Liga Italia: AS Roma 1-1 Inter
Pressing Agresif Inter Redam Agresifnya Sayap Roma
Duel antara AS Roma dan Internazionale Milan di Stadion Olimpico, Roma, pada Minggu (20/3) dinihari WIB berakhir imbang dengan skor 1-1.
Ivan Perisic membuat tuan rumah unggul terlebih dahulu pada menit ke-53, namun dapat dibalas pada menit ke-84 melalui gol Radja Nainggolan.
Pertandingan berjalan ketat mengingat kedua kesebelasan terpaut lima poin dan Roma tetap berada di atas Inter di posisi tiga dan empat. Hanya saja atas hasil imbang ini membuat Inter bisa tergeser oleh Fiorentina yang baru menjalani pertandingan ke-30 nya malam ini.
Yang paling menarik adalah apa yang ditampilkan oleh Inter yang berstatus kesebelasan tamu. Pelatih Inter, Roberto Mancini, menerapkan pendekatan strategi yang berbeda pada laga ini. Sempat merepotkan Roma, namun akhirnya Roma mampu mencetak gol menjelang akhir pertandingan.
Menekan untuk Membuat Tak Nyaman
Musim ini Inter dikenal dengan strategi bertahan yang memainkan garis pertahanan rendah, menunggu lawan memasuki area pertahanan untuk kemudian coba direbut, dan mengandalkan pemain gelandang bertahan untuk merebut bola. Setelah itu, serangan balik cepat dilancarkan melalui kedua sisi.
Tapi strategi tersebut tak dipraktekkan pada laga menghadapi Roma. Inter bermain dengan garis pertahanan tinggi dan melakukan tekel agresif sejak para pemain bertahan Roma menguasai bola di areanya. Pressing pun sudah dilakukan para pemain Inter di area bermain Roma.
Inter berusaha membuat Roma tak nyaman dalam membangun serangan. Perubahan strategi ini diwajarkan karena Roma sendiri tampil sebagai kesebelasan yang sebelumnya meraih delapan kemenangan beruntun. Ini artinya, lini serang mereka telah berhasil menaklukkan delapan lini pertahanan sebelum Inter.
Dengan memberikan tekanan yang sangat agresif, Inter menginginkan lini serang Roma yang kali ini diisi oleh Stephane El Shaarawy, Diego Perotti dan Mohamed Salah, kesulitan mendapatkan bola. Pressing diberikan agar para pemain bertahan Roma tak leluasa membangun serangan atau memberikan bola pada Miralem Pjanic, Seydou Keita dan Nainggolan yang berada di posisi gelandang.
Namun pressing ini tak hanya berfungsi untuk menghambat serangan Roma, tapi juga menjadi cara Inter melancarkan serangan cepat. Karena ketika berhasil merebut bola, para pemain Inter tak berusaha menguasai jalannya pertandingan, melainkan sesegara mungkin mengirimkan bola ke sepertiga akhir. Karenanya tak heran Inter kalah penguasaan bola pada laga ini dengan 60% berbanding 40%.
Hanya saja di sepakbola modern kalah penguasaan bola tak berarti kalah segalanya dalam pertandingan. Inter pun membuktikan bahwa strategi mereka tersebut mampu menjadi cara mereka mengobrak-abrik pertahanan Roma. Gol Perisic tercipta setelah para pemain Inter berhasil mencuri bola dari pemain Roma yang tengah membangun serangan.
[Proses terjadinya gol Perisic]
Pada gambar pertama, Alessandro Florenzi yang mendapatkan tekanan dari Marcelo Brozovic mengoperkan bola pada Kostas Manolas. Hal itu langsung dibarengi dengan Citadin Eder dengan mendekati Manolas yang menguasai bola. Atas gangguan tersebut, Manolas melakukan sapuan yang justru jatuh di kaki Gary Medel.
Pada gambar 2 terlihat bahwa ketika Adem Ljajic menerima bola dari Medel, Nainggolan sedang tak berada di posisinya karena awalnya mereka hendak membangun serangan. Pos gelandang bertahan yang kosong membuat Florenzi yang sejatinya berposisi sebagai bek kanan harus bergerak ke tengah untuk mengganggu Brozovic yang mendapatkan operan dai Ljajic. Apa yang dilakukan Florenzi tersebut berdampak pada kosongnya sisi kanan pertahanan Roma. Di situlah Perisic masuk dan menerima umpan terobosan dari Brozovic.
Meski cukup efektif mengganggu skema serangan Roma, absennya beberapa pemain di lini depan membuat serangan Inter hanya berpusat ke sisi sebelah kiri, pada Perisic. Jonathan Biabiany yang ditempatkan sebagai gelandang kanan pun jarang mendapatkan bola. 
[Inter lebih sering mengarahkan serangan ke kiri. Sumber: Squawka]
Selama 90 menit, Inter hanya mampu melepaskan enam tembakan (dua on target) pada laga ini. Perisic menjadi pemain dengan jumlah tembakan terbanyak di kubu Inter sebanyak tiga kali. Tentu saja hal itu belum cukup untuk bisa membombardir lini pertahanan Roma.
Tak Efektifnya Serangan Sayap AS Roma
Kala meraih delapan kemenangan beruntun, tak bisa dimungkiri bahwa serangan sayap Roma sangat mematikan. Kecepatan Salah, El Shaarawy, serta sokongan dari Florenzi membuat kedua sayap Roma begitu diandalkan. Tak terkecuali pada laga ini.
Salah dan El Shaarawy kembali diandalkan di kedua sisi. Untuk memaksimalkan pendistribusian bola, Edin Dzeko dibangkucadangkan dan pelatih Roma, Luciano Spaletti, memercayakan Diego Perotti sebagai penyerang tengah, bermain sebagai false nine.
Namun dengan pressing yang dilakukan Inter, distribusi bola terhadap kedua pemain ini menjadi terhambat. Bahkan serangan Roma sudah banyak terhenti sebelum memasuk sepertiga akhir. Pada babak pertama, Roma pun hanya mampu melepaskan lima tembakan, di mana hanya satu yang mengarah sasaran.
[Grafis operan Roma pada babak pertama kesulitan masuk ke sepertiga akhir. Sumber: Squawka]
Namun permainan Roma mulai membaik pasca Inter unggul. Kebobolan memang langsung disikapi perubahan strategi oleh Spaletti. Empat menit pasca gol Perisic, Dzeko dimasukkan dengan menggantikan Seydou Keita.
Masuknya Dzeko membuat Roma mengubah formasi dasar mereka. Jika pada awal pertandingan Roma menggunakan 4-3-3, masuknya Dzeko menjadikan Roma bermain dengan 4-2-3-1. Perotti yang awalnya bermain sebagai penyerang, dimainkan sebagai gelandang serang. Pjanic pun bermain lebih ke dalam untuk memerankan deep-lying playmaker ditemani Nainggolan yang berperan sebagai box-to-box midfielder.
Perubahan ini membuat serangan tengah AS Roma lebih hidup. Pada periode menit ke-60 (setelah perubahan formasi) hingga ke-90, Roma mampu menciptakan 10 peluang. Empat di antaranya tercipta melalui serangan tengah.
Gol yang diciptakan Roma pun terjadi melalui serangan tengah. Bermula dari Pjanic yang memberikan operan pada Perotti di depan kotak penalti, kemudian bola digulirkan pada Nainggolan. Serangan ini kemudian diakhiri dengan umpan satu-dua (yang sebenarnya tak disengaja).
[Proses terjadinya gol Nainggolan]
Menyerang lewat tengah ternyata mampu memecahkan keseimbangan lini pertahanan Inter. Ketika Pjanic memberikan operan pada Perotti misalnya, gaya bertahan Inter yang menerapkan pressing agresif membuat Medel naik untuk merebut bola sehingga meninggalkan celah di antara Perisic dan Brozovic, celah tersebut menjadi jalur operan untuk Perotti. Setelah bola berada di kaki Nainggolan, terjadi kekacauan di lini pertahanan Inter. Kelengahan para pemain belakang Inter saat mengantisipasi tendanganan Dzeko yang tidak sempurna dimanfaatkan oleh Nainggolan yang menyambar bola. Kiper Inter, Samir Handanovic, bahkan terlihat tak siap pada momen ini.
Pada momen di atas pun terlihat bahwa Roma tak lagi mengandalkan serangan sayap. Padahal terlihat dua pemain sayap Roma tanpa pengawalan, dampak dari pemain Inter yang bergumul di tengah untuk menghentikan bola. Bola serangan Roma tetap dipaksakan ke tengah hingga akhirnya sampai di kaki Dzeko.
Kesimpulan
Gebrakan strategi Mancini membuat serangan Roma yang mengandalkan kedua sayapnya tak berjalan seperti biasanya. Pressing yang ia terapkan pada anak asuhnya bahkan mampu mencuri gol untuk kemudian Inter unggul lebih dulu.
Namun hal tersebut direspon dengan baik oleh Spaletti yang mengubah formasi dasar dan mengganti arah serangan hingga akhirnya gol Nainggolan tercipta. Meski gagal memperpanjang catatan kemenangan beruntun, setidaknya Roma tak kalah dari Inter yang menguntit mereka di bawahnya.







