Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Match Analysis

    Liga Champions: Juventus 2-2 Bayern

    Perubahan Strategi Allegri Selamatkan Juventus dari Kekalahan

    Pandit Football Indonesia - detikSport
    Reuters/Giorgio Perottino Reuters/Giorgio Perottino
    Jakarta -

    Juventus bermain imbang 2-2 dengan Bayern Munich pada laga leg I babak 16 besar Liga Champions, Rabu (24/2) dini hari WIB. Suksesnya Juventus menyamakan kedudukan tak lepas dari perubahan jitu yang dilakukan pelatih mereka, Massimiliano Allegri.

    Kubu tuan rumah sempat tertinggal dua gol lebih dulu lewat gol Thomas Mueller dan Robert Lewandowski, namun gol Paulo Dybala dan Stefano Sturaro berhasil menyelematkan Juventus dari kekalahan.

    Hasil imbang sebenarnya cukup tak terduga jika melihat apa yang terjadi pada babak pertama. Bayern, meski tampil di kandang lawan, tampil mendominasi permainan. Penguasaan bola sendiri Bayern unggul 66% berbanding 44%. Bahkan pada pertengahan babak pertama, penguasaan Bayern hingga 72%.

    Namun apa yang dilakukan Allegri pada babak kedua, berhasil mengubah jalannya pertandingan. Perubahan yang ia lakukan selain membuat Juve berhasil keluar dari tekanan, membuat Juve mencetak dua gol, bahkan nyaris membalikkan keadaan.



    Bayern Munich Membombardir Lewat Sayap

    Bayern Munich tampil dengan skuat pincang di lini pertahanan. Sejumlah bek tengah andalan seperti Holger Badstuber, Jerome Boateng, dan Javi Martinez absen karena cedera. Sementara Mehdi Benatia baru pulih dari cedera sehingga belum cukup fit bermain sejak menit pertama. Alhasil, Bayern memasang Joshua Kimmich dan David Alaba sebagai duet bek tengah.

    Duet bek ini sempat mendapatkan sorotan pada laga Bayern menghadapi Augsburg. Meski kala itu menang, lini pertahanan Bayern cukup kewalahan menghadapi bola-bola udara yang dilepaskan Augsburg. Kimmich, yang memiliki tinggi 176cm, jadi salah satu alasan mengapa lini pertahanan Bayern kala itu kerepotan dan akhirnya kebobolan satu gol.

    Karenanya, Pelatih Bayern, Pep Guardiola, menghindari lini pertahanannya mendapatkan serangan demi serangan dengan berusaha menguasai dan mendominasi jalannya pertandingan. Skuat asuhan Pep tersebut terus memberikan pressing agresif sejak lini pertahanan Juve untuk mengganggu Juve membangun serangan.

    Setiap pemain Juve yang menguasai bola langsung mendapatkan gangguan dari para pemain Bayern. Dengan garis pertahanan tinggi, aliran bola serangan Juve dari belakang pun cukup tersendat. Bahkan Kimmich dan Alaba selalu berhasil menghentikan serangan Juve sebelum melewati garis tengah lapangan.



    Heatmap Kimmich dan Alaba yang dominan di area pertahanan Juventus

    Penguasaan bola Bayern pun dipermudah dengan cara bermain Juve pada babak pertama yang bermain lebih sabar saat memerankan garis pertahanan rendah. Dengan pressing yang tak begitu agresif dan serangan balik Juve yang tak berjalan membuat Bayern semakin nyaman menguasai jalannya pertandingan.

    Bayern sendiri menyerang lewat kedua sayap mereka yang dihuni Douglas Costa di kiri dan Arjen Robben di kanan. Baik bola yang berhasil dari serangan Juventus maupaun bola skema serangan dari belakang, pasti selalu dialirkan ke kedua sayap.

    Skema serangan sayap ini diakhiri dengan umpan silang ke kotak penalti Juventus. Tercatat Bayern melepaskan 33 umpan silang pada laga ini dengan yang berhasil menjadi peluang sebanyak 13 kali. Satu gol Bayern pun tercipta lewat serangan sayap ini, gol pertama yang diciptakan Mueller.



    Proses terjadinya gol Mueller (sumber: Squawka)

    Gol kedua Bayern yang dilesakkan Robben memang tak tercipta lewat skema umpan silang. Namun serangan balik yang menjadi proses terjadinya gol ini memperlihatkan bahwa serangan Bayern memang diakhiri ke sayap. Robben yang berada di sayap kanan, kemudian menggiring bola ke tengah dan melepaskan tembakan placing.

    Respons Allegri yang Jitu Atas Tak Berjalannya Rencana

    Saat Bayern menguasai pertandingan pada babak pertama, Bayern diuntungkan dengan gaya bertahan Juve yang memainkan garis pertahanan rendah. Garis pertahanan rendah sendiri dilakukan untuk menghindari para pelari cepat Bayern dalam diri Douglas Costa dan Robben.

    Rencana awal Allegri itu juga terlihat dari formasi dasar Juve yang menggunakan 4-4-2 flat. Empat gelandang sejajar berada di depan empat bek yang juga berdiri sejajar. Tak lupa Dybala dan Mandzukic berada di area pertahanan untuk melancarkan serangan balik.



    Paul Pogba ditempatkan sebagai gelandang sayap kiri sementara di kanan ditempati Juan Cuadrado. Kecua pemain ini bertugas membantu Patrice Evra, bek kiri, dan Stephan Lichtsteiner, bek kanan, untuk meredam Douglas dan Robben.

    Meskipun begitu, kemampuan individu Douglas dan Robben membuat lini sayap Juve tetap mampu diekslpoitasi Bayern. Beruntung duet bek tengah Juve, Leonardo Bonucci dan Andrea Barzagli, tampil lugas dan disiplin dengan mencatatkan 14 sapuan untuk meredam umpan-umpan silang yang dilepaskan Bayern.

    Menggunakan gaya bertahan seperti ini membuat serangan balik menjadi pilihan Allegri untuk anak asuhnya merepotkan lini pertahanan Bayern. Namun penampilan baik gelandang Bayern yang juga mantan pemain Juventus, Arturo Vidal, membuat serangan Juve cepat terputus sebelum memasuki sepertiga akhir. Belum lagi penampilan gemilang Kimmich dan Alaba kala menaikkan garis pertahanan mereka.

    Penampilan buruk Juventus pada babak pertama ini disinyalir karena Claudio Marchisio yang mengalami cedera pada babak pertama ini. Pada babak kedua, usai turun minum, gelandang timnas Italia tersebut digantikan oleh gelandang asal Brasil, Hernanes.

    Masuknya Hernanes ini mendukung perubahan strategi Juventus yang lebih agresif di babak kedua. Saat tak menguasai bola, lini pertahanan Juventus tak lagi memainkan garis pertahanan rendah dan dengan sabar menunggu datangnya serangan. Pada babak kedua, Allegri menginstruksikan para pemainnya untuk meladeni pressing Bayern dengan gaya pressing yang serupa.

    Strategi ini membuahkan hasil ketika pada menit ke-63 Kimmich melakukan kesalahan kontrol bola karena tekanan yang diberikan Dybala. Kontrol bolanya yang tak sempurna membuat bola bergulir ke kaki Mandzukic. Saat itulah Mandzukic memberikan operan pada Dybala yang berdiri bebas, yang kemudian mampu menaklukkan Manuel Neuer.

    Sementara Guardiola masih belum mengubah strateginya karena masih unggul penguasaan bola dan skor masih unggul 2-1 bagi Bayern, Allegri merespons situasi tersebut, di mana Bayern mulai tak nyaman ketika menguasai bola, dengan memasukkan Stefano Sturaro untuk gantikan Sami Khedira enam menit usai gol pertama Juve dan memasukkan Alvaro Morata pada menit ke-74 untuk gantikan Dybala. Masuknya kedua pemain ini membuat Juve mengubah formasinya menjadi 4-3-3.

    Hernanes diposisikan sebagai regista di depan duet bek tengah Juventus. Sementara Pogba dan Sturaro bermain sebagai box-to-box midfielder untuk mendukung pressing yang mulai diperagakan Juve pada babak kedua. Kecepatan dan kemampuan merebut bola yang dimiliki Sturaro memang lebih baik dari Khedira.

    Morata, meski menggantikan Dybala, terdapat perbedaan area bermain dari keduanya. Jika Dybala lebih sering beroperasi di depan kotak penalti, Morata bermain lebih melebar, khususnya di sisi sebalah kiri. Dengan perubahan-perubahan ini, Allegri jelas bernafsu untuk mengejar ketinggalan.



    Strategi ini membuahkan hasil pada menit ke-76. Mandzukic yang menerima bola di depan kotak penalti lantas memberikan umpan lambung ke sisi kanan pertahanan Bayern tempat area bermain Morata. Dengan lawan yang dihadapi oleh Morata adalah Lahm, Morata dengan leluasa menyundul dan mengarahkan bola ke kotak penalti. Dari situ, bukan Mandzukic yang menyambut bola, melainkan Sturaro yang muncul dari belakang.



    Situasi sebelum Morata memberikan assist pada Sturaro

    Pada gambar di atas terlihat Mandzukic yang menerima bola di depan kotak penalti berhasil memancing duet bek tengah Bayern untuk mengikutinya. Peran Mandzukic ini berhasil mengalihkan perhatian bek tengah Bayern di mana kemudian Sturaro masuk dengan cepat ke kotak penalti dari lini kedua.

    Gelandang cepat dibutuhkan bagi serangan Juventus untuk mengakomodasi perubahan strategi ini. Mandzukic yang memiliki kecepatan mumpuni tak bisa berperan ganda sebagai finisher sekaligus pemantul. Belum lagi sebelumnya Pogba dan Khedira area bermainnya lebih middle third, hampir tak pernah masuk hingga kotak penalti karena keterbatasan kecepatan yang dimiliki keduanya.

    Karenanya memasukkan Sturaro menjadi krusial bagi perubahan strategi Allegri. Belum lagi keputusan Allegri yang lebih memilih untuk mengganti Dybala, yang telah mencetak gol, ketika memasukkan Morata. Mandzukic yang bisa bermain sebagai pembagi bola menjadi alasan mengapa penyerang asal Kroasia tersebut tak digantikan meski tak mencetak gol pada laga ini.

    Kesimpulan

    Hasil imbang 2-2 mungkin tak terlalu menguntungkan Juventus karena mereka berstatus tuan rumah. Namun tetap saja kredit khusus patut diberikan pada Allegri yang berhasil memperbaiki kesalahannya pada babak pertama dengan sejumlah pergantian pemain dan strategi pada babak kedua.

    Sebenarnya jika melihat penampilan Juve pada babak kedua, mereka pun sebenarnya mampu menandingi superioritas Bayern Munich. Hanya saja di awal laga, Allegri bermain aman dengan garis pertahanan rendah untuk menghindari kebobolan lebih banyak.

    Atas apa yang terjadi pada leg pertama di Juventus Stadium ini, leg kedua nanti jelas akan lebih menarik. Selain Juve tak akan membiarkan hasil imbang 0-0 dan 1-1, Bayern tentunya akan bermain lebih percaya diri di kandang mereka, Allianz Arena. Permainan terbuka dari keduanya bisa saja sudah tersaji sejak babak pertama dimulai.

    ====

    *dianalisis oleh @panditfootball, profil lihat di sini.



    (roz/din)
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game