Liga Italia: AC Milan 2-0 Fiorentina
Serangan Balik yang Membungkam Agresivitas La Viola
AC Milan menjadi kesebelasan pertama yang mengalahkan Fiorentina dengan clean sheet di Serie-A musim ini. Milan berhasil mengalahkan Fiorentina dengan skor 2-0 di Stadion San Siro, Senin (18/1) dinihari WIB.
Kesebelasan tamu dikejutkan oleh gol cepat Carlos Bacca yang lolos dari jebakan offside saat pertandingan baru berjalan empat menit. Di pengujung babak kedua Kevin-Prince Boateng menggandakan kemenangan Milan.
Kedua gol tersebut dicetak Milan dengan memanfaatkan pertahanan garis tinggi Fiorentina, lewat serangan dari sisi kiri. Pertandingan sendiri berjalan cepat dan saling menekan antara tuan rumah dan tamu.
Beberapa perubahan komposisi strategi terjadi. Sinisa Mihajlovic menyingkirkan formasi 4-3-3 atau 4-3-1-2, yang digantinya menjadi 4-4-2 . Tapi Mereka masih tidak bisa diperkuat Jeremy Menez karena cedera. Kendati demikian, Mario Balotelli sudah bisa dimainkan dan masuk pada menit ke-86 menggantikan Bacca.
Sementara Fiorentina masih mengandalkan formasi 3-4-2-1. Tapi mereka tidak bisa diperkuat Milan Badelj karena cedera dan Gonzalo Rodriguez akibat hukuman kartu. Posisi Badelj digantikan Mario Suarez dan Gonzalo diisi oleh Nenad Tomovic. 
Fiorentina Bermain Terlalu Agresif
Seperti pertandingan biasanya, Fiorentina menerapkan pertahanan garis tiggi. Tapi Milan berhasil mencuri kesempatan pertama ketika Bacca lolos dari jebakan offside. Saat itu terjadi kekeliruan antara Facundo Roncaglia dengan Tomovic. Giacomo Bonaventura berhasil melepaskan umpan terobosan kepada Bacca saat Roncaglia yang mencoba naik menghadang bola. Kemudian bola yang diterima Bacca disertai aksi individunya berhasil dikonversi menjadi gol.
Fiorentina semakin agresif ketika tertinggal satu gol di awal pertandingan. Mereka bermain dengan tempo yang lebih cepat daripada biasanya. Tempo cepat itu diiringi dengan operan-operan yang tidak kalah cepat, namun para pemain Fiorentina sering kehilangan bola di sepertiga akhir pertahanan Milan.
Posisi tiga bek Fiorentina yang terlalu tinggi ini membuat pasukan Paulo Sousa kelimpungan saat menghadapi umpan-umpan panjang Milan. Posisi Davide Astori, Roncaglia dan Tomovic yang terlalu naik, terkadang kerap memaksa kiper Ciprian Tatarusanu meninggalkan sarangnya untuk menghadang lawan.
Hal itu membuat Milan sangat nyaman menerapkan umpan jauh selama pertandingan. Kendati umpan jauh tersebut banyak yang gagal, namun beberapa di antaranya berhasil menjadi penyebab Milan bisa masuk ke sepertiga akhir Fiorentina.
Selain itu, pertahanan sisi kanan Fiorentina kerap meninggalkan celah begitu besar. Federico Bernadeschi terlalu difokuskan untuk menyerang dan tidak melakukan transisi bertahan dengan baik. Padahal, ia tidak mampu menaklukan Luca Antonelli ketika menyerang melalui sisi kanan. Kendati demikian, permainan agresif Fiorentina cukup sering membuat Milan kehilangan bola. Sehingga I Rossoneri, julukan Milan, cuma menguasai bola 31 persen pada pertandingan tersebut.
Milan Berhasil Mengunci Dua Sayap Fiorentina
Ketika Fiorentina semakin agresif menyerang, Milan menghadapinya dengan santai. Tekel agresif dilakukan ketika pemain Fiorentina yang menguasai bola masuk ke area Milan. Hanya Bernardeschi yang sepanjang pertandingan mendapatkan penjagaan ketat oleh Luca Antonelli.
Namun Fiorentina meladeninya dengan umpan-umpan pendek cepat. Sayangnya, aliran bola Fiorentina seolah hanya berputar-putar saja di lini tengah atau belakang dari tiga beknya yang naik ke setengah lapangan.
Fiorentina membutuhkan waktu yang lama untuk mengalirkan bola ke sepertiga akhir pertahanan Rossoneri. Mereka mencari kesempatan untuk melepaskan umpan terobosan ke dalam kotak penalti lawan. Milan menumpuk para pemainnya di lini belakang dan tengah. Dua pemain sayap Milan yang diperankan Bonaventura (kiri) dan Keisuke Honda (kanan), sering turun untuk membantu pertahanan. Bahkan M'Baye Niang juga terkadang turun membantu pertahanan kanan Milan. Sementara kedua full-back Milan lebih fokus untuk bertahan dan jarang naik membantu serangan.
Kecenderungan serangan Fiorentina ditujukan kepada sisi kanan pertahanan Milan saat itu. Fiorentina mengandalkan mobilitas Marcos Alonso di sisi kiri. Sementara itu sisi kanan Viola, julukan Fiorentina, seolah tidak hidup.
Awalnya, mereka sangat berharap kepada agresivitas serangan Bernadeschi. Tapi ia tidak mampu berkutik. Mihajlovic mengintruksikan Antonelli untuk terus menjaga (man-to-man marking) Bernadeschi. Ke manapun Bernadeschi bergerak, maka di situ ada Antonelli. Bahkan Bernadeschi berhasil tujuh kali dihentikan Antonelli.
[Grafis tekel Luca Antonelli kepada Federico Bernadeschi. Sumber: Squawka]
Selain itu, Bernadeschi yang sudah mentok menyerang pun tidak mengimbangi transisi bertahan dengan baik. Sehingga sisi kanan pertahanan Fiorentina-lah yang sering dijadikan sasaran Rossoneri untuk melancarkan serangan balik. Kekosongan itu kerap dieksploitasi oleh Antonelli, Bonaventura, Bacca, bahkan Boateng yang mencetak gol kedua pada menit ke-88.
Boateng berdiri bebas di blind area Roncaglia di pertahanan kanan Viola. Boateng berdiri di dekat touchline bahkan dalam waktu cukup lama. Seharusnya Bernadeschi adalah pemain yang mengawal posisi Boateng tersebut. Biasanya, peran itu dilakukan Jakub Blaszczykowski yang memiliki transisi bertahan dan menyerang cukup baik. Tapi pertandingan ini ia dibangkcadangkan karena Paulo Sousa lebih memilih Bernadeschi.
Bahkan Blaszczykowski tidak diturunkan oleh Sousa. Mungkin Sousa panik karena ketertinggalan, sehingga lebih memilih memasukan Giuseppe Rossi serta Khouma Babacar untuk lini serangnya dan berupaya mengejar ketertinggalan secepat mungkin.
Penyelesaian Akhir Fiorentina yang Buruk
Honda dan Bonaventura sudah mulai kewalahan ketika harus naik turun membantu pertahanan dan serangan Milan. Hal ini menyebabkan serangan Fiorentina melalui sayap menjadi semakin baik. Astori dan Roncaglia naik setengah lapangan, Borja Valero dan Josip Ilicic juga turun menjemput bola di kedua sayap serangan Fiorentina. Akibatnya, Milan terkurung selama 10 menit menjelang berakhirnya babak pertama.
Serangan Viola pun beberapa kali berhasil masuk ke sepertiga akhir pertahanan Milan. Tapi penyelesaian akhir Fiorentina sangat buruk saat itu. Seluruh enam tendangan di dalam kotak penalti melenceng. Dua percobaan pun berhasil ditahan pertahanan Milan. Memang seluruh percobaan tendangan Fiorentina tersebut tidak lepas dari gangguan para pemain Milan. Mereka menerapkan pressing ketat yang membuat Fiorentina tidak bisa leluasa mengkonversi peluangnya menjadi gol.
Bahkan, sejak masuknya Juraj "Kuco" Kucka pada menit ke-69, Milan lebih sering menempatkan lima pemain di dalam kotak penalti. Sehingga tidak ada gol yang tercipta dari 14 percobaan tendangan yang dilakukan Fiorentina. Sementara Rossoneri yang mengandalkan serangan balik, berhasil mencetak dua gol dari empat percobaan tendangannya.
Kesimpulan
Milan berhasil memanfaatkan tiga bek Fiorentina yang bertahan dengan garis tinggi. Pertahanan sisi kanan Viola tidak diimbangi transisi bertahanan dengan baik, jarang ada bantuan dari Bernadeschi untuk membantu Roncaglia sehingga Milan berhasil mengeksploitasinya dengan memanfaatkan lebar lapangan sisi kanan Fiorentina.
Sepertinya permainan Milan berada di luar dugaan Sousa. Ketika diperkirakan akan main terbuka karena bermain sebagai tuan rumah, namun mereka justru hanya mengandalkan serangan balik dengan pertahanan yang kuat. Tak ada pemain sayap di lini penyerangan yang bisa melakukan trackback dengan baik membuat sisi sayap Fiorentina kewalahan menghadapi serangan balik Milan.
====
* Dianalisis oleh @panditfootball, profil lihat di sini.








