Liga Italia: Napoli 0-0 AS Roma
AS Roma Mengunci Pergerakan Lini Depan Napoli
Napoli kembali mendapatkan hasil kurang memuaskan pada lanjutan Serie A Italia setelah kalah 3-2 dari Bologna (06/12/2015). Menjamu AS Roma di San Paolo dini hari tadi, Napoli hanya mampu mendapatkan satu poin lewat hasil imbang 0-0.
Sejak menit pertama, Napoli memang langsung berinisiatif untuk menyerang Roma. Maurizio Sarri pun menggunakan formasi yang sama saat dipakai menang melawan Inter. Namun, Napoli selalu kesulitan menembus lini belakang Roma yang digalang Konstantinos Manolas dan Antonio Rudiger.
Peran Lorenzo Insigne dan Jose Callejon yang kerap memberikan umpan ke Higuain tak terlalu terlihat. Selain itu, Gonzalo Higuain yang dipasang sebagai ujung tombak juga gagal menembus duet bek tengah Roma.
Susunan pemain Napoli dan AS Roma. Sumber: WhoScored
Napoli Hanya Andalkan Permainan Sayap
Napoli memang sukses menekan AS Roma dengan keunggulan penguasaan bola sebanyak 59,2 %. Namun, keunggulan Napoli tidak bermanfaat karena mereka selalu kesulitan menembus sepertiga terakhir pertahanan Roma.
Permainan pressing yang dilakukan Napoli sejak Roma bermain di belakang pun tidak menghasilkan apa-apa, sebab gelandang Napoli kerap terlalu lambat dalam melakukan support untuk membantu lini depan dalam melakukan pressing.
Selalu mengandalkan Jorginho untuk memulai serangan, Napoli hanya berhasil ketika mereka masuk ke duapertiga pertama daerah pertahanan Roma. Permainan kombinasi yang kerap dilakukan Napoli beberapa pertandingan ke belakang selalu gagal karena Roma memainkan man-to-man marking.
Serangan Napoli akhirnya selalu diarahkan ke Insigne dan Callejon yang berada di sayap. Hal tersebut juga tidak berpengaruh, sebab Alessandro Florenzi dan Lucas Digne selalu berhasil menjalankan tugasnya untuk melakukan penjagaan ke pemain yang menyerang lewat sisi sayap pertahanan Roma.
Insigne pun bermain tidak terlalu baik, pasalnya penjagaan dari pemain Roma kepadanya selalu berlapis. Selain itu, sembilan dari 12 umpan gagal dari Insigne, selalu terjadi ketika ia berusaha melepaskan umpan ke daerah pertahanan Roma (menuju area dan sekitar kotak penalti). Ia juga selalu gagal dalam melepaskan crossing, padahal crossing selalu menjadi makanan Higuain.
Umpan yang dilepaskan Insigne hanya dua kali masuk ke kotak penalti Roma. Sumber: FourFourTwo
Callejon pun demikian. Penjagaan yang dilakukan oleh Digne membuat ia hanya mampu melepaskan 15 umpan dari sayap kanan sepanjang pertandingan. Dari 15 umpan tersebut, lima umpannya gagal. Tak hanya itu, Callejon juga tidak bisa melepaskan umpan ke kotak penalti Roma.
Digne yang dipinjam dari Paris Saint-Germain lebih aktif daripada Florenzi dalam bertahan. Ia pun berhasil mencatatkan tiga duel, satu intersep, satu tekel, serta lima kali sapuan bola. Upaya Digne tersebut pun berhasil membuat Napoli gagal menyerang dari sisi kiri daerah pertahanan Roma.
Kegagalan Napoli mengeksploitasi lini pertahanan Roma diperparah dengan akurasi operan pemain Napoli di wilayah pertahanan Roma. Napoli yang mencatatkan akurasi operan sukses 85 % per pertandingan pada Serie A musim ini, hanya dapat mencatatkan 68 % operan berhasil saat melawan Roma. Akurasi crossing yang banyak dilakukan Napoli juga buruk. Dari 32 umpan silang yang dilepaskan oleh pemain Napoli, hanya tiga yang berhasil.
Kebanyakan umpan dari pemain Napoli gagal karena bola selalu diarahkan ke dua pemain sayapnya, yang mana dua bek sayap Roma sudah siap untuk memotong umpan tersebut. Selain itu, kegagalan crossing yang dilepaskan oleh Napoli dikarenakan pemain Roma selalu berusaha merebut bola sebelum mengenai Higuain.
Lini Belakang Roma Jadi Kunci
Cara bertahan pemain Roma berbeda dengan Napoli yang selalu berusaha memutus serangan lawan sebelum masuk ke wilayahnya. Roma sendiri selalu menunggu hingga pemain Napoli memasuki sepertiga daerah permainan Roma.
Roma yang menggunakan empat bek dan dua gelandang bertahan, menjadikan dua gelandang bertahan mereka, Radja Nainggolan dan Daniele de Rossi sebagai orang pertama yang merebut bola. Selain itu, mereka juga ditugaskan untuk menutup celah bagi pemain Napoli untuk melepaskan umpan ke lini depan. Tugas lainnya dua gelandang bertahan ini adalah sebagai pelapis ketika posisi di lini belakang ditinggalkan bek Roma.
Duet Manolas dan Rudiger pun pantas diacungi jempol, duet ini pun sanggup mematikan pergerakan Higuain yang kerap menyulitkan. Beberapa kali duel yang terjadi antara duet bek tengah Roma dengan Higuain, tak satupun peluang dihasilkan Higuain. Higuain juga tercatat tak melakukan satupun tembakan sepanjang pertandingan.
Manolas yang berada di sisi kanan, memang tak hanya diserang oleh Higuain, namun juga oleh Insigne dan Faouzi Ghoulam yang kerap naik ke posisi Insigne. Sedangkan Rudiger bermain lebih ke belakang dibandingkan Manolas. Rudiger pun kerap menjadi orang terakhir sebelum kiper yang bertugas memotong serangan Napoli.
Duet bek ini pun tak hanya menjadi pemain yang menjaga agar serangan Napoli tak masuk ke pertahanan Roma, namun dua bek ini kerap maju untuk memotong umpan yang biasanya diberikan oleh Marek Hamsik ataupun Jorginho.
Manolas mencatatkan beberapa aksi defensif yang cukup banyak. Menurut FourFourTwo, Manolas tercatat melakukan lima sapuan bola, tiga intersep, sekali tekel, dan sekali duel. Sementara Rudiger mencatatkan tiga sapuan bola sukses dan dua tekel sepanjang pertandingan.
Penampilan pemain belakang lain seperti Florenzi dan Digne pun tak bisa diabaikan. Contohnya adalah kontribusi keduanya dalam mematikan pergerakan pemain sayap Napoli, seperti Insigne dan Callejon.
Grafis pertahanan Roma. Silang: Tekel, Kotak: Potongan; Bulat: Sapuan; Segitiga hitam: pelanggaran terhadap lawan. Sumber: FourFourTwo
Kuatnya Lini Belakang Napoli
Sementara, meskipun penyerangan dominan yang dimainkan oleh tuan rumah Napoli, yang memaksa Roma akhirnya lebih banyak berfokus bertahan agar gawang mereka tidak kebobolan, ada faktor lain, yaitu cara bertahan dari Napoli.
Heat Map Koulibaly dan Albiol. Sumber: Squawka
Bisa dilihat dari gambar pertama diatas mengenai heat map Raul Albiol dan Koulibaly, keduanya terlihat berada lebih ke depan bahkan jarang berada di kotak penalti pertahanan sendiri. Tujuanya adalah agar terus menekan lawan, memotong aliran bola sebelum sampai ke kotak penalti, dan berjaga-jaga apabila ada bola clearence dari lawan yang bisa dikembalikan lagi.
Tidak hanya memasang garis pertahanan yang tinggi. Lini pertahanan Napoli sebisa mungkin langsung menghadang para pemain lini serang Roma begitu mereka mendapatkan bola. Hal ini menyebabkan lini serang Roma kesulitan untuk menembus pertahanan Napoli. Hal tersebut pun membuat Napoli lebih mudah mematikan lini depan Roma.
Penyebab kurang tajamnya barisan depan Roma tidak melulu mengenai produktivitas dari barisan depan. Karena sepakbola adalah permainan tim, maka meskipun mencetak gol memang menjadi tugas pemain depan, akan tetapi para pemain depan tersebut jelas membutuhkan dukungan dari para gelandang atau pemain lain untuk menyuplai bola.
Dan itulah yang terjadi pada Roma pada pertandingan tersebut. Operan-operan sepertiga lapangan mereka untuk arah menyerang tidak menemui sasaran karena terlebih dulu dihadang oleh lini pertahanan Napoli.
Dari 82 operan yang dilepaskan hanya 42 yang menemui sasaran. Kebanyakan dari operan tersebut pun berupa operan panjang yang membuat lebih mudah dipatahkan oleh lini belakang Napoli.
Arah operan Roma di Attacking Third. Sumber: FourFourTwo
Bisa dilihat dari grafis di atas mengenai banyaknya operan tidak tepat sasaran yang digambarkan melalui panah berwarna merah adalah terjadi di area tengah. Dengan kata lain, operan-operan tersebut ditujukan kepada Edin Dzeko yang berposisi sebagai penyerang tengah.
Umpan yang dilepaskan ke Dzeko pun kerap tidak maksimal, karena selain kuatnya duet Albiol dan Koulibaly, Dzeko pun kerap tak diberi support baik oleh kedua winger Roma, Iago Falque dan Mohamed Salah, serta Miralem Pjanic yang bermain sebagai gelandang serang. Roma pun lebih memilih umpan panjang karena pemain belakang Roma sulit untuk mengalirkan bola ke para gelandang akibat para pemain Napoli langsung menutup pergerakan lawan mulai dari pertahanan Roma, sehingga mereka memilih untuk langsung melepaskan umpan ke pemain depan.
Kesimpulan
Meskipun Napoli lebih superior dibandingkan Roma, namun nampak sangat jelas bahwa Napoli kesulitan jika tiga pemain depan mereka mendapat penjagaan dari pemain lawan. Apalagi pada diagram di bawah, terlihat bahwa Napoli sangat bergantung pada sayap kiri yang digalang Faouzi Ghoulam dan Lorenzo Insigne.
AS Roma juga sangat ketergantungan kepada Mohamed Salah yang berada di sayap kiri. Akselerasi yang biasa ditunjukkan Salah, tidak bisa dilakukannya karena seringnya ia ditutup oleh Elseid Hysaj.
Kegagalan dua tim untuk mendapatkan poin penuh bukan hanya dari kualitas bek kedua tim yang sama-sama tampil apik. Namun juga akibat permainan kedua tim yang lebih mengandalkan sisi tertentu dalam membangun serangan.
====
*dianalisis oleh @panditfootball, profil lihat di sini.








