Liga Inggris: Chelsea 0-3 Man City
Citizens Taklukkan 'Si Biru' Lewat Serangan Balik De Bruyne
Kekalahan harus diterima Chelsea saat menjamu Manchester City di Stadion Stamford Bridge, Sabtu (16/4). Di depan pendukungnya, "Si Biru" menyerah dengan skor cukup telak, 0-3.
Gol City diborong oleh penyerang asal Argentina, Sergio Aguero. Namun hat-trick-nya tersebut tak bisa dilepaskan dari peran rekan-rekan setimnya. Secara umum, strategi Manuel Pellegrini memang sangat jitu untuk membuat lini pertahanan Chelsea kewalahan.
Strategi Jebakan Offside Chelsea Gagal
Chelsea memiliki masalah di lini pertahanan pada laga ini. John Terry masih harus absen. Sementara itu itu Kenedy memiliki masalah kebugaran. Pemain yang baru dibeli pada Januari, Matt Miazga, masih beradaptasi dengan sepakbola Inggris. Alhasil Hiddink memainkan Cesar Azpilicueta, Branislav Ivanovic, Gary Cahill, dan Baba Rahman dalam skema backfour formasi 4-2-3-1.
Skema yang dimainkan lini pertahanan Chelsea secara keseluruhan adalah dengan memainkan garis pertahanan tinggi yang bertujuan untuk menjaga jarak antarpemain, khususnya backfour dengan double pivot yang pada laga ini diisi Cesc Fabregas dan Obi Mikel. Tak ada pressing agresif di lini pertahanan lawan, Chelsea bermain lebih sabar saat hendak merebut bola.
Lini pertahanan Chelsea yang dikomandoi Gary Cahill berusaha menerapkan strategi jebakan offside. Terlihat dari sejumlah upaya lini pertahanan Chelsea, ketika umpan daerah dilepaskan para pemain City ke sepertiga akhir, para pemain Chelsea berusaha untuk menjaga garis pertahanan agar pemain City yang menerima bola terjebak offside.
Namun skema ini kurang begitu berhasil. Hanya lima kali City terjebak offide. Selebihnya, serangan The Citizens dengan umpan-umpan terobosan begitu membahayakan. Total City melepaskan 11 tembakan dengan delapan di antaranya on target.
Kegagalan strategi ini paling fatal terlihat pada gol kedua Aguero. Sebelum Aguero menerima umpan daerah Samir Nasri, terlihat Cahill yang menjaga garis pertahanan untuk tetap tinggi dan membuat posisi Aguero berada pada posisi offside. Namun kecerdikan Nasri dalam menempatkan bola dan memanfaatkan momentum membuat Cahill gagal dan Aguero lolos dari jebakan offside.
[Proses terjadinya gol kedua Aguero]
Pada gambar pertama terlihat Cahill membiarkan Aguero yang berada di belakang garis pertahanan Chelsea. Namun Nasri mengetahui hal tersebut di mana ia menahan bola untuk tidak diberikan pada Aguero. Bola baru digulirkan ketika Aguero membaca lini pertahanan Chelsea dan berdiri sejajar dengan Cahill dan Ivanovic.
Risiko tinggi memang dipilih Hiddink pada laga ini. Idealnya, dalam situasi di atas, Cahill harusnya berada di dekat Aguero atau mengganggu pergerakan Aguero. Posisi Ivanovic yang membelakangi Aguero akan membuat bek asal Serbia tersebut kelimpungan ketika bola berhasil digulirkan. Jika Cahill tak berusaha menjebak Aguero, ia harusnya bisa menjadi back up untuk memotong bola andai Ivanovic (dan Mikel) berhasil dilalui Nasri.
Tapi skema ini tetap dipertahankan Chelsea hingga pertandingan berakhir. Pada gol ketiga, meski tidak melalui kegagalan jebakan offside, lini pertahanan Chelsea menaikkan garis pertahanan mereka lagi-lagi kelimpungan. Bahkan hingga menciptakan situasi satu lawan satu antara kiper Chelsea, Thiabaut Courtois, dan Fernandinho, gelandang City.
[Umpan daerah Man City di depan kotak penalti Chelsea. Sumber: Squawka]
Grafis di atas menunjukkan bahwa lini pertahanan Chelsea memang bermasalah di tengah. Umpan-umpan daerah mampu menaklukkan strategi jebakan offside di lini pertahanan Chelsea.
Serangan Balik City dan Kontribusi De Bruyne
Chelsea sebenarnya unggul penguasaan bola meski bermain lebih sabar kala bertahan. Skema yang dilakukan ketika menyerang pun demikian, tak terburu-buru mengirimkan bola ke sepertiga akhir. Di akhir pertandingan, Chelsea unggul penguasaan bola 53% berbanding 47%.
Tapi skema bertahan Chelsea tersebut diporak-porandakan oleh permainan cepat Manchester City. Ketika menguasai bola, City langsung mengarahkan bola ke depan, bukan ke tengah atau pun ke belakang.
Terlebih City menyerang ketidakberdayaan Chelsea. Mereka meyerang tuan rumah kala tidak siap untuk membangun benteng pertahanan. Skema serangan balik City begitu mematikan.
Selain lewat umpan-umpan daerah, ada kontribusi besar Kevin De Bruyne pada laga ini. Ia menjadi kreator atas dua dari tiga gol City yang tercipta lewat serangan balik. Pada dua gol tersebut, De Bruyne menjadi pemain yang memulai serangan balik timnya.
De Bruyne sejak dimainkan sebagai gelandang serang tengah mendapatkan keleluasaan dalam bermain. Ia berada di setiap jengkal sepertiga akhir City. Sementara ketika bertahan, ia menunggu di depan kotak penalti untuk kemudian menggunakan kecepatan dan keahliannya mengelabui lawan dan melancarkan serangan balik.
[Heatmap De Bruyne pada laga melawan Chelsea, tak hanya menempati satu posisi. Sumber: Squawka]
Pada gol pertama ia membangun serangan balik dengan melakukan umpan satu-dua bersama Aguero untuk mengelabui Obi Mikel dan Baba Rahman. Sementara pada gol kedua, ia menerima umpan Fernandinho yang berhasil mengagalkan serangan Chelsea dari sisi kiri. De Bruyne mengelabui Azpilicueta sebelum melakukan penetrasi hingga tengah lapangan dan memberikan bola pada Nasri yang bergerak ke sisi kanan.
Keputusan-Keputusan Keliru Hiddink
Selain skema bertahan yang menjadi kesalahan Hiddink pada laga ini, ada beberapa kesalahan lain yang dilakukan Manajer asal Belanda tersebut yang membuat Chelsea terjungkal. Keputusan-keputusan Hiddink mengundang sejumlah tanya.
Diawali dengan tidak adanya nama Oscar dalam daftar pemain Chelsea pada laga ini. Tak hanya dari susunan pemain sejak menit pertama, tapi juga dari daftar pemain cadangan. Oscar tak diikutsertakan dalam laga ini. Hiddink lebih memilih Ruben Loftus-Cheek sebagai gelandang serang tengah, yang tak begitu berkontribusi, khususnya pada babak pertama ketika serangan Chelsea kerap putus di kaki pemain lulusan akademi Chelsea tersebut.
Keputusan aneh Hiddink lainnya adalah dengan memainkan pemain muda seperti Kenedy dan Bertrand Traore ketika Chelsea sudah tertinggal 2-0. Padahal di bangku cadangan ada nama Nemanja Matic, Alexandro Pato, dan Radamel Falcao.
Meski Pato dan Falcao belum menunjukkan ketajamannya sejauh ini, setidaknya hal tersebut bisa dilakukan untuk menambah daya gedor Chelsea yang terlihat hanya mengandalkan Diego Costa di lini depan. Masuknya Kenedy dan Traore pun tak begitu berdampak besar.
Selain itu, Matic masih terpinggirkan oleh Hiddink. Ia tetap memercayakan double pivot pada Obi Mikel dan Fabregas. Satu pergantian lain diberikan pada Asmir Begovic setelah Courtois mendapatkan kartu merah langsung.
Kesimpulan
Strategi serangan balik Manchester City berhasil menaklukkan skema garis pertahanan tinggi Chelsea. Dengan umpan-umpan daerah, kecerdikan De Bruyne, dan penyelesaian akhir Aguero yang klinis, City tiga kali membobol gawang Chelsea.
Sementara itu bagi Chelsea, kekalahan ini menjadi tanda bahwa skuat mereka bermasalah. Faktor sejumlah pemain cedera memang tak bisa dimungkiri memengaruhi kualitas permainan Chelsea yang pada laga ini menelan kekalahan ke-11 di Liga Primer.
====
* Dianalisis oleh @panditfootball, profil lihat di sini.







