

    Di kubu The Red Devils, kabar kalau Van Gaal tak puas dengan performa Memphis Depay bukan isapan jempol belaka. Memphis yang selalu bermain dalam delapan pertandingan terakhir MU, digantikan oleh Anthony Martial yang posisinya digeser ke sayap kiri. Rooney pun ditempatkan sebagai penyerang tunggal dibantu Ander Herrera sebagai gelandang serang.



    Everton Mengandalkan Ruang

    Keunggulan utama Everton dalam menyerang adalah mengandalkan ruang di antara lini tengah dan lini belakang lawan. Hal ini juga yang ditunjukkan Ross Barkley dan kolega dalam pertandingan menghadapi Manchester United.

    Everton berpangku pada kuatnya penguasaan bola Romelu Lukaku yang berperan sebagai tembok penahan bola untuk dikembalikan pada lini kedua. Cara seperti ini terbukti efektif ditambah dengan skema permainan Everton saat menyerang.

    Poros ganda yang dihuni James McCarthy dan Gareth Barry umumnya fokus pada pertahanan. Pun dengan dua sayap yang lebih sering membantu pertahanan. Hal ini membuat lini tengah lawan lebih dekat dengan lini serang yang membuat jarak dengan lini belakang terbuka lebar.



    [Umpan yang diterima Lukaku]

    Grafis di atas memperlihatkan jumlah umpan yang diterima Lukaku. Lebih dari separuh umpan-umpan tersebut diterima di depan kotak penalti. Lukaku bisa dibilang bermain baik. Dari 15 umpan yang ia lepaskan di sepertiga akhir penyerangan Everton, hanya dua yang gagal menemui sasaran, dan dua lainnya menjadi peluang.

    Meski skema tersebut berjalan dengan baik, tapi Everton tetap tak bisa mencetak gol. Alasan pertama adalah lambatnya lini kedua Everton membantu pergerakan Lukaku. Ini yang membuat bola-bola yang diarahkan pada Lukaku tak bisa menjadi peluang. Saat menyerang, praktis hanya Ross Barkley yang setia berada di samping Lukaku, sementara pemain lainnya terfokus untuk bertahan.

    Alasan kedua adalah rapatnya pertahanan MU yang digalang Matteo Darmian, Phil Jones, Chris Smaling, dan Marcos Rojo.Pertahanan MU kian kokoh karena Morgan Schneiderlin dan Bastian Schweinsteiger bermain padu sebagai penyaring utama serangan lawan.

    Tak Berlama-lama dengan Bola



    [Umpan Manchester United di area sepertiga akhir penyerangan]

    Saat menghadapi Arsenal, MU tercatat mengirimkan 632 umpan berbanding 389 umpan yang dilakukan Arsenal. Meski mendominasi, tapi umpan-umpan tersebut seolah tak ada artinya karena hanya berputar-putar di lini tengah. MU kesulitan menembus pertahanan lawan karena terlalu lama menguasai bola sehingga lawan bisa membaca arah serangan.

    Hal berbeda dilakukan Juan Mata dan kolega saat mengandaskan Everton. MU melepaskan 439 umpan berbanding 419 umpan yang dilepaskan Everton. Hal ini terjadi karena saat menyerang, MU tak berlama-lama mengeksploitasi satu sisi. Jika sisi tersebut sulit ditembus, bola dipindahkan ke sisi yang lain, berbeda jika Memphis bermain di mana sisi kiri begitu dipaksakan sebagai area untuk menyerang.

    Cara seperti ini terbukti efektif terutama membongkar rapatnya pertahan Everton dan mengacaukan koordinasi McCarthy dan Barry. Bola yang dipindahkan dari satu sisi ke sisi lain, praktis membuat McCarthy dan Barry lebih sering meninggalkan pos mereka di depan kotak penalti. Ini yang terjadi pada gol kedua MU yang dicetak Herrera.





    Grafis gol kedua Manchester United

    MU awalnya menyerang dari tengah. Bola dari Bastian dikirimkan menuju Martial di sisi kanan pertahanan Everton. Seamus Coleman menghentikan Martial tapi wasit memberikan advantage buat MU karena bola dikuasai Rojo. Di sinilah terlihat ruang yang ditinggalkan Barry dan McCarthy. Rooney, Herrera, dan Mata tidak tengah mendapatkan pengawalan yang kelewat ketat. Kalaupun bola dikirimkan lebih lemah, bisa saja dimanfaatkan Rooney. Kalau bola terlampau keras, sudah ada Juan Mata yang menanti di sisi.

    Memaksimalkan Serangan Balik

    Keunggulan utama Everton adalah bertahan. Mereka bermain begitu rapat yang membuat lawan kerap frustrasi dan meninggalkan celah di lini pertahanan. MU bisa dibilang beruntung mencetak gol terlebih dahulu di awal pertandingan. Ini membuat Everton memiliki beban untuk mengejar ketertinggalan.

    Beban tersebut diartikan dengan Everton yang bermain menyerang. Skema yang biasa dilakukan Everton—dengan bertahan dan menunggu kesempatan melakukan serangan balik—justru dicontek MU. Usai unggul dua gol, MU menurunkan tensi permainan. Bola pun lebih sering berada di kaki para pemain Everton. Ini terlihat dari penguasaan bola MU yang menurun pada babak kedua. Pada babak pertama MU menguasai 52 persen sedangkan pada babak kedua hanya 44 persen.

    Skema tersebut berbuah hasil pada gol ketiga MU. Memang, proses awalnya bermula dari kesalahan umpan Phil Jagielka yang berhasil direbut lini tengah MU. Namun, seperti halnya serangan balik, serangan yang dilakukan MU pun memaksimalkan minimnya jumlah pemain lawan saat bertahan karena fokus menyerang.

    Kesalahan yang dibuat Jagielka berakibat fatal karena bola diterima Herrera yang bergerak di hadapannya. Dilema pun terjadi karenajika menghadang Herrera berarti meninggalkan penjagaan terhadap Rooney. Nahas karena Jagielka gagal menghadang Herrera juga gagal mengawal Rooney. Bekas pemain Everton itu pun akhirnya mencetak gol ke gawang Tim Howard.

    Kesimpulan

    Skema serangan Everton sejatinya berjalan dengan baik. Lini tengah MU terpancing untuk bermain lebih tinggi sehingga menyisakan ruang dengan lini belakang. Ini yang dimaksimalkan Lukaku untuk menerima bola. Berperan sebagai pemantul, Lukaku sayangnya tidak didukung dengan kehadiran rekan-rekannya yang lambat membantu serangan. Skema memanfaatkan ruang pun kandas begitu saja.

    Di sisi lain, gol pada awal pertandingan menjadi amunisi penting buat MU. Dua gol pada 22 menit pertama itu pun memaksa Everton bermain lebih terbuka dan mengurung pertahanan MU.

    Everton kesulitan memasuki pertahanan MU dan terkesan kerap menyia-nyiakan peluang. Padahal salah satu kelemahan MU adalah menghadapi umpan-umpan lambung. Duet bek tengah MU, Jones dan Smaling, kerap gagal membendung pemain lawan menyundul bola. Everton terlalu memaksa mengirim bola umpan silang yang mendatar, ketimbang melambung.

    Pada babak kedua, MU menurunkan tensi permainan dan membiarkan Everton lebih sering menguasai bola. Hal ini dilakukan sekaligus untuk memanfaatkan kelemahan lini pertahanan Everton yang ikut membantu serangan.

    Dimasukkannya Arouna Kone memang membuat adanya alternatif lain serangan. Namun, rapatnya pertahanan MU membuat Everton tetap tak bisa mencetak gol hingga akhirnya harus kalah di depan pendukungnya sendiri.

    ====

    *dianalisis oleh @panditfootball. Profil lihat di sini.



    (roz/roz)
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game