Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Match Analysis

    Liga Inggris: Liverpool 1-0 Leicester

    Cara Klopp Memfungsikan Sakho-Lovren untuk Mengalahkan Leicester

    Pandit Football Indonesia - detikSport
    Reuters/Phil Noble Reuters/Phil Noble
    Jakarta - Leicester City menerima kekalahan kedua pada musim ini di pekan ke-18 Liga Primer Inggris. Bertandang ke Stadion Anfield, kesebelasan berjuluk The Foxes tersebut takluk dari Liverpool lewat gol semata wayang yang diciptakan Christian Benteke.

    Kubu tuan rumah begitu dominan pada laga ini. Skema serangan terkoneksi dengan baik. Sementara lini pertahanan mereka pun begitu kokoh sehingga sulit ditembus oleh lini serang Leicester City. Dejan Lovren dan Mamadou Sakho memiliki andil besar untuk Liverpool pada laga ini.

    Di kubu lawan, Jamie Vardy yang merupakan pencetak gol terbanyak Liga Primer Inggris tampil mengecewakan. Hal ini dikarenakan ia dipaksakan bermain meski sebenarnya ia menderita cedera ketika Leicester mengalahkan Everton pada pekan ke-17.



    Sakho Membendung Aliran Bola Pada Mahrez

    Tak ada yang berubah dari skema permainan Leicester City pada laga ini. Skuat besutan Claudio Ranieri ini tetap mengandalkan umpan panjang langsung ke area flank sebagai upaya untuk sesegera mungkin mendistribusikan bola ke kotak penalti.

    Leicester pun masih mengandalkan Riyad Mahrez yang beroperasi di sayap kanan pada laga ini. Hal ini terlihat dari aliran bola Leicester yang selalu diarahkan ke sisi kanan. Selain itu, Liverpool pun memiliki titik lemah di sisi kiri pertahanan mereka tempat area beroperasi Alberto Moreno yang kerap melakukan overlap.

    Namun skema ini berhasil diredam Liverpool. Manajer Liverpool Juergen Klopp dengan cermat menginstruksikan Sakho untuk membendung setiap bola udara yang dikirimkan pemain bertahan Leicester ke sisi kanan tempat Mahrez berada.

    Karenanya Sakho lebih sering terlihat bermain agak melebar ke sisi kiri pada laga ini. Hal ini dilakukan agar Moreno tak berduel udara dengan Mahrez. Moreno tentunya tak begitu memiliki kemampuan yang baik dalam hal duel udara.


    [Grafis Heatmap Sakho yang dominan bergerak melebar ke kiri]

    Sakho pun lantas membuktikan kualitasnya sebagai bek yang handal dalam duel udara. Bek asal Prancis ini mencatatkan 86% keberhasilan duel udara. Bahkan sebenarnya, ia tak pernah gagal ketika ia berduel di area pertahanan sendiri.

    Pada laga ini Sakho mencatatkan 20 kali sapuan, 10 di antaranya dilakukan dalam membendung serangan udara Leicester. Ia benar-benar berfungsi sebagai penghalau serangan udara Leicester karena tak sekalipun ia mencatatkan tekel ataupun intersep pada laga ini.

    Tandemnya, Dejan Lovren, bermain tak kalah cemerlang. Bek asal Kroasia ini mencatatkan 18 sapuan. Sama seperti Sakho, Lovren pun tak sekalipun melakukan tekel dan hanya mencatatkan sekali melakukan intersep.

    Meskipun begitu, terdapat perbedaan permainan antara Lovren dan Sakho. Jika Sakho diinstruksikan kerap bermain melebar untuk membendung serangan udara Leicester yang mengarah ke kiri pertahanan Liverpool, Lovren lebih beroperasi di tengah. Hal ini dikarenakan Nathaniel Clyne mampu mengatasi sayap kiri Leicester, Marc Albrighton.


    [Grafis sapuan Lovren dan Sakho]

    Pada gambar di atas terlihat bahwa Sakho bermain lebih melebar dibanding Lovren. Hal ini tak lain memiliki tujuan untuk membendung aliran bola pada Mahrez. Dan menghentikan Mahrez artinya menghentikan serangan Leicester. Alhasil akurasi operan Leicester pun hanya mencapai angka 57%.


    [Grafis sepertiga akhir Leicester yang dominan ke kanan]

    Karena serangan sisi kanan Leicester tersendat, Jamie Vardy pun jarang mendapatkan suplai bola pada laga ini. Sebelum digantikan Leonardo Ulluoa pada menit ke-69, ia hanya menyentuh bola sebanyak 14 kali. Akurasi operannya pun hanya 43%.

    Meminimalisir bola sampai ke kaki Vardy adalah suatu keharusan bagi siapapun yang tak ingin pemain yang sedang menjalani musim terbaiknya ini mengobrak-abrik pertahanan mereka. Meski jarang mendapatkan operan, ia tercatat dua kali membahayakan gawang Liverpool yang dikawal Simon Mignolet.

    Kredit khusus pun patut diberikan pada Mignolet. Meski kesulitan melancarkan serangan, tercatat Leicester tujuh kali melepaskan tembakan ke gawang Liverpool, tiga di antaranya on target. Dan Mignolet tiga kali pula melakukan saves gemilang.

    Kiper asal Belgia ini pun begitu handal dalam memetik setiap umpan udara yang dilancarkan Leicester. Hal ini menjadi penting mengingat Leicester terus berupaya mengirimkan bola ke kotak penalti entah itu dari sayap ataupun dari tengah.

    Memancing Leicester Menaikkan Garis Pertahanan

    Leicester dikenal dengan serangan baliknya yang mematikan. Serangan balik dengan memanfaatkan area flank tersebut dihasilkan dari skema bertahan dengan garis pertahanan rendah. Dan skema inilah yang coba dirusak oleh Klopp.

    Klopp sendiri baru mengubah cara bermain anak asuhnya ketika pertandingan memasuki babak kedua. Pada babak pertama, Liverpool masih terlihat menguasai bola di area tengah lapangan yang membuat Leicester merapatkan barisan pertahanan lebih ke dalam ketika tak menguasai bola. Sementara pada babak kedua, sedikit demi sedikit garis pertahanan Leicester naik.


    [Grafis area pergerakan pemain Leicester pada babak pertama (kiri) dan babak kedua (kanan)]

    Pada gambar di atas terlihat bahwa pada babak pertama di kotak penalti Leicester begitu menumpuk para pemainnya. Sementara pada babak kedua, gambar kanan, area depan kotak penalti mulai menghadirkan celah-celah.

    Cara Klopp memancing Leicester menaikkan garis pertahanan mereka adalah dengan lebih sering memainkan bola di lini pertahanan. Di sini peran empat bek Liverpool menjadi penting.

    Clyne menjadi pemain dengan jumlah operan terbanyak (72 kali). Sementara Moreno berada di urutan kedua dengan 67 kali operan, jumlah yang sama dengan Jordan Henderson. Berada di urutan keempat Lovren dengan 64 operan, sementara Sakho berada di urutan kelima dengan 57 operan.

    Sakho dan Lovren menjalankan tugasnya dengan baik. Sakho mencatatkan 93% akurasi operan, tertinggi pada laga ini. Lovren berada di urutan kedua dengan 90%. Operan keduanya tak hanya operan dekat dari bek tengah ke bek sayap terdekat atau gelandang terdekat, tapi operan keduanya juga sesekali membuat serangan kejutan dengan mengirimkan umpan ke area flank.


    [Grafis operan Sakho-Lovren yang sesekali mendistribusikan bola ke area flank]

    Operan ke area flank keduanya diciptakan pada momentum yang tepat dan memberikan efek kejut. Berkat skema serangan seperti ini, lini pertahanan Leicester yang tak sadar kerap terpancing naik begitu panik ketika tiba-tiba pemain Liverpool seperti Philippe Coutinho, Roberto Firmino atau Adam Lallana tiba-tiba berada di posisi ideal untuk melakukan cuts inside. Total 25 tembakan yang diciptakan Liverpool pada laga ini tak lepas dari keberhasilan Liverpool mengeksploitasi sisi sayap Leicester.


    [Grafis operan sepertiga akhir Liverpool yang mengarah ke kedua sayap secara seimbang]

    Hal ini membuat Leicester mulai teralihkan pada serangan sisi sayap Liverpool. Gol yang diciptakan Christian Benteke pada menit ke-62 lahir berkat lini pertahanan Leicester terlalu fokus pada serangan sayap Liverpool. Benteke tak terkawal di kotak penalti sebelum dan ketika menyambut umpan silang Firmino.


    [Situasi sebelum terjadinya gol Benteke]

    Pada gambar di atas terlihat bahwa semua pemain Leicester mengarahkan pandangan pada Firmino yang menggiring bola di sisi kiri serangan Liverpool. Pada situasi ini pula terlihat bahwa Pemain Leicester lebih banyak berada di area sayap (kanan). Hal ini yang membuat Benteke bebas tak terkawal.

    Benteke sendiri baru masuk pada menit ke-38. Ia menggantikan Divock Origi yang cedera. Bahkan sebenarnya penyerang asal Belgia ini nyaris menambah keunggulan di penghujung pertandingan ketika kiper Leicester, Kasper Schmeichel, meninggalkan sarangnya ketika Leicester mendapatkan sepak pojok di menit-menit akhir pertandingan.

    Kesimpulan

    Keberhasilan Liverpool membenamkan Leicester adalah dengan menghentikan aliran bola pada Mahrez. Dengan Mahrez kesulitan mendapatkan bola, semakin jarang pula Leicester menciptakan peluang. Vardy yang menjadi ujung tombak pun terkena dampaknya dengan minim mendapatkan operan.

    Kredit khusus patut diberikan pada duet Sakho-Lovren pada laga ini. Keduanya menerjemahkan dengan baik instruksi Klopp baik ketika bertahan maupun kala membangun serangan. Menurut kami, salah satu di antara keduanya layak dijadikan Man of the Match pada laga ini.

    Kemenangan dengan skor 1-0 inipun buah dari perjudian dari Klopp. Sebelum laga, Lovren dan Mignolet masih bermasalah dengan kebugaran mereka. Namun keduanya tetap dipasang oleh Klopp sejak menit pertama dan menjadi bagian penting kemenangan Liverpool atas Leicester ini.

    ====

    *dianalisis oleh @panditfootball, profil lihat di sini.




    (krs/krs)
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game