Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Match Analysis

    Liga Inggris: Man Utd 0-0 Chelsea

    Kembalinya Schweinsteiger dan Schneiderlin Buat Chelsea Kesulitan

    Pandit Football Indonesia - detikSport
    REUTERS REUTERS
    Jakarta -

    Louis van Gaal dalam tekanan. Kalah melawan Chelsea berarti ia harus rela angkat kaki. Masuk akal kalau banyak orang menerka Manchester United akan bermain aman di laga tersebut.

    Jika mencetak gol masih sulit, setidaknya buatlah lawan gagal mencetak gol dan memaksa pertandingan berakhir imbang tanpa gol. Hasil imbang saja memang tidak memuaskan, namun jelas lebih baik dari kalah.

    Pada akhirnya terbukti MU berhasil membuat Chelsea kesulitan mencetak gol. Pertandingan berakhir dengan kedudukan sama kuat 0-0.

    Namun MU tidak meraih itu dengan bertahan di kedalaman. Mereka keluar menyerang dan menciptakan banyak peluang. Di saat yang bersamaan, pertahanan mereka tetap kuat.

    Wayne Rooney hanya bermain di babak kedua ketika "Setan Merah" kalah dua gol tanpa balas melawan Stoke City pada Boxing Day kemarin. Sang kapten kembali bermain sebagai starter ketika Chelsea bertandang ke Old Trafford tadi malam (28/12).

    Kembalinya Rooney ke starting line-up membuat Anthony Martial tidak menempati posisi penyerang tengah. Pemain Prancis itu bermain di sisi kiri serangan timnya. Dari area permainannya Martial merepotkan lini pertahanan Chelsea yang titik lemahnya memang berada di kanan, dalam diri Branislav Ivanovic. Berkali-kali ancaman datang dari area yang menjadi tanggung jawab Ivanovic. Baik karena Martial sendiri atau karena ia mendapat bantuan dari bek sayap kiri MU, Matteo Darmian.

    Dengan kemampuannya menggiring bola Martial menempatkan sisi kanan pertahanan Chelsea dalam ancaman. Ia melepas tembakan – yang andai tidak membentur tiang pasti sudah menjadi gol – setelah melewati Ivanovic. Pergerakannya ketika menguasai bola pula yang memasa John Obi Mikel melakukan pelanggaran yang berbuah kartu kuning pertama di pertandingan ini. Pada akhirnya, segala usaha Martial di sisi kanan pertahanan Chelsea tidak membuahkan hasil karena di area tengah, di jantung pertahanan, Chelsea berhasil mengatasi segala macam ancaman.

    John Terry memberi jaminan keamanan di pertandingan ini. Kapten Chelsea ini bermain tanpa cela, tampil sempurna menjalankan tugasnya sebagai pemain bertahan.

    Empat dari lima blok Chelsea di pertandingan ini tercatat atas namanya. Ia melakukan lebih banyak sapuan dari pemain Chelsea mana pun sepanjang pertandingan. Ia juga melakukan satu interception di dalam kotak penalti. Persentase kemenangan duel udara dan tekelnya 100%. Kuatnya pertahanan berkat Terry itulah yang menjadi dasar serangan-serangan Chelsea.


    [Sumber: FourFourTwo/Statszone]

    Namun seperti MU, serangan-serangan Chelsea pun tidak menghasilkan gol. David De Gea tampil gemilang. Ia menepis keluar sundulan bebas Terry – peluang pertama Chelsea di pertandingan ini – dan melakukan double save untuk menggagalkan peluang Pedro Rodriguez dan Cesar Azpilicueta.

    Selain karena De Gea tampil gemilang, Chelsea tidak mendapat banyak peluang karena para outfield player MU berhasil mengatasi serangan-serangan Chelsea. Seringnya Ashley Young dan Matteo Darmian meninggalkan lini pertahanan untuk membantu penyerangan, tidak serta merta membuka celah di sisi kanan dan kiri pertahanan timnya.

    Morgan Schneiderlin yang absen dalam empat pertandingan terakhir, dan Bastian Schweinsteiger yang absen di tiga laga terakhir MU, kembali bermain bersama. Keduanya memainkan peran kunci dalam keberhasilan tuan rumah dalam menetralisir serangan-serangan Chelsea. Schneiderlin dan Schweinsteiger tidak hanya sigap ketika membantu serangan dan memastikan aliran bola terus berjalan. Keduanya juga kompeten menjalankan tugas sebagai pelindung pertahanan. Chelsea tidak leluasa melancarkan serangan sayap karena tidak selalu ada kekosongan di sana. Schneiderlin dan Schweinsteiger menambal lubang di kedua sisi pertahanan United jika Young dan Darmian tidak kembali tepat waktu.


    [Sumber: FourFourTwo/Statszone]

    Mengandalkan Eden Hazard – yang bermain di posisi penyerang tengah karena Diego Costa menjalani larangan bertanding – sebagai pemain yang bebas bergerak untuk merepotkan MU di titik mana pun di lapangan, pada akhirnya, terbukti tidak mampu menjadi jawaban untuk kebuntuan Chelsea. Hazard memang memiliki kemampuan untuk merepotkan setiap lawan yang ia hadapi. Namun untuk tampil maksimal Hazard membutuhkan kebebasan. Dan dalam pertandingan ini Hazard tidak mendapat kebebasan. Pergerakannya dibatasi. Di titik mana pun ia berada, Hazard selalu mendapat pengawalan ketat. Sepajang pertandingan ia enam kali dilanggar. Dan titik dilanggarnya Hazard tersebar: tiga kali di sisi kiri, dua kali di tengah, satu kali di kanan.
     

    [Sumber: FourFourTwo/Statszone]

    Terlepas dari permainan menakan yang mereka peragakan kepada Hazard, MU menerapkan taktik pertahanan zonal marking, terutama di area permainan lawan, dan tidak bertahan di kedalaman dan menunggu. Mereka membatasi kebebasan Chelsea dengan menutup sebanyak mungkin jalan umpan sedekat mungkin dengan gawang lawan. Menempatkan para pemain depan sebagai lapisan pertahanan pertama menguntungkan MU. Berkali-kali mereka mendapat peluang setelah berhasil memaksa Chelsea melakukan kesalahan umpan. Bahkan Thibaut Courtois saja sempat melakukan kesalahan karenanya.

    Kesimpulan

    Kembalinya pasangan poros ganda Schweinsteiger dan Schneiderlin membuat Young dan Darmian leluasa membantu serangan MU tanpa khawatir membuat Chris Smalling dan Daley Blind kerepotan karena kekurangan bantuan. Schweinsteiger dan Schneiderlin, selain aktif membantu serangan, juga mampu memberi rasa aman ketika lawan menyerang. Tanpa keduanya MU pasti sudah kerepotan.



    Chelsea, sementara itu, berutang banyak kepada John Terry yang tampil tanpa cela. Memang benar, kedua kesebelasan bertahan secara kolektif, namun ketiga pemain ini pantas mendapat pujian lebih karena mereka paling menonjol. Di luar itu, pujian juga layak dialamatkan kepada David De Gea dan Courtois. Ketika pertahanan kolektif tidak berhasil mematikan serangan lawan, keduanya menjadi harapan terakhir. Baik De Gea atau Courtois sama-sama melakukan lebih dari satu penyelamatan kunci di pertandingan ini.


    ====

    * Dianalisis oleh @panditfootball, profil lihat di sini.

    (a2s/mrp)
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game