Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Match Analysis

    Liga Inggris: Liverpool 3-3 Arsenal

    Perubahan Strategi Klopp Selamatkan Timnya dari Kekalahan

    Pandit Football Indonesia - detikSport
    Jakarta -

    Enam gol tercipta di kandang Liverpool, stadion Anfield, pada Kamis dinihari (14/1) waktu Indonesia. Kubu tuan rumah yang unggul dua kali nyaris kalah dari Arsenal seandainya Joe Allen tak mencetak gol di menit ke-90, yang membuat laga berkesudahan dengan skor 3-3.

    Roberto Firmino sukses mengoyak gawang Arsenal yang dikawal Petr Cech sebanyak dua kali. Namun setiap golnya tersebut selalu berhasil disamakan oleh Arsenal lewat kaki Aaron Ramsey dan Olivier Giroud.

    Giroud mencetak gol keduanya pada laga ini untuk membuat Arsenal unggul pada menit ke-55. Namun berkat perubahan taktik yang dilakukan manajer Liverpool, Jurgen Klopp, kemenangan Arsenal berhasil digagalkan dan kedua kesebelasan harus puas dengan satu poin.

    Liverpool Memanfaatkan Kekosongan di Depan Area Kotak Penalti Arsenal

    Klopp kembali membangkucadangkan Christian Benteke dan lebih memasang Firmino sebagai penyerang. Keputusan yang cukup mengejutkan, merujuk bahwa Benteke kerap kali membuat gol penentu kemenangan timnya.

    Namun Klopp ternyata memiliki maksud lain. Ia tampaknya mengetahui bahwa Arsenal akan tetap bermain dengan seperti biasanya, berusaha menguasai jalannya pertandingan. Kehadiran Firmino pun difungsikan untuk mengisi celah-celah yang ada ketika Arsenal coba menyerang.

    Pada 30 menit pertama Arsenal memang tampak berusaha menguasai jalannya pertandingan meski bermain di kandang lawan. Penguasaan bola pada 30 menit pertama sendiri hanya berbanding tipis 51%-49%. Arsenal bermain seperti yang Klopp bayangkan.

    Upaya menguasai jalannya pertandingan yang dilakukan Arsenal ternyata menghadirkan celah kosong di depan area kotak penalti. Double pivot Arsenal yang dihuni Ramsey dan Mathieu Flamini sering terlambat melindungi area tersebut.

    Dua gol yang diciptakan Liverpool, atau lebih tepatnya dua gol Firmino, berawal dari area yang kosong di depan kotak penalti ini. Pada gol pertama, Emre Can dengan leluasa melepaskan tembakan dari luar kotak penalti yang setelah berhasil dimentahkan Cech kemudian disambut Firmino. Sementara pada gol kedua giliran Firmino yang cukup leluasa menempatkan bola ke arah yang ia inginkan.

    Gol pertama mungkin bisa dimaklumi karena bermula dari sepak pojok Liverpool dan kegagalan Arsenal membangun serangan balik. Namun pada gol kedua, terlihat bahwa area depan kotak penalti menjadi titik lemah Arsenal pada 30 menit pertama.


    [Situasi sebelum Firmino menerima bola pada gol keduanya]

    Pada gambar di atas terlihat Flamini harus bergeser ke kanan karena menjaga James Milner. Namun partnernya, Ramsey, terlambat untuk mundur. Sehingga ketika Firmino menerima bola, Firmino bisa mengontrol dan melihat celah yang bisa ia manfaatkan untuk menjadi gol kedua Liverpool.

    Duet bek tengah Arsenal, Laurent Koscielny dan Per Mertesacker, keduanya berusaha tetap sejajar untuk menjaga kedalaman lini pertahanan. Jika salah satu dari keduanya berusaha menghampiri dan merebut bola dari Firmino pun cukup berpotensi untuk dilewati di mana hal tersebut bisa menghadirkan celah lainnya.

    Pada babak pertama, selain tembakan Firmino yang menjadi gol dan tembakan Emre Can yang menjadi awal terciptanya gol pertama, Emre Can melepaskan dua tembakan lain dari luar kotak penalti. Satu di antaranya menjadi peluang matang meski tendangannya berhasil diamankan Cech.

    Kelemahan di Lini Pertahanan Liverpool

    Meski Liverpool berhasil mencetak dua gol, keunggulan Liverpool tersebut tak berlangsung lama. Gol Liverpool pada menit ke-10 dibalas pada menit ke-14. Sementara gol pada menit ke-19 berhasil disamakan pada menit ke-25.

    Lini pertahanan Liverpool memang cukup rentan kala mendapatkan serangan. Buktinya 14 tembakan berhasil dilepaskan para pemain Arsenal pada laga ini. Selain dua gol, tiga peluang lainnya pun cukup berbahaya.

    Arsenal sendiri lebih dominan menyerang lewat sisi kiri dan area tengah. Terhitung jarang skuat berjuluk The Gunners ini menyerang lewat sisi kanan. Bisa jadi hal ini dilakukan karena di sisi kiri serangan Arsenal, winger Liverpool, Jordon Ibe, jarang melakukan trackback untuk membantu Nathaniel Clyne.

    Sementara itu, di lini pertahanan Liverpool pun terdapat Mamadaou Sakho yang masih belum kembali pada performa terbaiknya. Pada gol pertama ia kalah duel dengan Giroud dan terjadi benturan di kepala yang membuatnya agak linglung ketika mengantisipasi operan daerah dari Campbell pada Ramsey yang mengarah ke belakangnya. Sementara pada gol kedua, ia gagal mengantisipasi bola sepakpojok kiriman Ramsey untuk Giroud. Sedangkan pada gol ketiga, Sakho sempat terpeleset sehingga Giroud bisa dengan leluasa menahan bola sebelum balik badan untuk melepas tembakan.

    Begitu kewalahannya Sakho menghadapi Giroud sebenarnya tak lepas dari lini tengah Liverpool yang sama seperti Arsenal pada babak pertama, kerap terlambat kembali pada poisisinya sehingga para pemain Arsenal dengan cukup mudah masuk ke area kotak penalti Liverpool. Gol ketiga sebenarnya bisa dihindari andai di antara Emre Can atau Milner berada di posisinya untuk menahan Campbell.


    [Proses sebelum terjadinya gol ketiga Arsenal]

    Pada gambar di atas jelas terlihat bahwa terjadi situasi lima pemain Arsenal menghadapi empat pemain Liverpool. Ketika Bellerin menguasai bola di sisi kanan (kemudian mengoper bola Campbell untuk diteruskan ke Giroud), Emre Can berada jauh di belakang Ramsey. Hal ini juga menunjukkan area depan kotak penalti Liverpool bisa dengan mudah dimasuki lini serang Arsenal.

    Perubahan Taktik Kedua Kesebelasan

    Jika di babak pertama kedua kesebelasan saling berbalas gol, babak kedua adalah adu strategi kedua manajer kesebelasan. Kedua tim mengubah cara bermain asuhnya pada babak kedua. Apalagi setelah Arsenal unggul 2-3.

    Setelah unggul, Arsenal tampak lebih mengutamakan untuk memfokuskan lini pertahanan ketimbang bermain terbuka seperti pada babak pertama. Hal ini dilakukan untuk meminimalisasi area depan kotak penalti yang sering kosong pada babak pertama.

    Arsenal melepaskan 14 tembakan pada laga ini. Dan tembakan ke-14 sebenarnya terjadi pada menit ke-65. Ini artinya, selama 25 menit terakhir babak kedua, tak sekalipun Arsenal menciptakan peluang. Ditarik keluarnya Giroud dan Oezil untuk menjaga kebugaran keduanya bisa jadi alasan mengapa hal ini terjadi.

    Perubahan skema yang dilakukan Arsenal ini berhasil memaksa Liverpool tak bisa masuk ke kotak penalti lewat area depan kotak penalti pada babak pertama. Pada babak kedua, duet Ramsey dan Flamini berhasil menciptakan enam blocked shot (babak pertama hanya satu).

    Liverpool akhirnya terpaksa harus menyerang lewat samping. Sementara dengan memasang Firmino di tengah, nyaris tak ada pemain yang bisa diandalkan dalam duel udara di kotak penalti. Karena hal ini Firmino memasukkan Benteke pada menit ke-65. Sebelum memasukkan Benteke, dari 15 kali umpan silang yang dilepaskan Liverpool hanya satu kali umpan silang yang berhasil disambut.


    [Grafis umpan silang Liverpool sebelum masuknya Benteke. Sumber: Squawka]

    Memang meski adanya Benteke tak memperbaiki efektivitas skema umpan silang Liverpool, total 27 umpan silang dan hanya empat yang berhasil disambut. Namun adanya Benteke juga menghadirkan opsi umpan direct dari tengah langsung ke jantung pertahanan Arsenal.

    Hal inilah yang terjadi pada gol ketiga atau gol penyama kedudukan Liverpool yang diciptakan oleh Joe Allen. Allen yang masuk menggantikan Emre Can, memanfaatkan keberhasilan duel udara Benteke yang menghadapi Koscielny dan Nacho Monreal.

    Gol ini pun tak lepas dari kejelian Klopp yang memasukkan permain terbarunya, Steven Caulker, untuk menggantikan Lallana. Saat gol ini terjadi Caulker memang tak terlibat langsung dalam proses terjadinya gol. Namun berkat postur badan yang dimilikinya yang cukup tinggi besar, hal ini membuat dirinya dijaga Per Mertesacker, pemain tertinggi di skuat Arsenal. Hal ini bisa dibilang memudahkan tugas Benteke yang menghadapi lawan yang lebih pendek (Koscielny dan Monreal).

    Kesimpulan

    Gol ketiga Liverpool bisa dibilang menunjukkan kejelian taktik Klopp dalam membaca permainan. Manajer asal Jerman tersebut menyadari timnya lemah dalam duel udara di mana kemudian ia memasukkan dua pemain bertubuh tinggi yaitu Benteke dan Caulker.

    Namun tiga gol yang bersarang ke gawang Liverpool pun perlu menjadi perhatian khusus. Sakho belum kembali pada performa terbaiknya di mana hal ini bisa menjadi salah satu titik lemah yang bisa dimanfaatkan Liverpool di pertandingan-pertandingan berikutnya.

    Tiga gol yang diciptakan Arsenal pun menjadi bukti bahwa Wenger memiliki strategi jitu dengan mengeksploitasi sisi kanan dan tengah pertahanan Liverpool. Hanya saja pada babak kedua serangannya mulai mengendur di mana kemudian harus kecolongan dan gagal membawa pulang poin penuh. Namun meskipun begitu, hasil imbang memang hasil yang pantas untuk kedua kesebelasan.


    ====

    * Dianalisis oleh @panditfootball, profil lihat di sini.

    (krs/a2s)
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game