Liga Italia: Juventus 1-0 AS Roma
Taktik Menyerang yang Tepat dari Allegri
Laga melawan AS Roma dinihari tadi (25/1) berakhir dengan amat menggembirakan bagi Juventus. Tak hanya sukses meraih tiga angka, "Si Nyonya Tua" juga berhasil membalas kekalahan mereka di Olimpico di putaran pertama pada agustus lalu.
Kemenangan itu juga melanjutkan tren kemenangan mereka menjadi menang 11 laga secara beruntun.
Bermain dengan skuat utama, Juventus berhasil mengungguli tim tamu dengan skor 1-0 melalui gol yang dicetak Paulo Dybala pada menit 77. Meski hanya menang tipis, kenyataan di lapangan menunjukkan betapa superiornya Juventus. Dominasi "Si Zebra" yang sangat kentara di laga ini, hingga batas tertentu, memperlihatkan pencapaian 10 laga terakhir yang dituntaskan dengan kemenangan.
Memanfaatkan Gelandang Bertahan untuk Kuasai Lini Tengah
Juventus menggunakan formasi dasar 3-5-2 yang mereka gunakan dalam 10 laga sebelumnya, sementara AS Roma menggunakan formasi 3-4-1-2, formasi yang pertama kali mereka gunakan di musim ini.
Untuk membalaskan kekalahan di putaran pertama, Allegri punya stok pemain yang di laga pertama belum bisa diturunkan, yaitu dua gelandang bertahan Claudio Marchisio dan Sami Khedira. Tak heran jika duel perebutan bola di lini tengah kali ini menjadi lebih sengit.
Duet Marchisio dan Khedira punya gaya yang tidak terlalu berbeda jauh dengan duet gelandang bertahan milik Roma yang diturunkan, Radja Nainggolan dan William Vainquier. Dua pasangan itu sama-sama punya komposisi seorang bertipe agresif dan satunya lagi cenderung lebih taktis dan elegan.
Dalam praktiknya, Marchisio lebih banyak melakukan aksi defensif ketimbang Khedira. Ia diberi peran dan tugas, salah satunya, untuk ikut aktif merusak aliran bola dari lini tengah Roma menuju Mohamed Salah yang dipasang di lini depan. Wajar jika Marchisio lebih banyak terlibat duel dengan pemain Roma ketimbang Khedira yang di laga ini berperan agak sedikit ofensif. Gelandang yang bergabung dengan Juventus sejak tahun 2006 ini bahkan membuat tujuh kali tekling dan empat kali intersep sepanjang laga. Tak hanya itu, ia juga kerap meng-cover posisi tiga bek Juventus yang sering naik ke depan.
Tugas untuk memutus aliran bola Roma yang berhasil dilakukan dengan baik oleh Marchisio inilah yang pada gilirannya memudahkan Khedira untuk membantu serangan. Khedira juga bermain apik dalam membagi bola dan mencari ruang. Kinerja Khedira yang leluasa naik ke depan, karena fungsi bertahan amat baik diperankan Marchisio, yang terbukti memudahkan kerja Paul Pogba yang memang bertindak sebagai gelandang serang.
Sisi Sayap AS Roma Dieksploitasi Juventus
Spaletti cukup memahami bahaya membiarkan sisi sayap Juventus leluasa bergerak. Setidaknya ia berhasil meredam serangan Juventus dari sisi kiri. Jika dalam 10 laga terakhir sisi kiri Juventus berkontribusi menghasilkan serangan sebanyak 37 % per laga, kali ini Roma berhasil mereduksinya menjadi hanya 32%.
Tapi, Juventus tak cuma sisi kiri. Mereka juga punya pemain-pemain berbahaya yang bergerak dari sisi kanan. Kali ini, Allegri berhasil memaksimalkan sisi kanan ketika sisi kiri Juventus relatif agak terhambat. Kala Patrice Evra tertahan di belakang oleh Alessandro Florenzi, Juventus masih memiliki Lichsteiner yang, kadang bersama Khedira dan Dybala, terus mengeksploitasi sayap kiri Roma yang diisi Lucas Digne.
[Grafis umpan Juventus yang kebanyakan diarahkan ke sayap kiri. Sumber: Statszone]
Meski demikian, dampak eksploitasi serangan yang dilakukan pemain Juventus ke sayap kiri Roma tak terlalu berdampak signifikan di babak pertama. Sebab Lichsteiner memang bukan tipe pemain sayap yang kerap menusuk hingga ke dekat gawang seperti Evra. Demikian halnya dengan Khedira yang tak seberapa piawai dalam menggocek bola. Sisi kanan pun hanya mampu membuat satu peluang.
Apalagi sisi kiri Juventus sebenarnya tetap bermain efektif. Kendati sedikit bisa direduksi, namun sisi kiri Juventus mampu membuat delapan peluang, termasuk yang menjadi gol oleh Dybala.
Umpan Jauh Roma Tak Berfungsi
Memainkan Salah dan Edin Dzeko di lini depan membuat peran bek sayap dan gelandang Roma menjadi lebih sulit. Pasalnya, pressing tinggi yang dilakukan Juventus sejak area pertahanan membuat para pemain Roma kesulitan memperpendek jarak dengan dua pemain lini serang yang diberi kebebasan bergerak oleh Spaletti itu.
Beberapa kali pemain Roma mencoba membuka celah lewat umpan-umpan hingga tengah lapangan, namun selalu gagal ketika memasuki pertahanan Juventus. Dengan berbagai cara, dari menekan ruang maupun man to man marking, Juventus benar-benar tak memberi ruang kepada Roma untuk memasuki sepertiga akhir pertahanan Juventus.
Roma akhirnya tak punya pilihan lain selain melakukan umpan-umpan jauh dengan menjadikan Dzeko sebagai target. Tubuh Dzeko yang tinggi besar diharapkan dapat menahan umpan-umpan panjang sedemikian rupa guna menunggu rekan-rekannya bergerak naik.
Tapi konsistensi dan kedisiplinan trio bek Juventus (Giorgio Chiellini, Andrea Barzagli, maupun Leonardo Bonucci) kerap membuatnya gagal mendapatkan bola atau kehilangan bola. Beberapa kali Dzeko gagal memenangkan duel udara ataupun kalah cepat saat perebutan bola. Statszone bahkan mencatat bahwa dari 43 umpan panjang yang dilakukan pemain Roma, hanya 19 kali yang tepat menemui sasaran.
Tak hanya Edin Dzeko yang gagal memainkan peranannya, namun Salah juga demikian. Pemain yang berasal dari Mesir ini bahkan hanya menerima 11 operan di daerah permainan Juventus. Bola-bola yang diarahkan kepada dirinya (nyaris) sselalu dipotong oleh Marchisio maupun Khedira.
Memaksimalkan Umpan Pendek untuk Masuk Kotak Penalti
Dibandingkan Roma, serangan Juventus jelas lebih banyak dan lebih variatif. Hal ini berbeda dengan pertemuan pertama yang monoton karena melulu mengandalkan Pogba. Pada laga yang berlangsung di putaran pertama itu, serangan Juventus lumayan hidup hanya ketika melibatkan Pogba. Jika tidak, serangan akan patah dengan prematur.
Namun, dalam pertandingan ini Pogba tidak perlu bekerja terlalu keras karena tugas dan peranannya sudah dibagi ke pemain-pemain yang lain. Kehadiran Marchisio dan Khedira amatlah signifikan dalam meringankan beban Pogba. Berdasarkan data Squawka, tujuh pemain Juventus dalam laga ini berhasil membuat 11 percobaan mencetak gol, termasuk gol Paulo Dybala yang berawal dari umpan terobosan Paul Pogba.
Yang menarik, dari 11 percobaan yang dibuat Juventus, hanya tiga yang berasal dari umpan panjang. Artinya, delapan peluang Juventus lainnya lahir dari permainan umpan pendek. Tidaklah mengherankan jika di laga ini saja Juventus telah membuat 532 umpan pendek yang sukses.
Selain mengandalkan umpan-umpan pendek, pergerakan tanpa bola pemain Juventus juga terbilang istimewa. Nyaris tak ada pemain yang melakukan miskomunikasi. Hal tersebut yang tidak diantisipasi oleh Spaletti. Pemain Roma, utamanya ketika berada di 1/3 terakhir daerah permainannya sendiri, hanya fokus kepada bola dan kerap abai memperhatikan pergerakan tanpa bola pemain Juventus. Inilah faktor yang menyebabkan mengapa Juventus relatif gampang menembus 1/3 daerah permainan terakhir Roma dan sanggup melepaskan delapan tembakan di dalam kotak penalti.
Padahal Giallorossi bukannya kekurangan pemain di jantung pertahanan. Terkadang mereka menempatkan sampai lima pemain di daerah pertahanan sendiri. Namun kegagalan dalam mengantisipasipergerakan tanpa bola para pemain Juve, kuantitas pemain belakang di dalam kotak penalti menjadi kurang signifikan.
[Gol Juventus yang berawal dari umpan pendek Pogba ke Dybala yang melakukan pergerakan tanpa bola]
Kesimpulan
Kemenangan Juventus atas Roma bukan sekadar keberhasilan Allegri dalam mengantisipasi cara bermain tim lawan yang sempat memilih mengirim umpan-umpan panjang. Allegri hanya perlu memerintahkan trio pemain bertahannya untuk terus bermain rapat, bergantian mengawal ketat Dzeko dan mengawasi pergerakan Salah. Begitu Dzeko berhasil dimatikan, maka opsi umpan-umpan panjang Roma pun dengan sendirinya bisa dilemahkan.
Dalam hal penyerangan, kemenangan ini juga buah kejelian Allegri. Dengan tepat ia memilih dan memerintahkan para pemainnya untuk melakukan umpan pendek dan pergerakan tanpa bola ketika memasuki 2/3 akhir pertahanan Roma. Sialnya, Spaletti dan para pemain bertahan Roma gagal mengantisipasi cara bermain Juventus ini.
====
* Dianalisis oleh @panditfootball, profil lihat di sini.







