Liga Inggris: Liverpool 0-1 Man Utd
Gagal Manfaatkan Peluang, 'Si Merah' pun Takluk
Sekali lagi, mendominasi jalannya pertandingan tidak berarti tim tersebut akan menang. Liverpool yang mendominasi Manchester United di Anfield, Minggu (17/1/2016) malam, malah takluk dengan skor 0-1.
Dominasi Liverpool tak hanya terlihat dari keunggulan penguasaan bola, tapi juga jumlah upaya tembakan. Tuan rumah sampai 19 kali melepaskan tembakan, sedangkan MU hanya tujuh kali.
Lebih unik lagi, MU mencetak gol melalui satu-satunya peluang yang mengarah ke gawang (shot on target), yang dibuat Wayne Rooney di menit 78.
Liverpool Menyia-nyiakan Babak Pertama
Ada yang berbeda dengan susunan pemain Liverpool pada laga ini. Masih memakai formasi dasar 4-3-3, namun satu pun pemain bertipikal winger. Tiga di tengah diisi Lucas Leiva, Emre Can dan Jordan Henderson, sedangkan tiga di depan diisi oleh Adam Lallana, James Milner, dan Roberto Firmino yang kembali dipasang sebagai false nine.
Jumlah tendangan Liverpool di babak pertama memang lebih sedikit jika dibandingkan dengan upaya mereka di babak kedua: 7 berbanding 12. Tapi jika melihat bagaimana proses peluang tersebut tercipta, pada babak pertama harusnya Liverpool bisa mencetak gol karena peluang-peluang yang mereka ciptakan berpotensi besar menjadi gol.
Pada menit 10 misalnya, sundulan Lallana yang berhadapan satu- satu dengan David De Gea, masih dapat diblok kiper asal Spanyol tersebut. Bola rebound disambut Firmino, namun tendangannya hanya menyamping.
Begitu juga dengan peluang Milner di menit ke-12, atau Henderson selang 18 menit kemudian. Keduanya mendapatkan peluang yang cukup matang namun tendangan mereka melenceng jauh dari sasaran.
Peluang-peluang emas tercipta berkat keberhasilan Liverpool menghindari bentrokan langsung dengan lini tengah MU yang pada laga ini dihuni Marouane Fellaini, Ander Herrera dan Morgan Schneiderlin. Umpan-umpan panjang horizontal dialirkan untuk memindahkan bola, khususnya dari kiri ke kanan.
Saat menyerang, "Setan Merah" akan menaikkan garis pertahanan mereka hingga tengah lapangan untuk menguasai area pertahanan lawan. Saat kehilangan bola, para gelandang akan merapatkan jarak antarpemain di tengah, khususnya di area dekat pemain Liverpool yang menguasai bola.
Hal ini yang membuat Liverpool agak riskan melakukan operan pendek ke tengah. Apalagi Herrera terlihat ditugaskan untuk terus menjaga Lucas Leiva. Lucas memang sering menjadi pengirim umpan panjang Liverpool dari belakang ke flank ataupun ke jantung pertahanan lawan. Salah satu kelengahan saja, bisa menjadi peluang seperti peluang Lallana pada menit ke-10 yang mendapatkan umpan panjang dari Lucas.
Kerapatan gelandang MU ini terbilang kurang berhasil pada babak pertama karena Liverpool memainkan tempo cepat dengan umpan-umpan horizontal yang sukses memindahkan arah serangan dengan cepat. Kerapatan gelandang MU ini pula yang memunculkan area kosong ketika bola berhasil dikirimkan melalui perpindahan.
Sisi kiri pertahanan MU menjadi incaran Liverpool kala menyerang. Hal ini dikarenakan Matteo Darmian sering bekerja sendirian. Martial, yang ditugaskan menjadi motor serangan dari sayap kiri, sesekali meski melakukan trackback. MU sendiri begitu mengandalkan sisi kiri ketika menyerang, yang membuat Martial jarang terlibat membantu pertahanan.
[Grafik operan United yang condong ke kiri, mengandalkan Martial—MU menyerang ke arah bawah)]
Squawka mencatatkan dari tujuh peluang yang diciptakan Liverpool pada babak pertama, empat di antaranya berasal dari serangan yang dimulai dari kiri kemudian dipindahkan ke kanan. Strategi ini cukup efektif, namun bermasalah di penyelesaian akhir Liverpool.
Perubahan Strategi Louis van Gaal
Sepanjang babak pertama, tim tamu hanya dua kali mendapatkan peluang. Ketika MU begitu kesusahan menciptakan peluang, Liverpool berkali-kali memperoleh peluang emas. Hanya saja tumpulnya lini serang Liverpool membuat tim lawan tak kebobolan.
Di babak kedua Liverpool sebenarnya memiliki lebih banyak peluang. Namun peluang-peluang itu tak semembahayakan seperti di babak pertama, kecuali peluang yang diciptakan Emre Can pada menit ke-66. Hal ini terjadi karena terdapat perubahan strategi yang dilakukan oleh Louis van Gaal. Jika pada babak pertama MU terlihat menggunakan garis pertahanan tinggi untuk berupaya menguasai jalannya pertandingan, babak kedua garis pertahanan mereka lebih rendah.
Garis pertahanan rendah MU ini yang membuat Liverpool pun mengubah gaya serangan mereka. Sisi kiri United tak bisa lagi dieksploitasi. Sisi kanan pertahanan MU mulai lebih terlihat menjadi pintu masuk bagi Liverpool untuk menuju kotak penalti.
Namun yang paling memungkinkan dalam menghadapi skema bertahan MU pada babak kedua adalah dengan melepaskan tendangan-tendangan jarak jauh. Dari total 12 tembakan yang dilepaskan Liverpool di babak kedua, delapan di antaranya berasal dari luar kotak penalti. Sayangnya tendangan-tendangan dari luar kotak penalti ini seringkali melenceng jauh, kecuali satu tendangan Emre Can yang berhasil ditepis De Gea.
Dengan skema bertahan seperti ini, umpan-umpan panjang pada Rooney dan Martial yang menunggu di depan menjadi opsi yang dipilih MU untuk melancarkan serangan balik. Dan dari skema serangan balik inilah MU mendapatkan sepak pojok yang kemudian menjadi gol.
Mendapatkan bola dari tengah, Rooney kemudian mengoper pada Schneiderlin di tengah. Gelandang asal Prancis itu pun tak berlama-lama dengan bola dengan mengirim operan jauh ke Martial flank kanan pertahan Liverpool. Dari area tersebut, umpan silang diblok pertahanan Liverpool yang panik menghadapi serangan balik MU.
Sementara itu, Liverpool memiliki catatan yang buruk soal menghadapi skema bola mati lawan. Menurut data yang dikumpulkan Liverpool Echo, 12 dari 28 gol yang bersarang ke gawang Liverpool musim ini di Liga Primer berasal dari kegagalan mengantisipasi skema sepak pojok lawan.
Menghadapi MU pun ternyata kelemahan Liverpool ini kambuh. Daley Blind mengirimkan umpan pendek pada Juan Mata, di mana kemudian dia mengirimkan umpan silang ke kotak penalti yang disambut Fellaini. Tandukan Fellaini membentur mistar gawang, namun bola rebound mendarat ke kaki Rooney yang berdiri bebas tanpa pengawalan.
Gol ini juga menjadi salah satu gambaran fungsi Fellaini yang sebenarnya pada laga ini. Sebelum menanduk bola yang membentur mistar gawang (terhitung sebagai assist), peran Fellaini di lini tengah MU begitu minim. Dari enam upaya tekel, hanya satu yang berhasil. Gelandang asal Belgia ini pun tak sekalipun mencatatkan intersep. Namun itu semua tak berarti karena ia begitu berguna saat menyambut umpan silang Mata yang kemudian menjadi gol kemenangan United yang diciptakan Rooney.
Kesimpulan
Liverpool sebenarnya bermain sangat baik pada babak pertama. Peluang-peluang emas banyak tercipta. Namun karena penyelesaian akhir yang buruk, mereka harus menerima kekalahan yang seharusnya bisa mereka hindari.
Di babak kedua pun skema serangan Liverpool masih terlihat begitu cair. Hal ini bisa dilihat dari keengganan Klopp mengganti pemain meski masih ada Christian Benteke di bangku cadangan. Benteke baru dimasukkan tak lama setelah gol Rooney.
Strategi alternatif Klopp lain pun masih sama seperti laga melawan Arsenal, memasukkan Steven Caulker yang berposisi sebagai bek untuk dimainkan sebagai penyerang. Baru dimasukkan pada menit ke-90, perubahan ini tak berdampak apa-apa bagi Liverpool.
Sementara itu bagi MU, mereka berhasil menang meski sebenarnya permainan mereka tak sebaik Liverpool. Ini tentunya tak lepas dari strategi Van Gaal, khususnya strategi pada babak kedua, yang memfokuskan para pemainnya pada lini pertahanan (strategi yang sama dilakukan Arsene Wenger kala sebelumnya berhasil mencetak tiga gol ke gawang Liverpool).
Meski menang, namun strategi Van Gaal ini sebenarnya riskan menemui kegagalan. Peluang-peluang emas didapatkan Liverpool dengan mudah. Jika lawan yang dihadapi bukan Liverpool yang tumpul di lini depan dan David De Gea tak bermain baik dengan mencatatkan empat penyelamatan, mungkin MU akan dengan mudahnya kebobolan seperti laga melawan Newcastle United, misalnya.
====
* Dianalisis oleh @panditfootball, profil lihat di sini.







