Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Match Analysis

    Liga Inggris: City 0-1 MU

    City Bermain Buruk, MU Tak Istimewa

    Pandit Football Indonesia - detikSport
    Foto: Getty Images/Michael Regan Foto: Getty Images/Michael Regan
    Jakarta - Manchester City dipecundangi 0-1 oleh rival sekota, Manchester United, dalam lanjutan Liga Primer Inggris pada Minggu (20/3) petang. Bukan cuma kalah dari jumlah gol, City pun seolah diajari para pemain muda Manchester United untuk bermain lebih efektif.

    Gol MU dicetak oleh Marcus Rashford pada menit ke-16 memanfaatkan umpan terobosan Juan Mata. City bukannya tanpa peluang—tentu saja karena mereka melepaskan 26 attempts. Namun, upaya tersebut berhasil digagalkan oleh para pemain City sendiri.

    Kemenangan ini kian menambah kepercayaan diri para pemain MU. Sebelumnya, Louis van Gaal dinilai telah memberikan warna baru—dalam artian positif—dalam beberapa pertandingan terakhir. MU pun kian dekat dengan Zona Eropa, sementara peluang Manchester City untuk menjuarai liga kian berat. MU kini bertengger di peringkat keenam dengan 50 poin, sama dengan West Ham, hanya kalah selisih gol. Sementara itu, City tetap di peringkat keempat dengan 51 poin.

    Susunan Pemain



    Absennya Vincent Kompany dan Nicolas Otamendi membuat manajer City, Manuel Pellegrini, menurunkan duet Eliaquim Mangala dan Martin Demichelis. Di kubu MU, sang manajer, Louis van Gaal, kembali menurunkan trio Marcus Rashford, Anthony Martial, dan Jesse Lingard, di lini serang.

    City Tidak Mengandalkan Pressing Ketat

    Bisa dibilang kalau pressing ketat adalah senjata City dalam meraih beragam trofi sejak lima musim terakhir. Kekuatan fisik para pemainnya menjadi andalah untuk memotong dan menghentikan serangan lawan. Namun, hal tersebut tak terlihat dalam pertandingan semalam.

    Pellegrini pada awalnya menurunkan Raheem Sterling dan Jesus Navas di kedua sisi. Hal ini menimbulkan masalah baru di mana dua poros ganda, Yaya Toure dan Fernandinho bermain terlalu dalam. Penempatan posisi ini yang membuat adanya jarak yang kelewat lebar antara lini tengah dan lini serang. Belum lagi minimnya pressing yang dilakukan para pemain depan City saat MU menguasai bola.



    [Grafis perbandingan 25 menit pertama umpan MU (kiri), dan 25 menit setelah Fernando masuk (kanan)]

    Akibatnya, MU menikmati penguasaan bola di lini tengah. Hingga menit ke-26, atau sebelum Sterling diganti Fernando, MU menguasai 54% penguasaan bola. Jumlah umpan sukses MU pun terbilang baik dengan 83%.

    Dari grafis di atas terlihat perbandingan umpan MU dari menit pertama sampai menit ke-25, dan menit ke-25 sampai menit ke-50. Masuknya Fernando membuat Yaya lebih leluasa untuk membantu serangan. Lini tengah City pun menjadi lebih kokoh karena Fernando dan Fernandinho diplot untuk bermain lebih tinggi untuk mendukung lini serang City.

    Dalam 25 menit tersebut terlihat adanya penurunan jumlah umpan MU. Pada 25 menit pertama, MU melepaskan 135 umpan, yang 112 di antaranya mencapai sasaran atau 82%. Pada 25 menit kedua, jumlah umpan MU turun menjadi 105 umpan dengan 81 yang mencapai sasaran atau 77%.

    Kehadiran Fernando dan Fernandinho, membuat MU kesulitan untuk kembali menyerang lewat tengah, seperti pada proses gol pertama. Ini pula yang membuat MU pada akhirnya menyerang lewat kedua sisi.

    MU Manfaatkan Jarak Antarbek

    Louis van Gaal bisa dibilang percaya diri dalam menghadapi pertandingan semalam. Absennya Otamendi dan Kompany dianggapnya sebagai sebuah keuntungan. Ia pun mengaku telah menganalisis gaya bermain Mangala dan Demichelis sekaligus kelemahannya.

    Sebelum Fernando masuk pada menit ke-26, terlihat adanya jarak antarbek di lini pertahanan City. Gael Clichy dan/atau Bacary Sagna aktif membantu serangan. Ini yang membuat pergerakan Mangala dan Demichelis melebar ke kedua sisi. Kekosongan di area tengah, dijaga oleh Yaya dan Fernandinho.



    [Proses gol pertama MU. Terlihat kalau Sagna sudah kalah langkah, sementara Rashford berdiri di antara Sagna dan Demichelis]



    [Rashford tidak menemukan bek City lain setelah melewati Demichelis. Proses yang kelewat mudah buat kesebelasan dengan pertahanan baik macam City]

    Dari sekuens proses gol di atas terlihat kalau Yaya dan Fernandinho hanya berdiam di tengah. Sementara itu, Sagna yang tengah dalam transisi dari menyerang ke bertahan, masih belum siap menghadang serangan MU.

    Dampaknya adalah saat Mata mengirimkan umpan kepada Rashford, hanya Demichelis yang menjadi tumpuan akhir pertahanan City. Padahal, mestinya, ada Yaya yang berupaya menghalangi pergerakan Rashford.

    Hal ini diperparah dengan terlewatinya Demichelis oleh Rashford yang membuatnya langsung berhadapan dengan Joe Hart. Apabila dalam kondisi normal, hal ini bisa diminimalisasi lewat Sagna yang menutup saat Demichelis terlewati. Namun, Sagna tidak dalam posisi yang sejajar dengan ketiga bek City lainnya. Lain halnya, kalau Sagna berdiri seperti Clichy di sisi bersebrangan, mungkin saja peluang Rashford mencetak gol bisa diperkecil.

    Hal ini pula yang utamanya terjadi pada babak pertama. Trio lini serang MU, Anthony Martial, Marcus Rashford, dan Jesse Lingard, bermain maksimal dan memenuhi instruksi Van Gaal: mengacak-acak pertahanan City!

    MU sendiri memusatkan serangannya ke sisi kiri yang dihuni Martial. Hal ini dipermudah dengan pergerakan eksplosif Lingard yang bergerak membantu ke sisi tersebut. Total, MU menyerang dari sisi kiri sebesar 57% sementara dari kanan 30% dan 13% sisanya dari tengah.

    City Menyerang dari Kanan



    [Arah serangan. Kiri: City; Kanan MU]

    Serangan MU ke sisi kanan pertahanan City, membuat City pun menyerang dari arah yang sama. Dengan Marcos Rojo yang terlambat turun bertahan, membuat City memusatkan serangan ke sisi tersebut.

    Namun, City tak menyertakan Sagna dalam penyerangan. Setelah gol yang dicetak Rashford, Sagna bermain lebih bertahan dan jarang membantu serangan. Serangan dari sisi kanan justru berasal dari David Silva dan Jesus Navas. Silva melepaskan 11 umpan silang, sementara Navas 10 umpan silang.

    Serangan dari kanan pun sejatinya karena Sterling yang menempati pos sayap kiri ditarik keluar. Ini yang membuat City jarang menyerang dari sisi kiri.

    Permainan City semalam terbilang mengherankan. Hampir tidak terlihat pergerakan eksplosif Yaya Toure di lini tengah. Saat menyerang, City seolah tak bisa mencetak gol meski yang tersisa hanya empat bek MU.

    Buruknya City menyelesaikan peluang bukan semata-mata karena bagusnya David De Gea atau solidnya lini pertahanan MU. Namun, hal tersebut terjadi karena kesalahan sendiri. Bayangkan, dari 26 attemps, hanya tiga yang mengarah ke gawang!



    [Grafis umpan City di area sepertiga akhir]

    Di atas terlihat kalau City cenderung mengalirkan bola ke sisi kanan di area sepertiga akhir penyerangan. Para pemain City jarang memindahkan bola dari satu sisi ke sisi lainnya. Dari grafis di atas malah terlihat kalau City mampu dan berhasil mengonversi peluang di area depan kotak penalti MU. Namun, tak satupun gol tercipta.

    Padunya Trio Lini Serang MU (pada Babak Pertama)

    Bisa jadi karena buruknya permainan City secara keseluruhan yang membuat trio lini serang MU terlihat begitu bersinar. Ini dibuktikan dengan kian seringnya Martial, Lingard, dan Rashford, terlibat dalam serangan, ditambah lagi kehadiran Mata sebagai penyalur umpan matang.

    Pada babak kedua, "penyakit" MU kambuh: berlama-lama dengan bola. Hampir jarang terlihat umpan-umpan Juan Mata yang langsung mengarah ke depan. Bola umumnya diputar-putar di tengah sebelum dikirimkan ke-entah-siapa di lini serang.

    MU Tak Istimewa

    Meskipun lini serang MU bisa dibilang bermain baik, tapi hal serupa tidak bisa dibilang demikian dengan lini pertahanan. Berulang kali City berhasil mengancam utamanya lewat serangan dari sayap. Duet Smalling dan Blind pun terlihat begitu rapuh dan rawan untuk dipatahkan. City berulang kali berhasil menembus pertahanan, utamanya pada babak kedua. Beruntung tak satupun gol yang tercipta.

    Salah satu contohnya adalah dua peluang City dalam rentang waktu tiga menit mulai dari menit ke-63 sampai menit ke-66. Umpan silang dari sisi kiri pertahanan MU, tidak bisa diantisipasi sehingga bola berhasil menuju sasaran. Sayangnya, peluang tersebut tidak bisa dimaksimalkan masing-masing oleh Wilfried Bony dan Sergio Aguero.

    Ke-tidak-istimewa-an MU bisa terlihat dari cara mereka membangun serangan. "Pola-pola lama" dengan membawa bola dengan durasi yang begitu lama, membuat lini pertahanan City mampu mengatasi sejumlah serangan tersebut. Beruntung karena MU sudah mencetak gol sementara City kepayahan mencetak gol ke gawang De Gea.

    Kesimpulan

    MU berhasil dengan cepat memanfaatkan jarak antarbek City yang terlihat pada babak pertama. Pellegrini merespons buruknya permainan City dengan memasukkan Fernando pada menit ke-26. Masuknya Fernando memperkuat pertahanan City. Selain itu, kedua fullback City pun diinstruksikan bermain lebih defensif untuk mengawal pergerakan Martial dan Lingard di kedua sisi.

    City begitu buruk dalam menyelesaikan peluang. Bisa dibilang kalau yang terjadi semalam murni karena kesalahan para pemain City itu sendiri. Pasalnya, pertahanan MU tidak bisa dibilang kokoh. Mereka bahkan begitu rawan untuk ditembus.

    Kemenangan ini menjadi pesan positif dari Van Gaal untuk pengggemar United. Mereka telah menunjukkan permainan yang baik utamanya pada babak pertama. Masalahnya adalah bagaimana cara mereka mendapatkan konsistensi karena pada babak kedua, MU bermain seperti sedia kala: memutar-mutar bola tanpa tahu ditujukan ke mana.

    ====

    *dianalisis oleh @panditfootball, profil lihat di sini.



    (roz/krs)
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game