Liga Inggris: Tottenham 0-0 Chelsea
Simbiosis Chelsea dalam Bertahan dan Menyerang Balik
Tottenham Hotspur tak berhasil mengalahkan Chelsea di kandangnya sendiri, tapi mereka juga melanjutkan catatan tidak terkalahkan sejak pekan pertama Liga Inggris musim ini. Kedua tim berbagi hasil kacamata alias 0-0.
Derby London ini didominasi oleh Spurs dalam hal penguasaan bola (55% banding 45%), operan sukses (79% : 70%), dan menciptakan peluang (8 : 5). Tapi soal bertahan dan kecepatan serangan balik, tim tamu lebih unggul.
[Gambar 1 Susunan sebelas pemain utama dan rata-rata posisi pemain Tottenham Hotspur dan Chelsea. Dibuat di Footy Formation dengan mengambil sumber di WhoScored]
Dari susunan sebelas pemain utama, ada sedikit perubahan yang dilakukan kedua manajer, dibandingkan dengan biasanya. Gelandang Inggris yang semakin diandalkan Mauriccio Pochettino, Bamidele Alli, absen karena terkena akumulasi kartu kuning. Perannya dioper ke Ryan Mason. Pochettino juga seperti biasa, terlihat tidak berniat bermain dengan pemain sayap.
Sementara Chelsea melakukan perubahan mencolok dengan tidak memainkan penyerang alami yang biasanya diperankan oleh Diego Costa. Ia cuma duduk di bangku cadangan, bahkan sampai akhir laga. Sebagai konsekuensinya, peran false nine ditugaskan oleh Mourinho kepada Eden Hazard.
Chelsea Berkonsentrasi untuk Bertahan
Bermain di kandang lawan dan juga dengan rekor lawan yang sedang fantastis, Mourinho pastinya sadar untuk bermain lebih bertahan. Apalagi performa mereka juga belum yang terbaik. Juga, permainan Spurs yang akhir-akhir ini selalu bisa menguasai lapangan tengah membuat pertahanan Chelsea bertahan lebih dalam, dengan Nemanja Matic dan Cesc Fabregas yang lebih dinamis di lini tengah untuk menekan gelandang Spurs.
[Gambar 2 Grafik tekel dan intersep Chelsea. Sumber: FourFourTwo Stas Zone]
The Blues berkali-kali merepotkan lini tengah Spurs dengan keberhasilan mereka membuat intersep di depan kotak penalti mereka. Bermain bertahan dan menunggu jelas membuat Jose Mourinho menginstruksikan para pemainnya untuk sebisa dan sesering mungkin memotong jalur operan para pemain The Lillywhites, sambil meluncurkan tekel-tekel ketika pemain lawan sudah sampai di sepertiga lapangan terakhir.
Lini Tengah Spurs Mendominasi, tapi Kurang Efektif
Spurs biasa membangun serangan dengan penuh kesabaran melalui kombinasi operan di lini tengah. Ketika kehilangan bola, mereka juga dengan cepat langsung melakukan pressing kepada lawan. Hal ini tidak berubah semalam. Kesuksesan Spurs dalam menguasai pertandingan melalui penguasaan bola dan akurasi operan sangat tercermin dari cara bermain mereka yang satu ini.
[Gambar 3 Perbandingan grafik operan di lini tengah Tottenham Hotspur dan Chelsea. Sumber: FourFourTwo Stas Zone]
Dari grafik di atas, dapat terlihat penguasaan Spurs dalam hal operan di lini tengah. Dari kombinasi operan yang terjadi semalam, operan antara Jan Vertonghen, Toby Alderweireld, dan Eric Dier menjadi kombinasi operan yang paling sering dengan total mencapai lebih dari 70 operan.
Hal ini menunjukkan Spurs banyak melakukan operan di antara lini belakang dan lini tengah mereka, di mana daerah ini tidak banyak diganggu oleh pemain Chelsea.
Selanjutnya, ketika Spurs mencoba untuk menyerang, di sinilah Chelsea mulai banyak menggangu mereka dengan intersep-intersep (bisa dilihat kembali grafik intersep di gambar 2). Tidak heran Spurs lebih banyak menguasai bola dan operan karena pertahanan Chelsea memaksa mereka kebanyakan melakukan operan ke samping dan ke belakang alih-alih ke depan.
Tanpa Alli, Spurs Tidak Bisa Berkreasi
Perbedaan dari Spurs semalam adalah minimnya operan langsung mereka ke depan. Tugas ini biasanya ditanggung oleh Alli dan Moussa Dembele dengan bantuan Dier dari belakang yang selalu meng-cover mereka berdua. Semalam, tugas Alli ini malah diambil alih oleh Dier, bukan Mason.
[Gambar 4 Perbandingan grafik operan di sepertiga lapangan terakhir Tottenham Hotspur dan Chelsea. Sumber: FourFourTwo Stas Zone]
Dari 96 operan ke sepertiga lapangan terakhir yang diciptakan Spurs, Dier hanya berkontribusi sebanyak 7 kali, begitu pun Dembele dan Mason. Angka ini kalah dengan operan sepertiga lapangan terakhir yang berhasil Chelsea cetak dengan 106 operan berhasil.
Membandingkan jumlah operan Spurs dan Chelsea di lini tengah (gambar 3) dan sepertiga lapangan terakhir (gambar 4) adalah mengindikasikan Spurs bermain dengan lebih tidak efektif. Hal ini terjadi selain dipengaruhi dari kualitas bertahan Chelsea, juga banyak dipengaruhi dari absennya Alli.
Chelsea Mengandalkan Serangan Balik
Dibandingkan Spurs yang bermain dengan penguasaan bola dan banyak mengoper, Mourinho lebih menginstruksikan anak-anak asuhnya untuk bertahan dan menyerang secara langsung melalui counter-attack. Spurs yang bermain tanpa pemain sayap (baik Christian Eriksen dan Son Heung-min lebih banyak bermain menyempit daripada melebar) membuat kedua bek sayap mereka, Kyle Walker di kanan dan Danny Rose kiri, berkali-kali melakukan overlap ke pertahanan Chelsea.
[Gambar 5 Perbandingan grafik heat map seluruh pemain Tottenham Hotspur dan Chelsea. Sumber: Squawka]
Pada gambar heat map di atas, dengan bertahan dalam maka Mourinho membiarkan banyak pemain Spurs terlibat permainan di lini tengah sampai lini depan. Hal ini menyebabkan ada banyak ruang kosong di belakang Spurs (terutama di daerah sayap yang ditinggalkan Walker dan Rose) yang bisa dieksploitasi oleh Chelsea melalui serangan balik.
Hasilnya, Chelsea banyak membangun serangan lewat sayap. pada gambar 4 terlihat banyak operan Chelsea yang menuju sepertiga lapangan terakhir adalah operan ke sayap. Selain itu, kombinasi operan dari Cesar Azpilicueta ke Hazard juga menjadi kombinasi operan yang paling sering di kubu Chelsea, dengan 15 operan.
[Gambar 6 Perbandingan menciptakan peluang (chances created) Chelsea dan Tottenham. Sumber: Squawka]
Namun demikian, pujian juga layak disematkan kepada Veronghen, Alderweireld, dan Dier yang berkali-kali membuat serangan balik Chelsea tidak bisa menghasilkan peluang emas. Chelsea hanya berhasil mencetak 5 peluang.
Membandingkan Peran Harry Kane dengan Hazard
Spurs yang kesulitan bermain di sepertiga lapangan lawan pada akhirnya membuat Harry Kane tidak terlalu banyak dilibatkan pada pertandingan semalam. Selain minimnya servis, Kurt Zouma yang menjaga Kane juga membuat Kane berkali-kali frustrasi. Cara bermain Spurs yang tidak melebar juga membuat Eriksen dan Son, di belakang Kane, berkali-kali kalah ketika berduel di pertahanan Chelsea.
Sejujurnya, Kane bukanlah tipikal pemain cepat yang bisa mendobrak dari lini tengah. Kontribusinya kebanyakan berasal dari area pertahanan lawan. Jika melihat gambar 7 di bawah ini, Kane berkali-kali menerima operan di wilayah yang terlalu dalam, ini membuat ancaman Kane bisa dinetralisir oleh Chelsea.
[Gambar 7 Perbandingan operan yang diterima oleh Harry Kane dan Eden Hazard. Sumber: FourFourTwo Stas Zone]
Sementara Chelsea, mereka yang bermain tanpa penyerang alami justru membuat kreativitas lini depan mereka semakin tersorot positif. Hazard yang berperan sebagai false nine adalah pemain yang paling aktif semalam.
Anehnya, sebenarnya permainan Hazard semalam tidak bisa mendeskripsikan false nine secara umum, karena nyatanya ia banyak terlibat melalui permainan di sayap, yang kebetulan juga di mana Walker atau Rose berkali-kali terlambat untuk turun.
Dari gambar di atas dapat terlihat operan yang Hazard terima sepanjang 90 menit. Ia memang tidak sekuat Costa, tapi kreativitas dan kecepatannya bisa jadi akan membuat Mourinho terus mencadangkan Costa. Apalagi kombinasi permainannya bersama Willian, Oscar, dan Pedro Rodriguez yang semakin nyetel akan membuat Chelsea lebih mudah berkreasi melalui kecepatan sambil juga bertahan dengan disiplin.
***
Dibanding Tottenham yang lebih menguasai pertandingan, Chelsea bermain dengan bertahan lebih dalam dan memanfaatkan serangan balik sebagai senjata andalan mereka. Pada akhir pertandingan, Mourinho mengaku puas dengan kinerja keseluruhan timnya dan pertahanannya secara khusus.
Namun, sebenarnya Spurs juga tidak terlalu sedih dengan hasil ini. Apalagi di babak kedua, kedua manajer sepertinya sama-sama tidak mau mengambil risiko dengan penyerangan mereka, yang mengindikasikan bahwa keduanya puas dengan hasil imbang.
Khusus untuk Chelsea, dengan cara bermain mereka semalam, ini menunjukkan bahwa Mourinho secara perlahan sudah mulai bertransformasi setelah lama terseok-seok di papan bawah. Sekarang ini bus ngetem Mourinho sudah mulai rajin kembali mencari penumpangnya.
====
* Dianalisis oleh @panditfootball. Profil lihat di sini.







