Liga Champions: Man Utd 0-0 PSV
'Setan Merah' yang Lagi-lagi Tidak Kreatif
Manchester United kembali bermain imbang tanpa gol, kali ini melawan tamunya dari Belanda, PSV Eindhoven. Ini mungkin seperti sebuah deja vu, tapi sesungguhnya MU memang sedang kekurangan kreativitas.
Sama seperti saat imbang 0-0 melawan Crystal Palace, ini adalah pertandingan keempat dengan hasil 0-0 yang dicapai "Setan Merah" sejak bulan Oktober (10 pertandingan di segala kompetisi), yang merupakan hasil dari buntunya kreativitas mereka dalam menciptakan peluang.
[Gambar 1. Susunan sebelas pemain utama Manchester United, dan PSV Eindhoven dengan angka yang ditunjukkan adalah kontribusi presentase penguasaan bola seluruh pemain mereka. Sumber: WhoScored]
Kreativitas masih menjadi sorotan utama, Louis Van Gaal pun sadar akan hal ini. Untuk itulah ia memasang tiga pemain bertipikal cepat di starting eleven-nya semalam. Memphis Depay, Anthony Martial, dan Jesse Lingard dimainkan dari awal. Bahkan Lingaard dipasang dengan mengorbankan Juan Manuel Mata yang sudah bermain reguler sepanjang musim ini.
Sedangkan Phillip Cocu, manajer PSV sekaligus mantan anak asuh Van Gaal, menurunkan skema 4-3-3 yang terlihat berniat untuk bertahan dan mengandalkan serangan balik.
MU jarang melakukan penetrasi ke kotak penalti PSV
Semalam MU memang berhasil menguasai permainan dengan 61,7% penguasaan bola dan rata-rata kesuksesan operan 83% (berbanding 71% untuk PSV). Dari zona aksi sepanjang 90 menit juga MU lebih superior dengan 43% permainan semalam disajikan di lini tengah dan 32% disajikan di daerah pertahanan PSV.
Tidak bobolnya gawang David de Gea semalam juga menjadikan MU sudah 566 menit tak kebobolan di Old Trafford. Ini tentunya menegaskan bahwa Old Trafford sudah kembali menjadi benteng yang kokoh.
Sayangnya, angka-angka statistik di atas cenderung bisa menipu kita semua, sebenarnya tergantung dari perspektif mana kita melihatnya.
[Gambar 2. Grafik operan Manchester United yang menuju ke sepertiga pertahanan lawan dan grafik heat map Manchester United. Sumber: FourFourTwo Stats Zone dan WhoScored]
Pada kenyataannya semalam MU meluncurkan sebanyak 571 operan. Dari jumlah operan sebanyak itu, hanya 162 (28%) yang menuju ke pertahanan PSV (attacking third MU), dan yang berhasil hanya 113.
Lebih seksama lagi, MU hanya berhasil meluncurkan 19 operan yang menuju ke dalam kotak penalti dan 5 yang tepat sasaran dengan salah satunya menjadi peluang (Martial).
Dari 740 total sentuhan para pemain MU, hanya 26-nya saja yang mereka lakukan di dalam kotak penalti PSV. Selebihnya, mereka terlalu lama memainkan bola di tengah dan di belakang (perhatikan gambar heat map di atas, semakin merah maka semakin sering/lama penguasaan bola di daerah tersebut).
Membebankan kreativitas pada pemain sayap
Sebelum pertandingan Van Gaal menyatakan bahwa ia masih membutuhkan pemain sayap yang cepat (fast wingers). Mungkin itu yang membuat Lingaard memulai pertandingan di sayap kanan dengan menyingkirkan Mata. Harapannya tentu jelas, Van Gaal ingin pemain sayapnya banyak melakukan penetrasi ke pertahanan lawan.
[Gambar 3 Perbandingan grafik dribel sukses Manchester United dan PSV Eindhoven. Sumber: FourFourTwo Stats Zone]
Sayangnya, fakta yang terjadi di lapangan menunjukkan justru MU kesulitan melakukan penetrasi tersebut. Salah satunya, yang pertama, dalam hal dribel atau take on, kreativitas para pemain Van Gaal terlihat buruk sekali dengan 23 usaha dribel mereka yang hanya berhasil sebanyak 5 kali saja.
Berikutnya, para pemain sayap pasti mencari alternatif lain jika usaha dribel mereka berkali-kali gagal. Maka melakukan penetrasi melalui umpan silang bisa jadi jalan keluar dari kebuntuan tersebut.
[Gambar 4. Grafik umpan silang Manchester United . Sumber: FourFourTwo Stats Zone]
Sayangnya lagi, dari 30 umpan silang yang dilancarkan MU, hanya 4 yang tepat sasaran, dengan 4 lagi berhasil diblok oleh pertahanan PSV; sisanya gagal.
Kedua hal di atas semakin menjelaskan bahwa memang MU butuh pemain sayap yang cepat dan juga kreatif. Namun, mungkin Van Gaal lupa jika ia masih memiliki Adnan Januzaj yang malah ia pinjamkan ke Borussia Dortmund, sehingga sebenarnya ia tidak perlu repot-repot mencari pemain baru yang kembali harus beradaptasi.
PSV memanfaatkan celah di lini tengah MU
Di kubu PSV, rencana permainan yang dibangun oleh Cocu sebenarnya sudah sangat jelas. Mereka senang-senang saja membiarkan tuan rumah mengontrol pertandingan. Mereka hanya berharap melakukan serangan melalui counter-attack.
Hal di atas tidak bisa terlaksana andaikan pertahanan mereka tidak bermain baik semalam. Sepanjang 90 menit, pertahanan PSV tidak terlihat sangat baik. Bahkan, mereka banyak terbantu dengan buruknya penyerangan MU.
[Gambar 5. Grafik permainan bertahan PSV Eindhoven. Sumber: FourFourTwo Stats Zone]
Dari 8 tembakan yang mereka luncurkan pada akhirnya, 5 di antaranya adalah tendangan yang berasal dari luar kotak penalti MU. Beberapa cara mereka untuk melakukan serangan balik banyak terbantu dari terlalu lebarnya ruang atau gap yang dihasilkan antara pemain depan dan pemain tengah MU.
Kita bisa melihat kembali grafik dribel pada gambar 3 di atas, di mana PSV banyak melakukan dribel, dan banyak pula yang sukses, di daerah tengah MU.
Membosankan
Pada akhir pertandingan, Van Gaal menyoroti ketidakmampuan timnya dalam mengubah peluang menjadi gol. Semalam mereka memang berhasil mencetak 7 tembakan ke gawang dari 13 usaha tembakan mereka. Namun, sejujurnya mereka tidak berhasil menciptakan banyak peluang.
Hal ini pastinya berhubungan langsung dengan cara MU membangun serangan. Bisa lihat kembali pada gambar 1 paling atas, dari 61,7% penguasaan bola mereka, tiga penguasaan bola tertinggi dihasilkan oleh pemain bertipikal bertahan, yaitu Daley Blind (berkontribusi sebanyak 8,8%) Smalling (7,4%), dan Morgan Schneiderlin (8,6%).
Ketidakmampuan MU dalam menciptakan peluang juga sejujurnya banyak dipengaruhi (secara tidak langsung) dari kapten mereka, Wayne Rooney. Semalam Rooney melepaskan 43 operan (38 berhasil) dengan rincian 19 (setengahnya dari yang berhasil) adalah operan ke belakang, 7 ke samping, dan hanya 17 yang merupakan operan ke depan (14 sukses).
MU juga tidak bisa memanfaatkan keunggulan Martial di depan. Pemain muda asal Prancis ini sebenarnya merupakan pemain depan yang menjanjikan. Tapi, banyak peluang dia berasal dari aksi individualnya, alih-alih dari build up penyerangan yang dilakukan MU.
Van Gaal juga tidak memiliki 'plan B' yang lebih jitu daripada terus mengandalkan Marouane Fellaini (yang masuk pada babak kedua), yaitu pendekatan langsung kepada bola lambung daripada penguasaan bola yang memanjakan Martial. Jujur saja, ini bukanlah Manchester United yang enak ditonton.
Pada akhirnya, 90 menit malam itu adalah 90 menit yang membosankan.
Selanjutnya MU akan bertandang ke VfL Wolfsburg, sementara PSV menjadi tuan rumah menghadapi CSKA Moscow yang sudah tertutup peluangnya ke babak 16 besar Liga Champions. MU wajib menang agar lolos ke babak 16 besar. Jika mereka kalah sementara PSV menang atau imbang, siap-siap saja Van Gaal turun kasta ke "Liga Malam Jumat".
====
* Dianalisis oleh @panditfootball. Profil lihat di sini.







