Liga Inggris: Manchester City 3-1 Southampton
City Mengeksploitasi Sisi Sayap untuk Kalahkan Soton
Manchester City sukses mengalahkan Southampton 3-1 sekaligus memuncaki klasemen Premier League. Kunci kemenangan The Citizens adalah keberhasilan mereka mengeksploitasi lemahnya sisi sayap The Saints.
Gol yang dicetak Kevin De Bruyne dan, Fabian Delph di babak pertama serta Aleksandar Kolarov di babak kedua hanya mampu dibalas sebiji gol lewat tandukan Shane Long.
Poros ganda yang diturunkan oleh Pellegrini kali ini bukanlah duet Fernando dan Fernandinho, yang biasanya diturunkan, melainkan Fernandinho dan Fabian Delph. Bagi Fabian Delph, ini merupakan kesempatan pertama kali dirinya menjadi starter yang diturunkan oleh sang manajer semenjak ia direkrut dari Aston Villa di musim panas lalu.
Duet bek tengah City juga diperkuat oleh duet Argentina yaitu Martin Demichelis dan Nicolas Otamendi. Sayangnya, duet Argentina ini tak mampu menjadikan gawang City bersih dari gol dan memperpanjang rekor City tak pernah clean sheet jika Vincent Kompany absen;
Southampton sendiri tak menurunkan Graziano Pelle yang terkena akumulasi kartu yang membuat Ronald Koeman lebih memilih Shane Long sebagai ujung tombak ditopang oleh Sadio Mane dan James Ward Prowse. Sedangkan pemain andalan Ston lainnya yaitu Dusan Tadic harus memulai laga dari bangku cadangan.

Manchester City Menghajar Sisi Sayap Soton
Meski penguasaan bola dan jumlah operan dikuasai oleh tim tamu, Southampton, namun nyata-nyatanya mereka kesulitan mencetak gol. Keadaan ini diperparah karena salah satu pemain belakang mereka yaitu Maya Yoshida yang bermain di bek kanan Soton melakukan kesalahan demi kesalahan ketika membangun serangan.
Kedua Sayap Manchester City yaitu Raheem Sterling dan Kevin de Bruyne menjadi hadangan awal bagi Soton untuk membangun serangan. Bahkan tak jarang juga Kolarov, Sterling atau bahkan Delph yang notabenenya adalah pemain gelandang poros ganda berhasil merepotkan bek kanan Soton yang dihuni oleh Maya Yoshida.
Selain Yoshida yang membuat kesalahan fatal yang berujung gol cepat De Bruyne, posisi Bertrand yang sering overlap juga menjadi area untuk Sagna dan De Bruyne berkolaborsi. Umpan-umpan pendek di sisi kanan penyerangan Manchester City menjadi lebih dominan.

Gambar aksi Delph di atas bisa menjabarkan posisi Yoshida memang terus terusan ditekan sampai akhirnya Yoshida melakukan kesalahan. Ini City lakukan karena pada pertandingan sebelumnya, Soton kebobolan cepat dari sisi kanan yang di tempati oleh oleh Yoshida. Saat itu, Bojan Krkic (Stoke City) mampu menceploskan umpan silang Erik Pieters dari sisi kanan pertahanan yang diisi Yoshida. Bahkan sebelum terjadinya gol. Terlihat hanya Wanyama yang mendekati Pieters dan Yoshida hanya berdiri melihat bola mengalir deras menuju mulut gawang.
Padahal, cara bertahan Soton terbilang cukup baik ketika mereka kehilangan bola di awal-awal pertandingan. Formasi 4-5-1 dengan meninggalkan Mane sendirian untuk melancarkan counter attack disusun rapi oleh para pemain Soton sampai akhirnya blunder Yoshida itu terjadi. Maka setelah gol tersebut City mempunyai opsi merusak bek sayap Soton dengan dua cara, yaitu; mengandalkan kombinasi Bruyne dan Sagna yang berakhir menjadi peluang ataupun umpan diagonal ke sisi yang berlawanan dan satu lagi adalah mencoba menekan Yoshida dengan menempatkan Kolarov, Sterling dan Delph untuk duel melawan Yoshida dan Wanyama yang sering bergerak ke sisi kanan pertahanan Soton.

Gambar di atas juga kurang lebih bisa menjelaskan bagaimana cara Manchester city bermain. Babak pertama, banyak sekali umpan-umpan yang diarahkan ke sisi kanan pertahan Soton yang ditempati oleh Yoshida. City juga tampak leluasa memindahkan alur serangan dari kanan ke kiri tapat di area kotak penalti Soton. Dua poros ganda yang dipasang Koeman memang beruapaya untuk mencegah City masuk lewat tengah.
Sedangkan babak kedua, City bermain agak dalam dan banyak berkutat di lini tengah. Duel-duel dengan pemain tengah Soton kerap terjadi dan beberapa kali dimenangkan oleh Fernandinho maupun oleh Toure. Sebagai gambaran, pada gol ketiga City yang dicetak oleh Kolarov, salah satu pemain Soton yaitu Bertrand yang mencoba overlap gagal berduel dengan Fernandinho di sepertiga area penyerangan Soton. Secara cerdik City mengarahkan bola ke sisi sayap kiri mereka yang dihuni oleh Raheem Sterling yang memiliki kecepatan dan kemampuan dribel bola yang baik.
Sterling memang tidak langsung mengeksekusinya menjadi umpan assist ataupun tembakan langsung ke gawang yang di jaga oleh Marten Stekelenburg. Namun, ia mengarahkan lagi umpan ke sisi sayap lainnya yang dihuni oleh Bony dan De Bruyne dengan cara mendribel menusuk ke kotak penalti.
Pemain bertahan Soton yang hanya tiga ditambah Davis yang melakukan track-back harus tergeser posisinya lebih condong kepada posisi tengah dan kiri yang dihuni oleh Sterling dan De Bruyne pasca serangan balik tersebut. Kolarov yang leluasa akhirnya mampu mengonversi umpan dari De Bruyne yang ia lemparkan lagi ke area yang ditempati oleh Yoshida. Lagi-lagi, Yoshida tak mampu membendung peluang peluang City yang datang dari area yang ia tempati.
Dusan Tadic Mengancam City
Ketika tertinggal 0-2, Ronald Koeman memutuskan untuk menurunkan Dusan Tadic yang lebih memiliki insting menyerang untuk menggantikan Oriol Romeu yang berposisi sebagai poros ganda sedari awal babak kedua. Awalnya Soton memang berupaya membendung lini tengah dengan menempatkan poros ganda Wanyama dan Romeu ditambah Davis yang juga sering membantu pertahanan. Namun sialnya, gol awal City di menit ke-8 adalah buah dari teror City yang diarahkan terus menerus ke bek sayap Soton.
Oleh karena itu, babak kedua terlihat Wanyama menjadi single pivot untuk menopang Davis dan Tadic yang terus membuat peluang bagi Soton. Hasilnya terlihat instan. Saido Mane yang sepanjang babak pertama terlihat kebingungan saat memegang bola di kawasan sepertiga akhir terutama di sayap kanan, kini kehadiran Tadic memberikan opsi umpan di area sepertiga akhir penyerangan Soton.
Meski gol pertama Soton tercipta dari umpan silang Mane yang berujung sundulan Shane Long, tapi kondisi beberapa saat sebelum gol pertama menandai kehadiran Tadic sebagai salah satu kreator serangan Soton.
Bahkan Tadic sendiri mempu membuat peluang one-on-one dengan kiper Manchester City, Willy Caballero. Jika saja peluang Tadic tersebut mampu dikonversi dengan baik, bukan tak mungkin pertandingan akan berjalan lebih seru karena skor akan berubah menjadi 2-2. Tapi di sisi lain, Caballero bermain apik malam itu dengan membuat tujuh penyelamatan berbanding lima penyelamatan yang dilakukan Stekelenburg.
Untuk membongkar pertahanan City, Tadic sendiri sukses melewati lawan dengan dribelnya sebanyak empat kali dan tiga diantaranya mengeksploitasi dari posisi Demichelis yang pergerakannya tidak cukup cepat jika dibanding Otamendi. Mentoknya upaya Tadic, Mane dan Davis untuk terus membuat peluang dan menciptakan gol ini juga dipersulit dengan ketiga pemain tengah City yaitu Fernandinho, Delph dan Yaya Toure seringkali bergantian posisi untuk melakukan penumpukan pemain di depan kotak penalti sendiri.

Kesimpulan
Dengan Hasil ini, Manchester City mampu kembali ke singgasana pucuk klasemen Liga Primer Inggris dengan keunggulan agresivitas gol dari Leicester City. Kedua tim tersebut sama-sama mengoleksi poin sebanyak 29 dan ada kemungkinan untuk Arsenal menyamakan poin mereka jika mampu memetik tiga poin dari Norwich malam ini.
Sedangkan untuk Soton, kehilangan Graziano Pelle sebagai top skor sementara Soton di pertandingan melawan City ini terlihat sangat berpengaruh banyak apalagi ditambah Tadic hanya bermain di babak kedua saja. Kekalahan ini membuat Soton tertahan di posisi sembilan klasemen sementara dan masih mungkin di salip oleh kesebelasan lainnya di tabel klasemen Liga Primer musim ini.
===
*dianalisis oleh @panditfootball. Profil lihat di sini.








