Liga Champions: PSG 0-0 Real Madrid
Kombinasi Casemiro dan Ramos yang Sulitkan Lini Depan PSG
Los Blancos, julukan Madrid, turun tanpa beberapa pilarnya seperti Gareth Bale, James Rodriguez, Pepe, Karim Benzema dan Daniel Carvajal karena cedera. Sehingga Rafael Benitez sang pelatih mempercayakan sejumlah pemain muda seperti Lucas Vazquez dan Jese Rodriguez untuk mengisi formasi 4-4-2 yang Madrid gunakan. Semula Jese diplot sebagai penyerang bersama Cristiano Ronaldo, namun selepas lima menit pertandingan pertama posisinya ditukar dengan Isco menjadi sayap kiri.
Sementara itu tuan rumah turun dengan formasi 4-3-3 dengan kekuatan hampir penuh, yang membuat mereka agak diunggulkan pada laga ini. Hanya David Luiz, bek tengah, yang terbelit dengan cedera dan posisinya digantikan Marquinhos.

Pressing Agresif Madrid Sulitkan PSG
Benitez nampak paham jika PSG sering mengandalkan serangan dari lini pertahanan mereka sendiri. Sehingga Madrid melancarkan pressing agresif sejak Thiago Silva dkk menguasai bola di lini belakang.
Saat melakukan pressing, Madrid biasanya menempatkan Ronaldo-Isco, Vazquez-Jese, serta Toni Kroos. Fungsi Kroos untuk ikut melakukan pressing adalah agar bola dari belakang tak mudah mengalir pada Verratti.
Apalagi PSG membangun serangan secara vertikal. Dimulai dengan operan pada Maxwell di kiri, lalu diakhiri dengan operan pada Di Maria atau Aurier di sisi kanan. Karenanya mengunci lini tengah PSG merupakan tugas utama para pemain Madrid pada laga ini.
Kesebelasan besutan Laurent Blanc itu tidak dibiarkan lama-lama menguasai bola di wilayah pertahanan sendiri, terutama jika bola berhasil mendarat di kaki Marco Veratti. Maka Los Blancos akan berusaha secepat mungkin merebut bola dengan tekel-tekel agresif.
Begitu juga ketika PSG berhasil membawa si kulit bundar menyerang maka Sergio Ramos dkk berusaha merebut bola sedini mungkin dan membawa si kulit bundar ke sepertiga akhir lawan dengan cepat.
Kendati demikian tekanan ketat yang dilakukan Madrid terkadang menjadi celah sendiri bagi mereka. Pasalnya anak asuh Blanc sering memanfaatkan celah untuk melepaskan operan pendek ke depan ketika para anak asuh Benitez itu gagal merebut bola. Apalagi dengan adanya Motta yang sering menggantikan Verratti dalam mengalirkan serangan.
Tapi walau begitu Madrid tetap berhasil dengan strategi pressing-nya karena PSG sendiri cenderung lambat kala membangun serangan. Lambatnya serangan mereka pun sebenarnya terjadi karena pada awal laga pun Les Perisiens, julukan PSG, terjebak offside tiga kali karena garis pertahanan tinggi Madrid, saat itu PSG coba mengirimkan umpan-umpan panjang ke area flank.
Bola pun lebih sering diputar-putar di lini tengah dan cenderung berada di dua kaki saja yakni Veratti dan Thiago Motta untuk mencari-cari celah ke lini depan. Hal itu juga yang memaksa Zlatan Ibrahimovic, Edinson Cavani dan Angel Di Maria harus turun ke tengah untuk mendapatkan bola.

Grafis operan PSG (kiri) dan tekel Real Madrid (kanan). Sumber: Squawka
Duel di Sisi Kanan yang Dimenangkan Madrid
Tekanan yang didapatkan lini tengah PSG membuat mereka hanya mengandalkan serangan melalui sisi kanan saja. Kecenderungan serangan PSG lebih dialirkan ke sisi kanan yang dilakoni duet Angel Di Maria, penyerang kanan, serta Serge Aurier, full-back kanan.
Melalui sisi itu juga Aurier terus-terusan berupaya melepaskan umpan silang sebanyak enam kali namun hanya dua yang berhasil. Kombinasi Ramos dan Casemiro mampu menutupi sisi kiri pertahanannya sepeninggal Marcelo yang sering membantu serangan.
Aurier yang juga kewalahan terus-terusan menyerang dan bertahan membuat areanya di sisi kanan pertahanan PSG kerap menjadi sasaran Madrid untuk melancarkan serangan. Sehingga kombinasi Marcelo dan Toni Kroos berjalan cukup apik di sana. Begitu juga dengan Jese dan Isco yang bermain melebar pada sektor tersebut.
Pasalnya untuk membangun serangan dari sisi kiri agak sulit karena Danilo, full-back kanan Madrid, jarang meninggalkan sarangnya untuk membangun serangan. Hal ini terjadi karena Madrid lebih memfokuskan serangan melalui sisi kiri, dengan Marcelo yang rajin melakukan overlap.

Kecenderungan serangan Real Madrid melalui sisi kiri memanfaatkan kekosongan Serge Aurier. Sumber: Who Scored.
Ditambah lagi kemampuan Maxwell, bek kiri PSG, cukup menunjang untuk mengakomodasi permainan umpan silang PSG di sepertiga akhir. Beruntung ia cuma melepaskan satu umpan silang namun gagal tepat sasaran. Hanya saja terkuncinya Maxwell menuju sepertiga akhir lawan membuat ia sempat melepaskan umpan panjang tiga kali dari lini tengah dan belakang.
Umpan-umpan panjang yang dilepaskan Maxwell dari lini tengah sedikit meringankan tugas yang seharusnya diemban Matuidi. Maxwell sering menutupi kekosongan yang ditinggalkan Matuidi yang sering terlambat maju ke depan karena membantu pertahanan di lini tengah.
Kombinasi Casemiro dan Ramos Sulitkan Alur Serangan PSG
Benitez harus berterima kasih kepada kombinasi Casemiro dan Ramos dalam menggalang pertahanan Madrid di kandang PSG. Casemiro sebagai gelandang bertahan saat itu berhasil menghentikan upaya serangan lawan-lawannya terutama Matuidi, yang lebih sering membantu penyerangan di tengah. Gerakan Matuidi sering dibayang-bayangi Casemiro dan dua pergerakannya berhasil dihentikan dengan tekel baik itu tekel bersih maupun berbuah pelanggaran.
Casemiro juga sering menutupi kekosongan pertahanan sisi kiri sepeninggal Marcelo yang sering naik membantu serangan. Upaya untuk mengawali Madrid melancarkan serangan balik cepat berhasil dilancarkan karena ia berhasil mencegat bola tiga kali di area luar kotak penalti pertahanan sendiri.
Selain Casemiro pun masih ada Ramos yang sering bergerak ke sisi kiri pertahanan. Sementara ketika Ramos bergerak ke kiri maka Casemiro bertahan lurus mengisi kekosongan di tengah untuk menemani Raphael Varane.
Sementara itu, Ramos pun berhasil membuat Zlatan Ibrahimovic tidak berbuat banyak. PSG sudah kesulitan mendapatkan penyelesaian akhir karena lini belakang dan tengah terus melakuan penjagaan satu lawan satu. Ibrahimovic yang lebih sering berada di depan menunggu bola pun sulit bergerak.
Ibrahimovic tidak melepaskan satu pun tembakan terarah. Dua upaya tembakannya pun berhasil diblok pemain Madrid, salah satunya oleh Ramos. Penyerang jangkung itu cuma berhasil mengalahkan Ramos tiga kali ketika mereka berduel udara.
Lini Depan PSG Kurang Kreatifitas
Tekanan yang dilancarkan Madrid berhasil mengurangi suplai bola ke trio penyerang yang ditempati Ibrahimovic, Edinson Cavani dan Di Maria. Sayangnya tiga pemain tersbut juga kurang kreatifitas di lini depan.
Di Maria dan Cavani sendiri cenderung lebih sering turun ke tengah untuk menjemput bola dari lini belakang. Sementara itu Ibrahimovic lebih memilih menunggu bola untuk menunggu suplai umpan silang atau umpan jauh kepadanya.
Padahal di lini tengah Les Parisiens cenderung lebih sering memutar-mutarkan bola itu karena tidak ada upaya tiga penyerang PSG membuka ruang, ditambah kepiawaian Casemiro menjaga lini tengah. Hanya Aurier yang terus bergerak maju untuk mendapat bola dan kemudian mundur supaya mampu menangkal seragan balik Los Blancos.
Seperti Di Maria ketika mendapatkan bola langsung menggiringnya ke tengah dan melepaskan percobaan tembakan langsung ke gawang dan sementara itu Ibrahimovic tak bergerak membuka ruang untuk jalur tembakan Di Maria tersebut.
Pola penyelesaian akhir PSG berbeda dengan Madrid yang terlihat lebih baik. Skuat asuhan Benitez tersebut cenderung lebih mencari cara bagaimana agar bola bisa dilepaskan ke mulut gawang yang dijaga Kevin Trapp.
Benitez tampaknya menganggap jika semakin banyak bola diarahkan ke gawang PSG maka cukup besar peluang untuk mencetak gol. Hal tersebut terlihat ketika Madrid jarang berlama-lama memutar bola di area pertahanan skuat besutan Blanc itu. Bola sendiri lebih sering cepat ditendang ke arah gawang atau melepaskan umpan silang agar dikonversi Ronaldo melalui duel udara.
Strategi itu memang berhasil melahirkan empat tembakan mengarah sasaran. Namun kiper PSG, Kevin Trapp, bermain cukup gemilang pada pertandingan tersebut dengan mematahkan keempat peluang tersebut.
Kendati demikian melalui proses serangan cepat Madrid tersebut mencerminkan jika upaya mereka lebih efektif dengan 18 kali percobaan tendangan mampu empat kali tepat sasaran, ketimbang 11 upaya PSG dengan hanya satu kali yang tepat sasaran.

Grafis perbandingan percobaan tendangan ke gawang PSG dan Real Madrid. Sumber: Squawka.
Kesimpulan
Alur serangan PSG begitu mudah dibaca Ramos dkk mengingat karena sisi kiri mereka tidak berkembang dan hanya mengandalkan sisi kanan saja. Minimnya kombinasi di lini depan membuat serangan mereka sering buntu.
Madrid sebenarnya bermain lebih baik ketimbang tuan rumah. Tekanan serta serangan balik mereka membuktikan lebih sering mengancam pertahanan PSG, namun sering digagalkan kiper PSG, Trapp. Andaikan para pemain Los Blancos yang cedera bisa bermain dinihari tadi, tim tamu mungkin bisa memenangkan pertandingan saat itu.
(din/krs)








