Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Match Analysis

    Liga Inggris: Liverpool 1-2 Crystal Palace

    Koordinasi Pertahanan yang Beri Klopp Kekalahan Pertama

    Pandit Football Indonesia - detikSport
    Reuters / Lee Smith Reuters / Lee Smith
    Jakarta -

    Liverpool besutan Juergen Klopp menderita kekalahan pertamanya. Bermain di kandang mereka, Stadion Anfield, The Reds takluk dari Crystal Palace dengan skor 1-2.

    Philippe Coutinho sempat membalas gol Yannick Bolasie, namun gol Scott Danndi menit ke-81 tak mampu dibalas lagi oleh sang tuan rumah.

    Liverpool sejatinya unggul jauh dalam penguasaan bola -- 63% berbanding 37%. Hanya saja jumlah percobaan tembakan yang mencapai 22 kali hanya berbuah satu gol. Sedangkan Palace mampu mencetak dua gol (hanya) dari sembilan kali percobaan.

    Pertandingan yang berlangsung di bawah guyuran hujan deras ini memperlihatkan Liverpool yang terlihat kelelahan saat bertahan. Tak ada pressing khas Juergen Klopp. Yang terjadi justru sebaliknya, Palace yang memberikan tekanan sebagai upaya mengontrol tempo permainan.



    Pressing Awal Pertandingan yang Menyengat Liverpool

    Liverpool era Klopp dikenal dengan sistem pertahanan yang menggunakan gegenpressing. Sistem pemberian tekanan sedini mungkin ini dilakukan untuk merusak skema serangan lawan yang mencoba membangun serangan dari lini pertahanan.

    Saat melakukan tekanan seperti ini, praktis lini pertahanan Liverpool pun akan ikut naik menjauhi area kotak penalti. Hal ini dilakukan untuk mempersempit ruang gerak dan jalur operan yang bisa dilakukan oleh lawan sehingga tak bisa leluasa mengalirkan bola.

    Namun yang terjadi justru sebaliknya. Palace lebih berinisiatif memberikan tekanan sedini mungkin. Sejak awal pertandingan Jason Puncheon cs. langsung mendiami area pertahanan Liverpool saat kubu tuan rumah hendak membangun serangan.

    Dengan formasi dasar 4-2-3-1, empat pemain terdepan Palace tak segera mundur saat serangan Palace digagalkan. Para pemain terdepan akan mengikuti pergerakan para pemain bertahan Liverpool yang mencari ruang untuk menerima bola.


    [Dua contoh situasi lini pertahanan Liverpool yang mendapatkan pressing]

    Gambar di atas adalah dua momen berbeda. Yang pertama (kiri) terjadi pada menit-menit awal, yang kedua (kanan) pada menit ke-36. Dapat terlihat bahwa pressing Palace membuat Martin Skrtel dan Mamadou Sakho tak akan leluasa ketika menerima bola dari Simon Mignolet.

    Pada situasi kedua (gambar kanan), Sakho yang saat itu baru saja mendapatkan benturan keras menguasai bola dan mendapatkan pressing dari Bakary Sako. Sakho lantas hendak memberikan operan pada Emre Can, namun berhasil di intersep oleh James McArthur. Hanya serangan ini gagal karena Bolasie yang menerima bola setelahnya berada pada posisi offside.

    Dari gambar di atas pula bisa sedikit disimpulkan bahwa ketika melakukan pressing, para pemain terdepan Palace akan merapat mendekati bola. Bolasie misalnya yang berada di sisi kiri, mendekati Sako. Pergeseran ini menjadi penting untuk menutupi jalur operan dan penjagaan terhadap pemain Liverpool. [Lihat posisi Bolasie pada gambar kanan yang bisa menutupi jalur operan Sakho pada Lucas Leiva dan Skrtel).

    Pada babak pertama Liverpool sebenarnya cukup bisa meladeni pressing Palace ini. "Si Merah" yang tampil tanpa James Milner dan kembali menggunakan formasi 4-2-3-1 seperti ketika berlaga di Europa League beberapa hari sebelumnya, coba mengontrol tempo.

    Sesekali para pemain terdepan Liverpool memberikan pressing sedini mungkin, pada kesempatan lain mereka lebih memilih menjaga area pertahanan dengan tidak memberikan pressing. Hal ini dilakukan bukan tanpa alasan, sebab Palace memiliki pemain sayap dengan kekuatan dan kecepatan mumpuni: Bolasie dan Wilfried Zaha.

    Serangan Palace pun cukup bervariasi. Meskipun begitu, sisi sayap tetap menjadi pusat serangan mereka. Jika melihat kedua pemain ini berdiri agak bebas atau terdapat area flank di belakang garis pertahanan terakhir Liverpool, maka umpan-umpan panjang pun akan didistribusikan pada Bolasie ataupun Zaha.


    [Grafis operan Crystal Palace sepanjang pertandingan yang didominasi umpan panjang]

    Serangan sayap Palace memang tak bisa diremehkan. Zaha tampil begitu merepotkan sisi kiri pertahanan Liverpool dengan melakukan 16 kali percobaan melewati lawan. Sebanyak sembilan kali eks pemain Manchester United ini berhasil melewati penjagaan pemain Liverpool. Dan gol pertama Palace yang diciptakan Bolasie pun melibatkan kreasi Zaha di sisi kanan.



    [Bolasie dengan leluasa melepaskan tembakan]

    Pada gol ini terlihat pemain bertahan Liverpool kurang berkordinasi sehingga Bolasie bisa dengan bebas melepaskan tembakan keras. Padahal di depannya terdapat tiga pemain bertahan Liverpool dan yang terjadi justru Nathaniel Clyne (dari sisi kanan) yang mencoba menghalau bola.

    Penyelesaian Akhir Buruk Liverpool

    Secara skema penyerangan sebenarnya Liverpool terbilang cukup berhasil memorakporandakan lini pertahanan tamunya. Sebanyak 22 usaha tembakan menjadi bukti bahwa Liverpool, meski kalah, bukannya tanpa peluang. Banyak peluang
    tersedia, tapi hanya satu yang menjadi gol.

    Pressing Palace perlahan berhasil ditaklukan dengan cara memanfaatkan lebar lapangan. Jika melalui sisi kiri, Coutinho sering mundur hingga mendekati tengah lapangan. Sementara jika melalui sisi kanan, Jordon Ibe akan bergerak ke tengah untuk memancing bek sayap kiri Palace, Pape Souare, dan bola digulirkan pada Clyne yang rajin melakukan overlap.

    Meskipun begitu, pola serangan Liverpool tetap bertumpu pada Coutinho. Dimulai dari kiri, lalu ketika bola dialihkan ke kanan oleh Coutinho entah itu melalui Ibe ataupun Adam Lallana, diakhiri oleh umpan silang ke kotak penalti dari sisi kanan. Adanya Christian Benteke yang kerap mencetak gol lewat tandukannya diharapkan bisa menjadi solusi untuk mencetak gol.

    Skema ini terbukti berhasil. Benteke tercatat lima kali mampu menciptakan peluang lewat tandukannya. Hanya saja empat sundulannya gagal menemui sasaran, hanya satu yang on target.

    Gol yang diciptakan Coutinho pun bermula dari kiri. Meski tidak melalui Coutinho karena berawal dari lemparan ke dalam Palace yang berhasil dihalau Leiva, di sini terlihat bagaimana Liverpool memang mengalirkan serangan dari kiri ke kanan: dari Adam Lallana, ke Ibe dan diakhiri pada Clyne. Clyne pun sebenarnya hendak memberikan assist mendatar pada Benteke, namun sontekan Lallana membuat arah bola berubah. Di sanalah Coutinho muncul dan menyambutnya dengan tendangan keras.


    [Proses sebelum terjadinya gol Coutinho]

    Meski terjadi perubahan pada babak kedua, serangan Liverpool tetap merepotkan Palace. Masuknya Roberto Firminho yang menggantikan Emre Can pada menit ke-65 membuat Liverpool mengubah formasinya menjadi 4-1-4-1. Firminho beroperasi di tengah bersama Lallana.

    Skema serangan yang awalnya diakhiri dari sisi kanan mulai berganti menjadi umpan-umpan daerah dari tengah. Perubahan ini terjadi karena skema bertahan Palace yang mulai menumpukkan pemain di kotak penalti, untuk mengantisipasi umpan silang dari sayap Liverpool. Dimasukkannya Firminho merupakan upaya Liverpool memaksimalkan serangan dari depan kotak penalti.


    [Area depan kotak penalti yang kosong (sebelum masuknya Firminho)]

    Dan masuknya Firminho ini terbukti berhasil mengobrak-abrik lini pertahanan Palace. Karena dari tujuh upaya tembakan Liverpool pada 25 menit terakhir, enam di antaranya berasal dari serangan tengah, depan kotak penalti.


    [Perbedaan sumber peluang Liverpool sebelum Firminho masuk (kiri) dan sesudah Firminho masuk]

    Hanya saja penumpukan pemain yang dilakukan Palace di kotak penalti membuat tendangan-tendangan Liverpool tersebut membentur para pemain Palace. Hal ini yang menyebabkan serangan Liverpool masih mental meski berhasil menemukan momentum dalam menciptakan peluang.

    Palace sendiri mulai mengandalkan serangan balik sebagai upaya mencetak gol karena Liverpool semakin mendominasi permainan. Namun serangan mereka tetap tak berubah di mana serangan sisi sayap tetap menjadi andalan.

    Pada gol yang diciptakan Scott Dann melalui sepak pojok, sepak pojok itu dihasilkan dari umpan silang Bolasie dari sisi kiri pertahanan Liverpool yang membentur Alberto Moreno. Pada gol ini, Dann begitu leluasa dua kali menyundul bola. Kordinasi pertahanan kembali menjadi penyebab terjadinya gol yang bersarang ke gawang Liverpool.

    Kesimpulan

    Penampilan Liverpool pada laga ini sebenarnya cukup baik. Skema penyerangan cukup berjalan dengan baik di mana 22 peluang berhasil diciptakan. Satu gol yang diciptakannya pun terjadi berkat skema serangan yang memang menjadi pola serangan Liverpool pada laga ini.

    Hanya saja hal tersebut tak dibarengi dengan penyelesaian akhir yang baik pula. Buruknya penyelesaian akhir Liverpool ini lantas dihukum dengan serangan sayap Crystal Palace dan buruknya kordinasi pertahanan Liverpool. Dua gol yang bersarang ke gawang Mignolet terjadi berkat kesalahan kordinasi pemain bertahan Liverpool.


    ====

    * Dianalisis oleh @panditfootball. Profil lihat di sini.

    (a2s/rin)
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game