Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Match Analysis

    Badai Cedera Barcelona dan Dampaknya untuk El Clasico

    Zakky BM - detikSport
    AFP/Cesar Manso AFP/Cesar Manso
    Jakarta -

    Jika di laga FC Barcelona vs FC BATE Borisov beberapa waktu lalu Ivan Rakitic bisa bermain penuh, mungkin rencana Luis Enrique menumpuk empat pemain tengah di laga El Clasico akan terealisasi. Namun tak sampai satu babak, Rakitic mengeluh kesakitan, ia minta diganti dan rusaklah rencana pelatih Barcelona tersebut.

    "Cedera Rakitic mengacaukan rencana karena ia memiliki kualitas yang dibutuhkan," keluh Enrique pascapertandingan melawan BATE di Liga Champions seperti dikutip Marca.

    Masuknya Rakitic ke ruang perawatan sebenarnya tak mengagetkan karena sejak awal musim ini, para pemain Blaugrana silih berganti masuk ruang perawatan. Bahkan setiap laga Liga Champions, lini tengah Barca selalu menjadi korban. Saat menghadapi AS Roma, Rafinha harus cedera panjang. Saat menghadapi Leverkusen, giliran Iniesta yang masuk ruang perawatan. Lalu saat melawan BATE, baik tandang maupun kandang, Sergi Roberto dan Raktic yang menjadi korban.

    Tercatat hanya sembilan pemain saja yang belum pernah cedera di musim ini: Marc Andre Ter Stegen, Gerard Pique, Sergio Busquets, Luis Suarez, Javier Mascherano, Marc bartra, Munir El Haddadi, Jeremy Mathieu, dan Jordi Masip.

    Namun, dari sembilan nama tersebut, Pique dan Mascherano pernah absen lebih dari dua pertandingan karena bermasalah dengan wasit. Jadi secara total, mungkin hanya tujuh pemain saja yang "normal" jumlah pertandingannya dari awal musim hingga tulisan ini dimuat.

    Sergio Busquets dan Sergi Roberto sebagai Katalisator Lini Tengah

    Bukan rahasia jika Barcelona mengalami start yang tidak terlalu mulus musim ini. Kedalaman skuat yang bisa dibilang biasa saja dan masih terhambatnya Arda Turan dan Aleix Vidal untuk bermain (karena sanksi FIFA kepada Barca) membuat Luis Enrique terpaksa harus mengotak-atik susunan pemain di setiap pertandingan.

    Seorang Sergi Roberto, yang beberapa musim terakhir hanya penghangat bangku cadangan, akhirnya mampu menunjukkan diri sebagai pemain serbaguna. Ia mampu mengisi posisi bek kanan yang ditinggalkan Dani Alves dan Douglas yang cedera. Perlu diketahui juga Sergi Roberto memiliki posisi alami sebagai gelandang tengah.

    "Sergi Roberto adalah pemain yang cerdas. Itu mengapa ia mampu bermain di banyak posisi," ungkap Enrique seperti dikutip ESPNFC.

    Ketika Dani Alves kembali, secara beruntun Iniesta menderita cedera. Lagi-lagi Sergi Roberto bermain ciamik di lini tengah. Saat itu, nyaris tak ada pilihan lagi di lini tengah kecuali memaksakan Mascherano sebagai gelandang bertahan dan menggeser posisi Busquets menjadi agak lebih depan. Fleksibilitas Sergi Roberto dan konsistensi Busquets untuk terus menampilkan permainan terbaiknya di berbagai posisi memang patut diacungi jempol.

    "Ia (Luis Enrique) bercerita kepadaku bahwa dirinya direkrut oleh Barcelona awalnya untuk mengisi posisi penyerang, dan pada akhirnya ia bermain di segala posisi termasuk bek sayap dan pemain tengah. Sebelumnya aku adalah gelandang serang dan belum pernah sekalipun bermain di posisi bek saya. Tapi aku beradaptasi dengan baik," ujar Sergi Roberto tentang perpindahan posisinya.

    Terus mempelajari gaya bermain rekan setimnya saat bermain di bek sayap kanan seperti Dani Alves mempermudah Sergi Roberto untuk terus mendapatkan menit bermain karena ia mampu bermain dengan sangat baik di posisi tersebut. Penambahan menit bermain tentu akan jadi pengalaman dan berimbas pada meningkatnya kepercayaan diri ketika Sergi dimainkan di posisi manapun, baik menjadi seorang gelandang seperti saat ini ataupun menjadi bek sayap seperti beberapa pertandingan sebelumnya.



    Lain halnya dengan Busquets. Sudah lama ia berhasil menunjukkan kemampuan sebagai pemain penting di lini tengah Barcelona. Ia sanggup melambatkan permainan dan ia juga yang bisa mengrimkan umpan jauh ketika Barcelona memiliki kesempatan untuk melakukan serangan balik cepat.

    Hengkangnya Xavi Hernandez dan mulai uzurnya Iniesta membuat Busquets bersama Lionel Messi kerap bahu-membahu untuk mengalirkan bola ke segala sisi. Khusus kondisi Barca sekarang, yang minus beberapa pemain andalan, Busquets menaikkan level permainannya sendiri melebihi rekan rekannya di lini tengah yang lain.

    "Busquets selalu bermain dengan sempurna, kau tak bisa menyuruhnya bermain lebih baik lagi," kata Enrique.

    Sebagai pemain yang biasa bermain sederhana dengan melakukan intersep, melakukan penempatan posisi serta mengumpan pendek dari posisi terdalam (gelandang bertahan), ia memang sempat diragukan banyak orang jika harus bermain lebih ke depan untuk mengisi posisi Iniesta. Namun Busquets menjawabnya dengan performa apik.

    Saat menghadapi BATE di pertandingan grup ketiga Liga Champions, ia melakukan total 64 operan dengan tingkat kesuksesan sebanyak 59 operan dan hanya gagal melakukan 5 operan. Selain itu, ia mampu menjaga ritme untuk mengisi wilayah kiri serta bekerja sama dengan penyerang sayap kiri Barca, Neymar. Tak jarang juga ia merangsek ke sisi tengah untuk menutup posisi Javier Mascherano yang bermain sebagai gelandang bertahan saat itu.



    Sedangkan saat bermain sebagai gelandang bertahan di tengah, Busquets memang terlihat lebih aktif untuk mengatur ritme operan baik hanya sekadar umpan pendek untuk melepaskan tekanan lawan atau bahkan melakukan umpan panjang dari sisi satu ke sisi lainnya untuk melakukan perpindahan alur serangan. Saat melawan Villareal, Busquets membuat 92 operan dengan rincian 84 operan sukses dan hanya delapan yang gagal.

    Gol pertama Barca saat menjamu Villareal juga buah kecerdikan penempatan posisi Busquets saat memotong operan Villareal. Saat Barcelona kehilangan bola, para pemain tengah termasuk Busquets sudah dalam posisi untuk melakukan proses recovery bola secara cepat yang biasa mereka lakukan ketika kehilangan bola.

    Kemampuan Busquets untuk melepaskan diri dari pressing para pemain Villareal usai memotong bola patut diacungi jempol karena sedikit banyak mampu mengalihkan perhatian beberapa pemain bertahan Villareal, termasuk Mario Gaspar, yang telat menutup pergerakan Neymar. Dari situlah akhirnya terjadi gol pertama Barca.

    Di Manakah peran Neymar dan Suarez?

    Agak sulit memang tidak membicarakan konsistensi kemenangan skuat Blaugrana tanpa menyangkut pautkan gol-gol serta assist dari Neymar dan Suarez selama Lionel Messi tersungkur karena cedera lutut sejak 24 September lalu. Messi yang biasa menjadi poros serangan dari sisi kanan, mendadak hilang dan harus dicari solusinya. Jawabannya ternyata adalah: Neymar.

    Meski Luis Enrique pernah berujar bahwa dirinya tak pernah membebankan permainan kepada siapapun termasuk Neymar setelah Messi cedera, tampaknya sangat jelas jika di lapangan Neymar menjadi inisiator serangan. Bersama Luis Suarez, ia saling bahu-membahu untuk memberikan poin demi poin bagi kesebelasan berjuluk Blaugrana tersebut.

    Pergeseran peran ini tentu dipahami betul oleh Neymar. Ia sedikit banyak menyiasatinya dengan mengikuti gaya pergerakan Messi ketika mencari ruang dan membuka jalur operan. Gaya Messi yang sering merangsek ke tengah meski ditempatkan di sisi sayap kanan berhasil diduplikasi dengan baik oleh Neymar. Bedanya Neymar melakukannya dari sisi kiri. Peran ini jugalah yang ia lakukan bersama tim nasional Brasil akhir-akhir ini.

    Trio Neymar, Jordi Alba, dan Iniesta di sisi kiri memang menjadi poros baru setelah trio Messi, Ivan Rakitic, dan Dani Alves mulai buyar karena faktor cedera (Messi dan Rakitic). Saat pertandingan terakhir melawan Villareal, Neymar melakukan delapan umpan silang, tiga kali dribel sukses, enam kali membuat peluang, empat kali melakukan tendangan dan menghasilkan dua gol.

    Pengambilan keputusan yang tepat, insting yang matang, serta kemampuan mencetak gol meski dari peluang-peluang sempit dan sulit menjadikan Neymar sebagai poros baru yang bisa diandalkan bersama Suarez yang kini telah mengoleksi total 18 gol dan 9 assist di segala kompetisi pasca Messi cedera.



    Meski tertimpa badai cedera yang cukup dahsyat, kini posisi Barcelona sedang di atas angin setelah mereka mampu menjauhi Real Madrid di tabel klasemen sementara dengan jarak tiga poin. Kekalahan Real Madrid atas Sevilla juga tentu menjadi salah satu bahan ajar bagi Enrique bahwa pertahanan Real Madrid masih bisa ditembus, apalagi jika mereka ditinggalkan oleh Keylor Navas.

    Kembalinya Mascherano pascahukuman dua pertandingan tentu menjadi tambahan kekuatan. Namun alangkah baiknya jika Mascherano tetap beroparasi sebagai bek tengah bersama Pique dan membiarkan Busquets bermain di posisi terbaiknya sebagai gelandang bertahan. Toh, Sergi Roberto tengah menjalani musim terbaiknya selama ia berkarier di tim senior dan siap mengisi posisi Rakitic.

    Jika berjalan lancar dan lolos dari jeratan penyakit cedera di jeda internasional kali ini, maka susunan pemain Barca saat meladeni Real Madrid di Santiago Bernabeu sepertinya akan dihuni Bravo sebagai kiper utama, Alves, Pique, Mascherano, Alba sebagai kuartet pemain bertahan, kemudian Busquets, Sergi Roberto, Iniesta sebagai pemain tengah, dan Neymar, Suarez serta Munir sebagai ujung tombak kesebelasan Blaugrana.

    [Baca Juga: Problem Pertahanan Real Madrid Jelang El Clasico]

    ====

    *dianalisis oleh @bmzakky. Tulisan lain penulis bisa ditemui di situs @panditfootball.



    (roz/din)
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game