Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Match Analysis

    Liga Inggris: MU 0-0 West Ham

    Pertunjukan Ketidakefektifan Serangan Manchester United

    Pandit Football Indonesia - detikSport
    Getty Images/Clive Brunskill Getty Images/Clive Brunskill
    Jakarta -

    Manchester United hanya mampu bermain imbang 0-0 kala menjamu West Ham United di Old Trafford, Sabtu (5/12/2015) petang waktu Inggris. Ada 30 tembakan yang tercipta dan cuma tiga yang mengarah tepat ke sasaran. Satu di antara tiga tembakan tepat sasaran tersebut adalah milik tuan rumah, yang secara keseluruhan melepas 21 tembakan sepanjang pertandingan.

    MU Dominan tapi Tumpul


    [Grafis umpan MU di area sepertiga akhir]

    Manchester United tampil dominan. Persentase penguasaan bola yang mencapai 62,7% adalah buktinya. Dari dominasi ini pula mereka melepas tembakan yang jumlahnya jauh lebih banyak dari tembakan West Ham United. Namun dari jumlah tembakan yang sangat banyak tersebut MU tidak mencetak satu gol pun.

    Di lini belakang, MU dominan karena West Ham tidak bermain menekan (kecuali di awal pertandingan; dan darinya lahirlah salah satu tembakan tepat sasaran West Ham). Pekerjaan MU di lini tengah pun relatif tidak susah karena West Ham bertahan di kedalaman. Di depan, MU dominan karena mereka menyerang lewat sayap dan di sana mereka unggul.

    Keunggulan sayap MU bukan semata keunggulan kualitas pemain per pemain, namun juga keunggulan taktikal. MU selalu menang jumlah di kedua sisi serangan. Matteo Darmian (bek sayap kiri) dan Paddy McNair (bek sayap kanan) bahu-membahu membangun serangan dengan Jesse Lingard (penyerang sayap kiri) dan Juan Mata (penyerang sayap kanan). Di luar empat pemain tersebut, Anthony Martial (penyerang tengah) sering terlibat karena bermain melebar.

    Martial yang bermain melebar tidak lantas membuat MU kehilangan seorang target man. Pada praktiknya, di pertandingan ini, peran tersebut dimainkan Marouane Fellaini. Pemain berkebangsaan Belgia tersebut menjadi sasaran umpan-umpan silang MU. Dari grafis di atas bisa terlihat bagaimana MU mengandalkan kedua sisi mereka. Namun, terlihat pula berulang-kali MU mengumpan ke arah depan kotak penalti, yang merupakan sesuatu hal yang terbilang jarang sepanjang musim ini.


    [Grafis umpan silang MU yang mencapai 35 kali dengan delapan yang sukses mencapai sasaran]

    Lewat umpan-umpan silang kepada Fellaini atau tembakan-tembakan dari luar kotak penalti (baik dari gerakan memotong ke dalam yang diikuti tembakan atau umpan-umpan yang diarahkan ke tengah dari sayap) MU menciptakan banyak peluang menembak. Namun pertahanan rapat West Ham membuat banyak dari tembakan MU membentur pemain lawan. Tercatat, sepanjang pertandingan, hanya ada satu tembakan tepat sasaran; dan Adrian menggagalkannya.

    MU, selain dengan kedua cara di atas, juga mengancam lewat serangan balik yang berawal dari kegagalan sepak pojok atau tendangan bebas West Ham. Lewat cara ini MU tidak harus berhadapan dengan rapatnya pertahanan West Ham yang berisi para pemain belakang dan gelandang, namun dengan cara ini MU tetap gagal menciptakan gol. Para pemain belakang West Ham, terutama Winston Reid, tidak menghadapi serangan balik dengan langsung berusaha merebut bola. Ia membayangi dan menutup jalan umpan.


    Defensive dashboard Winston Reid. Hanya satu kali Reid gagal melakukan tackle.

    Memang tidak semua tembakan MU membentur pemain lawan. Namun di luar satu tembakan tepat sasaran yang digagalkan Adrian, hanya ada dua jenis tembakan MU: yang membentur lawan dan yang melenceng. Dominasi permainan MU tidak berbuah gol karena West Ham bermain rapat dan karena penyelesaian akhir MU memang buruk. Hal ini diakui sendiri oleh manajer kesebelasan, Louis van Gaal.

    "Kita dapat berlatih menembak ke gawang setiap hari dan harus Anda tahu kami melakukannya," ujar Van Gaal selepas pertandingan. "Kami menempatkan pemain-pemain di posisi yang baik untuk mencetak gol namun dibutuhkan ketenangan dan keberuntungan untuk mencetak gol. Yang penting kami menciptakan peluang dan bermain dominan. Hari ini kami bermain dominan dan menyerang, kami menciptakan banyak peluang – hanya saja kami lupa cara mencetak gol."

    Pertahanan Solid Bukan Cara Mencetak Gol


    [Grafis umpan WHU. Terlihat West Ham hampir kesulitan menembus area sepertiga akhir serangan. Bola pun lebih sering didistribusikan kepada kiper]

    Manchester United bukan satu-satunya kesebelasan yang tidak beruntung di depan gawang, sebagaimana diklaim oleh Louis van Gaal, di pertandingan ini. West Ham United juga tidak dinaungi keberuntungan walau tidak separah MU. Dua dari sembilan tembakan West Ham United bisa saja menjadi gol andai tidak membentur tiang. Di luar itu, David De Gea memang lawan yang tangguh; salah satu peluang terbaik West Ham, yang tercipta ketika Daley Blind dengan ceroboh mengumpan kepada Mark Noble dan karenanya tercipta situasi satu lawan satu antara Victor Moses dan De Gea, hanya menjadi sepak pojok saja.

    Dominasi MU dengan sendirinya membatasi peluang West Ham untuk membangun serangan. Permainan menekan Marouane Fellaini dan Anthony Martial serta keberadaan Bastian Schweinsteiger dan Morgan Schneiderlin (yang kemudian digantikan Michael Carrick karena cedera) di belakang keduanya membuat pilihan West Ham lebih terbatas lagi. Membangun serangan lewat tengah saja sudah cukup sulit karena harus melewati dua lapis pasangan; tugas West Ham menyerang lewat tengah lebih sulit lagi karena para gelandang mereka ikut bertahan di kedalaman.

    Menyerang lewat sayap, karenanya, menjadi pilihan yang masuk akal. Namun ini pun tidak selalu efektif karena di area sayap MU, baik ketika menyerang atau bertahan, selalu menang jumlah. Secara mudah MU menang jumlah karena para pemain West Ham tidak bahu membahu seperti MU ketika menyerang lewat sayap.


    Titik-titik sentuhan James Tomkins, bek sayap kanan West Ham United

    Melepas umpan-umpan dari kedalaman pun sulit dilakukan karena tidak ada tujuan. Andy Carroll yang tinggi besar selalu berhasil dijauhkan dari kotak penalti; Carroll memenangi sembilan dari 16 duel udaranya, namun tidak sekali pun ia memperebutkan bola udara di kotak penalti. Terlepas dari itu semua, Slaven Bilic sendiri tampak cukup puas.

    "Saya hanya dapat memuji kesebelasan karena, terutama, cara kami bertahan dan cara kami menutup ruang mereka, dan cara kami memainkan bola," ujar Bilic selepas laga. "Jumlah peluang yang kami ciptakan melawan kesebelasan yang hanya satu kali kebobolan di kandang musim ini, terutama jika Anda ingat bahwa kami bermain tanpa empat pemain utama, membuat saya ingin memuji para pemain dan penampilan kesebelasan."

    Kesimpulan

    Manchester United dominan di nyaris semua titik di lapangan, bahkan di dalam kotak penalti yang dapat dirdak oleh para pemain West Ham United. Namun dominasi United ini tidak serta merta membuat mereka mudah mencetak gol. Penyelesaian akhir yang tidak cukup baik, lebih dari pertahanan West Ham yang rapat, adalah penyebab utama kegagalan United mencetak gol.

    West Ham sendiri pantas puas dengan pendekatan tanpa bola mereka. Namun melawan United yang sayap-sayapnya naik jauh, West Ham seharusnya mampu tampil lebih baik. Kalah jumlah di sayap saat melancarkan serangan balik melawan kesebelasan yang bek sayapnya naik jauh adalah bukti inkompetensi.

    ====

    *dianalisis oleh @panditfootball, profil lihat di sini.



    (krs/krs)
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game