Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Match Analysis

    Liga Champions: Tottenham 1-2 Monaco

    Kesabaran AS Monaco yang Berbuah Kemenangan atas Tottenham

    Pandit Football Indonesia - detikSport
    Foto: REUTERS/Dylan Martinez Foto: REUTERS/Dylan Martinez
    Jakarta - Tottenham Hotspur mendapatkan pelajaran berharga di pekan perdana Liga Champions 2016/17. Menghadapi AS Monaco di Wembley, Kamis (15/9) dini hari WIB, Spurs gagal memetik kemenangan setelah kalah dengan skor 1-2.

    Melawan AS Monaco yang bermain di bawah tekanan 85 ribu penonton yang hadir di Wembley, anak asuh Mauricio Pochettino tak mampu memaksimalkan peluang. Mereka bahkan kebobolan dua gol dengan begitu cepat, dan hanya mampu menyudahi pertandingan dengan satu gol balasan.

    Formasi Kejutan AS Monaco



    Tottenham tidak turun dengan susunan pemain terbaik yang biasa dimainkan. Di lini belakang, bek sayap kiri mereka, Danny Rose, tidak bisa dimainkan karena mengalami cedera. Sementara di lini tengah, Dele Alli yang kerap dimainkan sebagai gelandang serang terpaksa harus bermain lebih ke belakang karena Moussa Dembele belum pernah mendapatkan menit bermain di musim ini akibat sisa sanksi musim lalu.

    Perubahan posisi Alli membuat Son Heung-min dipercaya mengisi satu slot gelandang serang di formasi 4-2-3-1 Tottenham. Son pun berpasangan bersama Erik Lamela dan Christian Eriksen untuk memberikan suplai bola kepada Harry Kane.

    Di saat Spurs memainkan formasi regulernya, AS Monaco justru mengubah formasinya. Formasi 4-4-1-1 yang jadi langganan mereka di Ligue 1 diubah oleh juru taktik Monaco, Leonardo Jardim, menjadi 4-2-3-1 ketika menyerang dan 4-2-1-3 ketika bertahan demi menutup setiap lini Spurs.

    Perubahan tersebut berdampak begitu besar terhadap taktik AS Monaco. Fabinho dan Tiemoue Bakayoko yang biasanya membantu serangan kali ini dimainkan untuk benar-benar melindungi lini belakang. Tidak hanya itu, gaya bermain keduanya yang cenderung fleksibel membuat keduanya dapat bergerak ke mana pun posisi di depan pemain belakang.

    Sementara itu, Bernardo Silva dan Falcao dimainkan bersama demi menutup pergerakan dua bek sayap Spurs. Seperti yang diketahui, dua bek sayap Spurs dikenal begitu aktif saat menyerang. Tak heran, ketika AS Monaco bertahan, keduanya dipasang menggantung di sisi kiri maupun kanan.

    AS Monaco Menunggu Momen

    Menghadapi lawan yang memiliki kualitas pemain jauh di atas mereka serta tampil di atas dukungan suporter yang begitu fanatik, jelas ditakuti siapa pun, tak terkecuali Jardim. Tak heran, bertahan di daerah permainan sendiri menjadi pilihan Jardim di laga ini.

    Apa yang dipilih oleh Jardim memang bukan tanpa alasan. Spurs dikenal sebagai kesebelasan yang begitu baik dalam melakukan serangan balik, baik dalam pembuatan skema serangan balik hingga memiliki pemain yang terbilang cepat.

    Kondisi tersebut membuat Jardim sadar ia harus memerintahkan pemainnya untuk bertahan dan menunggu, hingga membuat Spurs leluasa mampu memainkan bola di daerah permainan mereka.

    Meski membiarkan daerahnya dikuasai oleh Spurs, bukan berarti Monaco tak ingin menyerang. Tugas menutup ruang yang dibebankan oleh Jardim kepada pemain yang berada di sekitar pembawa bola memungkinkan mereka untuk mereka untuk melakukan serangan balik cepat.

    Apalagi dua pemain yang dipersiapkan untuk melakukan serangan balik, Falcao dan Bernardo Silva (ditambah Thomas Lemar yang masuk menggantikan Nabil Dirar di menit kelima), bisa menyediakan kecepatan.



    Pemain AS Monaco membayangi pemain Tottenham Hotspur yang membawa bola

    Dengan banyaknya pemain Monaco begitu cepat mengisi ruang kosong di daerah permainannya, Spurs pun langsung memainkan serangan cepat seketika mendapatkan bola. Di menit kedelapan, Spurs hampir mencetak gol memanfaatkan serangan balik cepat, tapi bola sepakan Son masih mampu dihalau oleh Raggi.

    Namun, tak lama, serangan balik cepat yang hendak dibuat oleh Spurs justru malah membuat petaka bagi mereka. Pada menit ke-15, berawal dari umpan Lamela yang diblok oleh Fabinho, pada akhirnya mengarah ke Bernardo Silva. Tanpa ada Ben Davies dan Eric Dier, Bernardo Silva dengan mudah melakukan tembakan ke sisi kanan gawang Hugo Lloris dan membuat Spurs kebobolan.

    Beberapa menit kemudian, giliran sisi kanan lini pertahanan Spurs yang menjadi persoalan. Kesalahan Kyle Walker yang tidak berada di posisinya, membuat Djibril Sidibe mampu dengan mudah melepas umpan silang dan berbuah gol usai diselesaikan dengan baik dengan Thomas Lemar.

    Dua gol yang bersarang kurang dari 20 menit membuat Poch membuat perubahan pola serangan. Kali ini, Dele Alli dibuat bermain sebagai gelandang tengah yang berperan sebagai kreator serangan. Pada menit ke-45, Alli yang berada di depan gawang AS Monaco mengirim umpan kepada Kane dan mampu diblok oleh Sidibe. Sepak pojok yang didapatkan Spurs dari blok Sidibe tersebut pada akhirnya mampu dimanfaatkan dengan baik oleh Toby Alderweireld untuk mengubah skor menjadi 1-2.

    Poros Ganda yang Menjadi Kunci AS Monaco

    Tanpa mengurangi apa yang sudah diperlihatkan empat pemain belakang AS Monaco, kuatnya benteng mereka di laga ini tidak lain karena permainan apik yang dilakukan oleh poros ganda mereka, Fabinho dan Tiemoue Bakayoko.

    Antisipasi bola serta visi bermain baik yang ditunjukkan kedua jelas ampuh ketika dihadapkan dengan Spurs yang begitu mengandalkan lini keduanya. Keduanya pun begitu terlihat cerdas di laga ini. Salah satunya dibuktikan saat keduanya harus beradu kepala demi mendapatkan bola di udara.

    Meski keduanya memiliki tinggi yang cukup pas, Bakayoko 184 cm dan Fabinho 188 cm, namun keduanya jarang sekali menerima tantangan duel dari pemain Spurs karena keduanya sadar memiliki tubuh tak sekokoh Eric Dier atau lompatan setinggi Alli.

    Namun, tantangan duel tersebut diganti dengan catatan yang yang membutuhkan kecepatan dan antisipasi. Fabinho di laga ini mampu membuat 7 dari 10 tekelnya berhasil. Sementara Bakayoko, tiga dari empat tekelnya mengenai sasaran. Tidak hanya tekel, keduanya juga mencatatkan tujuh intersep, tiga sapuan, dan sembilan blok di laga ini, yang salah satunya berbuah gol pertama AS Monaco yang dicetak oleh Bernardo Silva.



    Grafis intersep dan blok yang dilakukan oleh Fabinho dan Bakayoko di laga ini. Sumber: Squawka.

    Salah Wembley?

    Keputusan manajemen Spurs memilih Wembley sebagai pengganti White Hart Lane untuk laga ini tampaknya menjadi salah satu keputusan yang mereka sesali. Meski mereka mendapatkan keuntungan super besar akibat penjualan tiket yang mencapai 85.011 (rekor untuk partai kandang Spurs dan asal kesebelasan Inggris), namun mereka harus menerima akibatnya: kekalahan.

    Penyesuaian dan dimensi lapangan menjadi dua faktor yang menyebabkan Spurs kalah di laga ini. Untuk penyesuaian lapangan, meski di laga dini hari tadi, Spurs memiliki empat pemain yang sudah terbiasa bermain di Wembley, namun tetap saja Spurs berlatih selayaknya pemain AS Monaco yang untuk pertama menjejakkan kakinya di sana. Yang tidak heran, pemain kedua kesebelasan bermain selayaknya partai yang lokasinya netral.

    Faktor kedua tentu adalah dimensi lapangan. Seperti yang diungkap oleh Barney Ronay dari The Guardian, dimensi Wembley adalah 105 m untuk panjang dan 75 m untuk lebar, sedangkan White Hart Lane terbilang memiliki lapangan yang kecil, yakni 100 x 67 m.

    Dimensi Wembley yang cukup panjang tentu saja berdampak pada permainan Spurs yang mengutamakan kerapatan antar pemain. Di laga ini, tidak tampak pressing yang kerap dilakukan oleh pemain Spurs. Jarak antar pemain Spurs yang di White Hart Lane biasanya begitu rapat terlihat begitu renggang dan membuat mereka kesulitan melakukan umpan-umpan pendek di sepertiga terakhir daerah permainan lawan.



    Kesimpulan

    Pergantian kandang dari White Hart Lane ke Wembley secara tidak langsung berpengaruh ke gaya bermain Spurs. Meski demikian itu bukan lah satu-satunya faktor yang menyebabkan Spurs kalah di laga ini.

    Faktor kunci kemenangan yang membuat AS Monaco mampu mendapatkan tiga poin di laga ini tentu saja adalah kecerdikan Jardim menempatkan dua pemain yang bertipikal cepat di kedua sisi sayap demi mengurangi pergerakan ofensif dua bek sayap Spurs dan juga memanfaatkan lemahnya dua bek tengah Spurs saat bermain satu lawan satu dengan pemain lawan.

    ====

    *dianalisis oleh @panditfootball, profil lihat di sini.

    (roz/roz)
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game