Liga Champions: Chelsea 1-2 PSG
Menit ke-60 yang Mengubah Nasib The Blues
Chelsea harus tersingkir dari Liga Champions. Pada leg kedua babak 16 besar, Kamis (10/3) dinihari WIB, Chelsea yang menjadi tuan rumah kembali takluk seperti pada leg pertama dari Paris Saint-Germain dengan skor 1-2, sehingga agregat menjadi 2-4.
Chelsea sebenarnya bermain cukup percaya diri di awal laga dan cukup merepotkan PSG pada babak pertama. Bahkan, meski tertinggal lebih dulu melalui gol Adrien Rabiot pada menit ke-16, skuat besutan Guus Hiddink tersebut mampu menyamakan kedudukan pada menit ke-27 melalui gol Diego Costa.
Setelah skor imbang 1-1, Chelsea berada di atas angin dengan sejumlah peluang yang mereka ciptakan. Namun ada beberapa hal yang kemudian membuat mereka akhirnya kebobolan oleh Zlatan Ibrahimovic pada menit ke-67 hingga akhirnya tak mampu mengejar ketinggalan dan tersingkir.
Chelsea Merepotkan Lini Tengah PSG dengan Pressing
Pendekatan gaya bertahan berbeda ditunjukkan permainan Chelsea pada laga ini. Jika pada leg pertama, ketika bermain tandang, Chelsea bermain lebih sabar dan menerapkan garis pertahanan rendah, kali ini gaya pertahan dengan garis pertahanan tinggi dipraktikkan bahkan dengan upaya tekel yang agresif.
Empat pemain terdepan Chelsea dalam formasi 4-2-3-1 yang diturunkan; Costa, Willian, Eden Hazard dan Pedro Rodriguez, langsung menjaga depan area kotak penalti pertahanan PSG ketika hendak memulai serangan. Setiap pemain bertahan PSG menguasai bola, salah satu dari mereka akan mendekati dan langsung coba merebut bola. Skema ini tentu saja langsung diikuti dua gelandang bertahan Chelsea (Cesc Fabregas dan Obi Mikel) serta empat pemain bertahan.
[Sebuah momen ketika Chelsea melakukan pressing]
Pada gambar di atas terlihat terdapat enam pemain Chelsea berada di area pertahanan PSG untuk menjaga enam pemain lawan. Fabregas terlihat berusaha merebut bola sedini mungkin (dari kaki Rabiot) sementara Kenedy, yang berposisi bek kiri, naik mengikuti Di Maria yang mundur.
PSG memang mampu keluar dari tekanan atau tetap mampu menguasai jalannya pertandingan. Akan tetapi, dengan mendapat tekanan terus menerus seperti ini, skema serangan PSG tak berjalan dengan baik karena tak bisa leluasa mengalirkan bola. Bahkan aliran serangan PSG cenderung mengikuti aksi pertahanan Chelsea.
Hal ini terlihat dari aliran bola PSG yang hanya berkutat di tengah. PSG kesulitan mendistribusikan bola ke sepertiga akhir. Dari 675 operan yang dilakukan PSG, hanya 108 kali yang terjadi di area pertahanan Chelsea.
Jumlah ini terbilang sedikit, apalagi jika dibandingkan Chelsea yang hanya melepaskan 375 kali operan. Tapi dengan jumlah operan yang jauh lebih sedikit, Chelsea mampu melepaskan 160 kali operan di area pertahanan PSG.
Gaya pressing Chelsea ini memang dikombinasikan dengan skema serangan balik cepat. Cairnya pergerakan Diego Costa-Hazard-Pedro sering menghasilkan celah di antara pertahanan PSG. Hasilnya, Chelsea melepaskan lebih banyak tembakan pada laga ini, 15 berbanding 10.
Gol yang diciptakan Costa untuk mengubah skor menjadi 1-1 pun merupakan hasil pressing yang dilakukan Chelsea di lini pertahanan PSG. Berawal ketika Pedro berhasil mencuri bola dari kaki Motta, kemudian diakhiri Diego Costa yang mampu mengecoh Thiago Silva.
[Proses terjadinya gol Chelsea bermula dari pressing]
Chelsea Mengendur Usai Diego Costa Ditarik Keluar
Skema pressing yang diperagakan membuat Chelsea di atas angin. Apalagi dengan bermain di markas sendiri, sementara PSG cukup kesulitan menciptakan peluang. Bahkan setelah babak kedua dimulai hingga menit ke-60, PSG tak mampu menciptakan satupun peluang.
Tapi semuanya berubah setelah Costa ditarik keluar pada menit ke-60. Cedera didapatnya setelah beradu sprint dengan Silva untuk menerima umpan direct dari Willian.
Keberadaan Costa sangat penting pada skema menyerang maupun bertahan Chelsea. Ketika melakukan pressing, ia cukup agresif menjaga pemain bahkan dua kali menghentikan serangan PSG dengan tekelnya dari tiga kali percobaan. Sementara ketika menyerang, meski pusat permainannya di tengah, ia rajin bergerak melebar bahkan turun ke tengah untuk mencari bola.
[Heatmap pergerakan Diego Costa]
Pada laga ini Costa mencatatkan empat tembakan dalam 60 menit bermainnya. Dari empat percobaan tersebut, tiga di antaranya mengarah ke gawang (termasuk gol yang ia ciptakan). Namun lebih dari itu, pergerakannya mengalihkan penjagaan lini pertahanan PSG membuat Chelsea cukup mampu menciptakan banyak peluang.
Penggantinya, Bertrand Traore, hanya mencatatkan satu tembakan selama 30 menit bermain. Pressing yang dilakukannya pun tak seagresif Costa. Alhasil, selain serangan Chelsea mulai sering buntu karena pergerakan Traore yang kurang maksimal, PSG pun mulai nyaman menguasai permainan khususnya dalam pendistribusian bola dari lini belakang.
PSG Mengeksploitasi Double Pivot Chelsea
PSG menjalani laga ini tanpa gelandang kreatif yang mereka miliki, Marco Verratti. Tanpa dia PSG terlihat kesulitan membangun serangan, hanya bertumpu pada Thiago Motta dan Blaise Matuidi (yang bermain tak maksimal). Penggantinya Rabiot, lebih berfungsi sebagai box-to-box bahkan gelandang perebut bola.
Bukan berarti Rabiot bermain buruk. Rabiot tampil cemerlang, namun dengan peran yang ia mainkan membuat PSG kesulitan mengirimkan operan ke sepertiga akhir. Keunggulan yang dimilikinya adalah ketika menghentikan setiap serangan Chelsea yang datang, di mana ia mencatatkan tujuh kali menghentikan serangan Chelsea dari 11 percobaan tekel.
Tanpa Verratti, pelatih Laurent Blanc memang tidak membebankan tiga gelandangnya tersebut untuk menjadi distributor bola bagi serangan PSG. Karena peran tersebut diemban oleh Angel di Maria yang pada laga ini mendapatkan kebebasan untuk bergerak ke manapun untuk mendekati bola.
Di Maria pada dasarnya bermain di pola 4-3-3 PSG menemani Ibrahimovic dan Lucas Moura di lini depan. Namun ketika menguasai bola, PSG justru terlihat seperti memainkan skema 4-3-2-1 karena Di Maria dan Lucas sering berada di depan kotak penalti Chelsea di samping harus mengeksploitasi sisi sayap.
[Dua winger PSG yang sering bermain di area tengah atau depan kotak penalti]
Instruksi pada dua pemain sayap PSG untuk sering menghuni area depan kotak penalti tak lepas dari double pivot Chelsea yang tidak seimbang. Double Pivot Chelsea yang dihuni Fabregas-Mikel cukup mudah ditembus. Fabregas yang seringkali naik membantu Willian sebagai pendistribusi bola ke sepertiga akhir membuat Mikel sering bekerja sendirian.
Skema ini sudah diterapkan sejak awal pertandingan. Pada menit ke-5, Di Maria nyaris mencetak gol setelah mendapatkan peluang emas di sisi kiri pertahanan Chelsea. Bahkan tendangannya mampu mengelabui kiper Chelsea, Thiabut Courtois. Namun ketika bola hendak meluncur ke gawang, Branislav Ivanovic berhasil menyapu bola.
[Proses sebelum terjadinya peluang emas pertama PSG dari Di Maria]
Sebelum terjadinya peluang tersebut, terlihat Lucas dengan leluasa menerima bola di belakang lini tengah Chelsea (gambar kiri). Penetrasinya ke depan kotak penalti berdampak pada empat bek Chelsea yang harus naik sehingga menciptakan ruang kosong yang kemudian dimanfaatkan Di Maria (gambar kanan).
Hal seperti ini tak diwaspadai skuat Chelsea. Karena pada gol yang diciptakan Rabiot pun skema yang dilancarkan PSG hampir serupa. Sebelum Ibrahimovic memberikan assist pada Rabiot, kekacauan terjadi di depan kotak penalti karena double pivot Chelsea kembali gagal menghentikan serangan tengah PSG.
[Proses terjadinya gol Rabiot]
Kekacauan di depan kotak penalti membuat Kenedy dan Ivanovic terpancing untuk meninggalkan areanya demi menghentikan Di Maria. Saat itulah Ibrahimovic masuk ke area yang ditinggalkan kedua pemain tersebut dan dengan leluasa memberikan umpan silang mendatar pada Rabiot (Ibrahimovic tanpa pengalawan saat mengirimkan umpan).
Ternyata proses terjadinya gol kedua PSG pun merupakan dampak kegagalan double pivot Chelsea menghentikan serangan. Hanya saja kali ini, ada kesalahan Cesar Azpilicueta yang tak mengawasi pergerakan Di Maria.
[Proses terjadinya gol Ibrahimovic]
Pada gambar pertama, Fabregas terlalu bergerak melebar, yang sebenarnya ia mengikuti pergerakan Di Maria. Hal tersebut membuat Motta duel satu lawan satu menghadapi Mikel di tengah, yang kemudian Mikel gagal merebut bola dan Motta berhasil memberikan umpan daerah pada Di Maria. Azpilicueta yang awalnya terpancing oleh pergerakan Di Maria pun membuat jarakan antara dirinya dengan bek tengah Chelsea cukup lebar, sehingga Motta bisa mengirimkan bola pada Di Maria dengan leluasa. Ketika Di Maria melepaskan umpan silang, terlihat Azpilicueta tertinggal jauh, sementara di mulut gawang Ibrahimovic sudah menanti.
Di Maria terlibat pada dua gol PSG di Stamford Brigde. Permainannya memang sangat menonjol pada laga ini. Selain pergerakannya yang membuat PSG bisa keluar dari tekanan Chelsea, ia mencatatkan 92% akurasi operan yang tiga di antaranya menghasilkan peluang bagi PSG. Dari tujuh kali percobaan melewati pemain lawan pun, lima di antaranya berhasil.
====
* Dianalisis oleh @panditfootball, profil lihat di sini.








