Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Match Analysis

    Liga Inggris: Manchester City 1-4 Liverpool

    Pressing Liverpool Hancurkan Manchester City

    Pandit Football Indonesia - detikSport
    Getty Images/Michael Regan Getty Images/Michael Regan
    Jakarta -

    Manchester City dipaksa menelan kekalahan di kandang sendiri, Etihad Stadium, Minggu (22/11/2015) dinihari WIB, saat menjamu Liverpool. City kalah 1-4 dari Liverpool.

    Ketimbang pertandingan-pertandingan sebelumnya, performa City dalam pertandingan itu tidak bisa dibilang baik. Poros ganda yang dihuni Fernando dan Yaya Toure tidak mampu berbuat banyak dalam membantu pertahanan.

    Liverpool di bawah asuhan Juergen Klopp kembali memperlihatkan permainan yang agresif dan menekan. Dengan pola 4-3-3, Liverpool justru bisa mengisolasi area tengah dan memaksa Manchester City mengirimkan bola ke kedua sisi.

    Susunan Pemain

    [Susunan Pemain. Kiri: Manchester City; Kanan: Liverpool. Sumber: Whoscored]

    Manuel Pellegrini tidak bisa menurunkan bek tengah, Vincent Kompany, karena dibekap cedera. Namun, Pellegrini membuat keputusan mengejutkan dengan tidak menurunkan Nicolas Otamendi melainkan menduetkan Eliaquim Mangala dengan Martin Demichelis. Kabarnya hal ini dilakukan karena kondisi fisik Otamendi yang belum prima. Ia baru pulang membela Argentina dan baru tiba di Manchester pada Kamis.

    Bagi Demichelis ini merupakan pertama kalinya ia diturunkan sebagai starting line-up di Liga Inggris sejak 26 September silam, kala City dikandaskan Tottenham Hotspur 1-4. Sebelumnya, Pellegrini kerap memilih kombinasi Mangala, Otamendi, ataupun Kompany, sebagai bek tengah sejak menit pertama.

    Sementara itu Klopp memilih Roberto Firmino sebagai ujung tombak dan menyimpan Christian Benteke di bangku cadangan. Firmino didampingi Philipe Coutinho dan Adam Lallana di kedua sisi.

    Liverpool Agresif

    Kedua kesebelasan menerapkan pressing ketat hingga area pertahanan lawan sejak awal pertandingan. Hingga dua menit pertama, pressing keduanya memang belum terasa karena para pemain bermain tenang dan tak terpancing untuk buru-buru mengirimkan umpan.

    Sejak awal, diturunkannya duet Demichelis dan Mangala memang diprediksi akan menjadi titik lemah City. Mereka akan kesulitan untuk menghadapi agresifitas ketiga pemain terdepan Liverpool (Lallana-Firmino-Coutinho). Ini terjadi karena ketiga pemain tersebut memiliki kecepatan dan kemampuan melakukan tekel.



    Gol pertama Liverpool diawali dengan tekel Coutinho kepada Bacary Sagna di sisi kanan. City kesulitan saat membangun pertahanan karena Yaya Toure dan Fernando kadung berada di area tengah untuk membantu penyerangan. Padahal, ada Firmino dan Lallana yang bisa menjadi ancaman karena memberikan opsi serangan bagi Liverpool.

    Dalam grafis di atas (gambar 1) terlihat ada lima pemain Liverpool berbanding enam pemain City di area pertahanan City. Bagi City ini tentu tidak menguntungkan terlebih sisi yang dihuni Sagna terlihat amat rentan untuk dieksploitasi karena mantan bek Arsenal tersebut tertinggal beberapa langkah dari Coutinho.

    Pada grafis nomor dua, terlihat Firmino masuk ke celah di antara Demichelis dan Mangala. Ini tentu membingungkan buat keduanya karena di satu sisi Demichelis perlu menjaga Coutinho sedangkan jarak antara Mangala dengan Demichelis tidak begitu rapat.

    Pada gambar ketiga dan keempat terlihat kalaupun Mangala tidak memasukkan bola ke gawang sendiri, ada kemungkinan peluang tersebut berbuah gol. Umpan Firmino memang terlalu jauh untuk dijangkau Coutinho dan Lallana, tapi ada James Milner yang tidak terkawal di tiang jauh. Gol ini memperlihatkan efektivitas pressing Liverpool yang disertai dengan penempatan posisi dan pengambilan keputusan yang tepat.

    Ada Ruang Antar Lini

    Gol pertama seolah memperlihatkan adanya celah yang menganga antara lini pertahanan dengan poros ganda City. Toure dan Fernando bermain cenderung di tengah, sementara bola umpan Liverpool kerap dialirkan ke sayap. Ini menjadi kelemahan City karena Raheem Sterling dan Jesus Navas yang lebih jarang turun membantu pertahanan.


    [Situasi Fernando dan Toure yang tidak efektif]

    Hal ini juga menjadi masalah karena Toure dan Fernando membutuhkan waktu untuk melakukan transisi ke bertahan ataupun ke menyerang. Setelah bertahan, keduanya tak bisa secara agresif ikut membantu serangan.

    Dari gambar nomor dua terlihat kalau City dipaksa menyerang lewat sayap. Ruang menuju lini tengah ditutup oleh para pemain Liverpool sehingga Navas dan Sagna mesti memaksimalkan serangan dari sayap. Padahal, ruang di area tengah kosong dan begitu terbuka untuk dieksploitasi.

    Fernando dan Toure mesti bersiaga karena bukan tidak mungkin Liverpool mampu merebut bola dan melakukan serangan balik cepat. Pada akhirnya hal tersebut membuat City kehabisan opsi saat membangun serangan.


    [Situasi saat Lallana terjebak offside]

    Hingga menit ke-17, setidaknya dua kali Adam Lallana hampir membuat peluang jika tak terjebak offside. Pergerakan-pergerakan seperti ini semakin memperlihatkan kalau City justru kewalahan menambal celah di area pertahanan mereka.

    Dari gambar di atas terlihat betapa tidak terlalu bergunanya delapan pemain City menghadang serangan Liverpool. Nathaniel Clyne (yang memegang bola) sebenarnya masih memiliki banyak opsi untuk mengirimkan umpan. Selain kepada Lallana, ia bisa mengirimkannya pada Coutinho, Emre Can, dan Alberto Moreno di sisi kiri penyerangan Liverpool.

    Apabila Clyne mengirim pada Moreno yang berada di sebelah kanan bawah gambar, agaknya situasi ini bisa berbuah menjadi peluang bagi Liverpool.


    [Umpan Liverpool. Kiri: Babak Pertama; Kanan: Babak Kedua]

    Kegagalan menghadapi tekanan, City lantas coba memaksimalkan umpan-umpan lambung. Ini berdampak pada mudah dipatahkannya setiap serangan The Citizens. Total, City kehilangan penguasaan bola sebanyak 26 kali. Di sisi lain, Liverpool justru mengandalkan umpan terobosan yang diarahkan ke area antara bek tengah dengan fullback Liverpool.

    Sepanjang pertandingan, Liverpool mengirim 385 umpan (261 sukses) sementara City 532 umpan (401 sukses). Dari grafis di atas terlihat kalau arah umpan Liverpool tidak seperti kesebelasan yang bermain umpan-umpan pendek berjarak lima meter. Mereka justru mengirimkan umpan panjang baik vertikal maupun horizontal.

    Jumlah umpan yang diarahkan tepat ke depan kotak penalti pun masih bisa dihitung jari pada setiap babaknya. Ini karena Liverpool lebih mengandalkan pressing untuk melakukan tekel ataupun intercept dalam membangun serangan.


    [Aksi pertahanan Liverpool. Silang: Tekel; Bulat: Sapuan; Wajik: Intercept]

    Faktanya, Liverpool memang benar-benar agresif. Sepanjang pertandingan, mereka melakukan 47 tekel dan 39 interception. Jumlah ini terbilang banyak bagi sebuah tim di satu pertandingan. Ini pula yang bisa menjelaskan mengapa Liverpool tak perlu berlama-lama dengan bola saat membangun serangan. Pasalnya, serangan mereka dibangun dari keberhasilan mematahkan serangan City karena tekel maupun intercept.

    Faktor Demichelis

    Demichelis menjadi sasaran empuk soal buruknya organisasi lini pertahanan Manchester City. Gol kedua Liverpool bermula dari kesalahan antisipasi dari Demichelis. Saat mengantisipasi umpan lambung, ia menyundul bola untuk diberikan pada Mangala, namun bola sundulannya terlalu keras.

    Proses gol tersebut sekali lagi memperlihatkan betapa lebarnya jarak antara lini pertahanan City dengan poros ganda. Ini yang membuat sulitnya City untuk menahan laju para pemain Liverpool saat melakukan serangan balik. Praktis hanya tersisa empat bek yang harus mengantisipasi pergerakan tiga pemain depan Liverpool.



    Dari gambar di atas terlihat bahwa Demichelis berniat mengejar bola dan berpindah ke sisi kiri untuk menghadang Firmino. Namun, keputusan tersebut bisa dibilang tidak tepat karena itu artinya dia membiarkan dua pemain Liverpool, Lallana dan Coutinho, hanya dijaga masing-masing satu bek City.

    Saat Demichelis berusaha menekan, Firmino dengan jeli mengirimkan umpan ke arah Coutinho yang berada beberapa langkah dari Sagna yang menjaganya.



    Gambar sebelah kiri memperlihatkan serangan Liverpool sebelum gol kedua mereka. Dalam situasi tersebut, Demichelis menjaga Lallana yang membawa bola. Namun, setelah terlewat, Demichelis justru membiarkan Lallana membawa bola padahal ruang baginya untuk menendang terbuka lebar. Beruntung karena bola umpan Lallana yang ditendang Milner, melambung tinggi di atas mistar Joe Hart.

    Sementara itu gambar di sebelah kanan adalah momen sebelum gol ketiga Liverpool. Terlihat kalau Demichelis mencoba menutup ruang tembakan Coutinho. Padahal sudah ada Mangala dan Sagna yang berusaha mengeblok bola.

    Justru apa yang dilakukan Demichelis dengan ikut mengeblok bola, memberikan ruang bagi Can.Seandainya Coutinho lebih memilih mengirim umpan terobosan pada Can, bukan tidak mungkin gol ketiga hadir lebih cepat.

    Demichelis memiliki peran kunci bagaimana dirinya tak mampu menjalankan tugasnya sebagai bek tengah. Ia hampir selalu terlibat dalam setiap gol yang dicetak Liverpool. Demichelis terkesan tidak tenang saat ada bola di hadapannya. Ia terlalu memikirkan bagaimana caranya sesegera mungkin untuk menahan bola.

    Pada gol pertama, keputusan Demichelis untuk mengejar Coutinho berakibat fatal karena pemain asal Brasil tersebut mengirimkan bola pada Firminho yang bergerak di antara Demichelis dan Mangala. Andai Demichelis tak mengejar Coutinho, mungkin Mangala masih memiliki waktu untuk menutup pergerakan Firmino.

    Pada gol kedua, antisipasi bola atas yang ia sundul, nyatanya terlalu keras untuk diterima Mangala, dan terlalu lemah untuk mencapai Kolarov. Bola pun dicuri Firmino yang dikejar Kolarov.

    Demichelis melakukan hal yang sama seperti pada gol pertama dengan mengejar Firmino. Ini membuat Coutinho menjadi tidak terjaga karena Sagna terlambat beberapa langkah.

    Pada gol ketiga, Demichelis sebenarnya menjaga Can. Namun, ia membiarkan Can berlalu dan sejurus kemudian melakukan backheel pada Coutinho. Sementara itu, pada gol keempat ia tidak mencoba menghentikan tendangan Martin Skrtel. Demichelis justru memalingkan wajah dan tubuhnya agar tidak terkenda tendangan Skrtel.

    Salah Antisipasi

    City memiliki masalah dalam mengantisipasi umpan-umpan Liverpool. Bola yang semestinya bisa dipotong, justru melaju mulus ke arah para pemain Liverpool. Ini yang terjadi pada proses gol ketiga Liverpool.

    Pada menit 31:12, Liverpool melakukan serangan balik yang diinisiasi Milner. Pergerakan Milner hampir tak bisa ditahan karena saat itu City baru saja melakukan tendangan sudut. Di lini depan, Coutinho dan Emre Can sudah siap mendukung serangan balik tersebut. Hingga gol ketiga terjadi pada menit 31:39, tidak sekalipun City bisa memotong umpan Liverpool.

    Ini tentu memperlihatkan buruknya kemampuan tekel maupun intercept Manchester City saat menghadapi kesebelasan yang memforsir fisiknya untuk bermain menekan.



    Dari gambar di atas, terlihat tidak fokusnya Sagna saat bola diterima Can. Padahal, Coutinho bergerak tepat di belakangnya meminta bola. Benar saja, karena backheel Can tidak mampu dibaca Sagna yang terlalu sibuk mengangkat tangan meminta offside.

    Umpan Can bersamaan dengan pergerakan Firmino yang bergerak dari depan kotak penalti mendekati Coutinho. Sayangnya pergerakan ini tidak bisa dibaca oleh bek City. Demichelis malah lebih senang menunggu di garis kotak penalti saat Can mengirim umpan pada Coutinho. Praktis hanya Mangala yang mengejar pergerakan Firmino meskipun tetap tak berhasil.

    Kesimpulan

    Lini pertahanan Manchester City tidak siap saat menerima tekanan para pemain Liverpool. Meskipun unggul jumlah pemain di lini tengah, tapi City tak bisa menembus area tengah Liverpool. Bola pun diarahkan ke sisi yang justru membuat serangan seperti terkunci.

    Tiga penyerang Liverpool yang berjaga di depan tidak membuat poros ganda City waspada.Tiga gol Liverpool bermula dari bola yang berhasil dipotong dan menghasilkan serangan balik. Tentu, serangan balik Liverpool menjadi berbahaya karena baik Coutinho, Firmino, dan Lallana, memiliki penguasaan bola yang baik serta umpan yang akurat. Selain itu, lawan yang dihadapi ketiganya pun cuma empat pemain bertahan City.



    Meskipun kokoh di tengah, City justru mengarahkan serangannya ke kedua sisi. Mereka memaksakan melakukan umpan silang. Total, mereka melakukan 32 umpan silang (termasuk tendangan sudut) dengan hanya tiga yan yang mencapai sasaran.

    Terdapat perubahan secara signifikan dari umpan yang dilakukan City pada babak pertama dan babak kedua. Pada babak pertama, City melepaskan 335 umpan berbanding 176 umpan pada babak kedua. Aliran bola pada babak pertama lebih mengarah ke kedua sisi secara konstan. City amat jarang melepaskan umpan langsung ke dalam kotak penalti dengan hanya delapan umpan.

    Ini memperlihatkan City memang sulit untuk menembus pertahanan Liverpool. Peran Toure dan Fernando pun menjadi tidak terlihat begitu menonjol;Toure bahkan diganti pada menit ke-46.

    Selain Coutinho, Lallana, dan Firmino, salah satu pemain Liverpool yang menonjol adalah Emre Can. Pemain berkebangsaan Jerman tersebut menjadi pengumpan terbanyak dengan 52 umpan. Ia pun memberi dua key passes yang salah satunya berbuah gol untuk Liverpool.

    Ketimbang Milner yang lebih sering menyisir sayap, Can malah menjadi pengatur serangan saat bola berpindah ke sisi kiri. Can memiliki kemampuan membaca pertandingan dengan terlibat langsung dalam pertahanan maupun penyerangan. Liverpool memang layak menang.


    ====

    * Dianalisis oleh @panditfootball. Profil lihat di sini.



    (krs/mrp)
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game