Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Match Analysis

    Liga Europa: Villarreal 1-0 Liverpool

    Ini Penyebab The Reds Tak Mampu Terobos 'Kapal Selam Kuning'

    Pandit Football Indonesia - detikSport
    Reuters / Heino Kalis Reuters / Heino Kalis
    Jakarta -

    Satu gol Adrian pada injury time membuat Villareal unggul 1-0 atas Liverpool pada leg pertama semifinal Liga Europa UEFA, Jumat (29/4) dini hari WIB di Stadion El Madrigal.

    Kemenangan ini sekaligus membuktikan ucapan pelatih Villareal, Marcelino Garcia Toral, yang berjanji akan menyusahkan Liverpool di tempatnya. Villarreal memang terlihat kesulitan mengimbangi agresivitas Liverpool pada babak pertama, tapi segalanya berubah pada babak kedua. The Yellow Submarines bermain begitu padu dan membuat Liverpool amat kesulitan melakukan serangan.

    Sebelum pertandingan, sejatinya pelatih Liverpool, Juergen Klopp, khawatir dengan kemampuan Villarreal dalam memaksimalkan serangan balik. Belum lagi tajamnya duo penyerang Villareal, Cedric Bakumbu serta Roberto Soldado. Bakumbu adalah pencetak gol terbanyak Villareal di liga dengan 12 gol, sementara Soldado adalah pemberi assist terbanyak sebanyak delapan.



    Dari susunan pemain, hampir tidak ada perubahan yang signifikan dari kedua kesebelasan. Liverpool terlihat akan memanfaatkan agresivitas trio penyerang mereka, Philippe Coutinho, Roberto Firmino, dan Adam Lallana. Serangan Liverpool pun kemungkinan besar berasal dari sayap kanan yang memadukan kerjasama Lallana dan James Milner.

    Di sisi lain, Marcelino agaknya sudah memprediksi hal ini. Ia menempatkan Denis Suarez di sisi kiri sementara di sisi kanan, ia menempatkan Jonathan dos Santos. Marcelino pun kembali menurunkan Jaume Costa yang kondisinya belum 100 persen demi menahan gempuran serangan dari sisi kiri pertahanan mereka.

    Villarreal Rentan Ditembus

    Menempatkan empat gelandang sejatinya membuat lini tengah Villarreal tak bisa dibilang kuat. Terlebih, keempatnya berdiri sejajar. Hal ini membuat lini tengah Villarreal amat rentan untuk ditembus utamanya lewat umpan-umpan terobosan.

    Dari hitung-hitungan jumlah pemain pun tuan rumah sudah kalah jumlah. Mereka mesti menghadapi setidaknya lima pemain Liverpool yang begitu agresif dalam melakukan pressing.

    Kala menyerang, empat gelandang Villarreal menjadi tidak leluasa. Di satu sisi mereka mesti memberi suplai bola pada duet Bakumbu dan Soldado, tapi di sisi lain, Liverpool sewaktu-waktu bisa masuk lewat celah yang mereka buat kala menyerang.


    [Arah Umpan Ruiz dan Bailey pada Babak Pertama. Sumber: Squawka]


    [Arah Umpan Ruiz dan Bailey pada Babak Kedua. Sumber: Squawka]

    Pada awal-awal babak pertama, bola lebih sering beredar di area pertahanan Villarreal. Baik Ruiz maupun Baily kesulitan mengirim umpan-umpan pendek ke lini tengah. Sebab, keempat pemain tersebut umumnya sudah dikepung para pemain Liverpool sehingga menjadi riskan bagi keduanya mengirimkan umpan pendek. Arah umpan mereka pun umumnya dikirimkan dari satu sisi ke sisi lain.

    Yang terjadi kemudian adalah mengirimkan bola panjang ke kedua sisi yang juga tidak begitu efektif. Liverpool memiliki Lallana, Milner, dan Nathaniel Clyne, di sisi kanan pertahanan. Di sisi kiri, ada Coutinho, Joe Allen, dan Alberto Moreno. Serangan dari sayap pun menjadi sia-sia karena berhasil dipatahkan.

    Pada babak kedua Villarreal lebih leluasa saat membangun serangan. Salah satu faktornya karena rapatnya jarak antarlini. Hal ini terlihat dari grafis umpan Ruiz dan Bailey pada babak kedua. Bola tak begitu sering diberikan kepada Ruiz dan Bailey, sementara keduanya pun hanya dua kali salah mengirimkan umpan; bandingkan dengan babak pertama di mana keduanya salah mengirimkan delapan umpan.

    Menekan ala Liverpool

    Bermain dengan formasi 4-3-3 tidak berarti kalau penempatan posisi pemain Liverpool menjadi melebar dan mudah ditembus lewat serangan ke area tengah, justru sebaliknya.

    Saat para pemain Villareal menguasai bola di area pertahanan Liverpool, setidaknya empat sampai lima pemain Liverpool mengepung pemain tersebut. Dalam beberapa kesempatan terlihat Milner dan Lallana justru berada di sisi kiri pertahanan Liverpool, padahal keduanya bermain di sisi kanan.

    Hal ini jelas membuat Villareal kesulitan mengembangkan permainan. Apalagi, lini tengah mereka kerap kalah jumlah dengan para pemain Liverpool. Saat ditekan seperti ini, Villareal sulit mengirimkan bola dari satu sisi ke sisi lainnya. Karena pressing ini pula, Liverpool terhindar dari kebobolan lebih banyak.

    Andalkan Kemampuan Individu

    Villarreal membangun serangan dari belakang. Namun, mereka tak punya opsi untuk mengirimkan bola ke lini tengah. Mereka pun mengirimkan bola ke samping. Saat memasuki area pertahanan Liverpool, bola dialirkan ke tengah. Di sini, kemampuan individu para pemain Villarreal yang dimaksimalkan.

    Untungnya, penampilan gelandang Liverpool tidak begitu bagus. Lucas maupun Allen kerap menjadi sorotan karena tak mampu membendung duet gelandang Villarreal yang dihuni Bruno dan Pina.

    Namun, Villarreal seringkali terlalu lama menguasai bola di depan kotak penalti Liverpool. Mereka tidak mengandalkan serangan balik seperti yang selama ini ditakutkan Klopp -- setidaknya pada babak pertama.

    Liverpool Andalkan Sisi Kanan

    Saat menyerang, Liverpool fokus di sisi kanan. Kombinasi Clyne-Milner-Lallana, menjadi suguhan utama serangan Liverpool dinihari tadi. Namun, hal ini seolah sudah diantisipasi oleh Marcelino yang menempatkan Costa di pos tersebut. Selain itu, Suarez pun diinstruksikan untuk tidak keluar menyerang dan berperan sebagai pelapis Costa.

    Pertahanan Vilrlareal pun dibuat rapat dengan menumpuk para pemain. Hal ini membuat Liverpool kesulitan untuk melepaskan tembakan dari depan kotak penalti. Akibatnya, Liverpool terpaksa melepaskan umpan-umpan silang. Padahal, Villarreal punya Ruiz dan Baily yang antisipatif soal umpan-umpan silang. Selain itu, ketidakhadiran Christian Benteke membuat tidak adanya target dari umpan-umpan silang tersebut. Akibatnya, umpan-umpan silang tersebut menjadi sia-sia.

    Dengan mengandalkan serangan di sisi kanan, sisi kiri Liverpool menjadi tidak begitu berfungsi. Bahkan, Coutinho hampir jarang tersorot kamera televisi saking jarangnya mendapatkan bola. Hal serupa juga terjadi pada Firmino yang tidak bisa menjadi pemantul dalam perannya sebagai ujung tombak Liverpool. Pertandingan semalam memang bukan pertandingan terbaik Firmino dan Coutinho, bahkan bisa dibilang sebagai salah satu yang terburuk.

    Perubahan pada Babak Kedua

    Marcelino agaknya menyadari kalau salah satu kelemahan anak asuhnya adalah soal distribusi bola. Ini yang membuat Villarreal bermain lebih menunggu pada babak kedua. Namun, strategi ini jelas lebih efektif ketimbang apa yang mereka peragakan pada babak pertama.

    Jarak antarlini dipangkas menjadi lebih rapat. Villarreal membuat Liverpool bebas berkelana dengan bola hingga awal area sepertiga akhir penyerangan mereka. Setelah memasuki area tersebut, para pemain Villarreal aktif melakukan pressing.

    Hasilnya terlihat jelang akhir babak kedua. Pada menit ke-86, Bakumbu berhasil memanfaatkan umpan terobosan yang membelah area antara Toure dan Lovren. Namun, tembakannya masih mampu ditepis Mignolet.

    Dari skema seperti ini, terlihat kalau Liverpool sudah mulai kesulitan mengantisipasi umpan terobosan para pemain Villarreal. Mimpi buruk pun hadir pada dua menit injury time. Suarez yang menginisiasi serangan balik, berhasil menerima umpan terobosan yang tidak mampu digapai Toure. Bola pun kemudian dikirim kepada Adrian yang berdiri tak terkawal.

    Gol yang dicetak Adrian tidak lepas dari kesalahan akumulatif para pemain Liverpool kala menghadapi serangan balik Villarreal. Gol tersebut menunjukkan bahwa pertahanan Liverpool begitu rentan untuk ditembus lewat umpan-umpan terobosan. Saat menghadapi serangan balik, lini pertahanan Liverpool hanya menyisakan Kolo Toure dan Dejan Lovren karena Clyne dan Moreno terlambat bertahan.

    Kesimpulan

    Dari skema serangan, Liverpool agaknya ingin memaksimalkan agresivitas Coutinho dan Firmino di lini serang. Namun, yang terjadi justru serangan mereka terasa begitu tumpul dan monoton.

    Liverpool memaksimalkan serangan dari sisi kanan. Hal ini sudah diantisipasi oleh Villareal dengan menguatkan area tersebut. Salah satu kelemahannya adalah sisi kiri yang dihuni Coutinho menjadi tidak berkembang.

    Saat digempur Liverpool, Villarreal menguatkan area pertahanan mereka yang menyebabkan The Reds tak bisa melepaskan tembakan dari depan kotak penalti. Para pemain Liverpool pun seperti kehabisan akal dengan mengirim umpan-umpan silang. Padahal, tidak jelas siapa yang mereka tuju dari umpan-umpan tersebut.

    Pada babak kedua, Villarreal melakukan perubahan dengan merekatkan jarak antarlini serta menunggu Liverpool untuk keluar menyerang. Gol Villareal tidak lepas dari skema ini di mana mereka memaksimalkan serangan balik dan juga Liverpool yang sedang lengah menjelang laga berakhir.


    ====

    * Dianalisis oleh @panditfootball. Profil lihat di sini.

    (cas/a2s)
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game