Liga Inggris: Everton 2-3 Leicester
Okazaki, Vardy, dan Mahrez Kalahkan Everton
Natal datang lebih awal di Leicester City. Kemenangan tandang atas Everton di Goodison Park, Sabtu (19/12), berarti apa pun hasil pertandingan antara Arsenal dan Manchester City (dua kesebelasan terdekat Leicester di tabel klasemen sementara) Selasa nanti tak akan memengaruhi posisi Leicester di puncak klasemen.
Leicester menduduki posisi pertama dengan 38 poin dari 17 pertandingan. Target mereka musim ini adalah 40 poin, dan Leicester berjarak dua poin saja bahkan saat putaran pertama masih tersisa dua pertandingan lagi.
Kemenangan Premier League kesebelas Leicester musim ini berarti kekalahan keempat Everton di kejuaraan yang sama. Tiga di antaranya mereka derita dalam sepuluh pertandingan terakhir. Tidak meraih satu angka pun dari pertandingan terbarunya berarti Everton tertahan di peringkat kesepuluh dengan 23 poin.
Gagal mengalahkan Leicester juga membuat Everton kehilangan kesempatan melangkahi Liverpool dan West Ham United (sama-sama 24 poin dari 16 pertandingan) dan Watford (25 poin dari 16 pertandingan). Ketiga kesebelasan akan bertanding malam nanti dan tambahan satu angka saja akan membawa Everton semakin jauh tertinggal dalam perjalanan mereka untuk mengakhiri musim di empat besar.
Satu gol Romelu Lukaku yang menyamakan kedudukan di menit ke -32 serta satu gol Kevin Mirallas yang memangkas keunggulan Leicester di menit ke-89 tidak cukup untuk mencegah Leicester – yang mencetak gol lewat dua penalti Riyad Mahrez di menit ke-27 dan ke-65 serta Shinji Okazaki di menit ke-69 – membawa pulang poin sempurna.
Para pemain Everton membayar mahal karena tidak waspada terhadap lemparan ke dalam di sisi kiri serangan Leicester. Per Guardian, Roberto Martinez telah menekankan kepada para pemainnya bahwa lemparan ke dalam dari sisi kiri serangan Leicester adalah situasi berbahaya. Instruksi Martinez terbukti ketika dua dari tiga gol Leicester di pertandingan ini berasal dari lemparan ke dalam dari sisi kiri serangan Leicester; yang salah satunya adalah lemparan ke dalam yang diambil oleh pemain Everton sendiri.
Sementara itu serangan balik, yang sepanjang musim ini menjadi andalan Leicester, hanya menghasilkan satu gol. Pendekatan tanpa bola Everton – bertahan di kedalaman di area permainan sendiri namun menutup jalan umpan tanpa bermain menekan ketika bola masih berada di area permainan Everton – cukup membuat Leicester kewalahan. Manajer Leicester, Claudio Ranieri, sendiri mengakui bahwa kesebelasannya tidak menang mudah melawan Everton. Seperti Everton, Leicester juga tidak selalu bertahan di kedalaman; kedua kesebelasan bertahan dengan cara yang kurang lebih sama.
Jika pada akhirnya Leicester kebobolan dua gol, itu bukan karena pertahanan mereka tidak cukup baik. Menumpuk cukup banyak pemain di dalam (dan di sekitar) kotak penalti Leicester membuat Everton menemukan cara untuk menyerang Kasper Schmiechel tanpa harus membongkar pertahanan Leicester. Tidak perlu membongkar dengan sabar; hajar terus sampai kewalahan. Dengan cara yang sama Everton mencetak kedua golnya.
Everton vs Vardy, Mahrez, dan Okazaki
Salah satu momen terpenting dalam pertandingan ini terjadi sebelum kick-off, ketika Ranieri memilih untuk memainkan Okazaki ketimbang Leonardo Ulloa yang biasanya lebih ia percaya sebagai duet Vardy di lini depan. Okazaki membayar kepercayaan Claudio Ranieri dengan sangat baik. Pemain yang jarang tampil sejak menit pertama ini memainkan peran penting dalam ketiga gol Leicester ketika kembali dipercaya bermain sebagai starter setelah sekian lama tidak mendapat kepercayaan serupa.
Pergerakan Okazaki, bersama dengan Jamie Vardy dan Riyad Mahrez, merepotkan pertahanan Everton. Ketiganya sering bertukar posisi. Ini membuat ketiganya, yang berhadapan dengan lini pertahanan Everton yang memainkan taktik zonal marking, sering berada dalam posisi tak terkawal.
Everton tidak akan sampai dua kali melakukan pelanggaran di dalam kotak penalti jika mereka berada dalam posisi siap menghadapi Okazaki dan Vardy (dalam taktik zonal marking, komunikasi antar pemain – untuk mengingatkan lawna mana yang berada di zona yang menjadi tanggung jawab siapa – sangat penting; pertukaran posisi Okazaki, Vardy, dan Mahrez lebih cepat dari komunikasi para pemain Everton). Okazaki dan Vardy sendiri tidak akan menempatkan lawan dalam situasi terpaksa melanggar mereka jika mereka tidak aktif bergerak dan bertukar posisi.
Searah jarum jam dari kiri atas: heatmap Jamie Vardy, Shinji Okazaki, Riyad Mahrez, dan gabungan heatmap ketiganya
Proses terciptanya gol pertama Leicester – yang merupakan salah satu dari dua gol Leicester yang berasal dari lemparan ke dalam di sisi kiri serangan mereka – melibatkan Vardy, Okazaki, dan Mahrez. Vardy meneruskan lemparan ke dalam Fuchs kepada Okazaki, yang kemudian melewati Ramiro Funes Mori dan membuat pemain belakang Everton tersebut terpaksa menjatuhkannya di dalam kotak penalti. Mahrez maju sebagai eksekutor dan mencetak gol.
Dalam proses terciptanya gol kedua Everton, Mahrez lebih banyak terlibat. Menerima bola dalam sebuah serangan cepat, Mahrez dapat saja mengumpan kepada Okazaki yang membuka ruang dan menempatkan dirinya sendiri dalam posisi bebas tanpa kawalan. Namun Mahrez menahan bola sedikit lebih lama demi memberi kesempatan kepada Vardy untuk masuk ke dalam kotak penalti. Umpan terobosan Mahrez sampai kepada Vardy dan dengan sebuah sentuhan Vardy membelokkan arah bola sehingga Tim Howard yang meluncur untuk merebut bola, didakwa melakukan pelaggaran. Mahrez lagi-lagi maju sebagai eksekutor dan mencetak gol dari titik penalti.
Gol ketiga tidak tercipta dari titik penalti, namun kembali melibatkan Okazaki dan Vardy dalam sebuah lemparan ke dalam dari sisi kiri serangan Leicester. Bedanya, kali ini bukan Fuchs atau pemain Leicester lain yang mengambil lemparan ke dalam; melainkan Seamus Coleman, bek kanan Everton. Coleman mengarahkan lemparan ke dalam kepada Tom Cleverley, yang langsung mengembalikan bola kepada Coleman dengan satu sentuhan. Coleman memilih melakukan sapuan namun tendangannya dibentung Marc Albrighton dan bola jatuh ke dalam penguasaan Vardy, yang langsung meneruskannya kepada Okazaki. Sejak bola mengarah kepada Vardy hingga gol tercipta, bola hanya disentuh sebanyak empat kali; masing-masing dua kali oleh Vardy dan Okazaki.
Everton sendiri, sebagaimana disebutkan di awal tulisan ini, tidak mencetak kedua gol mereka dengan membongkar pertahanan rapat Leicester yang pada dasarnya adalah lapisan pelindung untuk Kasper Schmeichel. Everton tidak membongkar; mereka merusak pertahanan Leicester dengan menempatkan banyak pemain di dalam kotak penalti Leicester dan menghujani mereka dengan tembakan demi tembakan.
Tembakan-tembakan Everton
Dalam proses terciptanya gol pertama Everton, terhitung ada enam pemain Everton dalam kotak penalti Leicester. Dalam proses gol kedua, ada tujuh pemain. Dan dalam proses terciptanya kedua gol tersebut ada setidaknya satu tendangan Everton yang dibendung oleh pemain Leicester.
Everton tidak membongkar pertahanan Leicester: mereka terus merusak pertahanan Leicester dengan melepas tendangan demi tendangan hingga celah yang dicari terbuka sendiri.
Kesimpulan
Keputusan Claudio Ranieri untuk memainkan Shinji Okazaki terbukti tepat. Pemain yang dikenal rajin bergerak ini, bersama dengan Jamie Vardy dan Riyad Mahrez, telah berhasil membongkar pertahanan Everton dan berkali-kali menempatkan lawan dalam situasi sulit. Tanpa ketiga pemain yang terus bergerak dan bertukar posisi ini, Leicester sangat mungkin gagal mencetak tiga gol.
Everton, sementara itu, membuktikan bahwa pertahanan rapat tidak harus selalu dibongkar dengan sabar lewat pertukaran umpan. Tembak terus dari mana saja, padati kotak penalti dengan banyak pemain untuk meningkatkan peluang jatuhnya bola liar ke dalam penguasaan sendiri, dan celah yang dicari akan terbuka dengan sendirinya.
====
*dianalisis oleh @Panditfootball, profil lihat di sini.








