Liga Champions: Bayern Munich 4-2 Juventus
Blunder Pergantian Allegri yang Dimaksimalkan Guardiola
Bayern Munich membuat drama di kandangnya sendiri ketika butuh 90 menit untuk menyelamatkan dirinya dari kekalahan, sebelum berbalik unggul lewat tambahan dua gol di extra time.
Drama itu terjadi di Allianz Arena, Kamis (17/3/2016) dinihari WIB, di leg kedua babak 16 besar Liga Champions melawan Juventus. Di akhir laga Bayern menang 4-2, yang menjadikan mereka unggul 6-4 secara agregat.
Kalau saja Thomas Mueller tidak mencetak gol di injury time babak kedua, maka Bayern akan kalah dan tersingkir. Tapi itulah sebabnya pertandingan ini mendapat cap "dramatis".
Juventus sendiri memberikan perlawanan yang sengit, bahkan sempat berada di atas angina ketika unggul 2-0 sampai menit ke-60. Namun berkat kejelian pelatih Bayern, Pep Guardiola, Juve akhirnya gagal pulang dengan sukacita.
Strategi Kejutan Allegri
Allegri patut dimasukkan dalam jajaran pelatih berkualitas saat ini. Setelah mampu mengejar ketinggalan dua gol pada leg pertama untuk memaksakan hasil imbang 2-2, pada laga ini ia memberikan kejutan strategi yang (sempat) membuat Bayern kewalahan.
Tanpa disangka-sangka Allegri menurunkan formasi dasar 4-5-1. Ini kali pertama Juventus bermain dengan pola dasar seperti ini di bawah asuhan mantan pelatih AC Milan dan Cagliari tersebut. Jika ditotal, ini adalah formasi ke-5 yang ia gunakan sepanjang musim ini.
Formasi ini diturunkan karena dua hal. Pertama untuk mengatasi absennya sejumlah pemain pilar karena cedera, kedua untuk mendukung skema bertahan yang berbeda dibanding leg pertama.
Juve memang harus tampil tanpa Paulo Dybala, Claudio Marchisio, dan Giorgio Chiellini. Sementara Mario Mandzukic mengalami masalah kebugaran. Walau begitu Mandzukic dimainkan pada babak kedua.
Dalam formasi 4-5-1, Juan Cuadrado dan Alex Sandro menempati pos gelandang sayap di kedua sisi. Tiga gelandang tengah diisi oleh Paul Pogba, Hernanes, dan Sami Khedira. Untuk penyerang tunggal, Allegri memercayakan pada Alvaro Morata.
Penempatan Alex Sandro, yang biasanya bermain di full-back kiri, ditujukan untuk meredam agresivitas serangan Bayern di sayap. Pada leg pertama, Arjen Robben yang menempati sayap kanan Bayern berhasil merepotkan Patrice Evra, Robben turut menyumbang satu gol kala itu.
Namun Robben tak dimainkan karena cedera. Sebagai gantinya, Douglas Costa ditempatkan di sisi kanan. Di sisi kiri yang sebelumnya ditempati Costa, diisi oleh Franck Ribery.
Hasilnya, Douglas tak bisa menembus sisi kiri pertahanan Juventus. Hal ini dikarenakan ketika Juve bertahan, Cuadrado dan Sandro turun hingga berdiri sejajar dengan back-four. Juve sering terlihat menggunakan formasi 6-3-1 atau 5-4-1 dengan Sandro yang mundur sehingga Evra bermain sebagai bek tengah.
Namun, yang paling merepotkan Bayern adalah pressing yang diperagakan tim tamu. Juve yang mengincar gol cepat memainkan garis pertahanan tinggi dengan tekel agresif. Para pemain Juve sudah menekan sejak para pemain bertahan Bayern menguasai bola untuk membangun serangan.
[Pressing yang dilakukan Juventus di lini pertahanan Bayern]
Pada dasarnya Bayern tetap mampu menguasai bola. Hanya saja penguasaan bola mereka lebih pada menghindari tekanan para pemain Juventus, bukan untuk membangun serangan. Hingga menit ke-60, Bayern melepaskan 10 tembakan, namun hanya dua yang mengarah sasaran.
Bayern memang menyerang melalui kedua sayapnya. Namun, karena strategi bertahan Juventus ketika di area pertahanan sendiri, para pemain sayap Bayern tak bisa melakukan cut inside. Tercatat 18 umpan silang dilepaskan Bayern hingga menit ke-60. Tapi hanya empat kali yang berhasil disambut pemain Bayern di kotak penalti.
[Umpan silang Bayern hingga menit ke-60, hanya tiga yang berhasil. Sumber: Squawka]
Sementara itu Juve sendiri merepotkan lini pertahanan Bayern dengan skema serangan balik. Gol kedua Juve yang dicetak Cuadrado tercipta melalui skema ini. Berawal dari kecepatan dan kemampuan individu Morata yang melewati beberapa pemain Bayern, Cuadrado mendapatkan peluang terbuka karena para pemain bertahan Bayern terpancing oleh pergerakan Morata.
Ketika Bayern mencatatkan 10 tembakan hingga menit ke-60, Juve pun mampu melepaskan jumlah yang sama. Namun serangan Juve lebih efektif, selain dua gol tercipta. Empat tembakan lainnya mengarah ke gawang. Termasuk satu gol Morata yang dianulir hasil dari pressing di lini pertahanan Bayern.
Kejelian Guardiola Merespons Taktik Allegri
Guardiola adalah pelatih yang cepat belajar. Meski kewalahan pada babak pertama, ia membalas strategi kejutan Allegri tersebut pada babak kedua secara perlahan. Ia memperbaiki lini pertahanan terlebih dahulu untuk kemudian meningkatkan daya serang.
Usai turun minum, Pep langsung mengganti Benatia yang dua kali kecolongan pada babak pertama. Dua gol Juventus pada laga ini memang terjadi di area miliknya dan David Alaba. Pep menggantikan Benatia dengan Juan Bernat.
Pergantian ini membuat Alaba bergeser ke tengah, menemani Joshua Kimmich di jantung pertahanan. Penempatan Bernat di sisi kiri pun tampaknya untuk menambal sisi kiri pertahanan Bayern yang kerap mendapatkan tekanan dari Cuadrado dan Lichtsteiner.
Kemudian pada menit ke-60 Pep memasukkan Kingsley Coman, menggantikan Xabi Alonso. Di sinilah yang benar-benar mengubah pola serangan Bayern pada babak kedua. Masuknya Coman membuat Bayern yang awalnya menggunakan formasi dasari 4-1-4-1 menjadi 3-3-3-1.
Coman ditempatkan di sisi kanan, menemani Douglas Cousta yang kewalahan menghadapi Sandro dan Evra. Sementara untuk memperkuat pertahanan, Vidal difungsikan sebagai half-back sehingga ia sering turun hingga sejajar dengan Kimmich dan Alaba di jantung pertahanan. Skema inilah yang membuat Juve mulai sulit keluar dari tekanan dan sulit menciptakan peluang.
Terlebih lagi pergantian yang dilakukan Allegri kurang efektif. Pada menit ke-68, Allegri melakukan penyegaran di lini depan dan tengah dengan menggantikan pemain yang berposisi sama, Stefano Sturaro untuk Khedira dan Mandzukic untuk Morata. Sepertinya Allegri merasa skor 2-0 hingga menit ke-68 sudah cukup aman untuk menjaga keunggulan di sisa pertandingan.
Tapi masuknya Mandzukic membuat serangan balik Juve terhambat. Penyerang asal Kroasia ini tak memiliki kecepatan seperti Morata. Alhasil, Juve lebih sering kehilangan bola dan sangat kesulitan menciptakan peluang. Dari menit ke-68 hingga menit ke-90, Juve hanya mampu menciptakan satu peluang.
Kesulitan bagi Juve berarti kemudahan bagi Bayern. Gol pertama Bayern sudah tercipta tak lama setelah Mandzukic masuk. Dan gol ini tercipta dari sisi kanan, melalui umpan silang Douglas Costa yang kemudian disambut Robert Lewandowski di mulut gawang.
Pada proses terjadinya gol ini, Coman berhasil memancing Sandro sehingga Douglas bebas dari pengawalan. Hal ini tak terjadi pada babak pertama karena ketika menyerang, Douglas lebih sering sendirian menghadapi dua pemain sekaligus.
[Sandro harus menjaga Coman sementara Douglas bebas tanpa pengawalan sebelum mengirimkan umpan silang pada Lewandowski]
Uniknya, gol yang diciptakan Thomas Mueller pada menit ke-91 berada di posisi yang sama dengan posisi Lewandowski menyambut bola pada gol pertama. Namun kali ini Coman yang memberikan umpan silang.
Thiago Alcantara Sebagai Klimaks Strategi Pep
Hasil 2-2 memaksa pertandingan harus dilanjutkan ke babak tambahan. Juve sudah menghabiskan semua pergantian pemainnya dengan memasukkan Roberto Pereyra, menggantikan Cuadrado. Sementara Bayern masih menyisakan satu pergantian.
Pergantian Pep kembali membuahkan hasil. Pada menit ke-110, ia mengganti Ribery yang tak begitu berkontribusi pada laga ini oleh Thiago Alcantara. Seorang gelandang sayap diganti gelandang tengah, perubahan formasi kembali dilakukan Pep.
Masuknya Thiago ternyata untuk memaksimalkan serangan tengah. Pep memberikan kejutan dengan melalui serangan tengah setelah hampir selama 90 menit Bayern menyerang melalui kedua sayap, khususnya sisi kanan. Umpan Silang Bayern pada laga ini mencapai 41 kali.
Bayern menggunakan formasi 4-2-4 setelah masuknya Thiago. Eks gelandang Barcelona ini difungsikan sebagai penyeimbang di lini tengah. Ia memerankan box-to-box midfielder karena ia sering berada di dekat kotak penalti Juventus.
Tak seperti sebelumnya, Bayern tak melepaskan tembakan jarak jauh dari luar kotak penalti. Masuknya Thiago, yang memiliki kemampuan playmaking, membuat Bayern bisa memainkan operan pendek di depan kotak penalti Juventus. Gol ketiga Bayern tercipta melalui aksi Thiago yang melakukan umpan satu-dua dengan Mueller di dalam kotak penalti.
Formasi Bayern sendiri sebenarnya fleksibel. Ketika bertahan misalnya, meski saat menyerang menggunakan 4-2-4, saat bertahan Bayern bisa terlihat seperti 4-2-3-1 atau 4-1-4-1. Ini yang membuat lini tengah Bayern tetap seimbang.
Gol Coman yang menjadi gol keempat Bayern sendiri tercipta lebih karena ketidakmampuan Juventus keluar dari tekanan. Faktor stamina pun berpengaruh. Karena pada gol ini, Coman melakukan aksi individu di sisi kiri pertahanan sebelum melepaskan tembakan ke tiang jauh menggunakan kaki kirinya.
====
* Dianalisis oleh @panditfootball, profil lihat di sini.








