Liga Italia: Lazio 0-2 Juventus
Juventus Paksa Lazio Menyerang dari Sisi
Dari enam pertandingan terakhir di Serie A, Lazio cuma mampu meraih sekali hasil seri dan sisanya menderita kekalahan. Sejak Oktober tahun ini, Lazio memiliki masalah serius baik saat bertahan maupun kala menyerang. Saat bertahan, Lazio rentan kebobolan lewat sepakan bola mati maupun lewat umpan-umpan terobosan. Kala menyerang, meskipun mendapatkan penguasaan bola, tapi Lazio kerap kesulitan menembus ketatnya pertahanan lawan.
Hal tersebut kembali terlihat saat Lazio menghadapi Juventus yang tengah mengalami fase menanjak setelah penampilan buruk di awal musim. Duet Mario Mandzukic dan Paulo Dybala tengah dalam performa puncak. Keduanya ditopang oleh lima gelandang yang memiliki kecepatan dan umpan akurat seperti Alex Sandro dan Stephan Lichsteiner. Ini tentu berbahaya buat Lazio yang kerap salah melakukan antisipasi terutama bola-bola lambung.

[Susunan Pemain Lazio vs Juventus. Sumber: Whoscored]
Penuh di Satu Sisi
Sejak peluit dibunyikan, kedua kesebelasan silih berganti melakukan penyerangan. Keduanya tidak mengandalkan pressing ketat sebagai upaya merebut bola dari lawan. Baik Juventus maupun Laziomemilih menunggu lawan menyerang dan melakukan serangan balik cepat.
Juventus mengandalkan sisi kanan yang dihuni Lichtsteiner, sementara Lazio mengandalkan sisi kiri yang dihuni Kishna. Pertarungan di sisi yang sama tersebut membuat Juventus lebih sering menunggu serangan Lazio untuk melakukan serangan balik cepat.

[Arah Serangan. Kiri: Lazio; Kanan: Juventus. Sumber: Whoscored]
Grafis di atas memperlihatkan "penuhnya" sisi kiri penyerangan Lazio dan sisi kanan penyerangan Juventus. Kedua tim amat minim melakukan serangan dari tengah karena rapatnya pertahanan kedua kesebelasan.
Berdasarkan Arah Bola


[Cara Lazio menekan Juventus]
Untuk menghadapi Juventus yang bermain dari sisi, Lazio menerapkan sistem pertahanan dan penyerangan berdasarkan arah bola. Saat bola berada di sisi kiri, hampir semua gelandang berada di kiri, pun sebaliknya. Ini yang membuat Antonio Candreva yang posisi aslinya di sebelah kanan, sering terlihat di sisi kiri.
Pada babak pertama, sistem seperti ini bisa dibilang berhasil. Juventus bermain rapat yang membuat jumlah pemain mereka hanya berkisar dua sampai tiga orang ketika melakukan serangan. Saat melakukan serangan di sisi kanan, Biglia, Candreva, Kishna, dan Sergej Milinkovic-Savic, bergerak ke sisi tersebut. Ini yang membuat satu pemain Juventus yang menguasai bola kesulitan menembus empat pemain Lazio yang mengurungnya.
Jebakan Umpan Silang
Saat bertahan, Lichtsteiner dan Sandro bergerak melebar, sementara Stefano Sturaro, Claudio Marchisio, dan Kwadwo Asamoah menjadi tembok di depan bek Juventus yang dihuni Andrea Barzagli, Leonardo Bonucci, dan Giorgio Chiellini.
Pertahanan Juventus kian rapat terutama saat babak kedua kala Lazio mengambil alih penguasaan bola. Mulanya, Juventus mengarahkan Lazio bermain melebar. Pasalnya hanya ada satu pemain yang mengawal di setiap sisi pertahanan (Lichtsteiner dan Sandro). Lazio pun seperti termakan oleh "jebakan" Juventus ini dengan terus mengalirkan bola ke sisi.
Saat bola berada di tepi lapangan, para pemain Lazio seperti kehabisan akal untuk menembus ketatnya pertahanan Juventus. Bola sulit untuk dialirkan ke tengah karena ada tiga pemain Juve yang berjaga. Ini yang membuat berulang kali Lazio memaksakan diri menerobos sisi pertahanan Juventus untuk mengirimkan umpan silang.

[Grafis umpan silang Lazio. Sumber: StatsZone]
"Jebakan" Juventus terbilang berhasil. Sepanjang pertandingan, Lazio mengirimkan 33 umpan silang (termasuk tendangan sudut). Tentu akurasinya rendah karena biasanya hanya ada satu pemain Lazio di dalam kotak penalti, berbanding tiga bek jangkung Juve. Total, dari 33 umpan silang, hanya lima yang sukses mencapai sasaran.
Umpan-umpan silang tersebut seolah menyiratkan kalau Lazio bermain terburu-buru, terlebih karena mereka ketinggalan lewat gol cepat dan di babak pertama sudah kebobolan dua gol.
Juve Bermain Rapat

[Aksi defensif Juventus. Silan: tekel; Bulat: Sapuan; Wajik: potongan; Segitiga: Duel udara]
Dalam pertandingan semalam, Juventus bermain rapat terutama pada babak kedua. Selain memang karena telah unggul dua gol, Juventus menyadari potensi tendangan dari luar kotak penalti Lazio. Dengan membentuk tembok di depan bek, berarti meminimalisasi Lazio melakukan skema serangan seperti itu.
Juventus menghindari melakukan tekel di dalam kotak penalti. Dari 23 tekel yang dilakukan, hanya tiga yang dilakukan di dalam kotak penalti. Dari grafis di atas pula, terlihat kalau umpan-umpan silang Lazio mudah dipatahkan karena tidak ada satupun duel udara yang dilakukan Juventus di dalam kotak penalti.
Dari total 31 sapuan, 20 di antaranya dilakukan di dalam kotak penalti dan 11 dilakukan dengan sundulan. Artinya, sapuan yang dilakukan Juventus bukan karena mereka terburu-buru ingin membuang bola, melainkan karena menyapu bola hasil umpan lambung. Melihat grafis di atas, terlihat tidak ada yang mengancam dari umpan lambung yang dilakukan Lazio.
Pun halnya dari tendangan jarak jauh. Sejak Oktober, Lazio selalu melakukan tendangan dari luar kotak penalti saat menghadapi kebuntuan. Namun, peluang tersebut umumnya gagal karena bola yang melenceng jauh dari sasaran. Ini yang membuat peluang Lazio untuk mencetak gol tipis karena jumlah tendangan melenceng jauh lebih banyak ketimbang bola tepat sasaran.
Semalam, jumlah tendangan tepat sasaran Lazio sama dengan jumlah tendangan melenceng dengan total tiga tembakan. Yang paling mencolok tentu jumlah tendangan yang diblok pemain Juventus dengan lima tendangan. Ini artinya, Juventus sukses menerapkan “tembok” di depan bek. Selain membuat Lazio sulit melakukan infiltrasi, juga meminimalisasi ancaman tendangan dari luar kotak penalti.
Juve Menunggu

[Grafis umpan Juventus]
Dari grafis umpan di atas terlihat walaupun menang 2-0, tapi Juventus sama sekali tak terlihat mendominasi. Bahkan, hanya ada dua umpan yang sukses diterima di kotak penalti Lazio. Sisanya, Juventus lebih memilih mengirimkan bola-bola dengan jarak menengah ke lini serang, itu pun banyak yang gagal.
Dari grafis di atas pula kita bisa melihat bahwa sistem pertahanan Lazio efektif untuk membendung serangan Juventus. Biglia dan Marco Parolo bermain padu sehingga Juventus lebih memilih mengirimkan bola ke sayap, ketimbang menyerang langsung ke tengah.
Pada babak kedua, setelah unggul 2-0, Juventus lebih menunggu serangan, untuk melakukan serangan balik. Grafis di atas juga memperlihatkan sejumlah bola-bola panjang dari lini pertahanan ke lini tengah sebagai upaya serangan balik.
Gagal Antisipasi
Salah satu kelemahan pertahanan Lazio ada di kedua sisinya, terutama sisi kanan yang dihuni Dusan Basta. Dalam beberapa pertandingan terakhir, Basta kerap menjadi aktor antagonis saat Lazio kebobolan.
Dalam pertandingan semalam, kelemahan Basta tidak begitu dieksploitasi oleh Juventus. Namun, gol pertama Juventus berasal dari sisi yang dihuni Basta. Sandro berhasil melewati penjagaan Basta di tepi kanan pertahanan Lazio. Ia pun mengirim umpan silang yang salah diantisipasi oleh Mauricio. Bola muntah disambut Dybala yang mengirimkan umpan kepada Mandzukic. Nahas karena bola justru mengenai kaki Gentiletti yang berbuah gol pertama bagi Juventus.
Proses gol kedua Juventus sebenarnya berasal dari kesalahan sundulan Mauricio yang berhasil diterima Asamoah. Bola pun diumpan pada Mandzukic yang mengirimkan umpan mendatar pada Dybala di depan kotak penalti.
Gol kedua ini sejatinya merupakan satu noda dari rapatnya pertahanan Lazio. Pasalnya, Juventus memang kesulitan mengakses area tengah di depan kotak penalti sepanjang pertandingan. Namun, satu kesalahan tersebut justru berbuah gol tambahan buat Juve. Padahal, unit pertahanan Lazio bisa dibilang lengkap dengan Biglia dan Parolo berada pada posisinya.
Kesimpulan

[Umpan sepertiga akhir Lazio]
Lazio mendominasi penguasaan bola dengan 60%. Namun, hal tersebut tak berpengaruh banyak karena mereka tak memiliki kreativitas dalam penyerangan. Lazio justru masuk dalam jebakan Juventus untuk menyerang lewat sisi dan mengandalkan umpan silang yang sia-sia.
Dari grafis di atas terlihat jumlah umpan di sepertiga akhir Lazio terbilang sedikit. Dari total 578 umpan, hanya 114 umpan yang dilakukan di sepertiga akhir dengan hanya 67 umpan yang sampai ke kaki pemain Lazio. Secara tidak langsung ini seperti menunjukkan kalau penguasaan bola Lazio seolah tak bermakna karena tidak berarti apa-apa buat penyerangan.
Di sisi lain, Juventus terbantu lewat keunggulan dua gol pada babak pertama. Ini yang membuat mereka mengubah pola pada babak kedua menjadi lebih bertahan dan menunggu Lazio melakukan serangan. Pola seperti ini tentu membuat Lazio terkunci dan amat kesulitan membuka rapatnya pertahanan Juventus.
Cara melakukan pressing Lazio sebenarnya cukup baik dengan menginstruksikan para pemainnya untuk mengurung pemain Juventus yang membawa bola. Ini pula yang menjadi alasan mengapa Juve tak begitu dominan dalam pertandingan semalam.
Meskipun demikian, pertahanan yang rapat membuat Juventus pantas menang. Ditambah lagi Lazio yang memang tidak memiliki rencana lain saat mengalami kebuntuan. Bisa dibilang salah satu kelemahan Lazio terletak pada tidak dimainkannya Felipe Anderson sejak menit pertama. Stefano Pioli, manajer Lazio baru menurunkan sang pengatur serangan dari sisi kiri pada babak kedua. Tentu pada akhirnya semua sudah terlambat.
====
*dianalisis oleh @panditfootball, profil lihat di sini.
(roz/roz)








