Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Match Analysis

    Pratinjau Leicester vs MU

    Cara MU Menghentikan Vardy

    Dex Glennıza - detikSport
    Getty Images/Clive Rose Getty Images/Clive Rose
    Jakarta -

    Manchester United akan bertandang ke kandang Leicester City. Pertandingan Liga Inggris ini sebaiknya tidak kita lewatkan karena mempertemukan pemuncak klasemen sementara, Leicester, menghadapi peringkat dua, United.

    Pertandingan di King Power Stadium itu sepertinya akan menjanjikan karena menyuguhkan pertemuan antara kesebelasan terbaik dalam menyerang melawan kesebelasan terbaik dalam bertahan.

    Jangan kaget untuk menerka-nerka, jika kita tidak memperhatikan Liga Inggris secara seksama, kita pasti beranggapan bahwa kesebelasan menyerang yang dimaksud adalah United, sementara kesebelasan bertahan yang dimaksud adalah Leicester.

    Pada kenyataannya, yang terjadi adalah sebaliknya. Untuk sementara ini Leicester menjadi kesebelasan yang paling banyak mencetak gol, yaitu dengan 28 gol. Sementara United menjadi kesebelasan yang paling sedikit kebobolan, yaitu sembilan gol.

    Tidak seperti United, Leicester yang dilatih oleh Claudio Ranieri sudah mencetak gol sebanyak itu tetapi sampai pekan ke-13 mereka sudah kebobolan 20 gol, yang menjadi angka kebobolan paling tinggi di antara kesebelasan papan atas Liga Inggris.

    Sementara kesebelasan asuhan Louis van Gaal baru mencetak 19 gol yang merupakan jumlah gol terendah dari tujuh kesebelasan papan atas Liga Primer saat ini.

    Mencoba membela Manchester United yang dianggap membosankan

    Jujur saja, Manchester United memang sudah dianggap sangat membosankan sepanjang musim ini. Mereka seolah begitu mengagung-agungkan penguasaan bola dan kesuksesan operan, tetapi melupakan tujuan utama dari bermain sepakbola, yaitu mencetak gol.

    Namun, kita juga harus ingat bahwa mereka bermain “membosankan” seperti itu tapi mampu bertengger di peringkat kedua Liga Inggris. Pasti ada sesuatu dalam kesebelasan United yang terlupakan oleh kita.

    Sebelum United menghadapi West Bromwich Albion (07/11/2015), Van Gaal berkata: “Kami harus mencetak lebih banyak gol, saya setuju dengan itu. Tapi sebenarnya kami hanya perlu mencetak satu gol lebih banyak dari lawan kami. Itu lah yang saya pikirkan.” Dengan pernyataannya di atas, akhirnya Van Gaal menunjukkan filosofinya yang pragmatis.

    Sebagai perbandingan lainnya terhadap konteks di atas, kita bisa melihat Southampton. Kesebelasan asuhan Ronald Koeman ini sama seperti United, yaitu sudah berhasil mencetak 19 gol sejauh ini. Tapi mereka sudah kebobolan 14 gol. Tidak seperti United, dengan jumlah gol yang sama tapi Southampton bertengger di peringkat kedelapan.

    Membandingkan United dengan Southampton akan membuat kita sadar bahwa yang dibutuhkan sebuah kesebelasan bukanlah banyak mencetak gol, melainkan mencetak setidaknya satu gol lebih banyak dari lawan mereka. Setujukah Anda? Anda boleh setuju ataupun tidak setuju. Terserah saja.

    Opini yang muncul bahwa “United membosankan” lebih kepada karena kita sebagai penonton sepakbola yang senang dimanjakan dengan gol demi gol, serta kita yang tidak terbiasa melihat kesebelasan bersejarah seperti United lebih baik ketika bermain bertahan daripada menyerang.

    Sekarang bayangkan jika hal sebaliknya terjadi dengan Leicester. Alih-alih meledek Leicester membosankan, kita pasti justru memuji setinggi langit Leicester yang bisa “mencetak lebih sedikit gol tetapi bisa menang lebih banyak”.

    Masalahnya lagi, jika standar 19 gol ini kita anggap terlalu sedikit dan terlalu membosankan, bukankah label “membosankan” yang sama bisa kita tempelkan juga pada Liverpool (baru mencetak 17 gol), Southampton (19), Crystal Palace (14), Stoke City (11), Watford (12), Swansea City (14), Chelsea (17), dan setengah lusin kesebelasan di Liga Primer lainnya?

    United bukan membosankan, mereka hanya pelit

    Dari 22 pertandingan di seluruh kompetisi sampai sejauh ini, United menang sebanyak 13 kali dan 13 kali juga mereka berhasil mencetak clean sheet alias tidak kebobolan.

    Mereka sudah mencetak 19 gol, yang sebenarnya bukan jumlah yang sedikit-sedikit amat. Hanya saja, mereka mencetak gol sebanyak itu dari usaha mereka yang juga sedikit. Untuk merekap, sampai pekan ke-13 United berada di posisi ke-16 dalam soal menciptakan peluang (chances created) dengan 100 peluang.

    Angka ini sama dengan Aston Villa, serta hanya Sunderland (99 kali menciptakan peluang), Newcastle United (98), dan West Bromwich Albion (88) yang mencetak peluang lebih sedikit dari United.

    Menengok ke atas, ada Arsenal di puncak klasemen dalam urusan menciptakan peluang (184 kali menciptakan peluang), kemudian ada Manchester City (176), Tottenham Hotspur (159), dan Liverpool (158). Sejujurnya ini memang bukan urusan efektivitas, tetapi hanya urusan kuantitas. Tidak percaya?

    Selanjutnya kita bisa menengok United yang berada di peringkat kedua dalam soal urusan akurasi tembakan dengan 53 persen. Di atas mereka ada Spurs (58 persen), sementara di bawah mereka ada Man City (52 persen) dan Everton (52 persen). Bagaimana efektivitas tembakan mereka dengan angka presentase sebesar itu? Tentunya mereka sudah efektif.

    Nah, jika kita lihat jumlah tembakan, yang menunjukkan kuantitas, kita baru bisa melihat United berada jauh di antara tiga kesebelasan itu. Spurs sudah menciptakan 211 tembakan, Man City 232 tembakan, dan Everton 161 tembakan; sementara United hanya 136 tembakan.

    Maka dari itu, kita semua jangan mau tertipu dengan angka-angka statistik. Statistik harus kita taruh kembali kepada konteks yang benar, sehingga anggapan “United membosankan” sebaiknya kita ubah saja menjadi “United pelit”.

    Soal statistik, Leicester juga tidak bagus-bagus amat

    Ketika United begitu berkonsentrasi kepada penguasaan bola dan kesuksesan operan, kita bisa melihat Leicester sebagai kesebelasan yang melakukan pendekatan yang sama sekali berbeda dengan United.

    Mari kita lihat dua statistik berikut ini: Hanya Sunderland dan West Bromwich Albion yang memiliki penguasaan bola lebih rendah daripada Leicester musim ini, dan Leicester berada pada posisi juru kunci dalam urusan kesuksesan operan.

    Kedua hal di atas bukannya menunjukkan bahwa Leicester banyak mengandalkan bola panjang dan menang dengan bermain jelek. Justru sebaliknya, Ranieri menekankan anak-anak asuhnya untuk lebih banyak melakukan operan ke depan (forward pass) daripada bermain aman dan bertele-tele dengan mengoper ke samping dan ke belakang.

    Mereka juga bermain sangat baik ketika melakukan serangan balik, terutama dengan mengandalkan kecepatan Jamie Vardy dan Riyad Mahrez yang bisa mentransformasikan permainan bertahan ke permainan menyerang dengan secepat kilat.

    Tidak hanya itu, pasukan Ranieri juga memainkan pressing yang efektif yang membuat mereka berkali-kali berhasil memenangkan bola di setengah daerah lapangan lawan. Hasilnya, mereka menciptakan angka intersep tertinggi di liga (22,4 intersep per pertandingan), dan hanya Liverpool dan Spurs yang berhasil mencetak tekel lebih banyak daripada The Foxes (23 tekel per pertandingan).

    Di belakang, duet gelandang N’Golo Kanté dan Danny Drinkwater (eks akademi United) juga handal dalam memotong permainan lawan. Dengan permainan semacam ini, tidak heran Leicester bisa memuncaki klasemen sementara, hanya saja mereka memang banyak kebobolan.

    Jika ingin menang, United harus bisa menghentikan Vardy

    Penyerang bernomor punggung 9 Leicester, Jamie Vardy, sudah menjadi buah bibir banyak media sepakbola. Pada saat melawan United nanti, Vardy memiliki kesempatan untuk melewati rekor mencetak gol 10 pertandingan berturut-turut yang sebelumnya menjadi milik mantan penyerang lawannya tersebut, Ruud van Nistelrooy.

    Kenyataannya, ini lah ujian berat yang menanti United. Bagaimana taktik Van Gaal untuk menghentikan Vardy? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, pertama-tama kita harus mengidentifikasi tipe permainan Vardy.

    Sejauh ini Vardy sudah mencetak 13 gol dari 13 pertandingan. Seluruh gol tersebut ia cetak dari dalam kotak penalti. Ia juga memiliki akurasi tembakan sebesar 30 persen. Ia dinilai sebagai penyerang yang komplet karena berhasil mencetak berbagai macam gol, mulai dari satu lawan satu (66 persen), dari sudut sempit, menyambut umpan terobosan, penyelesaian melalui first time, sampai tiga golnya dari tendangan penalti.

    Leicester berkali-kali mengandalkan kecepatan dan kekuatan Vardy melalui pergerakan tanpa bolanya. Penyerang asal Inggris ini juga memiliki tingkat kesuksesan dribel yang tinggi (78 persen) sambil selalu bersikap dermawan dengan angka kesuksesan operannya (79 persen) yang menghubungkan permainannya dengan Leonardo Ulloa dan Shinji Okazaki, serta kedua pemain sayap di sampingnya.

    Serangan balik Leicester sangat bergantung kepada kombinasi permainan ini, dengan assist terbanyak datang dari Mahrez, Ulloa, dan Drinkwater.
    Setelah mengetahui tipikal permainan Leicester dan Vardy di atas, Van Gaal tentunya bisa melakukan beberapa pendekatan di bawah ini agar kesebelasannya bisa terus bertahan dengan baik.

    Vardy mencetak banyak gol hasil dari pergerakan tanpa bolanya, terutama ketika menerima umpan terobosan. Maka sebaiknya garis pertahanan United jangan terlalu tinggi. Jika United bertahan lebih dalam, ini akan menimbulkan dua keuntungan, yaitu akan mengurangi ruang bagi Vardy dan juga sambil menurunkan kemungkinan Leicester untuk menciptakan serangan balik.

    Selain itu, para gelandang United juga harus bisa menutup ruang operan kepada Vardy. Secara umum, Morgan Schneiderlin bisa menjalankan tugas ini dengan baik.

    Jika United bisa menghentikan tipikal permainan Leicester yang mengandalkan serangan balik dan operan-operan langsung, bukan tidak mungkin United bisa seperti Arsenal yang berhasil membantai Leicester. Atau kalaupun tidak, paling tidak pertandingan akan berakhir 0-0 lagi.

    Namun di atas kertas, pertandingan nanti malam sangatlah menjanjikan akan serangan dan bertahan yang sama baiknya, dan bahkan yang terbaik di Liga Primer untuk saat ini. Siapapun pemenangnya, mereka yang akan memuncaki klasemen.

    (cas/cas)
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game