Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Match Analysis

    Liga Inggris: Tottenham 0-1 Leicester

    Ini Cara Leicester Tundukkan Tottenham dan Tetap Tempel Arsenal

    Pandit Football Indonesia - detikSport
    Reuters/Dylan Martinez Reuters/Dylan Martinez
    Jakarta - Leicester City terus menempel Arsenal di papan atas klasemen sementara Liga Primer Inggris 2015/2016. Pada laga tengah pekan ini, Leicester sukses menundukkan tuan rumah Tottenham Hotspur 1-0.

    Berkat kemenangan tersebut, Leicester berada di posisi kedua dengan koleksi nilai 43, sama dengan nilai milik Arsenal yang berada di posisi pertama. Dengan demikian, kejutan dari Leicester belum berhenti.

    Tottenham sebenarnya tampil dengan kekuatan penuh. Mereka hanya tidak diperkuat Ryan Mason di lini tengah, namun masih bisa mengandalkan Tom Carroll untuk mendampingi Eric Dier.

    Pun begitu dengan kubu tamu. Hanya saja skuat besutan Claudio Ranieri ini memaksakan Jamie Vardy yang sempat bermasalah dengan pangkal pahanya.

    Keberhasilan Leicester menaklukkan Spurs pada laga ini tak lepas dari pertahanan mereka yang sabar menghadapi serangan. Sementara lini pertahanan mereka begitu kokoh, mereka berhasil mencuri gol melalui Robert Huth.



    Tottenham Terlalu Andalkan Serangan Sayap

    Serangan sayap menjadi andalan Tottenham pada laga ini. Kedua sayap mereka aktif menyerang dari kedua sisi pertahanan Leicester untuk berusaha melepaskan umpan-umpan silang, terutama melalui sisi kiri. Hal itu karena Danny Simpson, full-back kanan Leicester, sering membuat kekosongan di pertahanannya sendiri. Mengingat kecenderungan serangan kesebelasan berjuluk The Foxes (Si Rubah) itu melalui sisi kanan, maka Riyad Mahrez sebagai sayap kanan perlu dukungan dari Simpson.

    Bala bantuan serangan dari Simpson tidak diimbangi dengan transisi bertahan yang baik. Sehingga Erik Lamela sering berhasil mengksploitasi area tersebut, bahkan Ben Davies pun sampai bisa maju ke garis akhir sisi pertahanan tersebut.

    Kecenderungan serangan sisi kiri Tottenham itu berbeda dengan seberangnya. Cristian Eriksen dan Kyle Walker kesulitan menembus pertahanan sisi kiri Leicester. Hal tersebut karena Christian Fuchs, full-back kiri Leicester, cenderung bertahan ketimbang menyerang. Fuchs juga tidak pernah jauh dari garis tepi kotak penalti sendiri, sehingga tidak meninggalkan celah terbuka dengan Huth. Bahkan Fuchs juga berhasil melakukan dua tekel bersih pada laga tersebut.



    Kecenderungan serangan Tottenham Hotuspur (kiri) dan Leicester City (kanan). Sumber : Whoscored.

    Pertahanan Garis Rendah Leicester Sulit Ditembus Tottenham

    Leicester yang awalnya tampil terbuka mulai mengandalkan serangan-serangan balik dan bermain dengan pertahanan garis rendah. Mereka menumpuk banyak pemain di dalam kotak penalti pertahanan sendiri, bahkan seolah bermain dengan lima peman bek sejajar. Kedua full-back Leicester pun diinstruksikan masuk ke dalam kotak penalti.

    Tapi, di antara kedua full-back Leicester, hanya Simpson yang memiliki keleluasaan membantu serangan. Sehingga areanya sering menjadi incaran serangan Tottenham. Kendati demikian, kekosongan yang ditinggalkan Simpson mampu ditutupi Morgan, N'Golo Kante dan Drinkwater. Dengan tak terlalu agresif ketika melakukan tekel, Leicester berhasil meredam serangan Spurs.

    Alhasil para pemain Tottenham tidak bisa langsung begitu saja masuk ke dalam kotak penalti Leicester. Kesabaran menahan bola itu membantu mengulur waktu agar pemain lainnya mampu melakukan transisi menyerang ke bertahan dan kotak penalti Leicester rapat kembali.

    Tottenham pun cenderung lebih mengalirkan bola ke area luar kotak penalti Leicester untuk melakukan tembakan-tembakan jarak jauh. Pasalnya area tersebut sering kosong karena Drinkwater sering berada di area pertahanan lebih dalam, membuat Kante bekerja sendirian di area depan kotak penalti.

    Namun, pola pertahanan Leicester tersebut berhasil melakukan 11 kali menahan percobaan tendangan Tottenham. Selain itu, penampilan gemilang Kasper Schmeicel pun berhasil menahan tiga tendangan jarak jauh Tottenham.

    Serangan Balik Leicester yang Lebih Efektif

    Pertahanan stagnan yang dibangun Leicester membuat Tottenham melibatkan hampir semua pemainnya untuk membangun serangan. Dua bek sayap mereka, Jan Vertonghen dan Toby Alderweireld, sampa ikut naik ke setengah lapangan membantu membangun serangan. Bahkan Davies dan Vertonghen bisa melakukan kombinasi operan bola sebanyak 29 kali pada laga tersebut. Karena hal ini pula penguasaan bola Spurs mencapai 61 persen dan melakukan 350 operan tepat sasaran.



    Grafis operan Tottenham Hotspur. Sumber Fourfourtwo.

    Tapi, serangan Tottenham yang tidak efektif karena penyelesaian akhir kurang baik sering dimanfaatkan serangan balik oleh Leicester. Apalagi Leicester justru cenderung lebih baik ketika melakukan transisi dari bertahan ke menyerang.

    Leicester melakukan serangan balik melalui umpan panjang. Diimbagi dengan transisi bertahan ke menyerang yang baik. Vardy di lini depan lebih banyak melakukan pergerakan tanpa bola untuk memberikan ruang bagi rekan-rekan lainnya. Sehingga para pemain tengah Leicester bisa masuk ke dalam sepertiga akhir Tottenham yang meninggalkan celah begitu besar, khususnya di kedua sayap.

    Para pemain tengah Leicester yang masuk ke sepertiga akhir lawan sering mengancam gawang Lloris. Tercatat 10 percobaan tendangan dilepaskan Leicester dan empat antaranya dilakukan Drinkwater. Padahal pemain ini lebih sering membantu pertahanan kesebelasannya. Namun ia mampu melakukan transisi menyerang yang baik.

    Selain itu, para pemain Leicester yang berhasil naik juga karena sering mendapatkan peluang dari bola-bola mati, baik dari pelanggaran atau tendangan sudut. Gol yang didapatkan Leicester pada menit ke-82 pun melalui tendangan sudut yang bisa disundul Huth. Tottenham yang kewalahan mengahadapi serangan balik Leicester membuat tiga pelanggaran di area pertahanan sendiri, dua di antaranya dilakukan di area sebelah kiri.
    Taktik Pergantian Ranieri Nyamankan Umpan Panjang Leicester.

    Rupanya Vardy tidak teralu efektif sebagai tembok pemantul bola pada laga ini. Mengingat Leicester melancarkan serangan melalui umpan-umpan panjang dari kotak penalti. Maka kinerja Vardy hanya sampai menit ke-70 saja sebelum kemudian digantikan Leonardo Ulloa. Ranieri berharap Ulloa bisa lebih unggul duel udara ketimbang Vardy, mengingat keunggulan postur badannya.

    Sementara itu fungsi Ulloa agak berbeda dengan Vardy. Ulloa ditugaskan lebih sering beredar di sepertiga akhir pertahanan The Lilywhites. Sementara Vardy sering turun lebih jauh, mengingat intruksi pertahanan garis rendah di Leicester. Total, Ulloa melakukannya enam kali duel udara, sementara Vardy sebanyak lima kali. Namun, keduanya sama-sama memenangkan duel itu sebanyak dua kali.

    Taktik pergantian Ranieri ini juga menunjukan jika Leicester mulai bermain terbuka, walau masih mengandalkan umpan-umpan jarak jauh kepada Ulloa dalam posisi stagnan di depan. Sementara pergantian penyerang lain yakni Shinji Okazaki digantikan Andy King, membuat aliran bola di tengah Leicester lebih baik.

    King bergerak turun lebih ke bawah di area luar kotak penalti Tottenham. Di sana ia membantu mengalirkan bola antara kedua sisi. Aksinya itu meringakan tugas Kante. Sehingga Kante bisa melancarkan pressing-pressing ketat kepada pemain tengah Tottenham.

    Kesimpulan

    Permainan sabar Leicester dalam bertahan dan menyerang adalah kunci dari kemenangan atas Tottenham. Ranieri menemukan solusi kelemahan skuatnya dengan cepat. Seperti kekosongan posisi Simpson bisa ditutupi pemain lainnya. Selain itu, transisi Leicester ketika melakukan serangan balik menjadi hal penting lain untuk merepotkan pertahanan Tottenham.

    Sebetulnya Tottenham mampu menguasai pertandingan ini. Apalagi beberapa kali berhasil mengeksploitasi area depan kotak penalti dan sisi kanan pertahanan Leicester. Namun penyelesaiain akhir dan transisi bertahanan Tottenham sangat buruk pada laga kali ini.

    ====

    *dianalisis oleh @panditfootball, profil lihat di sini.



    (roz/mrp)
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game