Match Analysis
Liga Champions: Manchester City 0-0 Real Madrid
Ini Penyebab City vs Madrid Membosankan
Foto: Getty Images/Shaun Botterill
Manchester - Duel Manchester City dan Real diprediksi akan berjalan sengit. Meski pada akhirnya laga tersebut justru cenderung membosankan dan berujung hasil imbang tanpa gol.
Tak hanya para penonton di Indonesia, sejumlah analis luar pun mengatakan laga di Etihad Stadium, Rabu (27/4/2016) dinihari WIB tadi. Bahkan ada juga yang mengatakan duel antara The Citizens kontra Los Galacticos ini menjadi salah satu pertandingan semifinal yang tak menarik dalam sejarah Liga Champions.
Pernyataan di atas tak sepenuhnya salah. Pada babak pertama, kedua kesebelasan total hanya melepaskan tiga tembakan; dua untuk City, satu untuk Madrid. Dari ketiga tembakan tersebut, semuanya tak ada yang menemui sasaran atau menjadi peluang yang membahayakan masing-masing tim.
Namun jika melihat apa yang terjadi pada babak kedua, kebosanan pada laga ini sebenarnya mulai berkurang. Madrid mulai menemukan ritme permainan dan menciptakan banyak peluang. Hanya saja City yang cenderung stagnan membuat banyak orang menghakimi laga ini membosankan.
Cedera David Silva yang Mengubah Gaya Bermain City
City bisa dibilang bermain dengan skuat terbaiknya. Meski tanpa Yaya Toure yang mengalami cedera pada laga melawan Stoke City, pemain yang diturunkan adalah skuat terbaik yang bisa diturunkan manajer Manuel Pellegrini.
Vincent Kompany dan Bacary Sagna kembali tampil. Sebelumnya kedua pemain belakang itu mengalami cedera yang cukup panjang. Untuk posisi yang ditinggalkan Yaya, masih ada Fernando Reges sebagai tandem Fernandinho pada double pivot dalam formasi 4-2-3-1. Kevin De Bruyne dan Sergio Aguero pun menjadi tumpuan serangan tim.
Yang terlihat kemudian City cukup mendominasi laga. Namun dominasi City hanya terjadi pada babak pertama. Pada babak kedua, City sulit keluar dari tekanan dan lebih sering dibombardir lini serang adrid.
Hal ini terjadi karena salah satu otak serangan City, David Silva, mengalami cedera pada menit ke-40. Cedera Silva ini berdampak pada pilihan strategi yang diantisipasi Pellegrini. Perubahan formasi dasar dilakukan dengan memasukkan penyerang muda asal Nigeria, Kelechi Iheanacho, untuk menggantikan Silva. Dengan adanya Aguero, City pun bermain dengan formasi 4-4-2.
Pada dasarnya cara bermain City tak terlalu berubah. Kedua sayap benar-benar dimaksimalkan untuk mengirimkan bola ke sepertiga akhir. Umpan-umpan silang pun tetap menjadi andalan City untuk membongkar lini pertahanan Madrid.
Yang membedakan, ketiadaan Silva membuat area bermain De Bruyne lebih sempit. Gelandang asal Belgia tersebut memang diplot bermain di sayap kiri sejak Silva ditarik keluar. Berbeda ketika ia bermain sebaga pemain no.10 di mana ia menyisir setiap sisi lapangan sepertiga akhir.
Hal ini menjadi masalah bagi lini serang City. Serangan mereka semakin tidak kreatif karena tidak ada pemain no.10 yang sebelumnya dilakoni De Bruyne. Otomatis, tidak ada pemain yang menyambungkan lini tengah ke lini depan. Sementara Aguero dan Iheanacho benar-benar difungsikan sebagai penyelesai akhir.
Pada gambar di atas, terlihat bahwa hanya ada dua pemain City di lini pertahanan Real Madrid. Bantuan dari lini kedua terlambat sehingga Aguero yang menguasai bola tak memiliki opsi yang banyak untuk membagi bola. Akhirnya ia melepaskan tembakan jarak jauh yang sama sekali tak mengarah ke gawang Madrid yang dikawal Keylor Navas.
Dua penyerang City itu memang tak rajin turun menjemput bola. Inilah yang menciptakan jarak cukup jauh antara gelandang dan penyerangan. Sementara Madrid memiliki Casemiro pada posisi gelandang bertahan yang bermain lugas. Gelandang asal Brasil tersebut memotong hampir setiap serangan dan operan City yang mengarah ke sepertiga akhir Madrid.
Casemiro pada laga ini mencatatkan tiga tekel berhasil, empat intersep, dan tiga sapuan. Lebih dari itu, ia berhasil menjadi pemain yang mem-backup Marcelo yang rajin melakukan overlap. Sisi kiri Madrid pun terbilang aman meski Marcelo terlambat turun setelah melancarkan serangan.
Real Madrid Tumpul Tanpa Cristiano Ronaldo
Madrid hanya melepaskan satu tembakan pada pertama, melalui tendangan Karim Benzema yang melenceng. Satu tembakan dalam 45 menit permainan untuk tim sekelas Madrid tentunya menjadi persoalan.
Madrid pada laga ini harus bermain tanpa Cristiano Ronaldo yang merupakan top skorernya musim ini di seluruh ajang. Ronaldo bahkan sudah absen sejak pertandingan La Liga menghadapi Rayo Vallecano pada akhir pekan lalu.
Situasi semakin tak menguntungkan Madrid karena Benzema pun mengalami cedera pada laga menghadapi Rayo. Meski diturunkan sejak menit pertama pada laga ini, Benzema bermain tak maksimal sehingga akhirnya digantikan oleh Jese Rodriguez usai turun minum.
Sebagai pengganti Ronaldo, pelatih Madrid, Zinedine Zidane, memilih Lucas Vazquez. Penyerang berusia 24 tahun ini memang tampil impresif saat menghadapi Rayo di mana ia turut mencetak satu gol dalam kemenangan Madrid dengan skor 3- tersebut.
Namun lini serang Madrid sendiri tak berdaya ketika City bermain dengan skuat terbaiknya. Nicolas Otamendi menjadi tembok kokoh yang sulit dijinakkan lini serang Madrid. Perubahan intensitas serangan Madrid baru mulai meningkat setelah City bermain dengan formasi dasar 4-4-2.
Perubahan formasi City direspon Zidane dengan mengubah pola serangan Madrid. Gareth Bale yang pada babak pertama hanya beroperasi di sisi kanan, mulai mendapatkan kebebasan pada babak kedua. Jeseyang bisa bermain sebagai penyerang sayap membuat pergantian posisi di lini serang Real Madrid menjadi lebih cair.
Gambar di atas adalah momen yang terjadi pada menit ke-74, cara Madrid menciptakan peluang. Bale yang bermain ke tengah, Jese bergeser ke kanan, menemukan celah di antara empat gelandang City dengan empat pemain belakang mereka (garis biru muda). Toni Kroos yang menguasai bola lantas memberikan pada Bale yang berdiri bebas. Dengan aksi individunya, Bale lantas menggiring bola hingga ke kotak penalti, hanya saja tendangannya melenceng.
Menyerang lewat tengah menjadi pilihan karena dua full-back City; Bacary Sagna dan Gael Clichy, jarang melakukan overlap. Hal ini juga yang membuat Bale dan Vazquez kerepotan pada babak pertama menciptakan peluang dari kedua sayap. Maka yang sering terlihat ketika Madrid menciptakan peluang bermula dari Bale yang menerima bola dari Kroos atau Modric.
Hal ini menjadi efektif karena di lini tengah City hanya tersisa dua gelandang (perubahan formasi setelah Silva ditarik keluar). Modric dan Kroos lebih berani melakukan penetrasi ke kotak penalti City karena 'hanya' menghadapi Fernandinho-Fernando di tengah, sebelumnya harus menemui De Bruyne terlebih dahulu.
Kroos menjadi pemain Madrid yang begitu berpengaruh dalam membongkar pertahanan City. Sementara Modric beraksi dengan pergerakan tanpa bola, gelandang asal Jerman tersebut mengancam dengan operan-operan akurat yang ia lepaskan.
Kroos tercatat memiliki akurasi operan sebesar 99% pada laga ini. Bahkan Kroos harus menunggu hingga menit ke-73 untuk melakukan kesalahan operan. Kesalahan operan tersebut kemudian menjadi satu-satunya operan gagal yang ia lakukan pada laga ini.
Alhasil Madrid mampu meningkatkan kans mencetak gol pada babak kedua. Jika pada babak pertama hanya mencatatkan satu tembakan, pada babak kedua tercatat 12 tembakan dilepaskan Madrid. Hanya saja lini serang Madrid tetap tumpul sehingga kesulitan mencetak gol.
Kesimpulan
City tak berkembang pada babak kedua karena cederanya Silva memengaruhi gaya bermain mereka. Formasi 4-4-2 yang sukses menumbangkan Stoke City tiga hari jelang laga ini, tak efektif saat menghadapi Madrid.
Kejelian Zidane memanfaatkan area tengah untuk menciptakan peluang membuat Madrid berhasil meningkatkan serangan pada babak kedua. Hanya saja peluang yang tercipta menjadi sia-sia, kecuali peluang-peluang lewat sepak pojok. Pada pertemuan kedua di Santiago Bernabeu, dengan adanya Ronaldo, tentunya tumpulnya lini serang ini diharapkan Zidane tak kembali terulang.
====
* Dianalisis oleh @panditfootball, profil lihat di sini. (mrp/din)
Tak hanya para penonton di Indonesia, sejumlah analis luar pun mengatakan laga di Etihad Stadium, Rabu (27/4/2016) dinihari WIB tadi. Bahkan ada juga yang mengatakan duel antara The Citizens kontra Los Galacticos ini menjadi salah satu pertandingan semifinal yang tak menarik dalam sejarah Liga Champions.
Pernyataan di atas tak sepenuhnya salah. Pada babak pertama, kedua kesebelasan total hanya melepaskan tiga tembakan; dua untuk City, satu untuk Madrid. Dari ketiga tembakan tersebut, semuanya tak ada yang menemui sasaran atau menjadi peluang yang membahayakan masing-masing tim.
Namun jika melihat apa yang terjadi pada babak kedua, kebosanan pada laga ini sebenarnya mulai berkurang. Madrid mulai menemukan ritme permainan dan menciptakan banyak peluang. Hanya saja City yang cenderung stagnan membuat banyak orang menghakimi laga ini membosankan.
Cedera David Silva yang Mengubah Gaya Bermain City
City bisa dibilang bermain dengan skuat terbaiknya. Meski tanpa Yaya Toure yang mengalami cedera pada laga melawan Stoke City, pemain yang diturunkan adalah skuat terbaik yang bisa diturunkan manajer Manuel Pellegrini.
Vincent Kompany dan Bacary Sagna kembali tampil. Sebelumnya kedua pemain belakang itu mengalami cedera yang cukup panjang. Untuk posisi yang ditinggalkan Yaya, masih ada Fernando Reges sebagai tandem Fernandinho pada double pivot dalam formasi 4-2-3-1. Kevin De Bruyne dan Sergio Aguero pun menjadi tumpuan serangan tim.
Yang terlihat kemudian City cukup mendominasi laga. Namun dominasi City hanya terjadi pada babak pertama. Pada babak kedua, City sulit keluar dari tekanan dan lebih sering dibombardir lini serang adrid.
Hal ini terjadi karena salah satu otak serangan City, David Silva, mengalami cedera pada menit ke-40. Cedera Silva ini berdampak pada pilihan strategi yang diantisipasi Pellegrini. Perubahan formasi dasar dilakukan dengan memasukkan penyerang muda asal Nigeria, Kelechi Iheanacho, untuk menggantikan Silva. Dengan adanya Aguero, City pun bermain dengan formasi 4-4-2.
Pada dasarnya cara bermain City tak terlalu berubah. Kedua sayap benar-benar dimaksimalkan untuk mengirimkan bola ke sepertiga akhir. Umpan-umpan silang pun tetap menjadi andalan City untuk membongkar lini pertahanan Madrid.
Yang membedakan, ketiadaan Silva membuat area bermain De Bruyne lebih sempit. Gelandang asal Belgia tersebut memang diplot bermain di sayap kiri sejak Silva ditarik keluar. Berbeda ketika ia bermain sebaga pemain no.10 di mana ia menyisir setiap sisi lapangan sepertiga akhir.
![]() |
Heatmap De Bruyne sejak Silva ditarik keluar (Via: Squawka)
Hal ini menjadi masalah bagi lini serang City. Serangan mereka semakin tidak kreatif karena tidak ada pemain no.10 yang sebelumnya dilakoni De Bruyne. Otomatis, tidak ada pemain yang menyambungkan lini tengah ke lini depan. Sementara Aguero dan Iheanacho benar-benar difungsikan sebagai penyelesai akhir.
![]() |
Peluang Aguero pada akhir babak pertama
Pada gambar di atas, terlihat bahwa hanya ada dua pemain City di lini pertahanan Real Madrid. Bantuan dari lini kedua terlambat sehingga Aguero yang menguasai bola tak memiliki opsi yang banyak untuk membagi bola. Akhirnya ia melepaskan tembakan jarak jauh yang sama sekali tak mengarah ke gawang Madrid yang dikawal Keylor Navas.
Dua penyerang City itu memang tak rajin turun menjemput bola. Inilah yang menciptakan jarak cukup jauh antara gelandang dan penyerangan. Sementara Madrid memiliki Casemiro pada posisi gelandang bertahan yang bermain lugas. Gelandang asal Brasil tersebut memotong hampir setiap serangan dan operan City yang mengarah ke sepertiga akhir Madrid.
Casemiro pada laga ini mencatatkan tiga tekel berhasil, empat intersep, dan tiga sapuan. Lebih dari itu, ia berhasil menjadi pemain yang mem-backup Marcelo yang rajin melakukan overlap. Sisi kiri Madrid pun terbilang aman meski Marcelo terlambat turun setelah melancarkan serangan.
Real Madrid Tumpul Tanpa Cristiano Ronaldo
Madrid hanya melepaskan satu tembakan pada pertama, melalui tendangan Karim Benzema yang melenceng. Satu tembakan dalam 45 menit permainan untuk tim sekelas Madrid tentunya menjadi persoalan.
Madrid pada laga ini harus bermain tanpa Cristiano Ronaldo yang merupakan top skorernya musim ini di seluruh ajang. Ronaldo bahkan sudah absen sejak pertandingan La Liga menghadapi Rayo Vallecano pada akhir pekan lalu.
Situasi semakin tak menguntungkan Madrid karena Benzema pun mengalami cedera pada laga menghadapi Rayo. Meski diturunkan sejak menit pertama pada laga ini, Benzema bermain tak maksimal sehingga akhirnya digantikan oleh Jese Rodriguez usai turun minum.
Sebagai pengganti Ronaldo, pelatih Madrid, Zinedine Zidane, memilih Lucas Vazquez. Penyerang berusia 24 tahun ini memang tampil impresif saat menghadapi Rayo di mana ia turut mencetak satu gol dalam kemenangan Madrid dengan skor 3- tersebut.
Namun lini serang Madrid sendiri tak berdaya ketika City bermain dengan skuat terbaiknya. Nicolas Otamendi menjadi tembok kokoh yang sulit dijinakkan lini serang Madrid. Perubahan intensitas serangan Madrid baru mulai meningkat setelah City bermain dengan formasi dasar 4-4-2.
Perubahan formasi City direspon Zidane dengan mengubah pola serangan Madrid. Gareth Bale yang pada babak pertama hanya beroperasi di sisi kanan, mulai mendapatkan kebebasan pada babak kedua. Jeseyang bisa bermain sebagai penyerang sayap membuat pergantian posisi di lini serang Real Madrid menjadi lebih cair.
![]() |
Gambar di atas adalah momen yang terjadi pada menit ke-74, cara Madrid menciptakan peluang. Bale yang bermain ke tengah, Jese bergeser ke kanan, menemukan celah di antara empat gelandang City dengan empat pemain belakang mereka (garis biru muda). Toni Kroos yang menguasai bola lantas memberikan pada Bale yang berdiri bebas. Dengan aksi individunya, Bale lantas menggiring bola hingga ke kotak penalti, hanya saja tendangannya melenceng.
Menyerang lewat tengah menjadi pilihan karena dua full-back City; Bacary Sagna dan Gael Clichy, jarang melakukan overlap. Hal ini juga yang membuat Bale dan Vazquez kerepotan pada babak pertama menciptakan peluang dari kedua sayap. Maka yang sering terlihat ketika Madrid menciptakan peluang bermula dari Bale yang menerima bola dari Kroos atau Modric.
Hal ini menjadi efektif karena di lini tengah City hanya tersisa dua gelandang (perubahan formasi setelah Silva ditarik keluar). Modric dan Kroos lebih berani melakukan penetrasi ke kotak penalti City karena 'hanya' menghadapi Fernandinho-Fernando di tengah, sebelumnya harus menemui De Bruyne terlebih dahulu.
Kroos menjadi pemain Madrid yang begitu berpengaruh dalam membongkar pertahanan City. Sementara Modric beraksi dengan pergerakan tanpa bola, gelandang asal Jerman tersebut mengancam dengan operan-operan akurat yang ia lepaskan.
Kroos tercatat memiliki akurasi operan sebesar 99% pada laga ini. Bahkan Kroos harus menunggu hingga menit ke-73 untuk melakukan kesalahan operan. Kesalahan operan tersebut kemudian menjadi satu-satunya operan gagal yang ia lakukan pada laga ini.
![]() |
Grafis operan Toni Kroos (Via:squawka)
Alhasil Madrid mampu meningkatkan kans mencetak gol pada babak kedua. Jika pada babak pertama hanya mencatatkan satu tembakan, pada babak kedua tercatat 12 tembakan dilepaskan Madrid. Hanya saja lini serang Madrid tetap tumpul sehingga kesulitan mencetak gol.
Kesimpulan
City tak berkembang pada babak kedua karena cederanya Silva memengaruhi gaya bermain mereka. Formasi 4-4-2 yang sukses menumbangkan Stoke City tiga hari jelang laga ini, tak efektif saat menghadapi Madrid.
Kejelian Zidane memanfaatkan area tengah untuk menciptakan peluang membuat Madrid berhasil meningkatkan serangan pada babak kedua. Hanya saja peluang yang tercipta menjadi sia-sia, kecuali peluang-peluang lewat sepak pojok. Pada pertemuan kedua di Santiago Bernabeu, dengan adanya Ronaldo, tentunya tumpulnya lini serang ini diharapkan Zidane tak kembali terulang.
====
* Dianalisis oleh @panditfootball, profil lihat di sini. (mrp/din)











