Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Match Analysis

    Liga Inggris: Liverpool 1-0 Swansea

    Sisi Kiri The Reds yang Membuat 'Si Angsa' Mentok

    Pandit Football Indonesia - detikSport
    Reuters / Phil Noble Reuters / Phil Noble
    Jakarta -

    Manajer Liverpool, Juergen Klopp, meraih kemenangan liga pertamanya bersama Liverpool di Stadion Anfield usai mengalahkan Swansea melalui gol lewat eksekusi penalti James Milner pada menit ke-62.

    Jalannya pertandingan bisa dibilang monoton. Kedua kesebelasan tampak kesulitan setelah berhasil mengalirkan bola ke area sepertiga akhir. Bahkan pada babak pertama, tak ada satu pun shot on target.

    Liverpool bermain tanpa gelandang andalan mereka, Philippe Coutinho, yang absen karena cedera. Posisinya digantikan Jordon Ibe. Di lini pertahanan, absennya Mamadou Sakho hingga beberapa pekan ke depan membuat Dejan Lovren kembali menghuni susunan pemain. Ditambah lagi Lucas Leiva yang juga absen karena akumulasi kartu.

    Di kubu tamu, Swansea hanya tak bisa memainkan gelandang andalannya yang juga sempat membela Liverpool, Jonjo Shelvey. Sama halnya seperti Lucas, Shelvey pun harus absen karena terkena akumulasi kartu.


    [Pressing Liverpool yang Membuat Swansea Bermain Cepat]

    Pada laga ini Liverpool kembali mengandalkan skema pertahanan dengan pressing agresif yang dilakukan sejak bola masih berada di lini pertahanan lawan. Garis pertahanan tinggi pun kembali dipraktikkan untuk mempersempit ruang gerak pemain Swansea.

    Swansea yang memainkan skema umpan-umpan pendek sejak lini pertahanan untuk membangun pertahanan seolah siap untuk menghadapi pressing Liverpool seperti ini. Mereka pun merapatkan jarak antarpemain agar aliran bola tetap bisa mengalir ke lini depan. Liverpool pada akhirnya sering kalah jumlah ketika melakukan pressing.


    [Pressing Liverpool saat kalah jumlah]

    Pada situasi di atas, terlihat saat Liverpool melakukan pressing mereka kalah jumlah pemain. Ketika delapan pemain The Reds berada di lini pertahanan lawan, terdapat 10 pemain Swansea yang merapat mendekati bola. Ini artinya seluruh pemain Swansea berada di area pertahanan mereka sendiri untuk membangun serangan.

    Meskipun begitu, skema serangan Swansea tak mengalir mulus hingga ke lini pertahanan. Operan-operan pendek yang mereka lancarkan cenderung terlalu cepat, di mana mereka tampak tak terbiasa mengalirkan bola dengan cepat.

    Selain pressing ini, trackback yang dilakukan para pemain depan Liverpool pun cukup disiplin. Selain Christian Benteke, para gelandang serang yang dihuni Adam Lallana, Jordon Ibe, dan Roberto Firmino diinstruksikan untuk mundur membantu pertahanan.

    Swansea ketika berhasil mengalirkan bola, akan mengarahkan bola ke sisi kanan, khususnya kepada Wayne Routledge, bersama bek kanan Swansea, Kyle Naughton, Routledge secara konsisten membombardir sisi kiri pertahanan Liverpool.
    Penyerangan Swansea lewat sisi kanan bukan tanpa alasan. Adanya Eder di lini depan dan penempatan Andre Ayew di sisi kiri membuat umpan silang dari kanan memiliki dua opsi yang menjanjikan dalam duel-duel di udara.

    Namun trackback yang dilakukan Ibe ataupun Firmino cukup baik, di mana hal ini memudahkan tugas Alberto Moreno di sisi kiri pertahanan Liverpool. Baik Routledge atau pun Naughton seringkali kesulitan melepaskan umpan silang ke kotak penalti. Karenanya dari sisi kanan, bola lebih sering dikembalikan ke tengah untuk kemudian coba dialihkan ke tengah ataupun sisi kiri.


    [Ibe melakukan trackback dengan baik sehingga di sisi kiri pertahanan Liverpool tak kalah jumlah]

    Gambar di atas adalah situasi di mana Swansea kesulitan ketika menyerang lewat sisi kanan. Keberadaan Ibe yang menjaga Naughton membuat Routledge harus melewati Moreno atau memaksakan umpan silang dengan kondisi tak ideal (dari lima crossing hanya sekali yang berhasil). Sedangkan hanya sekali Routledge mampu melewati Moreno sepanjang pertandingan ini.

    Moreno memang tengah tampil baik pada laga ini. Dari segi pertahanan, bek asal Spanyol tersebut mencatatkan keberhasilan lima tekel dari delapan kali percobaan. Lima potongan (intercept) pun menambah kegemilangannya mengawal sisi kiri pertahanan Liverpool, di mana ini merupakan jumlah terbanyak.


    [Grafis operan Swansea pada babak 1(kiri) dan 2. Babak pertama begitu terfokus ke sisi kanan. Sumber: Squawka]

    Bentuk Pertahanan Swansea yang Memaksa Liverpool Bermain Melebar

    Swansea membangun serangan sejak dari lini pertahanan. Ini membuat mereka unggul jumlah pemain saat Liverpool melakukan pressing untuk merebut bola lebih dini. Secara permaianan, Swansea memang tak bisa membangun serangan dengan baik karena bola serangan Swansea lebih sering terbuang. Namun hal ini tetap tak memberikan kesempatan Liverpool untuk menyerang, karena tak siap dengan pressing yang mereka lakukan.

    Pressing ala Klopp yang sering dikenal dengan gegenpressing memang biasanya bisa menjadi sumber awal terjadinya gol. Merebut bola sejak dari lini pertahanan lawan, memungkinkan lini pertahanan lawan tidak siap untuk bertahan.

    Namun hal itu tak terjadi pada laga ini. Keberhasilan Swansea bisa mengalirkan bola ke depan membuat Liverpool harus bisa menyerang lewat serangan yang mereka bangun dari pertahanan. Hal ini yang tampaknya belum bisa dikuasai sepenuhnya oleh para pemain Liverpool.

    Persoalan yang harus dihadapi Liverpool yang mengandalkan operan-operan dari tengah, khususnya dari Adam Lallana dan James Milner, sulit untuk mendekati kotak penalti. Hal ini karena bentuk pertahanan Swansea ketika bertahan membuat penuh area depan kotak penalti.

    Saat menyerang, para pemain Swansea membentuk formasi 4-2-3-1. Sementara ketika bertahan, skuat asuhan Gary Monk ini membentuk formasi 4-1-4-1. Gylfi Sigurdsson yang bermain sebagai pemain No. 10 saat menyerang, membentuk pertahanan sejajar dengan Ayew, Ki Sung-Yueng, dan Routledge. Sementara itu Leon Britton, mundur mendekati dua bek tengah, untuk mengantisipasi operan-operan yang menusuk ke area depan kotak penalti.


    [Situasi saat Swansea membentuk pertahanan 4-1-4-1]

    Pada gambar di atas, Britton bergerak mengikuti Lallana yang mencoba membuka jalur operan bagi Benteke. Namun adanya Sigurdsson dan Britton yang juga siap memotong bola serta penjagaan dua pemain yang dilakukan Swansea terhadap Benteke membuat kapten Liverpool pada laga itu akhirnya lebih memilih memberikan bola kembali ke belakang, pada Lovren.

    Skema pertahanan seperti ini membuat Liverpool lebih sering mengirimkan bola ke lebar lapangan. Umpan-umpan silang pun akhirnya menjadi pilihan skuat The Reds untuk mengirim bola ke kotak penalti.

    Namun skema umpan silang pun tak sepenuhnya berhasil. Dari 22 upaya umpan silang, hanya tiga yang menemui sasaran. Ketangguhan kapten Swansea, Ashley Williams, dalam duel udara mematahkan hampir mayoritas serangan Liverpool.

    Williams mencatatkan 11 kali unggul duel udara, di mana saat duel udara di tengah mencatatatan 100% keberhasilan.

    Meskipun begitu, lewat umpan silang pula Liverpool berhasil menciptakan kesempatan mencetak gol lewat titik putih. Pada menit ke-61, umpan silang yang dikirimkan Ibe dari sisi kanan menyentuh tangan dari Neil Taylor yang berada di dalam kotak penalti yang membuat wasit menunjuk titik putih.

    Kesimpulan

    Kedua kesebelasan sebenarnya bermain baik ketika bertahan. Liverpool dengan pressing-nya dan Swansea dengan memaksa Liverpool bermain melebar membuat laga ini total menciptakan 18 tembakan dengan hanya dua yang menemui sasaran, eksekusi Milner adalah salah satunya.

    Liverpool kesulitan membangun serangan dari pertahanan dan area tengah Swansea yang berhasil menutup area depan kotak penalti. Sementara Swansea tak mampu mengatasi sisi kiri pertahanan Liverpool yang dihuni oleh Moreno dan mendapatkan bantuan dari gelandang sayap yang melakukan trackback.

    Pergantian pemain dilakukan kedua kesebelasan, namun tak terlalu mengubah permainan secara signifikan. Swansea bahkan tak mengubah skema permainan, karena para pemain yang masuk pada babak kedua hanya sebatas penyegaran.

    Hasil imbang mungkin harusnya hasil yang ideal untuk laga ini. Namun ternyata satu serangan sayap Liverpool menghasilkan satu tendangan penalti. Perbedaan inilah yang membuat kubu tuan rumah berhasil meraih poin penuh dari tangah Swansea.


    ====

    * Dianalisis oleh @panditfootball. Profil lihat di sini.

    (a2s/krs)
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game