Liga Inggris: Leicester 2-1 Chelsea
Chelsea Tak Mampu Meladeni Kecepatan Leicester
Leicester City kembali ke puncak klasemen Premier League setelah mengalahkan Chelsea 2-1 di King Power Stadium dini hari (15/12) WIB tadi. Dua gol The Foxes dicetak oleh (siapa lagi kalau bukan) Jamie Vardy dan Riyad Mahrez. The Blues hanya mampu membalas lewat Loïc Rémy.
Hasil ini juga membuat sang juara bertahan terjelembab di posisi ke-16 di Liga Primer sampai pekan ke-16. Chelsea sudah menelan sembilan kekalahan, bahkan sebelum Premier League mencapai setengah jalan. Tim asal London Barat itu pun tinggal berjarak satu poin dari zona degradasi.
Gambar 1: Susunan sebelas pemain utama Leicester City dan Chelsea dengan angka yang ditunjukkan adalah presentase kesuksesan operan seluruh pemain mereka - sumber: WhoScored
Claudio Ranieri, yang merupakan mantan manajer Chelsea pada 2000 sampai 2004, masih mengandalkan Vardy dan Mahrez. Keduanya adalah top skorer sementara di Liga Primer. Namun, kali ini manajer asal Italia tersebut menduetkan Vardy dengan Leonardo Ulloa.
Sementara José Mourinho menurunkan duet bek Kurt Zouma bersama kapten John Terry. Duet bek ini diturunkan Mourinho untuk mengantisipasi kecepatan Vardy dkk, di mana Zouma bertipikal bek yang cepat sementara Terry pandai membaca permaianan. Inilah kenapa ia mencadangkan Gary Cahill.
Leicester Masih Mengandalkan Bola Panjang
Leicester bukanlah merupakan tipikal kesebelasan yang mengandalkan penguasaan bola dan presentase kesuksesan operan dalam permainan mereka. Meskipun demikian, sepanjang Liga Primer ini mereka malah mampu mencetak gol paling banyak, yaitu 32 gol (sebelum melawan Chelsea dini hari tadi).
Tidak heran, dini hari tadi juga kesebelasan tamu lah yang justru menguasai pertandingan dengan penguasaan bola (Leicester 36%, Chelsea 64%) dan akurasi operan (59% banding 81%). Kita juga bisa melihat seberapa detail akurasi operan para pemain dari kedua kesebelasan pada gambar 1, di mana banyak pemain Leicester yang akurasi operannya buruk (di bawah 65%).
Mourinho pastinya sadar permainan Leicester lebih mengandalkan bola panjang (long ball), umpan terobosan, umpan silang, dan kecepatan pemain-pemain mereka. Bisa dibilang ini adalah tipikal permainan kesebelasan inferior. Dini hari tadi juga Leicester melakukan pendekatan yang benar-benar sama dengan permainan mereka yang biasanya.
Gambar 2: Grafik operan panjang dan umpan silang Leicester City - sumber: FourFourTwo Stats Zone
Dari gambar di atas, dapat dilihat Leicester melakukan 43 kali long ball. Angka ini memang tidak sebanyak biasanya di mana mereka melepaskan rata-rata 71 operan panjang per pertandingan (peringkat empat tersering di Liga Primer).
Meskipun yang berhasil hanya 14, enam di antaranya adalah operan berhasil ke sepertiga lapangan Chelsea. Begitupun dengan umpan silang, dari 15 crossing, mereka mampu mencetak satu yang berhasil.
Dua gol Leicester berasal dari kedua cara bermain di atas, di mana garis panah berwarna kuning adalah jalur operan yang menghasilkan assist. Gol Mahrez berawal dari bola panjang dari Marc Albrighton (gambar 4B di bawah), sementara gol Vardy berawal dari umpan silang Mahrez (gambar 4A di bawah).
Cara Chelsea Mengantisipasi Permainan Leicester
Untuk menghentikan Leicester, Mourinho sadar bahwa ia bukan saja harus menghentikan Vardy dan Mahrez, tetapi juga mematikan Leicester dari lini tengah mereka.
Daniel Drinkwater misalnya, gelandang Leicester ini adalah pemain yang memiliki akurasi operan paling tinggi di Leicester (79%), yang mana Leicester sendiri adalah kesebelasan yang paling buruk dalam urusan akurasi operan di Liga Primer (71,2%). Beruntung buat Chelsea, Drinkwater harus diganti pada menit ke-17 karena menderita cedera.
Kemudian rekan Drinkwater di lini tengah, N'Golo Kanté, adalah pemain yang paling sering melakukan potongan (intercept) di Liga Primer dengan 64 kali. Dini hari tadi ia menambah koleksi potongannya menjadi 66 kali.
Dengan permainan semacam ini, Mourinho berniat menutup permainan Leicester dari lini tengah, yaitu dengan menumpuk banyak pemain di tengah. Sayangnya dini hari tadi Nemanja Matić menjadi pemain yang paling banyak disorot karena berkali-kali ia terlihat terlambat turun.
Gambar 3: Grafik permainan Nemanja Matić dan Kurt Zouma - sumber: FourFourTwo Stats Zone
"Terlambat turun" ini adalah sangat krusial, terutama karena Chelsea mendominasi dan Leicester mengandalkan serangan balik cepat.
Chelsea Kebobolan karena Kurang Konsentrasi
Konsekuensi buruknya permainan Matić ini membuat Zouma menjadi "korban". Ia beberapa kali harus menutup para pemain Leicester secara dini, padahal seharusnya ia ditugaskan untuk banyak menutup Vardy dkk., di sepertiga lapangan bertahan Chelsea.
Untungnya, Zouma yang bertipikal cepat bisa bereaksi dengan tepat melalui dua potongan, 10 sapuan bola, dan tiga duel bola udara (100%). Namun, jangan tertipu dengan 100% duel bola udara sukses Zouma, karena pada gol pertama Vardy, Zouma tidak melakukan duel sama sekali. Seperti yang bisa kita lihat pada gambar di bawah ini, Zouma-lah yang seharusnya bertugas menjaga Vardy, tapi ia melepaskan Vardy sehingga Vardy bisa mencetak gol tanpa pengawalan.
Gambar 4: (A) Operan yang mengawali gol Vardy; (B) Operan yang mengawali gol Mahrez
Sementara untuk mengantisipasi Mahrez, Mourinho di atas kertas bisa mengandalkan César Azpilicueta. Azpilicueta diturunkan sebagai bek kiri Chelsea, sementara Mahrez adalah sayap kanan Leicester, keduanya sering bertemu di atas lapangan.
Yang membuat Azpilicueta menjadi lawan yang ideal bagi Mahrez adalah gaya permainan Mahrez. Mahrez yang berkaki alami kiri dan dioperasikan di kanan, memiliki tipikal untuk melakukan cut inside. Sementara Azpilicueta adalah bek kiri yang berkaki alami kanan. Ini menimbulkan keunggulan tersendiri bagi Azpilicueta.
Gambar 5: Grafik heat map Riyad Mahrez dan César Azpilicueta - sumber: Squawka
Sepanjang 90 menit memang Mahrez berhasil mencetak 4 dribel sukses dari lima percobaan, tapi ia hanya sekali saja mampu melewati Azpilicueta, sementara sekali ia gagal melewati Azpilicueta.
Tapi pada gol kedua Leicester, Azpilicueta melakukan kesalahan dengan tidak menjaga Mahrez. Pada gambar 4B bisa kita lihat bagaimana ruang yang Mahrez miliki sangat lapang ketika ia ingin menyambut umpan dari Albrighton.
Dua gol di atas dapat menjelaskan bahwa pertahanan Chelsea sedang kehilangan konsentrasi ketika menghadapi bola panjang dari Leicester.
Kedisiplinan Fuchs dan Simpsons Membendung Serangan Chelsea
Kedua kesebelasan sama-sama melepaskan lima tembakan tepat sasaran ke arah gawang. Angka ini didapatkan dari Leicester yang melepaskan sembilan tendangan, sementara Chelsea sebelas.
Meskipun Leicester menjadi kesebelasan yang paling banyak mencetak gol di Liga Primer, mereka juga kebobolan paling banyak di antara tujuh kesebelasan teratas (21 gol sebelum melawan Chelsea). Ini berarti tidak sulit untuk menembus pertahanan Leicester.
Dengan duet bek tengah Wes Morgan dan Robert Huth yang bertipikal lambat dan kaku, memainkan Diego Costa yang didukung sayap-sayap yang cepat adalah jalan bagi Chelsea untuk mengalahkan Leicester. Cara ini juga pernah ampuh dilakukan oleh Arsenal, yang merupakan satu-satunya kesebelasan yang berhasil mengalahkan Leicester sejauh ini (menang 5-2).
Keputusan "aneh" Mourinho yang menarik keluar Terry untuk digantikan oleh Cesc Fàbregas di babak kedua membuat Chelsea bermain dengan tiga bek dan semakin mengandalkan sayap mereka.
Formula tiga bek ini juga yang dipakai oleh Louis van Gaal ketika Manchester United mendominasi Leicester (hasil imbang 1-1), bukan hanya dengan penguasaan bola dan akurasi operan, tetapi juga (kebetulan) jumlah peluang.
Jadi, bisa kita simpulkan bahwa Chelsea dini hari tadi adalah kombinasi antara Arsenal dan Manchester United ketika melawan Leicester. Bedanya, hanya Arsenal yang berhasil mengalahkan Leicester.
Gambar 6: Grafik heat map Simpsons dan Fuchs (kiri); dan Willian, Hazard, dan Pedro (kanan) - sumber: Squawka
Satu hal yang membuat perbedaan adalah kinerja kedua bek sayap Leicester, Danny Simpsons di kanan dan Christian Fuchs di kiri, yang bermain sangat disiplin dalam menyerang dan bertahan.
Alhasil, Chelsea kesulitan menembus pertahanan Leicester melalui sayap. Dari 11 dribel Chelsea di wilayah sayap Leicester, mereka gagal sebanyak 8 kali. Gol Rémy sendiri, yang berasal dari sayap kiri, hadir ketika lini pertahanan Leicester sedang lengah.
Kesimpulan
Di atas kertas laga dini hari tadi adalah laga antara tim papan atas melawan tim papan bawah. Kalimat tersebut bisa berarti banyak. Melihat klasemen Liga Primer Inggris sekarang membuat kita tidak percaya. Leicester City (peringkat pertama) adalah kesebelasan yang dimaksud dengan "tim papan atas" sementara Chelsea (peringkat 16)-lah yang "tim papan bawah" jika kita mengacu kepada klasemen.
Namun, jika kita mengacu pada penguasaan pertandingan dan statistik, Chelsea tetap menunjukkan bahwa mereka tim papan atas dan Leicester justru adalah tim papan bawah.
Sayangnya, statistik dan angka-angka pertandingan sepertinya tidak berefek banyak untuk Leicester. Mereka tetap bermain dengan gaya mereka: sepakbola cepat, langsung, tidak terlalu bertele-tele dengan penguasaan bola dan oper-operan di lini tengah.
José Mourinho sudah mengetahui semua tentang hal ini, namun faktanya, dini hari tadi Chelsea sudah dikalahkan oleh manajer mereka yang mereka buang pada 2004 lalu, Claudio Ranieri.
Sementara bagi kita yang masih tidak bisa menerima kedigdayaan Leicester di Liga Primer, masih terus berandai-andai: Apa jadinya, ya, Leicester City tanpa Jamie Vardy dan Riyad Mahrez? Sejujurnya pertanyaan itu juga memang masih menjadi misteri.
====
*dianalisis oleh @panditfootball, profil lihat di sini.







