Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Match Analysis

    Liga Italia: Roma 1-0 Napoli

    Serangan Balik AS Roma yang Lebih Baik daripada Napoli

    Pandit Football Indonesia - detikSport
    Getty Images/Paolo Bruno Getty Images/Paolo Bruno
    Jakarta - Juventus dipastikan meraih gelar juara Serie A musim 2015/2016. Namun, gelar tersebut tak akan datang begitu cepat tanpa pertempuran sengit yang mempertemukan AS Roma dengan Napoli di Stadion Olimpico, Senin (25/4/2016) malam.

    AS Roma mengalahkan Napoli dengan skor tipis 1-0 lewat gol Radja Nainggolan pada menit ke-89. Kemenangan itu membuat Juventus di posisi teratas tak lagi mungkin dikejar Napoli di posisi dua dengan tiga giornata tersisa; Juventus punya 85 poin, sementara Napoli memiliki 73 poin. Kemenangan ini sekaligus membawa Roma kian dekat dengan Napoli dengan jarak dua poin.

    Sebetulnya Roma diragukan bisa mengalahkan Napoli, mengingat mereka sudah menarik dua pemainnya pada babak pertama karena cedera. Kostas Manolas ditarik keluar pada menit ke-20 dan Alessandro Florenzi pada menit ke-45. Padahal sebelum laga itu Roma tampil prima tanpa adanya pemain yang cedera, yang membuat Luciano Spalletti selaku pelatih bebas memilih pemain untuk formasi 4-3-3 yang dipakainya pada laga tersebut. Hanya saja ia lebih memilih Seydou Keita pada posisi gelandang bertahan ketimbang Daniele De Rossi.

    Begitu juga dengan Partenopei, julukan Napoli. Mereka pun datang ke Stadion Olimpico dengan kekuatan penuh. Tapi ada sedikit perubahan pada komposisi pemain pada formasi 4-3-3 yang dipakai saat itu. Perubahan itu ada di posisi penyerang sayap kiri. Untuk pertama kalinya Lorenzo Insigne dicadangkan dari peran itu dan membiarkan Dries Mertens yang mengambil alih. Kendati demikian, Gonzalo Higuain sudah bisa diturunkan kembali sebagai penyerang tengah pada laga ini.



    Cara Roma Membuat Pertahanan Napoli Terbuka

    Awalnya, pertahanan Napoli sangat sulit ditembus. Empat bek yang dipasang Maurizio Sarri jarang meninggalkan posnya dan tidak terpancing false nine Roma yang diperankan Diego Perotti. Duet bek tengah Napoli yang dihuni Raul Albiol dan Kalidou Koulibaly, tidak terpancing Perotti yang bergerak ke tengah agar Radja Nainggolan naik ke depan gawang lawan.

    Disiplin posisi pertahanan Napoli juga diikuti kedua full-back yang diperani Faouzi Ghoulam (kiri) dan Elseid Hysaj (kanan). Mereka berdua jarang naik membantu serangan. Hysaj fokus mengantisipasi Stephan El Shaarawy sementara Ghoulam meredam Mohamed Salah. Kedua full-back Napoli ini pun mewaspadai kedua full-back Roma yang kerap naik membantu serangan.

    Empat bek Napoli pun dibantu tiga gelandangnya. Trio Allan Marques, Jorginho dan Marek Hamsik, sering berkeliaran di depan kotak penaltinya sendiri membantu pertahanan. Atas gaya bertahan garis rendah ini, pertahanan Napoli sulit ditembus lini depan Roma. Umpan-umpan terobosan yang dilancarkan Roma mampu dicegat oleh Napoli yang menumpukan para pemainnya di lini belakang. Sementara Napoli mengandalkan serangan melalui fast break dengan melancarkan umpan-umpan panjang kepada Gonzalo Higuain di lini depan.

    Roma pun mengubah cara bermainnya dengan menggunakan pertahanan garis rendah. Gaya itu memancing para pemain Napoli tampil lebih terbuka. Trio lini tengah Napoli lebih sering naik membantu serangan, begitu juga dengan dua full-back yang dimilikinya. Apalagi jika mengingat serangan balik Napoli tidak efektif dan mengakhiri babak pertama dengan skor 0-0. Selama itu juga mereka cuma mampu melepaskan tiga percobaan tendangan ke gawang.


    [Ketika Napoli mulai terpancing menerapkan garis pertahanan tinggi]

    Ketika Napoli bermain lebih terbuka, justru Roma yang memanfaatkan peluang melalui serangan balik sehingga Napoli terlihat panik ketika mengantisipasi serangan balik tersebut. Napoli memang melakukan transisi bertahan dengan baik, mereka sanggup kembali menumpuk para pemainnya di kotak penaltinya sendiri. Akan tetapi, di depan kotak penati Napoli kerap membiarkan pemain Roma tidak terkawal, hingga akhirnya Nainggolan mencetak gol di luar kotak penalti Napoli pada menit ke-89.

    Tidak Ada Sinergi di Tiga Penyerang Napoli

    Kendati Insigne tidak diturunkan sejak awal laga, Napoli tetap mengandalkan serangan melalui sayap kiri. Memang, Napoli sendiri lebih banyak memainkan umpan-umpan jauh dari belakang kepada Higuain, tapi tetap saja ia memprioritaskan aliran bola ke sisi kiri. Mertens yang menjadi winger kiri saat itu pun bermain bagus. Hanya saja acapkali ia salah pengertian dengan Higuain atau Jose Callejon yang berada di sisi kanan.


    [Kecenderungan serangan Napoli di sepertiga akhir pertahanan AS Roma. Sumber grafis: Fourfourtwo]

    Sering ada kesalahan dalam mengoper bola antara Higuain dengan Mertens, begitu juga sebaliknya. Atau Mertens sering kecewa karena umpan terobosannya ke kotak penalti tidak disambut Callejon. Dalam pertandingan ini, Mertens tidak memberikan bola yang diinginkan Higuain atau Callejon, begitu juga sebaliknya.

    Terkadang Mertens sudah terlanjur masuk ke dalam kotak penalti terlalu cepat, sehingga umpan dari lini tengah Napoli ke sisi kiri tidak ada yang menyambut. Sementara itu Sarri terlambat memasukan Insigne. Ia baru dimainkan pada menit ke-75. Sebetulnya tidak ada yang salah dengan Mertens. Ia pun masih sempat melepaskan tiga kali percobaan tendangan, empat umpan silang dan satu dribel sukses. Tapi karena jarang dimainkan selama musim ini, Mertens kurang bersinergi dengan serangan Napoli pada laga tersebut.

    Wojciech Szczesny Menebalkan Tembok Pertahanan Roma

    Napoli kesulitan menghadapi garis tinggi pertahanan Roma dan pressing agresifnya. Ketika para pemain Roma beredar di wilayah Napoli, mereka langsung mencoba merebut bola ketika pemain belakang lawan menguasai bola. Upaya serangan balik pun percuma karena jarang menemui sasaran dan Higuain bekerja sendirian di lini depan. Begitu pun ketika Roma mulai menerapkan garis pertahanan rendah. Tiga gelandang Roma yang dilakoni Nainggolan, Keita, dan Miralem Pjanic, aktif membayang-bayangi para pemain Napoli. Mereka lebih sabar merebut bola di wilayah sendiri ketimbang di wilayah lawannya.

    Terkadang, Napoli berhasil masuk ke pertahanan Roma ketika lawannya itu baru melancarkan serangan balik. Apalagi mengingat jika Douglas Maicon sering terlambat melakukan transisi bertahan. Hanya saja penyelesaian akhir Napoli kurang baik. Mereka melepaskan sembilan percobaan tendangan tidak ada yang berhasil menjadi gol. Satu diblok, empat melenceng dan empat lagi mengarah ke gawang. Tapi empat tembakan yang mengarah ke gawang itu mampu diselamatkan Wojcieh Szczesny, kiper Roma.

    Szczesny mementahkan semua tendangan Napoli itu dalam posisi yang sulit. Szczesny pun berkontribusi besar membantu para bek Roma. Ia melakukan tiga sapuan bersih di depan gawangnya. Selain itu, Szczesny berperan penting dalam serangan balik Roma. Ketika bola sudah aman dalam kuasanya, ia langsung mengalirkannya dengan cepat melalui tendangan jarak jauh. Lima umpan jarak jauhnya pun tepat sasaran ke kaki rekan-rekannya. Sehingga Roma bisa melancarkan serangannya dengan cepat tanpa membuang-buang waktu.

    Kesimpulan

    Sejatinya kedua kesebelasan mampu mengantisipasi setiap ancaman ke pertahannya masing-masing. Tapi pertahanan garis rendah Roma berhasil menjebak Napoli yang mulai frustrasi. Rasa frustasi itu didapatkan karena serangan balik mereka tidak efektif. Sehingga tiga gelandang dan dua full-back Napoli bermain lebih terbuka. Allan pun digantikan David Lopez agar agresivitas serangan lebih meningkat. Tapi pada kenyataannya, serangan balik Roma lebih efektif pada laga ini. Akibat Napoli kehilangan Allan sebagai pemain yang sering berkeliaran di depan kotak penaltinya sendiri.


    ====

    * Dianalisis oleh @panditfootball, profil lihat di sini.

    (krs/nds)
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game