Liga Inggris: Crystal Palace 0-0 Man Utd
'Setan Merah' Tanpa Kreativitas Penyerangan
Untuk ketiga kalinya berturut-turut Manchester United hanya bermain 0-0, termasuk pada pertandingan tadi malam (31/10) melawan Crystal Palace di Selhurst Park.
Tidak seperti saat menghadapi Middlesbrough di Piala Liga --imbang 0-0 selama 120 menit, lalukalah adu penalti--, "Setan Merah" tidak memiliki banyak peluang mencetak gol. Ini menimbulkan pertanyaan, apakah skuat Louis van Gaal sudah kehilangan kreativitas untuk membongkar pertahanan lawan?
[Susunan sebelas pemain utama Crystal Palace dan MU, dengan angka yang ditunjukkan adalah presentase kesuksesan operan mereka. Sumber: WhoScored]
Jika kreativitas adalah sorotan utamanya, dari susunan 11 pemain di atas, padahal Van Gaal menurunkan pemain-pemain yang bertipikal menyerang. Anthony Martial bermain sebagai sayap kiri, sementara Juan Mata di kanan, dan kapten Wayne Rooney sebagai penyerang.
Tapi sejujurnya di atas kertas sebelum pertandingan, jika dibandingkan dengan skuat yang diturunkan Alan Pardew, MU sudah kalah lebih dulu dari sayap dan pemain depan Palace. Yannick Bolasie dan Wilfried Zaha terlihat akan disuplai terus oleh Yohann Cabaye dari belakang, sementara Jason Puncheon dan Dwight Gayle juga tak kalah cepat dari kedua sayap mereka.
Palace Bermain Tempo Tinggi dan Mengekploitasi Sayap
Dilihat dari susunan pemain di atas, apa yang terjadi di atas lapangan pada pertandingan semalam ternyata sesuai dengan apa yang sudah diperkirakan di atas kertas. Wilayah sayap MU selalu tereksploitasi, terutama oleh Bolasie di kiri dan Zaha di kanan. Pardew pasti belajar banyak dari kekalahan 3-0 dari Arsenal di awal Bulan Oktober, ketika The Gunners memulai pertandingan dengan tempo tinggi.
Permainan tempo tinggi The Eagles memang tidak berhasil menghasilkan gol, tetapi mereka selalu terlihat berbahaya setiap kali menyerang di 15 menit awal pertandingan.
[Grafik heatmap Crystal Palace sepanjang pertandingan melawan Man United. Sumber: Squawka]
Palace yang mengeksploitasi sayap MU ini bisa kita lihat dari grafik heatmap di atas. Sebanyak 42% serangan Palace dimulai dari sayap kanan, sementara 35% dari kiri.
Mereka senang mengawali serangan dari kanan, atau wilayah kiri pertahanan MU, karena di situ mereka "hanya" harus menghadapi Martial yang bukan tipe pemain yang bagus dalam bertahan. 
[Grafik permainan bertahan Marcos Rojo dan grafik permainan keseluruhan dari Anthony Martial. Sumber: FourFourTwo Stats Zone]
Hal ini mengakibatkan bek kiri MU, Marcos Rojo, harus bekerja ekstra keras dengan melakukan 3 intersep, 5 sapuan, dan 6 tekel sukses. Ini berbanding terbalik dengan Martial yang melakukan pelanggaran sebanyak tiga kali. Selain itu juga, semalam MU banyak kehilangan bola, yaitu sebanyak 12 kali, dengan 6 di antaranya terjadi pada 15 menit awal pertandingan ketika Palace sedang bermain dalam tempo tinggi.
Pertahanan MU Diselamatkan Schneiderlin, Smalling, dan De Gea
Sudah 325 menit berlalu sejak MU terakhir kali membobol gawang lawan (gol Martial ke gawang CSKA Moscow di Liga Champions), tapi mereka juga sudah 375 menit tidak kebobolan. Mereka tidak menambah amunisi bek tengah baru di jendela transfer, Luke Shaw juga cedera, ditambah Daley Blind selalu "dipaksa" bermain sebagai bek tengah. Jadi, apa yang membuat pertahanan MU juga sulit ditembus?
Jawabannya mudah, yaitu karena mereka sekarang memiliki Morgan Schneiderlin yang rajin bertahan, ditambah kiper David de Gea yang semakin andal di bawah mistar.
[Grafik permainan Morgan Schneiderlin dan Chris Smalling. Sumber: FourFourTwo Stats Zone]
De Gea melakukan 5 kali penyelamatan (tiga di antaranya adalah hasil tendangan Gayle) dari total 10 tendangan yang diluncurkan oleh para pemain Palace. Sementara Schneiderlin sangat rajin naik dan terutama turun untuk melindungi dua bek tengah MU.
Salah satu bek tengah, Chris Smalling, juga sudah menjadi bek yang paling berkembang di MU. Semalam misalnya, ia memenangkan 60% duel bola udara, 6 sapuan, dan menjadi bek yang paling bisa diandalkan sebagai ball-playing defender dengan 87% akurasi operannya.
[Grafik duel udara Man United. Sumber: Squawka]
Berseberangan dengan ketiga pemain ini, pertahanan MU terlihat amburadul terutama ketika diserang dengan bola lambung. Dari grafik di atas, MU terlihat kalah duel udara sebanyak 9 kali dari 13 duel udara yang terjadi di wilayah kiri pertahanan United (bagian kanan bawah gambar).
Empat dari sembilan kalah duel di atas adalah dari Blind yang memang bukan berposisi alami sebagai bek tengah. Ini lah yang tambah menegaskan kenapa Palace begitu dominan di sisi kiri lawannya.
Red Devils yang Kurang Kreatif
Akhirnya kita sampai kepada inti permasalahan, yaitu kurang kreatifnya MU dalam menyerang. Secara mengejutkan, mereka kuat dalam bertahan. Tapi secara mengejutkan juga, mereka kesulitan mencetak gol. Padahal, lini tengah The Red Devils memiliki Schneiderlin dan Bastian Schweinsteiger, ditambah Ander Herrera di depannya, dan Mata di sayap. Apa yang salah?
[Grafik alur operan Manchester United. Sumber: Opta, via @11tegen11]
Sebelum menjawab pertanyaan di atas, lihatlah grafik alur operan MU di atas. Dari gambar di atas, cara membacanya adalah: semakin besar lingkaran warna merah, berarti semakin sering pemain tersebut dilibatkan (mendapatkan dan mengirim operan); sementara semakin tebal garis operan, maka semakin sering arah operan tersebut terjadi di antara dua pemain yang ditunjukkan.
Hal ini menunjukkan bahwa mereka banyak mengalirkan bola diawali dari Smalling atau Blind (sesuai dengan filosofi Van Gaal, yaitu membangun serangan dari belakang) tetapi jarang sekali bola bisa sampai ke depan. Hampir selalu berputar-putar saja di belakang.
Inilah kenapa mungkin hampir dalam setiap pertandingan, angka penguasaan bola dan angka operan sukses MU selalu lebih tinggi dari lawannya.
Sebagai pengetahuan tambahan, MU memimpin klasemen penguasaan bola di Liga Primer Inggris dengan rata-rata 56,7%; dan semalam mereka menguasai 53,2% penguasaan bola. Sementara dalam hal persentase operan sukses, mereka menempati peringkat tiga di Liga Primer dengan 85%; semalam 82%.
Wayne Rooney yang Terus Bermain Buruk Sebagai Penyerang
Entah apa yang terjadi, hal di atas seolah mengerucut kepada kapten mereka, Rooney. Ketidakmampuan MU dalam menciptakan peluang (apalagi gol) memang sudah seharusnya menjadi tanggung jawab penyerang mereka.
Semalam MU hanya mampu mencetak 5 buah tendangan dengan hanya satu saja yang menemui sasaran. Rooney berkontribusi dalam tiga di antaranya, tapi menyia-nyiakan satu peluang emas di babak pertama ketika sudah berhadapan satu lawan satu dengan Wayne Hennessey, kiper Palace.
[Grafik permainan Wayne Rooney. Sumber: FourFourTwo Stats Zone]
Pemain yang baru berulang tahun ke-30 pekan lalu itu memang sejujurnya sedang tidak dalam performa terbaiknya sebagai seorang ujung tombak. Tapi, kalau kita lihat statistik lainnya, ia sebenarnya masih memiliki keunggulan yaitu dalam mendistribusikan bola dan juga bertahan.
Akan lebih baik bagi Van Gaal sebenarnya untuk mencadangkan Rooney, tapi kalaupun ia bermain, lebih baik memainkannya sebagai gelandang atau posisi di belakang penyerang.
Namun, pertanyaan "Apakah Rooney bisa menjadi playmaker yang baik?" memang tidak bisa otomatis dijawab dengan "iya" juga, karena seperti gambar di atas: operannya memang berhasil 86%, tetapi kebanyakan operan berhasilnya tersebut adalah operan ke samping dan ke belakang. Sementara operannya yang ke arah depan gagal sebanyak 6 kali.
Kealfaan Rooney ini celakanya membuat Martial, yang merupakan penyerang alami, sama-sama bermain buruk (lihat kembali grafik permainan Martial di awal tulisan ini).
Kesimpulan
Sejujurnya, daripada berlama-lama berusaha menjawab kenapa MU dalam beberapa pertandingan ini bermain (agak) membosankan, akan lebih menarik jika kita menyoroti konsekuensi dari hasil pertandingan lainnya semalam: Chelsea 1-3 Liverpool.
Namun, jika memang harus membicarakan pertandingan semalam, hasil 0-0 ini sangat mengesalkan untuk Palace yang sebenarnya bermain lebih baik dalam melakukan pressing maupun menciptakan peluang. Sementara MU tidak bisa juga berbahagia dengan hasil ini, mereka pastinya lebih kesal karena terus kesulitan menciptakan peluang. Sebaliknya, mereka beruntung karena tidak kebobolan.
Akan ada banyak pekerjaan rumah untuk Van Gaal, tentang bagaimana mereka menciptakan alternatif dalam membangun serangan, membuat kreativitas di lini tengah berjalan dengan lancar, mengefektifkan penyelesaian peluang di depan gawang, dan juga memperbaiki performa kapten mereka.
Apabila Van Gaal terus kesulitan mengerjakan PR-nya tersebut, salah satu jalan keluarnya mungkin ada di jendela transfer musim dingin Januari nanti.
Tapi kalau boleh jujur, jika stagnasi ini terus berlanjut, persaingan juara Liga Primer akan mengerucut kepada Manchester City dan Arsenal di akhir musim nanti, dengan beberapa kesebelasan papan tengah yang mengejutkan untuk bisa bergabung; Palace, Leicester City, dan West Ham United adalah tiga di antaranya.
====
* Dianalisis oleh @panditfootball. Profil lihat di sini.








