Liga Inggris: Spurs 3-0 Man United
Cara Spurs Mengalahkan United dalam 6 Menit Saja
Foto: Getty Images/Ian Walton
Ketiga gol Spurs dicetak oleh Dele Alli, Toby Alderweireld, dan Erik Lamela di babak kedua dalam kurun waktu 6 menit saja (menit ke-70 sampai 76).
![]() |
Gambar 1 Susunan sebelas pemain utama Tottenham Hotspur dan Manchester United, dengan angka menunjukkan persentase kesuksesan operan mereka - sumber: WhoScored
Manajer The Lilywhites, Mauricio Pochettino, menurunkan skuat terkuat mereka setelah Jan Vertonghen kembali bisa bermain. Ia menggantikan Kevin Wimmer yang dalam beberapa pertandingan terakhir ini selalu menjadi starter.
Sementara itu, manajer The Red Devils, Louis van Gaal, membuat beberapa perubahan dengan memainkan Timothy Fosu-Mensah sebagai bek kanan dan juga Jesse Lingard, seorang pemain berposisi alami sayap, di posisi di belakang penyerang.
United Menekan dari Awal
Dari susunan sebelas pemain di atas, kita bisa melihat jika Van Gaal berniat untuk menekan Spurs dari awal. Van Gaal tentunya sudah tahu jika Spurs akan mencoba untuk bermain dengan tempo tinggi dan menginisiasi counterpressing andalan mereka (baca selengkapnya: Ini Cara Pochettino Merevolusi Sepakbola Inggris Melalui Tottenham Hotspur).
United memulai pertandingan dengan cepat dan justru merekalah yang menekan Spurs dari awal. Bisa dibilang, jika Spurs bermain dengan counterpressing, United justru mengantisipasinya dengan counter-counterpressing.
Beberapa kali mereka menekan Spurs sampai ke wilayah lapangan lawan mereka tersebut dengan maksud untuk memenangkan bola di wilayah yang lebih tinggi di lapangan. Hal ini Van Gaal lakukan karena ia sadar akan bahaya yang bisa Alli, Christian Eriksen, dan Harry Kane ciptakan jika mereka bisa mengalirkan bola ke depan.
![]() |
Gambar 2 Grafik pertahanan Manchester United - sumber: FourFourTwo Stats Zone
Jika kita lihat Gambar 2 di atas, kita bisa melihat aksi defensif yang dilakukan oleh United, terutama tekel (gambar X), banyak terjadi di wilayah lapangan Spurs (United menyerang ke arah kanan). Sebanyak 6 tekel sukses berhasil mereka cetak dari 11 kali percobaan di wilayah lapangan Spurs.
Faktanya, United mampu melakukannya salah satunya karena faktor Fosu-Mensah. Bek berusia 18 tahun ini sebelumnya sudah dipuji oleh Michael Carrick sebagai pemain yang memiliki fisik yang sangat atletis (kekuatan, kecepatan, daya tahan, komposisi tubuh, kelentukan, kelincahan, keseimbangan, dan koordinasi).
Memiliki bek cepat dan kuat adalah idaman dari setiap manajer. Fosu-Mensah melakukan hal yang luar biasa semalam dengan memenangkan 100% tekelnya, menjelajah lapangan sampai ke lini depan (sering out of position tetapi dalam arti positif), dan menjadi bek yang paling energik di depan David de Gea.
Satu hal yang perlu ditingkatkan olehnya adalah pemahaman taktikal dan kecerdasannya dalam mengambil keputusan. Ia tidak bisa bermain seperti semalam untuk jangka waktu yang panjang karena ia pasti akan meninggalkan lubang yang besar di lini belakang kesebelasannya.
Spurs Lebih Berani meluncurkan Operan Berisiko
Jika United sudah mampu memenangkan bola di wilayah yang lebih tinggi, lantas kenapa United hanya mampu mencetak empat buah peluang saja semalam?
Masalah bagi Anthony Martial dkk terletak pada eksekusi. Mereka memang mampu mendapatkan bola di wilayah Spurs, tetapi mereka tidak bisa mengalirkan bola ke depan. Kita bisa melihat gambar perbandingan operan attacking third di bawah ini di mana United hanya mampu mencetak tiga operan sukses ke dalam kotak penalti Spurs.
![]() |
Gambar 3 Perbandingan grafik operan ke sepertiga wilayah penyerangan dari Tottenham Hotspur (kiri) dan Manchester United (kanan) - sumber: FourFourTwo Stats Zone
Spurs dan United sama-sama meluncurkan 126 buah operan ke wilayah attacking third, namun Spurs bisa mencetak 84 operan sukses, sementara United hanya 75 saja. Kebanyakan United juga hanya bisa menyerang melalui kiri (67%) di mana ketimpangan terjadi di sana (lihat Gambar 5). Mereka kelihatan tidak mau mengambil banyak risiko dengan terus-menerus mengalirkan bola ke Martial (sekitar 47 operan) dan Marcos Rojo (sekitar 40 operan) di sebelah kiri.
Tidak heran, United semalam hanya mampu mencetak 73% operan sukses yang merupakan angka operan sukses terburuk mereka sepanjang musim ini. Padahal mereka adalah kesebelasan yang paling unggul dalam urusan operan sukses di Liga Primer.
Sebaliknya, Spurs yang menerapkan counterpressing berkali-kali berani untuk meluncurkan operan berisiko ke attacking third. Mereka hanya mencetak 71% operan berhasil semalam, tapi dari angka yang lebih sedikit tersebut, mereka justru mampu mengancam lebih sering.
Ini mudah dipahami karena Spurs benar-benar berniat untuk mengirimkan bola ke depan secepat mungkin, ke wilayah pertahanan United. Mereka lebih mau mengambil risiko untuk memperoleh tujuan mereka yaitu mencetak gol.
United Terlalu Fokus di Kiri, Sehingga Mereka Kecolongan di Kanan
Membandingkan kedua operan attacking third di atas, kita bisa mempelajari satu hal lainnya, yaitu tipikal operan United yang lebih pendek dan lebih tidak langsung dibandingkan Tottenham.
Pasukan Van Gaal berniat untuk menciptakan build up yang lebih lambat dan lebih terukur, cenderung "main aman", untuk mengekspos pertahanan Spurs dengan duel satu lawan satu melawan lini serang United yang lebih memiliki kecepatan.
Beberapa kali mereka mencoba mengirimkan umpan panjang dari belakang, namun gagal mencapai sasaran. Kita bisa melihat kembali ke angka-angka persentase operan sukses pada Gambar 1 untuk mengetahui jika kali ini banyak operan dari para bek United yang tidak tepat sasaran. Tidak seperti biasanya.
Namun, pertandingan semalam berhasil dimenangkan Spurs bukan pada 90 menit, melainkan hanya dalam 6 menit saja, rentang waktu dari tiga gol yang mereka cetak. Ketiga gol tersebut lahir dari sisi kiri Spurs, atau sisi kanan pertahanan United.
Sudah bukan rahasia lagi kalau Spurs tidak bermain melebar lewat penyerang mereka, melainkan lewat full-back mereka, yaitu Danny Rose di kiri dan Kyle Walker di kanan.
![]() |
Gambar 4 Perbandingan grafik heat map Danny Rose (kiri) dan Juan Manuel Mata (kanan) - sumber: Squawka
Spurs lebih banyak menyerang lewat kiri (49%) dan hampir selalu diawali oleh Rose. Memilih Juan Manuel Mata untuk meladeni kecepatan Rose mungkin bukan keputusan yang tepat dari Van Gaal. Namun, memilih Fosu-Mensah adalah keputusan yang tepat.
Mata dibebankan untuk membantu United dalam bertahan. Ini yang jarang ia lakukan karena fokus United yang menyerang lewat kiri (sisi seberang Mata). Mata beberapa kali sampai terpancing ke kiri (perhatikan Gambar 4 di atas).
![]() |
Gambar 5 Rata-rata posisi pemain Tottenham Hotspur (kiri) dan Manchester United (kanan) - sumber: WhoScored
Mata beruntung karena United memiliki Fosu-Mensah yang memiliki kekuatan dan kecepatan untuk meladeni Rose, Eriksen, Alli, dan Kane sekaligus. Fosu-Mensah bisa meng-cover tugas Mata tersebut. Sayang, ketika Fosu-Mensah harus keluar akibat cedera di menit ke-68, tugas ini tidak bisa dilanjutkan oleh Matteo Darmian yang menggantikannya.
Padahal sejujurnya, Darmian adalah bek yang lebih baik daripada Fosu-Mensah dari segi teknik dan pemahaman taktikal (dari segi fisik mungkin tidak). Namun khusus semalam, bukan bermaksud untuk melebih-lebihkan Fosu-Mensah, dalam meladeni counterpressing Spurs, memang United lebih membutuhkan fisik daripada pengalaman, teknik, dan pemahaman taktikal.
Inilah kenapa kehilangan Fosu-Mensah menjadi awal dari bumerang untuk United, terutama karena ketiga gol Spurs dicetak melalui sisi kanan pertahanan United.
Banyak Keputusan yang Aneh dari Louis van Gaal
Pertandingan semalam benar-benar mengindikasi bagaimana kedua manajer melakukan adaptasi dari situasi permainan. Mauricio Pochettino lebih bisa melakukannya dengan tetap terus mengambil risiko dan mengandalkan counterpressing-nya.
Ia sadar bahwa Manchester United bermain lebih berbahaya dan menekan di babak pertama. Tetapi ia mampu melihat celah besar di sisi kanan pertahanan United, di mana celah tersebut bertambah menganga ketika Fosu-Messah ditarik keluar.
![]() |
Gambar 6 Grafik peluang yang dicetak oleh Manchester United (kiri) dan Tottenham Hotspur (kanan) menunjukkan Spurs banyak menciptakan peluang dari kiri sementara United minim membuat peluang - sumber: Squawka
Ketiga gol yang Tottenham Hotspur cetak adalah buah dari konsistensi dan persistensi mereka untuk menyerang dari kiri dan melakukan counterpressing. Mereka lebih mau mengambil risiko sehingga mereka pun layak mendapatkan hasilnya dengan tiga gol di rentang waktu 6 menit yang krusial.
Berseberangan dengan Pochettino, Louis van Gaal melakukan keputusan aneh dari awal pertandingan dengan membuat pemain sayap alaminya, Jesse Lingard, untuk bermain di tengah, sementara pemain No. 10 alaminya, Juan Manuel Mata, untuk bermain di sayap.
Lingard dan Mata sama-sama tidak berhasil membuat dampak pada pertandingan semalam dengan kegagalan mereka mencetak satu pun peluang dan satu pun dribel sukses.
Van Gaal sadar harus melakukan perubahan di babak kedua. Namun, ia malah melakukan perubahan yang cenderung aneh. Ia memasukkan Ashley Young menggantikan Marcus Rashford dan menyuruh Young bermain sebagai penyerang.
Bermain di posisi asingnya, Young tidak bisa memberi dampak sama sekali sepanjang 45 menit babak kedua: ia tidak sekalipun menembak, membuat peluang, memenangkan dribelnya, menciptakan umpan silang, dan bahkan ia tidak sekalipun memainkan trik andalannya (baca: diving).
Setelah pertandingan selesai, ia menyatakan bahwa ia memainkan Young sebagai penyerang dengan alasan agar Young bisa melakukan banyak pergerakan berlari tanpa bola. Strategi "berlari tanpa bola" di belakang pertahanan Spurs sepertinya cara yang patut dicoba, tetapi sejujurnya Rashford dan Martial pun sudah melakukannya sepanjang babak pertama.
***
Sebenarnya kalah dari Spurs di kandang lawan bukan lah hal yang lebih menyebelkan daripada kalah dari Sunderland atau West Bromwich Albion. Namun, yang menjadi masalah bukanlah papan skor akhir, melainkan bagaimana cara kedua manajer beradaptasi dengan permainan yang terus berubah.
Pochettino terbukti bisa melakukan adaptasi taktikal yang lebih jitu meskipun hanya dalam 6 menit saja. Sementara Van Gaal harus gigit jari karena eksperimen anehnya tidak ada yang membuahkan hasil positif.
Dengan kekalahan ini, United semakin kesulitan untuk finis di empat besar. Sepertinya fans United harus mulai siap-siap mengucapkan selamat tinggal kepada Liga Champions UEFA musim depan.
Namun bagi beberapa fans garis keras United, mereka senang-senang saja mengucapkan selamat tinggal kepada Liga Champions asalkan ucapan selamat tinggal tersebut satu paket dengan ucapan selamat tinggal untuk Louis van Gaal.
====
*dianalisis oleh @panditfootball, profil lihat di sini.
(roz/mrp)













