Liga Champions: Arsenal 2-0 Bayern Munich
Dua Faktor Kekalahan Die Roten di Emirates Stadium
Statistik menunjukkan bahwa Bayern Munich sepenuhnya mendominasi pertandingan melawan tuan rumah, Arsenal, pada pertandingan ketiga Grup F Liga Champions, Selasa (20/10/2015) malam.
Namun, selisih angka yang mencolok dalam nyaris segala hal tidak membantu Bayern pulang dari London membawa tiga angka. Bayern kalah dua gol tanpa balas.
Bayern pantas menatap pertandingan melawan Arsenal dengan optimisme tinggi. Sepanjang musim ini mereka sudah menjalani 12 pertandingan dan memenangi semuanya. Die Roten mencetak 40 gol dan hanya kebobolan lima kali, termasuk kalah menekuk Olympiakos 3-0 dan Dinamo Zagreb 5-0 di Eropa. Sedangkan Arsenal kalah dalam dua pertandingan pertama mereka.
Pertandingan berjalan berat sebelah dan statistik menegaskannya. Namun itu semua tidak menjamin Bayern mencetak lebih banyak gol. Bayern tidak mencetak gol, malah. Arsenal, sementara itu, mencetak dua gol.
Sundulan Olivier Giroud membawa Arsenal unggul di menit ke-73. Tembakan jarak dekat Mesut Oezil di menit ke-93 mengunci kemenangan Arsenal. Berkat dua gol tersebut Arsenal kini tidak lagi menjadi satu-satunya kesebelasan yang tidak memiliki angka di Grup F -- namun masih menduduki peringkat terbawah.
Susunan Pemain
Tidak ada perubahan mencolok dalam susunan pemain utama Arsenal selain posisi David Ospina yang digantikan Petr Cech. Ospina, penjaga gawang utama untuk pertandingan-pertandingan Liga Champions, menderita cedera sehingga berhalangan tampil. Cech pun menjalani debutnya di Eropa sebagai pemain Arsenal. 
Kesebelasan tamu sama saja. Pep Guardiola menurunkan kekuatan terbaiknya dalam formasi 4-2-3-1 yang, dalam pertandingan, berubah-ubah dengan sangat cair sesuai kebutuhan.
Faktor Penjaga Gawang
Bayern membongkar pertahanan Arsenal dengan penuh kesabaran. Umpan-umpan pendek terus dimainkan hingga celah terbuka. Ketika satu atau lebih pemain Arsenal terpancing keluar dari kesatuan pertahanan mereka, pemain Bayern akan bergerak masuk ke celah yang terbuka dan pemain yang menguasai bola akan memberi umpan kepada sang pemain yang masuk.
Namun, pertahanan Arsenal yang berisi empat pemain belakang dan dua poros ganda -- empat pemain terdepan tidak dibebani tugas bertahan yang terlalu berat karena merekalah aktor-aktor utama dalam serangan cepat-- tidak semudah itu terpancing. Statistik memang menunjukkan Bayern melepas 21 tembakan, namun kebanyakan melenceng atau membentur pemain Arsenal. Hanya enam tembakan yang menemui sasaran. Dan tidak satu pun menjadi gol karena Petr Cech bermain gemilang.
Contohnya pada menit ke-11. Thiago Alcantara yang melihat peluang melepas umpan pendek kepada Thomas Mueller sebelum berlari masuk ke kotak penalti Arsenal. Mueller menerima dan melepas umpan di tempat yang sama sementara Thiago melepas dan menerima umpan di dua titik berbeda. Berdua mereka membentuk sebuah segi tiga dan dengannya Thiago menerima bola tanpa kawalan pemain lawan. Dalam kondisi tak terkawal, Thiago menendang bola namun usahanya mencetak gol dimentahkan oleh Cech.
Cech bukan satu-satunya pemain yang sibuk di pertandingan ini. Penguasaan bola Bayern yang dominan membuat kedua bek tengah mereka sering terlihat di area lingkaran tengah dengan hanya Xabi Alonso di hadapannya. Kedua bek sayap, Juan Bernat dan Philipp Lahm, naik hingga ke sepertiga akhir. Kondisi inilah yang dimanfaatkan Arsenal untuk menyerang dengan cepat lewat kedua sayapnya. Itulah yang membuat Arsenal, walau terkurung sepanjang pertandingan, memiliki delapan tembakan tepat sasaran. Namun hanya dua di antaranya yang menjadi gol.
Manuel Neuer terlalu tangguh untuk ditaklukkan. Sundulan jarak dekat Theo Walcott yang tak terkawal saja ia gagalkan dengan satu tangan, tepat sebelum bola melewati garis gawang.
Tapi Neuer bukan manusia sempurna. Tinjunya di menit ke-77 meleset hingga bola tendangan bebas Santi Cazorla berhasil disambut diving header Giroud. Namun Neuer pun bukan satu-satunya yang bersalah. Jerome Boateng, yang mengawal Giroud, malah berada di antara bola dan lawannya sehingga tidak banyak yang bisa ia lakukan untuk menggagalkan peluang Arsenal.
Perubahan Pendekatan Pertahanan
Cedera yang memaksa Aaron Ramsey meninggalkan lapangan pada menit ke-57 membuat Arsenal kehilangan pemain yang kompeten dalam memotong umpan di area lawan. Sejak Ramsey keluar lapangan, Arsenal bertahan di kedalaman dalam formasi 4-5-1.
Dengan itu Arsenal lebih aman dari ancaman-ancaman Bayern. Dengan bermain di kedalaman, Arsenal telah melumpuhkan serangan Bayern yang sangat mengandalkan kecepatan dan kemampuan Douglas Costa dalam mengeksploitasi ruang. Robert Lewandowski dan Mueller juga piawai dalam mencari ruang untuk menerima umpan di belakang garis pertahanan lawan tanpa terjebak offside. Thiago Alcantara pun jeli menyelinap lewat celah. Tercatat, sejak menit ke-60 hingga pertandingan berakhir, hanya tiga umpan tepat sasaran Bayern yang masuk ke kotak penalti Arsenal. 
Entah karena mereka berpikir Arsenal sudah kelelahan atau bukan, Bayern mulai menekan selepas satu jam pertandingan berjalan. Para pemain Bayern yang dalam satu jam pertama pertandingan mengandalkan taktik zona marking dalam formasi 4-3-3, mulai terlihat lebih banyak melakukan tekel untuk menghentikan serangan balik Arsenal.
Dalam satu jam pertama pertandingan, Bayern melakukan 17 kali tekel. Setengah jam sisanya mereka melakukan 13 kali tekel. Di sinilah sang jenius taktik, Guardiola, terbukti hanya manusia biasa yang dapat melakukan kesalahan.
Ia menarik keluar Arturo Vidal untuk Rafinha, seorang bek sayap kanan. Philipp Lahm, bek sayap kanan, naik menjadi gelandang tengah setelah Vidal keluar. Gaya bermain Vidal yang agresif akan sangat membantu dalam permainan menekan, namun ia malah digantikan Lahm yang sangat mengandalkan kecerdasan.
Di luar pergantian pemain yang kurang tepat itu, bermain menekan juga membuat persentase kemungkinan Bayern melakukan pelanggaran meningkat. Dan benar saja, beberapa pelanggaran terjadi. Salah satunya adalah pelanggaran yang membuahkan tendangan bebas di menit ke-77, yang menjadi awal dari terciptanya gol pertama Arsenal.
Gol kedua Arsenal sendiri tercipta karena kesalahan David Alaba. Umpannya kepada Alcantara tidak cukup kuat hingga Hector Bellerin, yang memang terkenal cepat, memotong umpan sebelum bola sampai ke tujuannya lalu berlari menggiring bola ke dalam kotak penalti Bayern sebelum melepas umpan kepada Oezil.
Sebenarnya bukan pertama kali Alaba membuat Bayern kebobolan seperti ini. Kesalahan umpannya di pekan kedua Bundesliga musim ini (melawan Hoffenheim), membuat Kevin Volland berhasil mencuri bola dan mencetak gol ke gawang Bayern ketika pertandingan baru berjalan sembilan detik.
Kesimpulan
Bayern sebenarnya beberapa kali berhasil menembus lini pertahanan Arsenal, yang menunjukkan lini pertahanan mereka tak sekuat yang terlihat. Namun peluang-peluang mereka tidak membuahkan hasil karena Petr Cech bermain gemilang dan berhasil menggagalkan semua tembakan tepat sasaran dari Bayern.
Arsenal yang sedari awal memang mengandalkan serangan balik, sementara itu, mendapat kemudahan karena keluarnya Vidal dan Xabi Alonso membuat lini tengah Bayern melemah, dan dimanfaatkan dengan terciptanya gol pertama. Satu kesalahan Alaba di penghujung pertandingan seperti bonus untuk melengkapi kesalahan strategi yang digunakan Guardiola pada laga ini.
=====
* Dianalisis oleh @panditfootball, profil lihat di sini.







