Liga Inggris: West Ham 1-1 Everton
Hasil Adil untuk Pertahanan Rapat Kedua Kesebelasan
West Ham United harus puas dengan hasil imbang 1-1 saat menjamu Everton dalam lanjutan Liga Inggris di Boleyn Ground tadi malam. Gol yang bersarang di gawang mereka lantaran sebuah kelalaian mengantisipasi serangan balik.
.
Hasil imbang ini seolah merefleksikan ketakutan manajer West Ham, Slaven Bilic, akan terlalu nyamannya para pemain dengan kondisi mereka saat ini. Kehilangan Diafra Sakho di lini serang memengaruhi cara West Ham menyerang. Penggantinya, Andy Carroll, tak mampu berbuat banyak kecuali mengandalkan duel bola udara.
Di sisi lain, Everton pun tak bermain terlalu baik. Kualitas serangan mereka masih jauh bila dibandingkan saat mengalahkan Chelsea dan Sunderland, yang merupakan salah satu pertandingan terbaik Everton musim ini. Para pemain seperti kebingungan dan tak bisa menjaga jarak antarlini. Satu hal yang paling melegakan buat Manajer Everton, Roberto Martinez, adalah kian berkembangnya permainan Gerard Deulofeu.
[Susunan Pemain. Sumber: Whoscored]
Titik Lemah West Ham
Bilic menurunkan susunan pemain yang tak jauh berbeda seperti saat mereka dikalahkan Watford. Di lini pertahanan, James Collins yang mendapat hukuman karena kartu merah, digantikan oleh Winston Reid yang kembali berduet dengan James Tomkins di lini pertahanan.
Di lini serang, Bilic tetap menurunkan Carroll yang ditopang oleh Lanzini, Dmitri Payet, dan Victor Moses. Tidak adanya perubahan ini tentu menjadi kelemahan karena perbedaan gaya main Carroll dan Sakho yang begitu berbeda.
[Kiri: Umpan yang dikirim Carroll; Kanan: Umpan yang diterima Carroll. Sumber: Statszone]
Sebagai penyerang yang kuat duel udara, Carroll membutuhkan pemain yang bisa mengirimkan umpan lambung maupun umpan silang. Kehadiran Carroll pun mestinya ditunjang dengan kesigapan pemain dari lini kedua untuk memanfaatkan Carroll sebagai tembok. Hal ini tidak begitu tampak dalam pertandingan semalam.
Ini tentu membuat peran Carroll menjadi tidak begitu terasa. Sepanjang 86 menit di lapangan, Carroll cuma melepaskan satu tembakan yang tidak mengarah ke gawang. Jumlah umpannya cuma 16, sama seperti yang dilakukan kiper West Ham, Adrian. Satu hal yang paling terasa dari kehadiran Carroll adalah bebasnya bek Everton, Funes Mori, berkelana hingga kotak penalti The Hammers, saking tidak berkembangnya permainan Carroll.
Dari grafis di atas bisa terlihat betapa tidak eloknya performa Carroll. Sebagai penyerang, ia cuma menerima dua umpan di dalam kotak penalti, dan cuma satu umpan di area sepertiga lawan. Carroll pun seperti bergerak tak tentu arah, kadang di kiri, kadang pula di kanan. Umpan yang ia kirimkan pun tak bisa dibilang baik. Dari 16 umpan, cuma 10 yang mencapai sasaran.
Everton Tak Fokus
[Umpan sepertiga akhir Everton. Sumber: Statszone]
Kemenangan Everton atas Chelsea dan Sunderland bisa disederhanakan dalam satu poin: fokus. Saat menghadapi Chelsea, Everton fokus dalam bertahan dan sesekali mengandalkan serangan balik. Di sisi lain, saat menghadapi Sunderland, mereka fokus menyerang, yang membuat mereka mengorbankan dua kali gawang kebobolan tapi bisa mencetak enam gol.
Uniknya, konversi gol Everton tergolong besar, meski tak bisa dibilang istimewa. Saat menghadapi Chelsea, konversi peluang menjadi gol ada di angka 21%. Angka ini meningkat saat mengalahkan Sunderland dengan 37%. Besarnya tingkat konversi Everton juga terlihat saat mereka mengalahkan West Bromwich Albion dengan konversi 25%.
Hal tersebut memperlihatkan kalau Everton selalu berhasil memaksimalkan setiap peluang menjadi gol. Ini tak lain dari gaya bermain Everton itu sendiri yang kuat dalam bertahan dan mengandalkan serangan balik. Tentu, serangan balik tidak terjadi setiap menit, bahkan mungkin hanya terjadi sekali dalam satu pertandingan.
Saat menghadapi West Ham, Everton tak memiliki fokus apakah akan bertahan dan mengandalkan serangan balik, atau menyerang habis-habisan. Hal ini membuat sejumlah penggawa Everton, kebingungan saat mengumpan bola. Misalnya, Gareth Barry yang tengah melakukan serangan balik, tidak mengumpan pada Arouna Kone maupun Lukaku, karena rentan dipotong lawan. Di sisi lain, Ross Barkley yang semestinya ada di lini serang, tertinggal jauh di belakang. Umpan pun menjadi tertunda yang membuat West Ham bisa mengkoordinasikan lini pertahanannya.
Pun halnya ketika bertahan. Duet James McCarthy dan Barry tidak sekokoh saat menghadapi Chelsea. Mereka bahkan kerap meninggalkan jarak yang begitu lebar dengan lini pertahanan yang bisa dimanfaatkan oleh para pemain di lini serang The Hammerslewat kecepatannya.
Everton bisa saja kalah dalam pertandingan semalam, andai West Ham konsisten memberi suplai bola pada Andy Carroll atau memanfaatkan kecepatan para pemain mereka untuk menembus kedua sayap.
Dari grafis umpan sepertiga akhir, terlihat kalau Everton memang mengandalkan sisi kanan yang dihuni Deulofeu. Terlihat pula kalau mereka seringkali gagal saat mengirimkan umpan ke depan kotak penalti.
Rapatnya Pertahanan West Ham 
Hal serupa juga terjadi pada West Ham. Dengan fokus menyerang, membuat poros ganda mereka, Noble dan Kouyate membantu serangan. Belum lagi didukung lewat pergerakan kedua fullback, Aaron Cresswell dan Carl Jenkinson, yang membuat pertahanan West Ham rentan saat menghadapi serangan balik.
Hal ini diperparah dengan mengetemnya Lukaku, Kone, dan Deulofeu, di lini pertahanan Everton. Saat serangan West Ham berhasil dipotong, bola bisa dialirkan dengan mudah ke lini serang Everton. Cara seperti ini yang membuat Everton pada babak pertama bisa melepaskan sembilan attemps berbanding delapan attemps yang dimiliki West Ham.
Usai gol yang dicetak Lanzini, pertahanan West Ham justru lebih kokoh. Jarak antar lini begitu rapat yang membuat para pemain Everton kebingungan untuk memberi umpan. Yang bisa dilakukan Everton adalah terus menekan dengan harapan pemain West Ham melakukan kesalahan.
Sayangnya hal ini justru tak terjadi. Bilic menggeser Payet ke sisi kiri dan menggantikannya dengan Lanzini. Hal ini bertujuan untuk menahan pergerakan sisi kanan serangan Everton yang memiliki kecepatan. Belum lagi faktor Cresswell yang sering naik membantu serangan sehingga dikhawatirkan Everton menekan sisi tersebut.
Dari grafis di atas, yang hanya berjarak kurang dari lima menit, terlihat betapa rapatnya pertahanan West Ham saat Everton membangun serangan. Pada gambar sebelah kiri, Noble menutup ruang bagi Mori untuk memberi umpan pada Barkley. Pun dengan Kouyate yang menghalangi jalur umpan untuk Kone. Hampir tidak ada celah bagi Mori untuk memberikan umpan. Pada akhirnya Mori pun mengirimkan umpan panjang kepada Lukaku, yang tentu saja bisa diredam pertahanan West Ham.
Hal serupa terjadi pada 35:03 saat Stones kehabisan opsi memberikan umpan. Lukaku dijaga ketat Tomkins, Kone dibayangi Jenkinson, sementara Barkley dihalangi Kouyate. Opsi umpan cuma dua; pada Coleman yang menyisir sayap kanan atau mengembalikan bola pada McCarthy di lini tengah. Stones pun akhirnya memberi bola yang kelewat kencang buat Coleman.
Serangan Balik, Pilihan Terbaik
Saat membangun serangan, hampir tidak ada celah buat Everton untuk membuat peluang. Gol Everton justru tercipta dari skema serangan balik.
Deulofeu yang jarang diberi bola, tidak lagi menyisir sayap, melainkan mendekat ke tengah. Pada menit ke-43, pergerakan Payet berhasil dihentikan Barry. Deulofeu yang berdiri bebas di lini tengah mendapatkan bola. Tak perlu waktu lama baginya untuk mengirim umpan terobosan pada Lukaku yang bisa memaksimalkannya menjadi gol.
Dalam gambar sebelah kiri, terlihat sebenarnya hampir sulit menemukan celah di pertahanan Everton. Barry dibayangi Kouyate, Kone juga dijaga Noble. Di sisi lain, Cresswell pun siap menghentikan pergerakan Deulofeu. Lukaku? Masih ada Reid dan Tomkins di lini pertahanan.
Rupanya, jarak yang renggang antara Tomkins dan Reid diisi dengan baik oleh Lukaku (gambar kanan) yang memaksimalkan bola umpan sodoran Deulofeu menjadi gol. Dalam situasi inilah Everton bisa begitu berbahaya karena hanya dengan satu peluang, mereka bisa mencetak gol.
Bagi West Ham ini tentu merupakan sebuah hukuman padahal baik Kouyate maupun Noble tampil disiplin sepanjang pertandingan.
Kesimpulan
[Kiri: Intersep; Kanan: Tekel. Merah: West Ham; Biru: Everton. Aksi pertahanan West Ham lebih agresif ketimbang Everton]
Secara permainan, West Ham sebenarnya tidak buruk saat bertahan. Mereka bahkan mampu membuat para pemain Everton kehabisan akal. Namun, saat menyerang, West Ham seperti tak memiliki opsi lain selain mengirim umpan sialng dan umpan lambung yang menjadi santapan Carroll. Di luar dari itu, pergerakan Carroll bisa diredam pertahanan Everton.
Penampilan West Ham diprediksi akan kembali menanjak setelah Sakho bergabung setelah jeda internasional. Kehadiran Sakho akan melengkapi kecepatan lini serang West Ham, yang absen saat menghadapi Everton semalam.
Bagi Everton, hasil seri ini kian menunjukkan kalau mereka tak cukup kreatif untuk membangun serangan. Menghadapi West Ham yang bermain begitu rapat di lini pertahanan, membuat para pemain Everton seolah tak tahu harus mengirimkan bola ke mana. Di sisi lain, bek lawan sudah mengetahui pergerakan Lukaku yang begitu berbahaya sehingga mereka menjaga ketat pemain berkebangsaan Belgia tersebut.
Gol Everton yang tercipta dari serangan balik, yang memang merupakan spesialis The Toffees. Gol pertama West Ham tercipta dari kebingungan apakah mereka akan menyerang atau bertahan. Gol tersebut memanfaatkan ruang antara lini pertahanan dan poros ganda dengan lini serang. Ruang tersebut begitu renggang sehingga bisa dieksploitasi lini kedua West Ham.
Pertandingan berlangsung dengan kedua kesebelasan silih berganti menyerang. Hasil seri menjadi hasil yang adil bagi keduanya.
====
* Dianalisis oleh @panditfootball. Profil lihat di sini.








