Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Match Analysis

    Liga Inggris: Chelsea 2-2 Tottenham Hotspur

    Keberhasilan Chelsea Temukan Celah di Pertahanan Tottenham

    Pandit Football Indonesia - detikSport
    Foto: Reuters / Dylan Martinez Foto: Reuters / Dylan Martinez
    London - Tottenham Hotspur gagal mengalahkan Chelsea yang memberikan gelar juara untuk Leicester City. Adalah lengahnya lini pertahanan Spurs yang membuyarkan impian Spurs menahan pesta The Foxes.

    Tottenham harus menelan dua pil pahit sekaligus pada pertandingan pekan ke-36, Selasa (3/5/2016) dinihari WIB tadi Pertama, mereka melanjutkan tren buruk tak pernah menang di Stadion Stamford Bridge sejak 1990. Kedua adalah Tottenham gagal menunda pesta Leicester City sebagai juara Liga Primer Inggris musim ini.

    Semua itu gara-gara Tottenham cuma bisa meraih hasil imbang 2-2 kala menghadapi Chelsea tadi. Sebetulnya Tottenham unggul dua gol lebih dahulu pada babak pertama. Dua gol itu dicetak Harry Kane pada menit ke-35 dan Son Heung-Min pada menit ke-44. Tapi Chelsea mampu bangkit dan menyamakan kedudukan atas gol yang dicetak Gary Cahill pada menit ke-57 dan Eden Hazard pada menit ke-82.

    Padahal Tottenham bermain cukup baik pada laga ini meski tidak diperkuat gelandang andalannya Dele Alli. Absennya  Alli digantikan Son pada formasi 4-2-3-1. Kendati pada susunan pemain Son ditempatkan sebagai winger, namun fakta di lapangan ia bermain sebagai gelandang serang. Sementara winger kanan dilakoni Erik Lamela dan Christian Eriksen di sisi kiri. Selain Dele Alli, Tottenham juga tidak bisa diperkuat Nabil Bentaleb karena cedera. Eric Dier pun tetap bermain walau ada kendala kebugaran.

     Susunan pemain Chelsea dan Tottenham Hotspur. Sumber: Fourfourtwo.

    Sebetulnya kondisi Chelsea lebih parah lagi. Mereka tidak bisa menampilkan Kurt Zouma dan Loic Remy karena cedera. Tapi kekosongan Remi tidak menjadi masalah karena ia bukan pilihan utama manajernya, Guus Hiddink.

    Selain itu, Chelsea juga memaksa memainkan John Terry dan Gary Cahill yang sedang tidak bugar. Namun lebih kentara lagi karena Thibaut Courtois tidak bisa dimainkan karena menjalani sanksi. Maka peran Courtois sebagai kiper digantikan Asmir Begovic pada formasi 4-2-3-1 a la Hiddink.

    Celah yang Ditemukan Chelsea dan Terus Dimanfaatkannya

    Hiddink cukup jeli memperhatikan perubahan yang terjadi dengan Tottenham pada empat menit terakhir babak pertama. Ia melihat dua full-back Tottenham mulai mengendorkan serangan. Danny Rose sebagai full-back kiri dan Kyle Walker di sisi kanan, mulai menyisakan tenaganya untuk bertahan.

    Apalagi saat itu Pedro Rodriguez, winger kiri Chelsea, kesulitan untuk masuk ke sepertiga akhir pertahanan Tottenham. Terutama Pedro tidak mampu menaklukan Walker di sisi kanan pertahanan Tottenham. Pergerakan Pedro pun terlalu statis. Ketika mendapatkan bola, ia bergerak lurus dan kemudian mencoba melepaskan umpan silang ke depan gawang Tottenham. Tapi dua umpan silangnya itu tidak ada yang tepat sasaran.

    Maka dari itu Pedro digantikan Hazard pada pergantian babak. Hasilnya Hazard bisa menjadi winger kiri yang lebih baik. Ia bermain lebih dinamis ketimbang Pedro. Hazard tidak hanya bergerak lurus lalu mengirimkan umpan silang, namun ia beberapa kali berani melakukan cutting inside. Pergerakan-pergerakan Hazard yang dinamis itu membuat Walker kelimpungan menjaganya. Bahkan dribel Hazard sempat melewati Walker sebelum mencetak gol ke gawang yang dijaga Hugo Lloris.

    Bisa dilihat pada grafis di bawah ini, serangan Chelsea yang mengandalkan Pedro di sisi kiri sulit menembus pertahanan Tottenham (Gambar satu). Kemudian aliran bola di sisi kiri lebih lancar ketika masuknya Hazard (Gambar dua).

     
    Gambar satu (winger kiri diperani Pedro selama babak pertama). Sumber: Squawka.

     Gambar dua (winger kiri dilakoni Eden Hazard selama babak kedua). Sumber: Fourfourtwo.

    Tidak cuma membuat Walker kerepotan, pergerakan Hazard pun memancing Dier keluar dari sarangnya di depan kotak penalti Tottenham. Sehingga kekosongan Dier meringankan tugas Fabregas karena tinggal berhadapan dengan Moussa Dembele. Sebelumnya, Fabregas sulit keluar dari tekanan karena mendapat kawalan dari Dier maupun Dembele.

    Hazard dan Fabregas pun tidak terlalu khawatir kepada lini pertahanan mengingat Pochettino mengubah intruksinya kepada Tottenham agar lebih bertahan. Otomatis dua full-back Tottenham tidak terlalu agresif menyerang seperti babak pertama. Begitu juga dengan Dembele yang lebih berkutat di depan kotak penalti, ketimbang menjadi jembatan antara lini pertahanan dan serangan Tottenham.

    Maka dari itulah kedua full-back Chelsea terkadang membantu serangan. Baik Cesar Azpillicueta di sisi kiri dan Branislav Ivanovic di sisi kanan, naik  ke sepertiga akhir pertahanan Tottenham jika ada kesempatan. Mengingat sejak kedua full-back Tottenham fokus bertahan, ada ruang di sisi lapangan yang bisa dieksploitasi Chelsea.

    Sisi Lain Rapatnya Jarak Pertahanan Tottenham

    Ketika Rose dan Walker mengurangi aktivitas serangan, dua full-back Chelsea perlahan mulai naik ketika ada kesempatan. Selain berkurangnya ancaman dari overlap yang sering dilakukan Rose dan Walker, tercipta ruang kosong di kedua sisi lapangan Tottenham. Ruang itu diciptakan karena posisi dua full-back Tottenham tersebut lebih rapat ke dalam kotak penalti. Mereka mengantisipasi cutting inside yang sering diperagakan Hazard dan Willian. Selain itu, Rose dan Walker turut mengawasi Diego Costa yang bergerak melebar ketika tidak sedang menguasai bola.

    Alhasil, kekosongan di sisi lapangan bisa dimanfaatkan kedua full-back Chelsea yang membantu serangan. Terutama ketika ada bola liar yang dimentahkan pertahanan Tottenham, justru mengarah ke sisi lapangan dan di situlah Azpillicueta dan Ivanovic berada. Sehingga bola yang didapatkan dua full-back Chelsea tersebut, kembali dialirkan kepada kedua winger di lini depan.

    Selain soal serangan, dua full-back Chelsea menajadi pemain pertama yang menghadang serangan Tottenham yang dibangun melalui Rose atau Walker.

    Apalagi tugas Azpillicueta dan Ivanovic dipermudah Hazard dan Willian yang turut aktif membayang-bayangi lawan. Maka dari itu intrik antara Willian dan Rose sering terjadi pada laga ini. Namun hal tersebut cukup berhasil untuk mengembalikan keunggulan Chelsea di sepertiga akhir pertahanan Tottenham.

    Selain itu, perubahan permainan Tottenham membuat tiga gelandang serangnya kekurangan suplai bola. Mengingat Dembele yang menjadi penghubung serangan lebih cenderung bertahan. Sehingga tiga gelandang serang Tottenham lebih sering turun ke bawah mencari bola sendiri. Maka dari itulah Eriksen tidak terlihat terlalu banyak pada babak kedua dan Tottenham gagal kembali membalikan kedudukan.

    Cesc Fabregas Lebih Leluasa Berkat Eden Hazard dan Diego Costa

    Salah satu faktor Chelsea tertinggal dua gol lebih dahulu adalah kekalahan di lini tengah. Hal itu tidak lepas dari strategi counterpressing Tottenham yang berjalan begitu terorgaisir. Tottenham berhasil mempersempit permainan Chelsea, yaitu dengan mobilitas Moussa Dembele dan tiga gelandang serangnya.

    Dembele memiliki tugas mengawal Fabregas. Dan jika Dembele lalai, masih ada Dier yang menanti Fabregas di depan kotak penalti Tottenham. Maka Fabregas tidak bisa berbuat banyak ketika Pochettino masih memberikan keleluasaan kepada Dembele.

    Fabregas yang terkekang dua pemian sekaligus, membuatnya terpaksa bergerak ke sisi lapangan. Dan hal itu tidak terlalu efektif bagi Fabregas. Agar lepas dari penjagaan Dembele maupun Dier, Fabregas cenderung bergerak di sisi kiri. Mengingat Pedro lebih banyak membantu Azpillicueta bertahan saat itu. Namun Fabregas tidak terlalu efektif membantu serangna melalui sayap kiri. Lima operannya pun gagal dilakukannya. Bahkan beberapa kali ia sempat berpindah ke sisi kanan agar bisa membangun serangan. Tapi tugasnya di sisi kanan tidak begitu leluasa karena sering salah paham dengan kinerja Willian.

    Coba perhatikan aliran bola yang dilakukan selama babak pertama pada grafis di bawah ini.

     
    Grafis operan Cesc Fabregas selama babak kedua. Sumber: Squawka.

    Fabregas baru bisa leluasa ketika Dembele cenderung bertahan di depan kotak penalti. Sehingga tidak terlalu banyak gangguan yang didapatkan Fabregas ketika menguasai bola dari lini tengah. Ia baru mendapatkan ancaman dari Dembele ketika mulai masuk ke sepertiga akhir pertahanan Tottenham. Maka dari itu Fabregas lebih sering turun lebih ke bawah ketika Tottenham mulai cenderung bertahan. Hal itu agar ia lebih leluasa mengalirkan bola dari lini tengah.

    Tugas Fabregas pun dipermudah sejak masuknya Hazard. Seperti yang sudah dijelaskan jika pergerakan Hazard lebih dinamis ketimbang Pedro. Ia yang lebih berani melakukan cutting inside, mengalihkan perhatian para gelandang dan bek Tottenham. Beberapa kali Dier dan Dembele terpancing gerakan Hazard. Kedua gelandang Tottenham itu pun masing-masing satu kali terkecoh oleh dribel Hazard.

    Begitu juga dengan pergerakan tanpa bola Diego Costa. Ia beberapa kali turun ke tengah walau jarang memantulkan bola. Namun upayanya itu berhasil mengalihkan fokus Dier dan dua bek tengah Tottenham. Pertahanan Tottenham tidak menyadari keberadaan Fabregas yang terkadang tiba-tiba masuk ke dalam sepertiga akhir pertahananya sendiri. Seperti grafis di bawah ini, yang menggambarkan Fabregas bisa lebih leluasa mengalirkan bola pada babak kedua.

     
    Grafis operan Cesc Fabregas pada babak kedua. Sumber: Squawka.


    Kepanikan Tottenham Mengubah Segalanya

    Pertahanan Tottenham masih baik-baik saja sampai awal babak kedua. Tapi kelalaian Toby Adelweireld dalam mengantisipasi tendangan sudur membuat gawangnya kebobolan. Saat itu Adelweireld lengah mengawal Cahill yang berhasil memperkecil ketertinggalan pada menit ke-58. Akibat kebobolan itulah Tottenham mulai panik. Perubahan intruksi Pochettino agar Tottenham bertahan awalnya cukup solid, walau menciptakan beberapa kekosongan. Namun setelah kebobolan itulah ruang kekosongan Tottenham semakin terbuka lebar.

    Pochettino mengawali kepanikannya dengan memasukan Ryan Mason untuk menggantikan Son pada menit ke-65. Maksudnya agar meredam lini tengah Chelsea yang semakin  agresif sejak babak kedua. Mason diintruksikan membantu Dier dan Dembele menjaga area luar kotak penalti Tottenham. Dengan sistem itu diharapkan Tottenham bisa kembali memenangkan lini tengah dan mempertahankan skor kemenangan 2-1.

    Tapi sejak masuknya Mason, perubahan juga terjadi kepada Rose dan Walker. Kedua full-back itu kembali diintruksikan membantu serangan. Sehingga tercipta jarak yang lebar dengan bek tengahnya. Dan jarak itu kembali harus bisa ditutupi oleh Dier. Tapi sayangnya Chelsea sudah terlanjur menemukan celahnya. Dan permainan dinamis Hazard membantu meningkatkan performa serangan Chelsea. Sehingga celah-celah di pertahanan Tottenham bisa lebih dimanfaatkan ketimbang saat babak pertama.

    Setidaknya atas hal tersebut juga Chelsea bisa lebih memanfaatkan waktu pertandingan. Karena sudah bisa memanfaatkan celah itulah Chelsea bisa lebih berbahaya membalas serangan. Tidak seperti babak pertama yang cenderung buntu dan tidak efektif sewaktu winger kiri masih mengandalkan Pedro. Dan tidak lepas dari terkekangnya Fabregas.

    Kesimpulan

    Selain serangan Tottenham yang melunak, kepanikanlah yang menghancurkan permainannya sendiri. Pochettino betul-betul mencari keamanan setelah unggul. Selain mengubah pola bertahan, ia melakukan beberapa pergantian pemain yang berisiko terkait situasi skor pertandingan.

    Sementara Hiddink berhasil menemukan celah Tottenham dan berhasil memanfaatkannya. Ditambah Hazard bermain superior pada laga ini. Dan berkontribusi besar meningkatkan pola serangan Chelsea dari sektor lainnya.
    Leicester akhirnya menjadi juara dan Tottenham harus merelakan peluang besar untuk menjadi juara untuk pertama kalinya di era Liga Primer.

    Entah apakah Spurs akan kembali dalam waktu cepat guna mendapatkan peluang sebesar musim ini lagi atau tidak dalam soal perburuan gelar.

    Tentu tim-tim besar yang penampilannya acak-acakan di musim ini, dari Man City dan Arsenal, hingga yang berantakan macam Chelsea, Liverpool dan Man United akan segera memperbaiki diri menyongsong musim depan.

    ===

    * Dianalisis oleh @panditfootball, profil lihat di sini. (mrp/din)
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game