Liga Italia: Napoli 1-3 Roma
Pertahanan Garis Rendah Roma Redam Agresivitas Napoli
Foto: REUTERS/Max Rossi
Napoli kebobolan terlebih dahulu melalui gol yang dicetak Edin Dzeko pada menit 43. Dzeko menggandakan golnya pada menit 54 dan kemudian diperbesar Mohamed Salah atas golnya pada menit 85. Napoli hanya bisa memperkecil ketertinggalan pada menit 58' melalui gol yang dicetak Kalidou Koulibaly.
Napoli tampil menyerang sejak pertandingan dimulai kendati tanpa diperkuat penyerang andalannya Arkadiusz Milik yang absen karena cedera. Posisinya sebagai penyerang tengah pun digantikan oleh Manolo Gabbiadini. Tidak hanya Milik, Napoli pun tidak bisa diperkuat Raul Albiol pada posisi bek tengah. Untuk posisi tersebut diisi oleh Nikola Maksimovic untuk berduet dengan Koulibaly di lini belakang.
Nasib serupa sebetulnya dialami Roma. Mereka tidak bisa diperkuat pemain-pemain utamanya yaitu Antonio Rudiger, Mario Rui dan Kevin Strootman karena cedera. Posisi Rudiger sebagai bek tengah digantikan Federico Fazio. Pos Rui sebagai full-back kiri masih memaksakan Juan Jesus yang posisi aslinya bek tengah. Sementara absensi Strootman dipercayakan kepada Leandro Paredes untuk mendampingi Daniele De Rossi sebagai poros ganda formasi 4-2-3-1.
Foto: Pandit Football |
Napoli Tidak Bisa Tembus Garis Pertahanan Rendah Roma
Napoli bermain menyerang sejak pertandingan dimulai. Pola serangan mereka hampir merata di kedua sisi lapangan. Hanya saja porsi serangan lebih unggul melalui sisi kanan mengandalkan Jose Callejon dan Elseid Hysaj. Bahkan Allan Marques pun sering bergerak melebar ke kanan untuk membantu ruang bagi Callejon dan Hysaj.
Hal tersebut membuat Jesus kelimpungan menjaga areanya. Fokus penjagaan pemain terbagi pada tiga pemain. Adanya Allan membuat Callejon dan Hysaj beberapa kali mendapatkan ruang karena lepas dari kawalannya.
Situasi tersebut sampai memaksa Diego Perotti lebih sering turun ke bawah untuk membantu Jesus bertahan. Tapi ruang-ruang tetap mampu didapatkan Callejon maupun Hysaj karena terbantu kontribusi Allan. Apalagi Callejon selalu bergerak cepat yang sulit dikejar Jesus. Hysaj dan Allan bisa melepaskan satu umpan silang tepat sasaran dari area tersebut. Bahkan umpan silang yang dilakukan Allan menjadi umpan kunci bagi rekannya di lini depan.
Tapi pertahanan garis rendah Roma menyulitkan Napoli untuk menyelesaikan setiap peluangnya. Pertahanan Roma bermain sejajar karena kedua full-back jarang naik membantu serangan. Baik Alessandro Florenzi di sisi kanan dan Jesus di sisi kiri, tetap terjaga di areanya. Hal itu membuat kedua bek tengah Roma tidak harus bertahan melebar atas teraturnya jarak dengan full-back. Bahkan Roma terlihat menumpuk para pemainnya di kotak penalti sendiri atas turunnya De Rossi bersama empat bek lainnya.
Pergerakan De Rossi itu dimaksudkan untuk mengantispasi Hamsik yang sering naik ke depan atas buntunya Gabbiadini. Penumpukan pemain Roma itu jelas menyulitkan lini depan Napoli menyelesaikan peluangnya. Umpan Napoli berhasil dicegat, disapu bersih atau diblok atas menumpuknya para pemain Roma di dalam kotak penalti. Kemudian mereka memanfaatkannya dengan melancarkan serangan balik yang cepat.
Foto: Pandit Football |
Grafis pertahanan AS Roma selama 90 menit. Sumber: Squawka.
Kecanggungan Manolo Gabbiadini
Agresivitas serangan Napoli tidak diimbangi dengan efektivitas di dalam kotak penalti. Permainan menyerang Napoli seolah terlalu berat bagi Gabbiadini untuk menggantikan Milik yang sudah mencetak empat gol. Tidak ada satu pun umpan dari rekan-rekannya yang diselesaikan tepat sasaran. Ia cuma melepaskan satu tendangan percobaan yang berhasil diblok lawan.
Pada laga kali ini Gabbiadini terlalu sering bergerak ke bawah. Alhasil ia jarang berada di dalam kotak penalti. Padahal Roma sendiri bermain dengan pertahanan garis rendah. Di sisi lain, permainan Napoli seolah tidak mengerti gaya menyerang Gabbiadini. Mereka sering melepaskan umpan silang seperti ketika Milik yang lebih cepat mendapatkan posisi di kotak penalti. Akhirnya Gabbiadini diganti Dries Mertens pada menit 56. Mertens lebih banyak bergerak di dalam kotak penalti walau permainan Napoli tidak berubah, tetap mengirimkan umpan-umpan silang.
Alhasil Mertens pun tidak bisa bergerak ke bawah untuk mencari bola. Umpan-umpan silang yang dikirim kepadanya tidak mampu dimanfaatkannya, terutama melalui proses operan lambung. Mertens selalu kalah cepat ketika mengantispasi bola udara. Justru umpan-umpan silang lambung Napoli mampu dicegat oleh bek Roma. Kemudian Omar El Kaddouri pun dimasukan pada menit 81 menggantikan Callejon.
Pergantian itu dimaksudkan agar Mertens kembali ke posisi aslinya sebagai winger dan El Kaddouri ditugaskan beroperasi di kotak penalti. Tapi pergantian itu percuma karena El Kaddouri bermain seolah masih ada Gabbiadini. Sampai pertandingan berakhir, Napoli tidak mengubah gaya menyerangnya. Tetap mengandalkan serangan dari sayap dan mayoritas lebih memilih melepaskan umpan silang. Total, Napoli melepaskan 37 umpan silang.
Foto: Pandit Football |
Grafis umpan silang Napoli. Sumber: Squawka.
Napoli Tidak Bisa Tembus Lini Tengah Roma
Pada laga tersebut memang tidak ada pilihan lain bagi Napoli untuk terus menyerang lewat sayap. Sebab lini tengah Roma begitu kuat pada laga ini. Paredes yang semula diperkirakan menjadi gelandang box-to-box, justru bermain seperti De Rossi sebagai gelandang bertahan.
Paredes mengantisipasi pergerakan Jorginho yang kerap membantu penyerangan. Ia juga mengantisipasi pergerakan Lorenzo Insigne dan Faouzi Ghoulam yang terkadang bergerak ke tengah dari sayap kiri.
Penjagaan yang dilakukan Paredes membuat De Rossi lebih tenang menjaga Marek Hamsik. De Rossi selalu mengawal Hamsik di sepertiga akhir Roma. Jika pun De Rossi berhasil dilewati Hamsik, Paredes dengan cepat mengejar untuk mengantisipasinya. Hal itu membuat Hamsik tertahan dan De Rossi bisa memperbaiki posisinya kembali untuk menjaganya. De Rossi juga menutupi ruang Insigne ketika Paredes lengah mengawalnya. Satu tekel bersih pun berhasil dilakukan De Rossi kepada Insigne.
Pertahanan kuat yang dibangun Roma sejak lini tengah pun dibantu Perotti yang sering membantu Jesus. Dan tidak kalah penting adalah aksi bertahan yang dilakukan Radja Nainggolan di lini tengah. Ia mendapatkan tugas ganda pada laga ini, posisinya sebagai gelandang serang bukan hanya menyerang, melainkan bertahan membantu pressing ketat yang diterapkan di lini tengah Roma. Nainggolan merupakan momok bagi Jorginho pada laga ini. Dua tekel bersih pun berhasil dilakukan Nainggolan kepada Jorginho.
Selain berperan dalam pressing ketat yang dilancarkan lini tengah Roma, Nainggolan-lah yang menjabat tugas Paredes pada laga tersebut. Nainggolan menjadi gelandang box-to-box Roma ketika melancarkan serangan balik. Ia menjadi pemain yang membangun serangan dari tengah sampai sepertiga akhir lawan. Satu operan terobosannya pun berhasil menjadi umpan kunci pada laga ini.
Foto: Pandit Football |
Grafis seluruh aksi Radja Nainggolan selama pertandingan. Sumber: Squawka.
Ketidakmampuan Faouzi Ghoulam Menghadapi Mohamed Salah
Serangan sayap kiri Napoli terlalu kebablasan pada laga ini. Hal itu disimpulkan dengan terlalu agresifnya Faouzi Ghoulam ketika membantu serangan. Ghoulam terlalu naik di sepertiga akhir pertahanan Roma dan terkadang ia merengsek ke tengah.
Aksi-aksinya itu membuatnya lupa untuk bertahan. Area pertahanan yang seharusnya dijaga Ghoulam begitu mudah dieksploitasi Salah yang diandalkan melancarkan serangan balik. Kekosongan di pertahanan sisi kiri itu sering memaksa Koulibaly bertahan melebar untuk berduel dengan Salah.
Foto: Pandit Football |
Heat map Faouzi Ghoulam. Sumber: Squawka.
Jika ditelaah, tiga gol Roma terjadi karena kegagalan mengantisipasi lawan di pertahanan sisi kiri. Gol pertama terjadi karena Koulibaly terlalu lama menguasai di lini belakang. Keputusannya itu bukan tanpa sebab. Koulibaly nampak kebingungan kepada siapa mengoper bola. Saat itu ia sedang berada di pertahanan sisi kiri dan tidak ada Ghoulam di sana menjemput bola. Dan situasi Koulibaly saat itu sedang dibayang-bayangi Salah.
Alhasil bola berhasil dicuri Salah dan diumpan kepada Dzeko sehingga menjadi keunggulan pertama. Gol kedua pun terjadi melalui sisi kiri pertahanan karena Dzeko yang melebar ke area tersebut harus dilanggar Koulibaly. Alhasil, eksekusi tendangan bebas Florenzi berhasil disundul oleh Dzeko menjadi gol kedua bagi Roma. Begitu pun pada gol ketiga yang dicetak Salah karena Ghoulam keliru menerapkan jebakan offside kepada Salah.
Kesimpulan
Roma mengantispasi tekanan Napoli dengan menerapkan pertahanan garis rendah. Mereka mengandalkan serangan balik dengan cepat ke sayap kanan mengandalkan Salah karena Ghoulam overlap terlalu tinggi. Napoli kesulitan memanfaatkan peluangnya atas pertahanan garis rendah Roma. Maka penyelesaian akhir lebih sering dilakukan melalui sepakan di luar kotak penalti.
Di sisi lain, lini depan Napoli pun terlalu lama menahan bola. Hal itulah yang sering dilakukan Gabbiadini di area kotak penalti yang membuat Napoli minim peluang.
=====
*dianalisis oleh @panditfootball, profil lihat di sini.
(roz/krs)



Foto: Pandit Football
Foto: Pandit Football
Foto: Pandit Football
Foto: Pandit Football
Foto: Pandit Football





