Liga Inggris: Chelsea 1-1 Leicester
Eksperimen Gaya Menyerang Leicester Berbuah Hasil Imbang
Foto: Paul Gilham/Getty Images
Manajer Leicester Claudio Ranieri hanya menurunkan Jamie Vardy di lini serang. Tidak ada nama Shinji Okazaki maupun Leonardo Ulloa yang mendampinginya. Sebagai gantinya, Ranieri menurunkan Andy King yang bergerak di belakangnya. Ranieri pun memasukkan nama Demarai Gray ketimbang Marc Albrighton di pos sisi kiri.
Di kubu The Blues, Guus Hiddink menurunkan susunan pemain yang hampir mirip seperti saat mereka menahan imbang Liverpool 1-1 pada pekan lalu. Hiddink kembali menurunkan Bertrand Traore di lini serang yang baru mengoleksi 321 menit pertandingan.
![]() |
Buntunya Umpan-Umpan Pendek Leicester
Leicester bermain dengan mengirimkan umpan-umpan pendek. Bola dari tengah tidak langsung dikirimkan ke depan melainkan ke salah satu sisi. Cara seperti ini tentu berbeda dengan yang biasa Leicester tunjukkan khususnya dalam proses mencetak gol.
Proses membangun serangan Leicester dimulai dari bola yang dikirimkan kepada Danny Drinkwater, lalu diumpan pada N'Golo Kante. Bola pun kemudian dialirkan pada Gray yang berusaha menusuk dari sisi.
Kehadiran Gray memberikan warna lain dalam serangan Leicester. Kedua sisi serangan Leicester kini sama-sama dihuni oleh pemain yang memiliki kecepatan. Namun, Gray tidak bermain seefektif Riyad Mahrez yang seringkali mengejutkan dengan pergerakannya yang menusuk langsung ke dalam kotak penalti.
Dengan gaya bermain tersebut, Leicester menjadi sulit untuk membuat peluang. Biasanya, Leicester mengandalkan serangan balik dengan umpan-umpan panjang yang langsung dikirimkan ke arah Vardy. Namun, hal serupa tidak dominan dalam pertandingan semalam.
Saat berada di depan kotak penalti Chelsea, bola lebih banyak ditunda untuk dikirimkan. Para pemain Leicester lebih memilih saling mengumpan atau mencoba menerobos langsung lini pertahanan Chelsea.
Salah satu contohnya pada menit ke-74, saat Mahrez berhasil mendapatkan peluang di depan kotak penalti. Dalam kondisi 3 lawan 2, Mahrez lebih memilih menggocek bola ketimbang memberikan umpan terobosan pada Vardy yang tak terkawal.
Lambatnya Transisi Bertahan Leicester
Chelsea sejatinya punya babak peluang utamanya pada babak pertama. Gaya bermain Leicester dengan umpan-umpan pendek, mudah untuk dibaca dan dipatahkan. Pada babak pertama, Leicester kehilangan bola sebanyak 11 kali. Hal ini dimanfaatkan Chelsea dengan melakukan serangan cepat.
Dalam beberapa kesempatan, terlihat Leicester kewalahan menahan serangan Chelsea. Mudah dijumpai situasi tiga bek Leicester menghadapi tiga pemain Chelsea. Ada pula peluang saat Traore mendapatkan bola umpan silang mendatar tepat di depan gawang, meski Robert Huth mampu memblok tembakan Traore.
Salah satu kelemahan Chelsea adalah lambatnya gelandang mereka untuk melepaskan umpan. Penampilan Willian dan Eden Hazard memang tidak buruk, tapi ada beberapa umpan keduanya yang mestinya bisa dimaksimalkan menjadi gol. Namun, karena timing yang kurang tepat, bola pun sekadar menjadi peluang.
![]() |
Dipasangnya Traore sebagai penyerang, memberikan kelebihan dan kekurangan buat serangan Chelsea. Traore punya mobilitas dengan bergerak ke kedua sisi maupun menjemput bola. Hal ini memudahkan lini tengah Chelsea untuk tidak sia-sia mengirim umpan ke depan, yang berpotensi dipatahkan bek Leicester. Kelemahannya adalah Traore tidak bisa diandalkan sepenuhnya dalam duel dengan bek jangkung Leicester yang dihuni duo Wes Morgan dan Marcin Wasilewski.
Dari grafis di atas, terlihat selain bergerak di depan kotak penalti, Traore pun kerap turun dan bergerak ke kedua sisi. Penempatan posisi Traore terbilang baik. Saat bergerak di tengah lapangan, ia bisa menjadi opsi untuk umpan dengan bola panjang, sementara di area kotak penalti, pergerakannya dekat dengan pemain Chelsea lain yang membuatnya mudah dijangkau.
Pemain Muda
![]() |
Dengan status sebagai pertandingan terakhir dan tidak berpengaruh buat Chelsea untuk musim depan, Hiddink agaknya memberikan kesempatan buat para pemain muda minim pengalaman. Di babak kedua, nama-nama seperti Tammy Abraham, Ruben Loftus-Cheek, serta Fikayo Tomori, diturunkan; masing-masing menggantikan Traore, Pedro, dan Branislav Ivanovic.
Chelsea tidak mengalami peningkatan intensitas serangan dalam pergantian yang dilakukan pada awal babak kedua tersebut. Perbandingannya, pada babak pertama, Chelsea melepaskan 13 attempts dengan tiga yang mengarah ke gawang. Pada babak kedua, Chelsea cuma melepaskan empat attempts, dengan satu yang mengarah ke gawang dan berbuah gol.
Masuknya Abraham dan Loftus-Cheek membuat lini serang Chelsea tidak semenggigit saat babak pertama. Abraham melepaskan dua tembakan sementara Loftus-Cheek sekali yang sama-sama tak mengarah ke gawang. Keduanya pun sama-sama tak melepaskan umpan kunci. Dalam bertahan, Loftus-Cheek dan Tomori melakukan satu tekel tanpa sekalipun intercept, sementara Abraham nihil.
Dari grafis di atas umpan Chelsea di area sepertiga akhir terlihat kalau para pemain The Blues lebih sering mengirimkan umpan ke kedua sisi, ketimbang menerobos masuk ke dalam kotak penalti. Padahal, menilik dari proses gol yang dicetak Fabregas, Leicester punya kelemahan di lini tengah karena baik Kante maupun Drinkwater kerap terlambat membantu pertahanan.
![]() |
Dari grafis di atas terlihat kalau pertahanan Leicester sebenarnya lemah dalam mengawasi pergerakan tanpa bola pemain Chelsea. Hal ini sempat dilakukan pada babak pertama, tapi gagal dieksploitasi pada babak kedua.
![]() |
Gol kedua Chelsea pun memperlihatkan kurang sigapnya lini pertahanan Leicester. Pergerakan Matic justru disambut lima pemain Leicester yang berdiri berbaris. Padahal, Abraham, Loftus-Cheek, dan Willian berdiri bebas tak terkawal. Sial buat Leicester karena kaki Schlupp justru mengait kaki Nemanja Matic.
Chelsea memang mencetak gol pada babak kedua. Namun, permainan mereka kian menurun terlebih saat Leicester membuat perubahan.
Babak Kedua, Leicester Kembali pada Pakem Semula
Kehadiran King dan Gray tidak berdampak drastis bagi penyerangan Leicester. Keduanya pun diganti usai turun minum. Gray diganti Jeffrey Schlupp, sementara King diganti Okazaki.
Secara permainan, King lebih cocok untuk ditempatkan sebagai gelandang tengah. Ia punya kelebihan dalam mengirimkan umpan-umpan menuju lini depan. Saat ditempatkan di belakang Vardy, peran King justru tak terlihat. Semalam,dari 45 menit bermain, King melepaskan 26 umpan dengan 17 umpan sukses yang tidak ada satupun yang menjadi umpan kunci.
![]() |
![]() |
Dari grafis umpan di atas, terlihat kalau King hanya mampu melepaskan empat umpan sukses sepanjang 45 menit di sepertiga akhir penyerangan Leicester. Dari umpan yang diterima pun, hanya dua yang ia dapatkan di depan kotak penalti Chelsea. Penempatan posisi ini yang membuat King tak menjadi ancaman buat lini pertahanan Chelsea.
Setelah pergantian usai turun minum tersebut, umpan-umpan panjang Leicester mulai berjalan. The Foxes menunjukkan ciri khasnya dengan dengan bermain bertahan, lalu melakukan tekel atau memotong bola, untuk kemudian dikirimkan ke lini serang.
Hadirnya Okazaki terbilang vital buat lini serang Leicester. Pemain berkebangsaan Jepang tersebut membuat konsentrasi para pemain belakang Chelsea terpecah. Para pemain Leicester memiliki opsi lebih banyak saat melakukan serangan, sementara bek Chelsea mesti menjaga dua pemain.
Masuknya Albrighton pun membuat lini tengah Leicester kian kuat. Ia, bersama dengan Schlupp bertugas menutup serangan Chelsea dari kedua sisi. Saat menyerang keduanya bergerak ke tengah, sementara fullback Leicester membantu serangan dengan bergerak di sisi. Albrighton dan Schlupp punya banyak opsi karena Kante dan Drinkwater turut bergerak membantu serangan.
Kesimpulan
Ranieri seperti ingin mencoba skema permainan seperti apa yang akan ia pergunakan untuk musim depan. Salah satunya adalah dengan menempatkan seorang striker yang ditopang oleh gelandang serang. Selama ini, Leicester biasanya bermain dengan dua penyerang yang didukung oleh dua gelandang di kedua sisi. Gol Leicester pun umumnya bukan berasal dari cara membangun serangan dari lini belakang ke lini tengah, lalu ke lini depan, melainkan pengiriman umpan-umpan panjang langsung menuju penyerang.
Kehadiran seorang gelandang serang yang ditempati Andy King akan membuat Kante dan Drinkwater lebih berperan untuk menahan gelombang serangan lawan. Bertambahnya jumlah gelandang secara tidak langsung memberikan efek yang cukup signifikan: Leicester berusaha bermain dari kaki ke kaki. Namun, hal ini tak bisa dibilang efektif. Pasalnya, sejumlah usaha serangan Leicester justru berbuah kegagalan karena umpan yang tidak sempurna, atau terlalu lama menguasai bola.
Leicester mencatatkan jumlah passing terbanyak dalam tiga pertandingan terakhir dengan 435 umpan. Pekan lalu, kala mengatasi Everton 3-1, Leicester hanya melepaskan 339 umpan. Angka ini jauh menurun kala The Foxes menahan imbang MU 1-1 dua pekan sebelumnya dengan 248 umpan.
![]() |
Sadar kalau skema seperti itu tak berpengaruh banyak, Ranieri kemudian mengembalikan gaya permainan Leicester pada pakem semula. Vardy dan Okazaki menjadi gelombang serangan pertama, Albrighton dan Schlupp sebagai gelombang kedua, sementara Kante dan Drinkwater menjadi gelombang ketiga. Hal ini terlihat jelas dari gol yang dicetak Drinkwater pada menit ke-82. Jeffrey Schlupp sebagai bagian serangan gelombang kedua, mengirim umpan ke depan kotak penalti Chelsea yang kosong melompong. Umpan tersebut kemudian dilanjutkan tembakan keras Drinkwater yang tak bisa diantisipasi Courtois.
Dari gambar di atas terlihat kalau Chelsea punya dua lapis pertahanan. Lapis pertama menjaga Okazaki, Vardy, dan Albrighton, sementara lapis kedua menjaga Kante dan Schlupp. Namun, Leicester punya lapis serangan ketiga yang dihuni oleh Drinkwater yang berdiri tanpa kawalan.
Buat Chelsea, hasil ini seperti memperlihatkan kalau tak ada perubahan berarti di dalam tim. Mengandalkan serangan pada pundak Willian jelas bukan hal yang tepat. Duet Matic-Fabregas, makin menunjukkan perbaikan, sementara lini serang masih terkesan kurang kreatif dalam merancang serangan.
(krs/cas)
















