Pratinjau Inggris vs Rusia
Lupakan Ekspektasi, Inggris Harus Out of The Box
Foto: Reuters
Sebuah perjalanan kualifikasi yang sempurna ditambah tiga kemenangan pada pertandingan pemanasan menghadapi Turki, Australia, dan Portugal sudah melambungkan harapan yang tinggi untuk pasukan Roy Hodgson di Piala Eropa 2016. Setelah puasa gelar juara internasional sejak 50 tahun yang lalu, sepertinya memang ini saat yang paling tepat untuk Inggris.
Tapi paragraf di atas tidak boleh membuat para pendukung Inggris berlega. Pada kenyataannya, Inggris selalu datang di sebuah turnamen dengan ekspektasi tinggi, untuk kemudian juga mengecewakan ekspektasi tersebut.
Kita bisa melihat kesamaan Inggris dengan Tottenham Hotspur, sampai-sampai istilah "Spursy" juga sudah menjadi terkenal di Inggris, dengan arti kurang-lebih: "untuk secara konsisten dan pasti gagal memenuhi ekspektasi. Untuk membuyarkannya." Bukan kebetulan juga ada lima pemain Spurs yang menjadi tulang punggung The Three Lions di Piala Eropa 2016 ini. Tapi justru sebenarnya ini berpotensi menjadi hal positif alih-alih negatif.
Berseberangan dengan Inggris, Leonid Slutsky yang mengambil alih kesebelasan negara Rusia pada musim panas lalu ini, juga sebenarnya tidak dalam kondisi yang terlalu bagus. Sorotan pada pertahanan adalah sesuatu yang terus menjadi pekerjaan rumahnya.
Pertahanan Rusia yang Tidak Berubah dalam 10 Tahun
Slutsky praktis hanya melakukan penyesuaian pada taktiknya yang biasa ia mainkan di CSKA Moscow, untuk diaplikasikan ke Rusia. Pendeknya, apapun hal positif yang iadapatkan di CSKA, bisa ia terapkan juga di negaranya.
Pertama-tama ia hanya merasa cocok pada salah satu formasi, yaitu 4-2- 3-1, yang juga ia terapkan di CSKA. Sistemnya ini mengandalkan dua gelandang bertahan dengan hanya satu gelandang yang benar-benar gelandang bertahan, sementara gelandang satunya lagi biasanya merupakan box-to-box yang biasanya diisi oleh Alan Dzagoev. Namun, karena Dzagoev cedera, ia bisa saja memasang pemain CSKA lainnya, Aleksandr Golovin, untuk diduetkan bersama Denis Glushakov yang merupakan gelandang bertahan alami.
Pemain CSKA yang begitu kental di Rusia ini juga sangat tercermin dari pemilihan Igor Akinfeev (penjaga gawang) serta duet bek tengah Sergei Ignashevich dan Vasili Berezutski.
Mereka bertiga sudah menjadi jagoan di lini pertahanan Rusia selama satu dekade lebih. Hal ini bisa jadi positif, tapi juga negatif, terutama karena Ignashevich sudah berusia 36 tahun dan Berezutski akan berusia 34 tahun pada 20 Juni nanti. Tidak ada pemain yang bisa menggantikan mereka sejauh ini, membuat mereka bisa saja dieksploitasi oleh kecepatan dari lawan-lawan mereka.
Kemudian juga dari opsi full-back mereka, absennya Yuri Zhirkov sangat membuat Slutsky pusing. Manajer Rusia tersebut sangat mengandalkan pemain yang lebih bertipikal menyerang pada posisi bek sayap. Melawan Ingggris, ia bisa saja mengandalkan Igor Smolnikov dan Georgi Shchennikov.
Sorotan Juga pada Pertahanan Inggris
Pertandingan persahabatan terakhir melawan Portugal sangat mencerminkan kekecewaan bagi Inggris, terutama kerentanan pada pertahanan mereka. Jika untuk posisi penjaga gawang, Joe Hart, memang sudah tidak dipungkiri lagi adalah yang terbaik, tapi tidak demikian dengan bek tengah.
Padahal (sesuai urutan kecakapan statistik) Chris Smalling, John Stones, dan Gary Cahill merupakan tiga bek terbaik di Liga Primer Inggris musim 2015/2016, tetapi entah kenapa penampilan mereka di Inggris tidak sebaik ketika mereka bermain di klub mereka. Smalling dan Stones kerap beberapa kali melakukan kesalahan defensif, begitupun Cahill yang kesulitan jika harus melakukan cover terutama soal kecepatan.
![]() |
Hodgson juga hanya membawa tiga bek tengah, dengan Eric Dier (gelandang bertahan) yang sebenarnya bisa menjadi bek tengah dalam keadaan darurat.
Namun dibanding bek tengah mereka, Inggris memiliki full-back yang memiliki penampilan gemilang sepanjang musim lalu. Kyle Walker di kanan dan Danny Rose di kiri biasa menyediakan permainan yang lebih melebar untuk Spurs, karena Spurs tidak memainkan winger di depan.
Sama-sama Bisa Lebih Dinamis
Waktu sudah banyak berlalu ketika Hodgson hanya mau memainkan 4-4-2 yang kaku. Sekarang ia sudah beberapa kali menerapkan 4-2-2 yang lebih dinamis atau 4-4-2 berlian yang membuat mereka mampu menang 3-2 atas Jerman, setelah sempat tertinggal, di pertandingan persahabatan.
Potensi sistem terbaik Inggris memang ada pada Harry Kane, Jamie Vardy, dan Dele Alli. Hal ini membuat pekerjaan rumah tersendiri bagi Hodgson untuk mencari posisi terbaik kaptennya, Wayne Rooney. Rooney selama ini ditempatkan sebagai puncak dari formasi berlian, yang artinya ini juga adalah posisi terbaik Alli.
![]() |
Sementara Slutsky tidak terlalu suka sepakbola pressing, itu yang membuatnya sering menduetkan gelandang bertahan murni dengan gelandang box-to-box. Glushakov dan Artur Yusupov adalah dua gelandang bertahan murni yang dimiliki oleh Rusia.
Posisi winger sudah cukup aman bagi Rusia dengan adanya Aleksandr Kokorin di kanan dan Oleg Shatov di kiri yang bisa menyediakan kecepatan. Tapi pemain pada posisi No. 10 bisa menjadi dilema karena kaptennya, Roman Shirokov, sedang tidak dalam penampilan yang baik.
Kemudian di lini depan, Slutsky lebih senang dengan tipikal penyerang tunggal yang cepat seperti Seydou Doumbia atau Ahmed Musa di CSKA. Di Rusia, ia memiliki Artyom Dzyuba yang mencetak 29 gol di seluruh kompetisi untuk Zenit St. Petersburg.
Strategi yang Bisa Menjadi Pemecah Kebuntuan bagi Inggris
"Kami memiliki kualitas, tidak dipungkiri lagi - fakta bahwa (skuat) kami tidak berpengalaman soal umur dan jumlah caps tidak bisa dianggap sebagai keunggulan, tapi ini digantikan oleh rasa awet muda, energi, dan antusiasme dari beberapa pemain untuk bermain baik," kata Hodgson seperti dikutip dari UEFA.com.
Hanya ada tiga pemain Inggris di skuat 'Tim Tiga Singa' di turnamen ini yang merupakan alumnus Piala Eropa 2012.
Sebuah solusi bagi Hodgson jika ingin memainkan Rooney dan Alli bersamaan bisa saja dengan merefleksikan apa yang Mauricio Pochettino lakukan di Spurs, yaitu bermain tanpa winger (bukan berita bagus untuk Raheem Sterling), sehingga akan menempatkan Alli di posisi wide attacker kiri dan James Milner, Adam Lallana, atau Ross Barkley di wide attacker kanan.
|
[Baca juga: Ini Cara Pochettino Merevolusi Sepakbola Inggris Melalui Tottenham Hotspur]
Di posisi ini lah Alli bisa bermain segemilang musim lalu dengan mencetak 55 peluang, 9 asis, 10 gol, dan akurasi tembakan mencapai 60 persen. Ini akan membuat Rooney bisa berperan lebih ke dalam, yaitu pada posisi gelandang, bersama satu gelandang lainnya dan menempatkan Dier sebagai gelandang bertahan tunggal.
Tipikal Rusia dan Slutsky yang tidak memfavoritkan sepakbola menekan akan membuat keuntungan tersendiri bagi Inggris di mana mereka bisa menerapkan counter-pressing melalui penekanan pada positioning para pemainnya.
Inggris juga bisa jadi tidak rentan diserang balik menuju area melebar karena kedua bek tengah atau Dier bisa langsung menyambut bola hasil counter-attack di sisi lapangan tersebut.
Prediksi
Persiapan Inggris sudah sangat bagus dan mereka punya banyak hal positif untuk mengawali pertandingan nanti melawan Rusia. Rusia sendiri sudah mengalami 3 kekalahan dalam 4 pertandingan terakhirnya. Inggris bisa lebih percaya diri nanti malam, tetapi mereka harus bisa bertahan dengan baik.
Sama dengan Inggris, pertahanan Rusia juga sangat rentan. Dengan memiliki Kane, Vardy, dan Alli, Inggris sudah memiliki spesifikasi yang tepat untuk memporak-porandakan pertahanan Rusia, hanya Roy Hodgson memang masih harus memilih startegi yang tepat.
Semuanya tergantung bagaimana Hodgson mampu meracik timnya untuk bermain out of the box melawan Leonid Slutsky yang kurang fleksibel.
---
*dianalisis oleh @panditfoootbal, profil lihat di sini.
(mrp/raw)











