Liga Italia: AS Roma 2-0 Lazio
Celah di Lini Belakang Lazio yang Memudahkan Roma
Derby della Capitale pertama di kompetisi Serie A 2015/2016 berhasil dimenangi AS Roma. Lazio takluk dengan skor 2-0 di Stadion Olimpico, Minggu (8/11), via gol-gol Edin Dzeko dan Gervinho.
Sebelumnya Lazio diperkirakan lebih unggul karena beberapa pemain Roma mesti absen karena cedera. Selain itu Miralem Pjanic juga terpaksa cuma jadi penonton karena menjalani hukuman kartu merah yang didapatkan ketika melawan Internazionale Milan.
Kubu Biancoceleste hanya tidak bisa diperkuat Stefan de Vrij karena cedera ligamen lutut. Tapi Marco Parolo sudah bisa dimainkan di lini tengah setelah baru sembuh dari cedera hamstring. Alhasil, Lazio tidak mengubah formasi 4-3-3 dan posisi de Vrij sebagai bek tengah masih dipercayakan kepada Santiago Gentiletti, untuk menjadi duet Mauricio.
Situasi Le Aquile tentu berbeda dengan Giallorossi yang mesti mengubah formasi biasanya 4-3-3 menjadi 4-2-3-1 khusus pada laga ini. Dzeko diplot sebagai penyerang tunggal, ditopang kedua gelandang serang sayap Gervinho di kiri dan Mohamed Salah di kanan, serta Iago Falque yang biasa menjadi pemain sayap kiri ditempatkan menjadi gelandang serang tengah.
Mematikan Alur Serangan Antonio Candreva di Sisi Kanan
Lazio masih belum bisa menghilangkan ketergantungan kepada Antonio Candreva sebagai motor serangan. Pioli seolah menginstruksikan agar bola bisa dialirkan ke sisi kanan di mana Candreva membangun serangan melalui sektor tersebut.
Sadar akan hal itu, Lucas Digne yang diplot sebagai full-back kiri Roma lebih ditugaskan bertahan ketimbang membantu serangan, untuk membayang-bayangi Candreva. Tugas Digne mengawal Candreva lebih mudah karena lawannya itu cukup sulit menerima suplai bola dari tengah. Sehingga pemain bernomor punggung 3 itu sesekali bisa membantu serangan Roma dari sisi kiri.
Selama 82 menit Candreva bermain, Digne berhasil melancarkan satu tekel bersih kepadanya. Sementara itu ketika menyerang Candreva cuma diberi kesempatan melepaskan dua tendangan melenceng, dua dribel sukses dan empat umpan silang.
Ketika Digne kecolongan pun Roma tidak terlalu khawatir berlebihan karena gelandang bertahan mereka, William Vainqueur, bertugas mem-backup sisi kiri ketika bertahan.
Dusan Basta, full-back kanan Lazio, kesulitan naik ke depan membantu Candreva karena ia harus mewaspadai serangan balik Roma. Basta kerap gagal ketika meladeni Gervinho yang menjadi lawannya di area kanan itu. Basta juga sering terlambat mundur ketika mendapatkan serangan balik dan menjadi salah satu pemain belakang yang membuat jarak antara bek Lazio lebih lebar sehingga membuat celah bagi serangan I Lupi.
Lazio mulai mengganti arah serangan dari sisi kanan ke kiri setelah Balde Keita masuk menggantikan Stefan Radu pada menit ke-67. Hal itu karena Vasilis Torosidis sering kalah berduel dengan Keita pada sektor tersebut. 
[Grafis operan Lazio yang lebih diarahkan kepada Antonio Candreva sebelum Balde Keita masuk pada menit ke-67. Sumber : Squawka]
Kalahkan Penguasaan Bola dengan Pressing Ketat dan Garis Pertahanan Tinggi
Penumpukan pemain di lini tengah dilakukan skuat besutan Stefano Pioli agar bisa menguasai lini tengah. Kemudian si kulit bundar dialirkan menuju dua sisi lapangan terutama pada sektor kanan kepada Candreva.
Salah satu cara Roma mengatasinya adalah melancarkan pressing ketat kepada lawannya. Saat itu juga Roma bermain dengan garis pertahanan tinggi sehingga umpan terobosan Lazio ke sepertiga akhir lawan sedikit terganggu dengan offside.
Kendati melancarkan pressing ketat, namun para pemain Roma lebih sabar dari segi posisi ketika bertahan. Gervinho rajin melakukan trackback untuk mempermudah tugas Digne dan meredam Basta yang sering mencoba naik membantu serangan.
Selain itu penempatan double pivot yang dipakai pelatih Rudi Garcia dalam strategi Roma kali ini cukup membuat kesulitan para gelandang Lazio untuk menguasai area depan kotak penalti. Kombinasi antara Nainggolan dengan Vainqueur cukup apik dengan secara bergantian menjalani tugas ketika bertahan dan menyerang. Ketika Nainggolan naik membantu serangan, Vainquer tidak meninggalkan posnya di area depan kotak penalti .
Selain itu, alur operan Roma yang sering diarahkan kepada Nainggolan di lini tengah menjadi alat pemancing bagi tiga gelandang Lazio untuk mencoba merebutnya. Maka menjadi bumerang tersendiri juga ketika Parolo terlalu asik berada di lini tengah sementara Lucas Biglia mati-matian membantu beknya menghalau serangan balik Roma karena rekannya itu jarang turun ke belakang.
Jarak Antara Bek Lazio yang Sering Terbuka Lebar
Ada dua pemain Lazio yang sering terlambat turun ke belakang ketika membantu pertahanan, yaitu Basta dari sisi kanan dan Parolo dari lini tengah. Parahnya, keterlambatan dua pemain tersebut sering membuat celah besar untuk serangan Roma. Pertahanan Lazio seolah menyisakan tiga pemain saja ditambah dengan kehadiran Biglia. Tapi gelandang yang menjadi kapten saat itu juga tidak selalu tepat waktu turun membantu pertahanan.
Biglia pun dibuat kesulitan ketika bertahan karena Parolo lebih sering terlambat turun ke belakang. Artinya area luar kotak penalti Lazio pun menjadi sebuah kekosongan yang memberikan keleluasaan Dzeko sebagai tembok pemantul bola serangan Giallorossi saat itu.
Penyerang asal Bosnia dan Herzegovina itu lebih tenang menguasai bola di kakinya sambil menunggu Gervinho atau Salah naik ke sepertiga akhir pertahanan Lazio. Sedangkan kecepatan yang dimiliki Gervinho dan Salah untuk sampai di sepertiga akhir lawan membuat skema ini berjalan dengan baik.
Keterlambatan Parolo dan Basta turun ke belakang membuat kedua bek tengah Lazio kerap terpancing meninggalkan areanya sendiri. Dua gol skuat besutan Garcia tersebut juga terjadi karena tidak lepas dari adanya celah cukup besar di pertahanan Biglia dkk.
Sebelum Lazio mendapat hukuman penalti, Gentiletti terpancing merebut bola dari Falque dan kegagalan mengantispasi si kulit bundar yang justru mendarat di kaki Salah. Hal itu membuat Mauricio pun sedikit melonggarkan penjagaan kepada Dzeko karena hampir terpancing ikut-ikutan mengambil bola di kaki Salah.
Dampaknya Dzeko pun mendapatkan jarak penjagaan yang sedikit longgar dengan Mauricio, sehingga lawannya itu terlambat berbalik badan ketika bola diterima penyerang nomor sembilan itu. Alhasil, Mauricio terburu-buru merebut bola yang berujung pelanggaran di kotak penalti sendiri.
Serangan Balik Roma Lebih Efektif
Lazio menumpuk para pemainnya di lini tengah dan terbilang cukup berhasil menguasai bola dengan presentase 55 persen dibanding 45 persen milik Roma. Tapi sayangnya efektivitas serangan Biglia dkk tidak sebagus Romaa.
Lazio yang kesulitan mencapai sepertiga akhir pertahanan Roma itu cuma diberi kesempatan tujuh kali menendang bola dan cuma dua yang tepat sasaran. Roma pun sama cuma dua tembakan yang mengarah ke gawang, namun percobaan tendangan mereka lebih banyak dua kali lipat.
Hal tersebut karena Nainggolan cs tidak berlama-lama memutarkan bola. Si kulit bundar yang berhasil didapatkan dari pressing tinggi langsung dialirkan ke lini depan baik melalui umpan terobosan atau operan panjang dari sektor belakang atau tengah.
Pola serangan balik Roma itu juga dipermudah dengan adanya Gervinho dan Salah, yang memiliki kecepatan mumpuni untuk menyambut dua jenis umpan andalan. Hasilnya, Gervinho pun mampu mencetak gol melalui serangan balik setelah mendapatkan umpan panjang dari Nainggolan di lini tengah. Gervinho mampu memasuki celah para bek Lazio dan kecepatannya pun tidak diantisipasi Basta yang mencoba meredamnya.
Kesimpulan
Jarak yang terlalu jauh di lini pertahanan Lazio akibat terpancing merebut bola dari lawan lahir berkat dampak dari kekosongan posisi setelah terlambat turun bertahan. Celah-celah di pertahanan Le Aquile juga mempermudah Roma melancarkan serangan balik dengan memanfaatkan kecepatan kedua sayapnya untuk menyambut umpan tengah maupun dari Dzeko yang menahan bola di depan.
Roma yang mampu mengunci sisi kiri pertahanan pun membuat Lazio kesulitan menembus sepertiga akhir karena Candreva dibuat tidak berkutik. Sehingga suplai bola kepada Filip Djordjevic pun sangat minim. Dirinya juga sulit keluar dari pengawalan Kostas Manolas sehingga cuma diberi satu kesempatan tendangan yang mampu diantispasi Wojciech Szczesny dan akhirnya digantikan Miroslav Klose pada menit ke-62.
====
* Dianalisis oleh @panditfootball. Profil lihat di sini.








